Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 72


__ADS_3

"kakek mengatakan apa saja selain hal itu...?". tanya deniz yang sedikit panik.



Ayla memiringkan kepalanya menyipitkan mata menatap deniz.



"misal kakek memukulmu? hingga harus di rawat seminggu? ".



Kedua bola mata deniz membulat sempurna. ia menunduk bersalah.



"maafkan aku beyza, aku tidak bisa bilang padamu".



"dan kamu tidak jadi di pukuli? "



"dan restu kakekmu tidak akan ku dapat"



"menurutmu kamu mendapatkan sekarang? "



"aku bisa ambil kesimpulan itu, setelah mendapat satu kertas kecil dari kakekmu"



Ayla menyatukan alisnya.



"isinya? "



Deniz tersenyum bahagia.



"hanya kata kata semangat saja'selamat berjuang' ".



"syukurlah tidak sama seperti kata kakekmu yang memintaku untuk menjauhimu"



"dan kamu tidak akan melakukan itu"



"sekarang kamu sangat yakin setelah marah marah mendiamiku? "



"tidak akan terjadi lagi tapi...kamu tidak mendabrak kakekmu bukan? ".



Ayla melipat tangan di dadanya menatap deniz kesal.



"bersyukurlah, aku baru mengetahui 2 hari yang lalu dan setelah melihat wawancaramu jika tidak?... "



"jika tidak? ".tanya deniz balik.



"aku akan menghajarmu melebihi dari kakekku memukulmu mungkin jadi 2 minggu kamu di rawat di rumah sakit atau lebih dan aku yakin kamu tidak akan bertanya kenapa bukan? ".



Deniz menelan ludahnya susah payah, tubuhnya seketika merinding mendengar ucapan ayla.



"sudahlah, lagian kamu baik baik saja tidak mati juga! tapi mengingat kakekku memukulmu lalu memberitahu kakekmu karna itu kakekmu tahu kamu di pukul lalu menghubungiku dan mengatakan hal tersebut, aku ambil kesimpulan kalau kakekku dan kakekmu mereka saling mengenal satu sama lain dan kakekmu juga sempat menyebutkan kakek reyyan itu artinya...kakekmu juga mengenal kakek reyyan, pertanyaannya..."



"kenapa kakekku sangat ngotot tidak menyetujuiku denganmu dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal". deniz memyambung ucapan ayla.



Ayla menggeleng.



"tidak deniz? aku rasa ini tidak sesederhana itu, menurutku ini lebih ke dendam kakekku...". ayla melihat deniz tidak berani melanjutkan ucapannya.



"dan kakekku...? ".



"lebih dari itu juga...kakek reyyan juga, karna...kakekmu bilang, kamu akan dalam bahaya jika kakek reyyan menemukanmu dan kakek juga bilang sampai kapanpun kita...tidak akan bisa bersama! ".



Deniz menggeleng dengan manik matanya seperti berpikir keras.



"tidak beyza? sepertinya bukan seperti itu".



Ayla menyatukan alisnya.



"lalu? "



"jika kakek reyyan mau membalas dendam entah apa, dan tujuan utamanya adalah aku, maka aku yakin dari dulu dia sudah mengincarku dan tidak sulit baginya untuk menculikku jika mau melampiaskan ke kakek tapi...dia tidak melakukan itu, itu bukan berarti dia tidak mengawasi kakek atau tidak mengenali keturunan kakek terutama papi, papi beberapa kali pernah menghadiri acara pertemuan dengan kliennya di jerman dan di sana juga ada kakek reyyan bahkan aku pernah beberapa kali hadir di sana, tentu saja tujuanku untuk melihatmu, aku merindukanmu tapi kamu tidak datang! lalu...kami pulang dengan selamat ke hotel bahkan ke rumah tanpa ada ancaman apapun dan mami juga pernah bilang kalau papi sempat bersalaman dan berbincang dengan kakek reyyan".



Ayla terlihat berpikir. jika bukan dendam lalu apa?.


__ADS_1


"lalu...apa juga? ".



Deniz menghela nafas.



