Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 43


__ADS_3

Ayla memerhatikan baju yang di kenakan deniz. baju rajut berlengan panjang berwarna abu abu. mata ayla beralih ke leher deniz lalu ke rahang deniz yang tegas dan...



Deg...



Ayla melihat ke arah lain. dosakah jika ia katakan, seksi.



'sial, dia...sangat tampan'.



"tenang saja, pria tampan ini adalah milikmu selamanya".



Seperti mengerti apa yang di pikirkan ayla deniz terkekeh geli.



Ayla melebarkan matanya. 'pria ini...tahu yang aku pikirkan? tunggu...tadi apa katanya...'. sontak ayla menatap deniz menunggu jawabannya atas ucapannya.



Deniz yang mengerti tatapan ayla malah tidak menjawab tapi malah bangkit berdiri lalu meraih kantong makanan pesanan ayla dan melangkah ke samping ayla.



"ayo? nanti kita kemaleman dan tidak baik untukmu".



Ayla yang tadi mendongak menatap deniz menyatukan alisnya.



"pulang?! ".



"waktu janjianku masih tinggal 6 jam lagi dan kamu berhutang dengan ku 6 jam".



Ayla berdecak kesal.



"aku sudah bilang akan aku bayar tapi...kita mau kemana? ".



"kamu akan tahu, ayo?! ". ajak deniz sembari melangkah duluan meninggalkan beyza yang sudah berdiri.



Ayla mendengus tidak percaya.



"siapa yang percaya kalau pria itu bilang dia...mencintaiku dulu? dia meninggkanku dan keluar duluan". ayla menggertak giginya kesal lalu melangkah dari sana.



Sampai di depan mobil yang mereka tumpangi tadi ke sini. ayla berhenti di depan mobil sembari menatap mobil tersebut. lebih tepat orang yang sudah duduk di dalam mobil sana meski tidak terlihat karna kaca gelap tapi ia yakin pria itu bisa melihatnya.



Ia tidak berharap, deniz membukakan pintu mobil untuknya hanya saja. ini tidak cocok dengan ucapannya 13 tahun yang lalu yang mengatakan menyukainya. seharusnya dia mengerti sikap sopan santun terhadap perempuan bukan? atau menghargainya saja.



Tinn...



Suara klakson mobil membuat langka ayla kembali bergerak.



'ingat kan aku untuk tidak percaya dengan ucapan cinta pria ini'.



Brakh...



Ayla membanting pintu dengan kesal di campur marah.



Deniz tersenyum tipis melihat hal tersebut. ia membawa mobil tersebut keluar dari parkiran retauran menuju tempat yang mau ia datangi lagi jika ke sini dan bersama beyza.



"kamu marah sayang? ". tanya deniz datar tanpa melihat ayla.



"kenapa aku harus? ". jawab ayla acuh dan tanpa melihat deniz.



Deniz menyungging senyum jahilnya.



"karna tidak bergandengan tangan saat keluar dari restauran tadi dan tidak membukakan pintu mobil". deniz masih tidak melihat ayla dan hanya fokus menyetir.



"aku bertanya tanya dari tadi, bagaimana kamu bisa menang dari Z, omer dan daddy sedangkan mereka tidak babak belur seperti kamu, apa kamu...menawari sesuatu untuk mereka? ".



Deniz menoleh menatap ayla.



"memang apa yang bisa aku tawari? semua mereka punya".



Ayla mengerjap dan membenarkan ucapan deniz.



"lalu bagaimana kamu bisa menang dari mereka... ? ".



"so...kamu tidak senang...?".


__ADS_1


"jawab saja"



"asalkan tahu titik kelemahan pada tubuh manusia maka tidak perlu menghajarnya habis habisan kan...?". deniz menatap ayla sejenak lalu kembali melihat ke depan.



Ayla mengerjap memikirkan ucapan deniz.



"maksudmu...kamu tahu titik kelemahan dalam ilmu bela diri? kamu menggunakan itu...? tok tokkan saraf".



Deniz tersenyum melihat ayla.



"aku bukan master bela diri beyza, hanya saja aku mengambil kesempatan saat lawan lemah".



Ayla mengerjap. ia menyesal karna tida datang dan melihat.



"lalu...kamu memukul mereka di bagian mana? mereka kalah? ".



Deniz lagi lagi tersenyum.



"kenapa? supaya kamu bisa berhati hati saat melawanku? dan maaf itu tidak bisa di katakan, kita punya cara masing masing".



Ayla mendengus tidak percaya.



"dan siapa yang kalah waktu itu...?".



Deniz menyungging senyum tipis.



"kamu yakin sayang aku kalah? mungkin aku mengalah".



Ayla menyatukan alisnya menatap deniz.



"kamu tidak seperti lelaki pencundang yang tidak mengaku kalah bukan.. ?! ".



Deniz memilih diam, ia memutari mobil masuk ke jalan di mana tidak ada satu mobil pun yang lewat di jalan itu yang ada hanya kesunyian di tambah malam hari dan hanya ada lampu di jalanan.



Ayla beralih melihat ke luar jendela dan melupakan ucapannya ke deniz.




