
"tu-tu-tunggu... ?". ayla menolak tubuh deniz sembari melepaskan pelukannya pada tubuh deniz.
Deniz menatap ayla bingung. mereka baru saja bisa mesra mesraan dan beyza saja mengacaukannya dan ya, ia belum puas memeluk wanita ini.
Ayla mendongak menatap deniz dengan raut wajahnya yang sulit terbaca sedangkan kedua alisnya menyatu.
"jika kamu adalah Mr. S! maka uangmu tidaklah sedikit, deniz kamu...". ayla menghentikan ucapannya menatap memerhatikan wajah deniz. pria ini...sedang mempermainkannya.
Deniz meringis menatap wajah ayla yang kesal padanya dan ia yakin sebentar lagi akan menjadi marah. ia memejamkan bersiap dengan amukan wanita yang di cintainya ini. karna ia tahu kemana maksud ucapan ayla. pasrah, hanya ini yang bisa ia lakukan. lagian kenapa juga ia berani main main. dan juga, ia suka melihat ayla kesal. ia sudah seperti anak kecil yang kurang perhatian jadinya membuat kesalahan supaya di perhatikan oleh mereka dan sekarang ia kurang dari perhatian istri.
Ayla menggeratkkan giginya menatap deniz geram+kesal. tidak bisakah pria ini berusaha membela dirinya? dan ya, aku tidak akan mengampuninya.
"kamu menanam saham di Diamond Group, The King Group, Gokhan Group dan milik keluarga besarku kakek Emre Group! di australi Imperial Group, Jk Group, dan baru baru ini aku mendengar kamu menembus ke arab saudi, mendirikan bisnis di sana, kamu juga bergabung dengan Group besar di sana Al-ghurair dan...".
Deniz setia mendengar semua ucapan ayla tanpa membuka matanya menatap ayla. ia sudah seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan dan siap di hukum sama sang ibu.
Deniz memaksa tertawa kecil.
"kamu tahu banyak sayang? "
"diam, aku belum menyuruhmu bicara". bentak ayla kesal.
Ayla semakin merapatkan giginya menatap deniz geram. rasanya ia mau menendangnya, memukulnya, menonjok wajahnya dan menghancurkan tubuhnya tapi...
Ayla menarik nafas menahan dirinya untuk tidak melakukan semua itu pada ayah anaknya di karnakan ia sedang hamil. tapi
..
Geram Ayla melayangkan kaki kanannya ke belakang lalu...
Dugh...
"aghhhh...". teriak deniz merintih sakit sembari meloncat loncat dengan satu kakinya mengusap usap bagian yang kena tendang oleh ayla. tulang keringnya.
"sayang? sakit...?". deniz dengan raut wajahnya yang masih menahan sakit menatap ayla.
Ayla mendengus kasar.
"masih tahu sakit? ". ayla mendekat lalu memukul tubuh deniz dengan kedua tangannya.
Deniz menahan pukulan ayla di punggungnya yang baginya sama sekali tidak sakit, karna ayla tidak menggunakan tenaga. ia tersenyum menikmati pukulan ayla.
"kamu brengsek deniz? kamu jahat, kamu laki laki bajingan tahu enggak? tidak apa jika dulu karna kamu masih seorang siswa, yang uang jajan saja masih minta dari orang tua tapi sekarang kamu sudah beda tapi kamu masih membawaku dengan mobil pinjaman, di tambah sudah 2 kali, kamu jahat tahu enggak, seumur hidup aku hidup di dunia ini belum pernah sekalipun naik mobil pinjaman dan kamu...".
Ayla berbicara dengan terus memukul mukuli punggung deniz. ia menggertakkan giginya geram.
"berani beraninya kamu membiarkanku naik mobil pinjaman di saat uangmu bisa membeli ratusan mobil merati, kamu brengsek banget DENIZ?! ". teriak ayla kesal di ujung kalimat di sertai dengan pukulan penuh tenaganya di punggung deniz.
"ah... ". ringis deniz saat pukulan terakhir ayla. ia menoleh menatap ayla yang berdiri di sampingnya sedangkan ia masih menunduk. siapa tahu ayla belum puas memukulnya.
"sudah? ". tanya deniz takut takut karna melihat wajah ayla yang menatap ke bawah dengan nafasnya yang naik turun.
__ADS_1
Deniz masih siap masih siap untuk di pukuli ayla jika ayla masih kesal. dan tubuhnya masih kuat menerima sekalipun ayla memakai tenaga.
Ayla meneteskan air matanya. bukan untuk dirinya dan bukan karna mengingat dirinya yang naik mobil pinjaman sebanyak 2 kali tapi...anaknya yang masih berbentuk janin. pria ini...sudah memberinya dengan menaiki mobil pinjaman.
Deniz menegakkan tubuhnya menetap ayla khawatir.
"hei...". deniz menangkup wajah ayla mengangkat untuk ia bisa melihat wajah ayla lebih jelas namun ucapannya seketika berhenti.
Beyza menangis.
Ayla menepis tangan deniz dan melihat ke samping namun deniz tidak mau kalah ia tetap meraih wajah ayla lagi untuk melihatnya. ayla bersikeras tidak mau melihat deniz. kehabisan akal deniz beranjak dan berdiri di depan ayla meraih tengkuk ayla cepat dan menatapnya.
Bukh...
"aghhh...". ringis deniz sembari memegang wajahnya yang kena kepalan tangan ayla. ia menoleh menatap ayla. semarah itu?.
