
Kota zurich swiss.
Di pusat kota tersebut dengan gedung gedung tinggi bertingkat, terlihat tua namun tetap meninggalkan kesan mewah dan megah. di salah satu di antara gedung gedung tersebut terdapat satu gedung di antara yang lain yaitu sebuah apartemen atau penthouse yang berada di lantai paling atas dengan pemandangan bagian belakang gedung tersebut yang sangat indah.
Ayla berserta can dan asisten deniz masuk ke dalam penthouse yang baru ia ketahui milik deniz. dengan uangnya yang begitu banyak meski tidak sebanyak keluarganya. ia tidak meragukan untuk sebuah apartemen maupun penthouse.
Masuk ke dalam kepala ayla memutar ke kanan dan ke kiri mencari sosok pria yang membuatnya rindu sekaligus geram.
"dimana tuanmu? ". tanyanya membalik badan melihat asisten deniz.
Dia tidak menjawab namun pandangan matanya berarah ke satu pintu dan ayla mengikuti mata pria itu. menyunggingkan senyum sinis. ayla melangkah ke sana tanpa peduli teriakan asisten deniz.
"urus dia can? ". ucapnya sebelum langkahnya jauh dari can.
Mata asisten deniz membulat. ia pikir akan di tembak di tempat atau di culik lagi namun yang ia lihat. pria yang ia tahu bernama can malah dengan santai melangkah ke depan seperti mencari sesuatu.
"di mana dapur? aku haus! bukankah tempat ini tempatmu dan aku tamu".
Asisten deniz mengedip ngedipkan matanya bebera kali. matanya kembali melihat ke wanita yang belum ia tahu namanya hampir mencapai pintu di mana atasannya berada di dalam sana.
"jangan khawatirkan itu, atasanmu akan merasa lebih lebih baik setelah melihatnya". ujar can setelah mendudukku bokongnya di sofa yang ada di ruangan tersebut. dia menanti pria di belakangnya menghidangkan ia teh atau sekedar air putih.
Alis pria itu menyatu.
"memang dia siapa? mungkin saja atasannya akan marah marah dan lebih parah gajinya bisa di potong bulan ini".
"mungkin sebaliknya? atau mungkin kamu bisa mendapat cuti". ujar can lagi tanpa melihat asisten deniz yang berdiri di belakangnya.
Mereka terus terlibat pembicaraan yang tanpa can memberitahu siapa ayla sebenarnya bagi atasan pria ini.
Cklack...
Ayla membuka pintu dan pemdangan pertama yang dia lihat adalah suaminya yang sedang sangat fokus dengan pekerjaannya yang sekarang. dia tersenyum kemudian dengan sangat perlahan lagi menutup pintu di belakangnya.
Membalik badan menatap deniz yang sepertinya sama sekali belum menyadari kehadirannya atau menyadari seseorang masuk ke dalam ruangannya.
'apa begitu fokus? '. ayla bersandar di pintu dengan kedua manik matanya menatap deniz.
Merasakan akan aura sesuatu yang baginya sangat sangat familiar menyentak tubuh dan pikirannya. otak deniz mendadak berhenti bekerja dengan tangannya yang sedang memegang pena berhenti di udara. perlahan, dengan sangat perlahan di sertai degupan jantungnya yang tidak menentu irama di dalam sana semakin kuat semakin membuatnya sulit untuk sekedar menarik nafas. mata deniz melihat ke arah pintu dan seketika itu juga melebar sempurna. melompat berdiri seketika, menatap ayla yang juga sedang menatapnya namun tentu saja ekpresi wajah ayla beda dengan deniz. jika deniz yang terkejut maka ayla dengan wajah sinis dan santainya.
Deniz tersenyum sambari mendesah lega melihat sosok ayla di depannya dan ia sangat yakin. ini bukanlah mimpi, mimpi seperti biasa beberapa hari ini terus menyerangnya namun ia tidak bisa menemui ayla karna perjanjiannya dengan kakek ayla. ia memutari meja kerjanya melangkah lebar mendekat ke ayla nyaris saja seperti berlari. jarak yang hanya sekitar 6 meter, bagi deniz seakan akan sudah berkilo kilo jauh dengan ayla yang berdiri di depannya sekarang.
Brukh...
"ah...". ringis ayla dalam pelukan deniz.
Deniz menyentak tubuh ayla ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan sangat erat.
Deniz menciumi puncak kepala ayla.
"aku sangat merindukanmu sayang! sangat merindukanmu". ujar deniz senang bercampur dengan kebahagiaan.
Ayla mengernyit tidak suka. menolak tubuh deniz sedikit menatapnya dari jarak dekat dengan deniz masih memeluk pinggang ayla.
"rindu? kamu sedang bercanda dengan ku deniz? seharusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan jika kamu merindukan orang itu". lesal ayla menatap deniz.
__ADS_1
Deniz mengedip kan matanya. ia tidak mungkin bilang sama ayla karna sudah berjanji dengan kakeknya tidak akan menemui ayla sebelum urusan semuanya selesai. takut membahayakan ayla menurut kakeknya lebih lebih kandungannya.
Deniz melihat ke bawah ke perut ayla. ia tersenyum berjongkok menumpu lututnya di lantai dengan kedua tangan masih setia di pinggang ayla. matanya menatap ke perut ayla.
Melihat apa yang di lakukan deniz mendadak muka ayla memerah.
"a-a-apa y-yang kau-lakukan?! ". ayla mau menjauhi tubuhnya dari deniz namun terlambat karna sudah ke duluan deniz yang mendekatkan wajahnya ke perutnya dan sedetik kemudian mata ayla membulat.
cup...
