
Sudah hampir sepekan Nayra juga Devan menghilang karena diculik. Faiz dan yang lainnya juga masih sibuk mencari keberadaan mereka. Mereka kesulitan mencari Nayra juga Devan karena tidak ada petunjuk sama sekali.
Sudah sepekan ini Kiara sakit tidak mau makan kalau tidak bersama Mama juga Papanya. Bahkan Kiara sempat dirawat di rumah sakit dan kini dia sudah dibawa pulang ke rumah Nathan untuk menjaga keselamatan Kiara juga Kenan.
Kenan sendiri dia hanya diam saja dan menyendiri terus di kamar. Dia hanya keluar untuk melihat kondisi kembarannya, Kiara. Setelah itu dia kembali ke kamarnya dan menyendiri lagi.
"Kenapa Faiz belum juga menemukan Nayra sama Devan." kata Mami Mira saat mengingat cucu kembarnya yang begitu memprihatinkan.
Kiara masih dalam kondisi lemahnya, tangannya masih diinfus dan belum mau makan sama sekali, hanya air minum yang masuk ke dalam tubuhnya selain cairan infus. Buahpun harus di jus terlebih dahulu baru dia mau.
Kenan juga masih diam dan menyendiri di kamar. Dia mau makan kalau makanannya di antar ke kamar sama Miss Kimy.
"Kak Faiz sama yang lainnya masih berusaha menemukan mereka, Mi." ucap Lidya istri Nathan.
"Mereka kesulitan karena tidak ada petunjuk sama sekali."
"Mungkin penculiknya memang sengaja membuat kita menyerah terlebih dahulu sebelum menunjukkan identitasnya." sambung Lidya sambil memegang tangan mertuanya itu.
"Tapi sampai kapan?" Mami Mira menatap Lidya sedih, "kasihan si kembar kalau seperti ini." mata Mami Mira berkaca-kaca.
Lidya mengusap punggung tangan Mami Mira lembut. "Berdoa untuk kebaikan semua, Mi. Semoga Nayra dan Devan segera ketemu juga si kembar kembali seperti semula sebelum orang tuanya menghilang." ucap Lidya lembut.
"Tapi bagaimana kalau Nayra juga Devan tak pernah kembali lagi" kata Mami Mira dengan air mata.
Lidya menatap Papa mertuanya, Papa Rasyid yang terlihat diam mendengar perbincangannya dengan Mami Mira atau Papa Rasyid yang diam memikirkan keadaan anak dan menantunya beserta cucunya.
"Mami jangan bicara seperti itu, lebih baik kita hibur Kenan juga Kiara supaya bisa ceria lagi seperti sebelumnya."
"Dan untuk Nayra juga Devan, semoga mereka berdua baik-baik saja dan cepat ketemu." Lidya menatap lekat ibu mertuanya itu.
Lidya mengangguk dan tersenyum pada Mami Mira yang menatapnya juga, seolah dia mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Dia berusaha untuk tetap tenang walau hatinya juga sedih dan cemas bahkan khawatir melihat keponakannya juga iparnya, Nayra yang saat ini hilang dalam kondisi hamil.
"Mami ingin melihat Kiara." ucap Mami Mira lirih.
"Baiklah, Lidya antar ke kamar Kiara."
Lidya membantu Mami Mira yang terlihat lemas itu berdiri dan menuntunnya berjalan menuju kamar Kiara.
__ADS_1
"Semoga kamu baik-baik saja di sana, Nak bersama calon anakmu." gumam Papa Rasyid setelah melihat kepergian Lidya dan Mami Mira ke kamar Kiara.
Papa Rasyid sudah meminta semua pengawalnya untuk mencari keberadaan Nayra juga Devan, bahkan Faiz juga menurunkan anggota intinya untuk membantu mencari keberadaan Nayra juga Devan, namun yang mereka cari tak kunjung ketemu.
Faiz dan Nathan juga Ilyas kembali pulang setelah jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Lagi-lagi mereka pulang dengan tangan kosong. Mereka belum juga mendapat petunjuk apapun dari sang penculik.
Entah apa yang diinginkan sang penculik itu hingga saat setelah Devan menghilang tidak ada lagi kabar mengetahui keberadaan mereka. Handphone Devan saat ini juga masih di pegang Faiz setelah ditemukan Romi beberapa hari yang lalu. Siapa tahu penculiknya menghubungi Devan kembali seperti kemarin waktu Nayra baru diculik.
"Bisa jadi penculik Nayra dan Devan sama. Makanya mereka tidak menghubungi Devan." kata Nathan menatap handphone Devan yang diletakkan oleh Faiz di atas meja.
"Entahlah. Kalaupun itu Under Black, pasti kita sudah menemukan keberadaan mereka di Indonesia."