"sayang?..."
"keturunan emre tidak pernah ada yang menaiki mobil pinjaman deniz? dan kamu sudah melakukannya untuk anakku, tidak apa untukku, aku bisa memaafkan karna aku mencintaimu tapi aku tidak bisa memaafkan untuk anakku deniz? ". geram ayla marah.
Deniz mengedip ngedipkan matanya beberapa kali. separah itu?.
"anakku yang masih janin kamu memberinya barang pinjaman di saat uangmu banyak, aku tidak bisa memaafkanmu". ayla berbalik melangkah masuk ke ruangan sofa yang ada tv dan juga beberapa rak buku.
Belum ada dalam sejarah keturunan emre naik mobil pinjaman, ia saja hidup dalam kemewahan dari masih dalam kandungan ibunya, daddy dan momny memberikan semua kemewahan untuknya dan bagaimana bisa ia seorang ibu yang mendapat semua dari masih janin memberikan barang pinjaman untuk anaknya dan yang melakukan itu papanya sendiri. aku tidak akan membiarkan anakku tidak mendapatkan kemewahan seperti aku, bagaimana aku dulu, begitu juga dengan anakku tapi tidak dengan perjodohan jika itu cukup aku saja tidak untuk anakku dan jika deniz berani melakukan itu, aku akan membuatnya koma beberapa tahun. biar tahu rasa.
"sayang? dengarkan ak dulu...". deniz meraih tangan ayla namun di tepis ayla.
Ini serius? oh tidak, aku tidak akan bisa hidup jika beyza marah padaku. aku bahkan akan sulit menarik nafas.
Deniz mengejar ayla lagi kali ini ia berdiri di depan ayla meraih kedua pundak ayla dan menatapnya.
"sayang? dengarkan aku dulu ya?". rayu deniz namun ayla tidak mau menggubris. dia melawan untuk lepas dari pegangan deniz.
"lepasin deniz? aku benci denganmu" ronta ayla.
"sayang dengar?...". deniz memperkuat pegangan tangannya pada pundak ayla namun karna tidak mau membuat ayla kesakitan ia menarik ayla dan memeluknya kuat sehingga ayla hanya meronta dalam pelukannya.
"mobil itu punyamu sayang? bukan punya refat dan ya, itu termasuk pinjaman karna aku meminjamnya padamu tapi aku janji nanti kita akan pergi beli yang baru, kita sama sama ke sana, bagaimana? ". ucapan deniz membuat perlawanan ayla berhenti.
Beberapa saat mereka terdiam. ayla yang memikirkan ucapan deniz yang katanya mobilnya, ayla meningat ingat plat mobilnya dan ya, ia ada bilang ke deniz kalau ia juga punya mobil mereka austin yang deniz bawa kemarin untuk kencan mereka.
Sedangkan deniz memikirkan ide lain supaya ayla tidak marah lagi padanya. sungguh ia tidak akan bisa. marah ayla adalah hal yang sama sekali tidak ia inginkan di dunia ini.
Deniz melepaskan pelukannya lalu meraih tangan ayla menggenggamnya kuat.
"ikut aku, akan aku tunjukkan supaya kamu percaya dan aku yakin selimut itu masih ada di dalam sana". deniz dan ayla melangkah ke pintu ruangan tersebut membukanya dan langsung keduanya di kejutkan oleh kehadiran 2 orang. omer dan zaki.
"latihan? ". tanya deniz tanpa sapa pagi.
__ADS_1
Omer dan zaki mengangguk. lalu kedua matanya mereka menatap ke tangan deniz dan ayla.
"mau kemana? ".
Ayla diam.
"ke suatu tempat, tidak akan lama". jawab deniz.
"mertuamu menunggu di arena latihan". ujar zaki setelah melihat ekpresi wajah adiknya yang, datar.
Deniz bimbang. ia tidak bisa membuat Mr. Okan menunggu namun yang lebih besar ia tidak bisa membuat wanitanya menunggu sampai ia selesai latihan.
Deniz menarik lembut tangan ayla melewati omer dan zaki.
"5 menit lagi aku akan ke sana" ujarnya sembari melangkah ke lift.
Omer dan zaki menatap punggung deniz dan ayla melongo.
"apa kita baru saja di acuhkan? ". omer bertanya kesal. memang perawakan dia cepat marah.
"apa mereka sedang lagi marahan? ".
Omer menoleh menatap zaki tidak percaya.
"itu bukan urusan kita, urusan kita daddy menyuruh deniz ke tempat latihan". omer beranjak pergi dari sana.
"terkadang aku merasa ingin cinta yang penuh perjuangan".
"kamu mau menikah lagi? "
"aku mencintai istriku, hanya saja aku merasa seharusnya cinta kami tu harus penuh dengan perjuangan dan air mata, aku tertantang"
"jadi kamu menyalahkan cintamu yang selalu romantis dan harmonis itu? "
Zaki menoleh menatap omer. ia tidak menyalahkan.
"akhir akhir ini aku sering nonton film extion"
"berhentilah". omer dan zaki masuk ke dalam lift.
"aku hanya mengatakan indahnya masa muda".
"sebentar lagi mereka akan mempunyai anak"jawab omer cepat dan malas.
Zaki meraih hpnya yang bersuara. istrinya menelpon.
"aku mencintai istriku". senyum zaki lalu menerima panggilan istri tercintanya. padahal ia baru saja kemari dan istrinya sudah merindukannya.
__ADS_1