
Deniz terus menekan bel pintu tempat tinggal ayla namun yang ia lihat hingga beberapa menit yang lalu pintu di depannya tidak juga terbuka. ia tersadar saat mengingat kalau bisa saja ayla masuk kerja hari ini dan sekarang berada di perusahaan altan.
Deniz berdecak kesal. 'kenapa ia sangat bodoh, seharusnya ia lihat dulu apa ayla di sana? '.
Deniz meraih hpnya dan menghubungi seseorang yang bisa ia tanyakan di perusahaan altan selain altan jika sekarang.
"oh...refat? kamu masih bersama altan sekarang? ".
"iya nih, dia baru saja ke ruang meeting dan aku sudah di lobby".
"benarkah? ". suara deniz kecewa.
"ada apa? kamu tidak menemukannya? ".
"aku rasa dia di perusahaan altan"
"oh itu...tadi altan mendapat surat dari ayla kalau dia minta izin cuti selama beberapa bulan ke depan, ia tidak tahu alasannya karna altan tidak bilang lagi".
Deniz menatap ke pintu ayla.
"terima kasih ya refat, aku tutup". ujar deniz lalu menutup panggilan dan memasukkan kembali hpnya ke dalam kantong bajunya.
Deniz melangkah mendekat ke pintu lalu mamasukkan kata sandi pintu yang sudah ia lihat kemarin dan ia masih ingat.
__ADS_1
Ckleck...
Deg...
Pintu terbuka di sertai degupan jantung deniz.
Deniz menarik nafas dan melangkah masuk. hal pertama yang ia lihat adalah kekosongan, tidak ada ayla di mana pun di ruang tamu tersebut. ia melepaskan sepatunya dan semakin masuk ke dalam. mata deniz menjelajahi ke segala arah yang bisa membuatnya menemui ayla meski ia tidak tahu harus bilang apa atau mengucapkan kata apa. tapi sekarang bagi deniz melihat ayla adalah hal pertama yang ia mau.
Deniz membuka mulut mau memanggil ayla namun ia terdiam karna tidak tahu harus memanggil dengan nama apa.
'ayla? ia tidak suka memanggil ayla dengan nama itu, beyza? apa dia akan terkejut? lalu...queen? tidak, itu akan membuatnya takut karna selama ini ia sudah bersembunyi lama'. Memikirkan semua kata tersebut langkah deniz sudah membawanya ke dalam kamar ayla namun di mana pun di sana tidak ada ayla. hingga ketakutan menyerang deniz. deniz mulai panik. ia berbalik mencari ayla ke walk in closet siapa tahu ayla sedang berganti baju, tidak ada di sana deniz melangkah membuka pintu kamar mandi ayla namun tidak ada juga di sana, wajah deniz terlihat panik dan ketakutan sedangkan kepalanya berputar kanan dan kiri mencari ayla. dengan langkah lebar deniz melangkah keluar dari kamar ayla dan melangkah ke kamar satu lagi namun sampai di sana ayla juga tidak ada.
Deniz menyunggingkan senyum sinisnya. 'ya, ini memang khasmu queen? '.
Deniz berbalik dan lagi lagi langkahnya berhenti saat mengingat Mr. Okan yang datang kemari tiba tiba lalu...kedua mata deniz melebar dan seluruh tubuhnya melemah.
'ia...kehilangannya lagi...'. deniz menggeleng geleng lalu ia menatap ke segala arah apartemen ayla.
'tidak, katakan tidak, katakan kalau dia tidak akan menghilang lagi'. batin deniz frustasi, ketakutan dan panik.
Deniz melangkah ke sofa dengan lemas tanpa menutupi pintu di belakangnya. ia menduduki bokongnya di sana dan matanya mengerjap saat melihat satu kertas kecil berwarna putih di sana di atas meja sofa tepat di depannya. ia meraih kertas tersebut dan membaca tulisan di sana.
__ADS_1
to deniz.
Aku hanya mau bilang, aku tidak akan mengatakan siapa aku sebenarnya deniz seperti pertanyaanmu, aku minta maaf tapi aku hanya akan bilang, deniz...kamu tenang saja, anakmu akan lahir dari wanita dan keturunan yang bagus bukan seorang jalang atau keturunan rendah. itu saja.
by ayla
Deniz memejamkan matanya sembari menahan nafasnya dan mencekram kuat kertas di telapak tangannya. ia menahan kuat sesak di dalam dadanya. deniz membuka matanya dan terlihat matanya yang memerah dengan genangan air mata di sana.
Deniz menunduk menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan ia menangis karna tidak bisa lagi menahan sesak dan sakit di dadanya.
"kenapa, kenapa...kenapa aku kehilanganmu lagi beyza? kenapa seperti ini? tidak bisakah kita menikmati kebersamaan kita? meski hanya sebentar, apa itu juga tidak mungkin beyza? apa mereka tidak mengizinkannya? ". deniz berbicara sendiri.
Deniz menangis, memuku mukul dadanya dan menjambak kepalanya sendiri sembari meraung menatap ke atas.
"arghhh...hiks...kembali, hiks...kembali beyza...!". teriak deniz frustasi.
Deniz sama sekali tidak mengingat bagaimana kekejaman dan siksaannya pada ayla yang ia tahu sekarang, ia mau melihat ayla, ia mau melihat wajah wanitanya, ia...sangat merindukannya. wanitanya, cintanya, dan hatinya.
Itulah perasaan deniz yang sebenarnya tanpa ia tutupi tanpa ia bohongi diri sendiri dan tanpa ia lari, tanpa ia menahan diri sendiri.
Sebut nama beyza, maka seluruh tubuh deniz akan terguncang dan lemas seketika.
__ADS_1