"sudahlah itu bukan urusan kita, urusan kita! kamu menjaga anak kita...". deniz menunjuk ke perut ayla dan ayla mengikuti arah tunjukan deniz.



"dan aku hanya perlu membatalkan perjanjian jodoh mu dengan reyyan, semua selesai dan kita bersama".



"aku rasa aku perlu memberitahumu sesuatu! perjodohan ini di ikat oleh kakekku dan kakek reyyan, selama kakek reyyan tidak membatalkannya maka...ikatan itu tidak akan pernah putus meski reyyan tidak suka"



"aku tahu tapi yang awal aku harus menaklukkan reyyan dulu, setelah reyyan melepaskanmu, apa yang bisa kakek reyyan lakukan? ketika reyyan tidak akan menikah denganmu"



Ayla menghela nafas.



"deniz? selim...?". ayla memanggil menahan kesabarannya karna sepertinya otak pria ini hanya sekecil telor ayam yang tidak pernah berpikir luas.



"sepertinya kamu tidak paham dengan kata kataku tadi, meski reyyan tidak mau reyyan tidak akan bisa melakukan apapun selama kakeknya memerintahkan itu, kamu mengertikan? ".



"dan yang aku tahu sekarang dan dulu? reyyan selalu mau menikah denganmu"



Ayla diam sesaat sebelum menjawab ucapan deniz.



"itu karna dia tidak bisa mempercayai wanita mana pun di dunia ini yang bisa menjadi ibu dari anaknya, bagi dia...tidak ada wanita di dunia ini yang pantas jadi ibu anaknya selain aku".



Deniz terlihat berpikir keras.



"saham! bukanlah hal yang rumit bagi pria itu deniz? jika pun sahammu tidak ada di sana dengan mudah pria itu bisa mendapatkan dukungan untuknya hanya perlu menghitung jam sebelum rapat pemegang saham, dia pria yang banyak mengakuisisi perusahaan orang deniz, dia berdarah dingin dan kejam, tidak kenal kata ampun jika menyangkut pekerjaan dan jika pun kamu menawari sahammu untuk pertukaran, reyyan akan mendapatkan keduanya sahammu dan aku! mengingat sifatnya aku yakin dia tidak akan begitu mudah melepaskanku deniz? meski dia...tidak mencintaiku".



Nafas deniz berhenti bekerja. ia tahu itu. uang? bukanlah hal rumit untuk pria itu. ia seperti menawari pekerjaan untuk pria yang dia sendiri atasan di sana.



"tapi...aku heran dengan satu ini, tentu kakekmu tahu bagaimana kehidupan reyyan dengan para wanita di luar sana bahkan aku pernah melihat di acara tv, wanitanya silih berganti tidak menetap, kakekmu...dan daddy serta semua...tetap setuju? aku selalu bertanya tanya dari dulu".



Ayla mendesah.



"daddy dan mommy tentu saja menolak tidak menyukai reyyan apalagi omer dan zaki tapi mereka tidak bisa melawan kakek dan kakek? juga tidak menyukai sifat reyyan tapi lain dengan kehebatan kerja pria itu, kakek...berhutang ke kakek reyyan, hutang...bukan hutang uang tapi...bisakah di sebut nyawa? ".




"itu terjadi sebelum daddy lahir lebih tepat saat nenek sedang mengandung daddy, nenek di rawat rumah dan sangat membutuhkan donor jantung yang sama dengan nenek dan kebetulan saat itu jantung nenek reyyan sangat cocok, jadinya...kakek reyyan memberikan jantung istrinya ke nenekku setelah beberapa kali menolak permintaan istrinya itu, itu juga pesan terakhir nenek reyyan sebelum pergi. yang aku tahu, nenek reyyan dan nenekku bersahabat dan kenapa berada di rumah sakit! kami tidak tahu itu, sampai sekarang...kakek tidak bilang kenapa, jadi...kakek tidak bisa menolak, kami...berhutang ke kakek reyyan! karna itu...ikatan perjodohan ini ada".



Deniz terdiam. perlahan dia menarik ayla ke dalam pelukannya. membenamkan kepalanya di dada ayla terlihat ketakutan di raut wajah deniz.