Ayla beralih menatap deniz, yang sangat fokus menyetir, melihat ke depan dengan wajahnya yang terlihat datar.



"deniz? ". panggil ayla sembari menatap deniz.



"hm". deniz hanya menyahut dengan gumaman tanpa melihat ayla.



Ayla beralih melihat ke luar jendela.



"kamu sedang tidak mencoba mau membunuhku bukan? jalanan ini terlihat sangat menakutkan".



"ada aku di sini, membunuhmu? lalu setelahnya aku akan bunuh diri".



Ayla kembali menoleh menatap deniz.



"deniz aku serius! ".



Deniz tersenyum lalu meraih tangan ayla untuk ia genggam sembari menatap ayla lalu kembali melihat ke depan.



Ayla melihat ke tangannya. ia mengerjap ngerjap tidak percaya lalu kembali melihat ke deniz.



Genggaman tangan deniz seperti mengatakan. 'tidak ada yang perlu kamu takutkan, ada aku di sini bersama mu'.



"ini tidak seperti dirimu queen? 13 tahun lalu kamu duduk dengan santai, wajah yang dingin dan datar bahkan suasana di dalam mobil waktu itu ikut dingin karna kamu".



Ayla yang mengerti ucapan deniz sontak beralih melihat ke luar jendela.



"kamu tidak... ".



"iya kita akan ke sana".



"deniz, ini sudah malam lho? dan tidak ada manusia satupun di sana"



"dulu juga begitu dan sangat sangat baik".

__ADS_1



"hanya kita berdua? kamu tidak berencana memperkosaku lagi bukan...?".



"dan kamu sudah hamil sayang? tunggu...memperkosa...?". beo deniz tidak percaya dan sedikit berteriak sembari mengalihkan matanya dari depan ke ayla.



Deniz menghentikan mobilnya tanpa menepi ke pinggir jalan. lagian hanya mobil mereka yang ada di jalan tersebut. dan ia beralih menatap ayla.



Ayla memundurkan duduknya saat melihat tatapan deniz yang sangat mengerikan baginya.



"kamu serius beyza...? ".



"lalu apa juga di katakan jika bukan? ah...pelecehan seksual? ".



"pelecehan seksual...?". beo deniz lagi lagi tidak percaya dengan ucapan ayla.



"kamu tidak jalan lagi? kamu berhenti maka waktu kencanmu termakan di sini".



Deniz semakin menajamkan matanya menatap ayla tanpa menggubris ucapan ayla.



Ayla mengerjap dan memilih melihat keluar jendela.



Deniz semakin menajamkan matanya bahkan sudah memicing tajam.



Ayla bisa merasakan hawa dingin di punggungnya namun ia tidak mau berbalik karna tidak bisa melihat mata deniz.



"akuilah beyza! malam itu...kamu juga mau".



Kedua manik mata ayla membulat. apa...yang baru saja pria ini katakan?. ayla berbalik menatap deniz.



"excuse me?! ".



"di sini bukan hanya ada kita berdua tapi...ada anak kita juga, akuilah...malam itu...kamu juga mau".



Ayla menatap deniz dengan menantang.



"mau bagaimana? deniz? jangan membuatku mengingat malam itu karna...kamu benar benar sangat brengsek".



"brengsek? aku akui aku brengsek ya, pertama tapi setelahnya? beyza, kamu juga mau, akuilah, kamu menikmati dan...kamu membalasku".



Ayla terdiam dan memilih diam. ia ingat ia ingat semua malam itu.



"kamu memaksaku deniz, kamu sadar? kamu mematikan semua gerakanku, kamu mencekal tangan dan menekan kakiku hingga aku tidak bisa melawan, kamu...mematikan semua gerakanku jadi menurutmu...apa yang bisa aku lakukan selain...mengikutimu dan...menikmatinya? ".



"kamu menikmatinya karna kamu merasakan nikmat yang aku berikan dan kamu mengikutiku karna kamu merasa itu tidak cukup dan kamu mau lebih, tanpa kamu sadari beyza? malam itu kamu sudah membuat satu ciuman panas, kita". deniz menatap ke dalam manik mata ayla.



Ayla bernafas naik turun lalu melihat ke arah lain namun deniz meraih dagu ayla untuk kembali menatap ke arahnya.



"jangan lagi membuang mata mu beyza saat kita bertatapan, aku bisa gila beyza". deniz menatap memerhatikan wajah beyza dengan seksama dan berhenti di bibir beyza. bibir yang pernah ia lumat.



"tidak jadi ke sana? atau ini lebih penting". ucap ayla sembari memerhatikan mata deniz yang terus melihat bibirnya.



Deniz melepaskan ayla dan kembali duduk di kursinya. tidak, itu lebih penting.



"kita ke sana". ujar deniz menyungging senyum tipis dan kembali menghidupkan mobil.



Ayla bernafas naik turun lalu menyatukan alisnya saat melihat senyum deniz.



'dia masih bisa tersenyum? setelah apa yang baru saja dia lakukan padanya...? ckck'.













__ADS_1


__ADS_2