"Buktinya tidak ada satu anggota Under Black yang terlihat disini." ujar Faiz yang terlihat lelah.
"Tidak ada yang tahu kalau Nayra itu adikku. Mereka tahunya keluarga Arasyid hanya memiliki tiga anak laki-laki." ucap Faiz menatap lekat Ilyas yang duduk di depannya yang hanya terhalang meja. Karena sedari tadi handphone Ilyas berbunyi namun tak juga diangkat sama sang pemilik handphone.
"Saya permisi sebentar Tuan, tunangan saya menelepone." kata Ilyas dengan sopan dan pamit undur diri.
"Siapa sih tunangannya Ilyas?" tanya Nathan saat melihat Ilyas yang sudah menggilang di balik pintu kaca penghubung ruang keluarga dengan teras belakang.
"Setiap ditanya pasti jawabnya 'nanti saja kalau saya sudah menikah baru saya kasih tahu'." sambung Nathan yang terlihat kesal itu.
"Apa dia masih suka sama Nayra, Kak?" tanya Nathan yang penasaran akan Ilyas.
"Tanya langsung sama orangnya. Aku bukan paranormal yang bisa menebak pikiran orang lain." jawab Faiz yang kedengarannya malas karena sudah lelah dicampur mengantuk.
"Kalau ngantuk tidur dikamar Kak, jangan disini." ujar Nathan yang melihat Faiz sudah menutup matanya menggunakan satu lengannya.
"Hemmm.." Faiz hanya berdehem, dia sudah begitu ngantuk untuk hanya sekedar berpindah tempat ke kamar.
"Ya sudah, Aku ke kamar dulu."
Nathan beranjak pergi ke kamarnya, dia sudah begitu merindukan istrinya yang seharian ini dia cuekin.
...............
Suara burung yang berkicau bersautan dipagi hari dengan cuaca pagi yang hangat membuat suasana pagi begitu cerah. Membuat semua orang merasa kalau hari ini begitu indah, banyak keberuntungan menanti disana.
__ADS_1
Namun tidak dengan Nayra, dia merasa paginya di seminggu terakhir ini terasa begitu mendung dan hampa. Dia tidak bisa melihat suaminya yang selalu menggodanya di setiap pagi yang selalu membuatnya kesal, juga tingkah kedua anak kembarnya yang selalu manja di kala pagi.
"Apa kalian disana baik-baik saja tanpa Mama?" tanya Nayra pada awan pagi yang begitu cerah. Dia berdiri di dekat jendela kamar yang dia buka untuk menghirup udara pagi.
"Dev, aku sangat merindukanmu." Nayra memeluk kedua lengannya sendiri, dia memejamkan matanya membayangkan wajah tampan dan rupawan suaminya. Senyum suaminya yang selalu membuatnya malu dan salah tingkah dengan sendirinya.
Ceklek
"Sudah bangun kamu."
Nayra menoleh dan mendapati Maya masuk membawa sarapan pagi juga susu untuknya.
"Makanlah. Jangan buat aku kena marah sama bos besar kalau dia mendapati kamu tidak mau makan makanan yang telah aku siapkan untukmu." kata Maya dengan ketus.
"Kak, boleh aku ketemu sama bos besar kak Maya?" tanya Nayra, dia ingin menanyakan kenapa dia diculik selama ini.
Maya terkekeh mendengar pertanyaan Nayra yang meminta ingin bertemu bos besar. "Mimpi kali." batinnya. Dia saja selama ini belum pernah bertemu sama bos besar. Dia hanya tahu suaranya melalu telephone.
"Jangan harap." jawab Maya pendek.
"Sudah cepat makan sebelum aku membuangnya dan membuat bayi kamu kelaparan." bentak Maya saat melihat Nayra yang hanya diam saja itu.
"Aku gak mau." ucap Nayra kembali melihat suasana luar dari balik jendela kamar.
"Aku belum lapar, nanti kalau sudah lapar baru aku memakannya." sambungnya tanpa menatap Maya.
"Kau!!!" Maya geram karena Nayra berbicara namun tidak mau menatapnya.
"Lebih baik Kak Maya keluar sebelum Kak Maya benar-benar dimarahi sama bos besar Kak Maya." ancam Nayra sambil membawa nampan yang berisi makanan juga segelas susu ke arah jendela bersiap untuk membuangnya.
"Awas kalau kau berani Nayra." sentak Maya yang kesal akan ancaman yang Nayra berikan.
Dengan kesal, Maya keluar dari kamar untuk menyekap Nayra dan mengancingnya kembali.
Nayra meletakkan kembali nampan itu dinakas dan dia duduk di tepi ranjang.
"Ya Allah..Aku ingin cepat keluar dari sini." ucap Nayra lirih dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sayang,.tolong bantu aku!!!."