Ayla tersenyum sambil mengelus sayang kepala deniz.



"aku tidak bermaksud menakutimu deniz? ".



"kehilanganmu, itu ketakutanku beyza? "



"jalan kita masih panjang bukan? 7 bulan lagi dan masih banyak cara yang bisa di lakukan, kamu bilang begitu".



"..."



"deniz? apa kamu akan berhenti? ".



Deniz tidak menjawab tapi malah semakin mengeratkan pelukannya pada ayla.



"tidak ada kata berhenti sebelum kita bersama selamanya beyza? , hanya ajal-yang bisa memisahkan kita, itu pun perpisahan sementara, kamu percaya itu bukan? ".



Ayla tersenyum sambil mengangguk.



"jika kita tidak bisa bersama di dunia ini, apa nanti di akhirat nanti...kita bisa bersama? ".



Deniz tidak menjawab. dia hanya menatap memerhatikan wajah ayla di depannya. mengangkat tangannya mengelus wajah cantik ayla.



"aku berharap, semoga allah mengabulkan! dunia akhirat kita akan selalu bersama".



Ayla tersenyum perih.



"aku rasa dengan aku meninggal saat aku melahirkan anak kita, aku rasa kita bisa bersama di sana".

__ADS_1



Deniz membulatkan matanya dengan ucapan ayla.



"tutup mulutmu beyza! jangan pernah katakan itu lagi". deniz menggeram marah.



Ayla memilih memeluk deniz. ia juga ketakutan ketika mengingat akan menikah dengan reyyan meski ia harus.



"aku...". ayla terisak tangis.



"aku akan mencaritahu semua tentang kakekmu, kakekku dan kakek reyyan, akan aku selesaikan semua, kamu...". deniz meraih wajah ayla yang terbenam di pundaknya menangkupnya sambil mengapus air mata ayla.



"hanya perlu menungguku, duduk manis, jaga anak kita, akan aku selesaikan semua apa yang menjadi penghalang untuk kita bersama! kamu...percaya padaku bukan? ".



Ayla yang terisak sontak mengangguk.



"kamu tidak akan ke rumah reyyan mencari kakeknya kan? ".



"jika tidak ada cara lain! ".



Ayla menggeleng keras.



"deniz? kakek bilang... ".



Deniz dengan cepat menenangkan ayla menghapus semua jejak air mata ayla di wajah cantik ayla.



"kamu harus percaya padaku beyza? aku akan baik baik saja".



Ayla tetap menggeleng.



"beyza...".



"bagaimana kalau begini saja! kamu kerumah kakekku dan aku kerumah kakekmu kita bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, jika aku bertanya ke kakekku ribuan kali pun kakek tidak akan pernah mau menjawab tapi lain jika kamu yang datang dan bertanya begitu juga denganku sebaliknya...bagaimana? ".



"beyza kandunganmu... ".



"anak kita akan bertahan, dia akan baik baik saja, kamu harus mempercayai ku deniz? itu satu satunya cara yang tidak membahayakanmu, terutama dari pukulan".



Deniz terlihat berpikir.



"aku mencintaimu deniz? aku juga tidak mau kehilanganmu". ayla meyakinkan deniz.



Deniz menatap ayla. memasukkan ayla ke dalam usahanya ini bukanlah dirinya. ia hanya mau wanita ini duduk manis saja dan menunggunya pulang.



"beyza aku...".



"jika pun kamu tidak memberi aku akan tetap menemui kakek deniz? ".



Deniz membulatkan matanya.



"beyza?! ". deniz nyaris saja ia berteriak.



"percaya padaku".



Deniz mengerutkan keningnya. ini ada yang tidak beres.



"perasaanku tidak enak beyza? seperti mengatakan kalau ini akan menjadi buruk untuk hubungan kita".



"satu hal yang perlu kamu tahu deniz? aku tidak akan pernah mau meninggalkanmu meski apa pun yang akan aku dengar dan jika pun itu terjadi maka alsannya hanya akan ada satu hal karna keterpaksaan".



Deniz diam menatap ayla.



"sekarang kamu bisa tenang?! "







__ADS_1


__ADS_2