Wajah ayla memerah seketika dengan perlakuan deniz yang tiba tiba. deniz menciumi perutnya meski tertutup kain yaitu bajunya lalu bagaimana deniz mendongak menatapnya dengan wajahnya yang tersenyum dan sialnya, itu...sangat sangat tampan. hampir saja tubuhnya hilang kendali hampir jatuh ke lantai jika saja deniz tidak memegangnya.
"aku sangat merindukan kalian sayang? sangat sangat sangat! kamu percaya?! aku mencintaimu beyza! ".
Mata ayla mengedip ngedip beberapa kali menatap ke bawah ke deniz.
'apa ini? jika seperti ini, aku tidak akan bisa marah lagi pada pria ini, apalagi sudah berencana mau memukulnya...ck'.
Ayla membuang wajahnya ke samping. detak jantungnya? ia sudah tidak tahu lagi karna sudah biasa kelewat biasa.
Deniz kembali berdiri menatap ayla. ia terkekeh geli.
"kamu marah sayang? ".
Ayla kembali menatap deniz. ia mendengus tidak percaya.
"marah? haruskah kamu masih bertanya? ".
Deniz menarik ayla dan kembali memeluknya.
Ayla menolak tubuh deniz perlahan. mendongak menatap deniz.
"jadi aku harus hukum bagaimana? katakan padaku".
"saat kamu di sini semua waktuku untukmu tidak terkecuali".
"baik malam? "
"yap".
Ayla terlihat senang dengan tawaran deniz. matanya beralih melihat ke meja kerja deniz.
"kamu tidak akan menyesalkan? melihat banyaknya berkas yang perlu perhatianmu segera".
"jika aku mendapatkan izinmu maka akan aku bereskan segera, kamu pengendali sekarang".
Ayla dengan sikap menggodanya memeluk tengkuk deniz manja. mendekatkan bibirnya. ke sudut bibir deniz.
"kamu tidak boleh menariknya lagi! ".
Deniz semakin menyentak pinggang ayla semakin rapat pada tubuhnya, menekan sesuatu di dalam sana yang sudah mengeras.
"tidak akan jadi...apa tugas pertamaku, istriku...? ".
"akan aku pikirkan tapi...kamu tidak bertanya bagaimana bisa aku menemui di sini? ". ayla menatap wajah deniz dengan jarak mereka sekarang yang dekat.
__ADS_1
Deniz terkekeh geli.
"tentu kamu mengancam finn benar? ".
Ayla menaikkan satu alisnya.
"jadi namanya finn? tunggu...bagaimana kamu bisa tahu? pria it...ah maksudku finn tidak bisa menghubungimu hpnya aku ambil".
Deniz tertawa kecil.
"entah? aku seperti punya firasat kalau kamu akan ke sini begitu tahu finn asisten Mr. S ada di berlin".
"firasatmu sangat menyebalkan! ". kesal ayla lalu ia mencoba mendorong tubuh deniz namun pria ini lebih kuat dari dirinya. tidak membiarkannya lolos dari pelukannya.
Deniz menatap wajah ayla di depannya dengan wajahnya yang tersenyum bahagia. itu salah sayang? finn kesana karna sudah aku atur. aku tahu sayang, kamu juga akan merindukanku dan mau bertemu denganku namun jika kedatangan finn 2 minggu setelah aku pergi tentu kamu tidak akan ke sini karna menahan egomu tapi aku menyuruh finn ke sana beberapa minggu setelah aku pergi dan aku yakin saat itu kamu tidak akan bisa menahan rasa rindumu lagi dan kedatangan finn adalah jalan mu untuk kemari sayang. aku sudah memperkirakan semuanya.
"aku sangat amat merindukanmu, terima kasih sudah ke sini". ucap deniz sembari mengelus pipi ayla.
"seharusnya kamu yang pulang, benar? "
Deniz mengangguk membenarkan. jarinya beralih membenarkan rambut ayla.
"lalu? "
"ada beberapa hal yang perlu segera aku urus jadi tidak bisa di tinggalkan, maafkan aku". bohong deniz ke ayla.
Ayla menepis tangan deniz kesal.
"kamu tahu itu tidak bisa di jadikan alasan".
"aku tahu, bukankah aku sudah minta maaf dan semua waktuku sekarang untukmu, menebus semua". wajah deniz terlihat sedih.
Ayla mendesah lelah.
"baiklah, aku memaafkanmu".
Deniz tersenyum sumrigah layaknya anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.
"kamu mau kemana di sini? aku akan temani kemanapun".
Ayla terlihat berpikir. hari ini aku rasa tidak ada karna...
Ayla menatap wajah deniz hingga jatuh ke dalam manik mata deniz. hingga tubuhnya kaku tidak bisa ia gerakkan tanpa sadar ia berucap.
"hanya mau bersama mu!".
Ayla sama sekali tidak tahu efek apa yang bisa menimbulkan pada deniz akibat ucapannya itu. terlihat dari manik mata deniz yang terbakar gairah. mata deniz beralih melihat ke bibir ayla, bibir yang sedikit merah dan sangat menggoda untuk di *****.
"kamu tidak bisa menarik ucapanmu". ucap deniz dengan deru nafasnya yang sesak akan gairah.
Ayla tersenyum. ia merindukan deniz sangat.
Cup...
Ayla mengecup singkat bibir deniz lalu tertawa kecil melihat raut wajah deniz yang terkejut.
__ADS_1