Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Romi dan Linda Part 3


__ADS_3

"Selamat! Apa yang kamu ucapkan tempo hari terwujud." kata Linda menyunggingkan senyum sinis yang saat ini berdiri di atas pelaminan di acara pernikahannya sendiri.


Romi hanya menarik salah satu sudut bibirnya mendengarkan perkataan Linda. Saat ini dia juga sedang berdiri di atas pelaminan menjadi pengantin pria pengganti di pernikahan Linda yang seharusnya dengan Ardan kini berganti dengan Romi.


"Bukannya kamu yang kemarin bilang 'Kalaupun pengantin prianya kabur, kamu yang akan menggantikannya'." Romi seolah mengingatkan Linda akan kejadian beberapa hari yang lalu saat mereka bertengkar.


"Dan sekarang apa yang kamu katakan ke aku waktu itu terwujud." ujar Romi mengangkat kedua alisnya dengan menyunggingkan senyum mengejek pada Linda.


Linda berdecak sebal pada dirinya sendiri. Kenapa juga waktu itu dia bilang seperti itu. Dan akhirnya itu kesampaian juga.


"Tapi kamu yang datang seolah menjadi pahlawan kesiangan bagi keluarga saya." balas Linda tak mau kalah. Enak saja Romi mengejeknya.


"Walaupun kesiangan aku tetap menjadi pengantin pria dari seorang Linda Maheswari." kata Romi lagi-lagi membuat Linda kehabisan kata-kata untuk membalas pria disampingnya yang kini sudah sah menjadi suaminya itu.


"Menyebalkan. Aku sangat membencimu. Camkan itu." tukas Linda yang sudah tak ingin berdebat lagi dengan Romi.


"Terima kasih. Karena aku juga benar-benar mencintaimu. Dan ingat itu." kata Romi yang terdengar tegas dan serius tidak ada candaan seperti biasanya.


Linda hanya diam saja tidak membalas perkataan Romi. Jantungnya berdetak kencang saat mendengarkan pengakuan Romi tadi. "Kenapa aku merasakan perasaan ini lagi." batin Linda.


"Papa..Ayo kedepan sana! Itu sudah sepi." Kiara menunjuk ke atas pelaminan di mana ada Romi dan Linda yang sudah terlihat sepi.


"Sebentar princess. Tunggu Mama dulu." kata Devan pada putrinya itu.


"Mama lama makannya." gerutu Kiara yang melihat Nayra masih makan.


"Gak boleh seperti itu. Tadi kan Mama nyuapin Kiara. Dan sekarang Mama baru sempat makan." Devan mencoba memberi pengertian pada putrinya.


"Maaf ya Mama lama. Dedek nya belum kenyang soalnya." kata Nayra dengan senyum sambil mengusap pipi Kiara lembut.


Kiara mengangguk "Tapi sekalang sudah kenyang kan Mah dedeknya.?" tanya Kiara


"Sudah sayang. Ayo kita kedepan."


Mereka berempat berjalan kedepan menuju pelaminan. Kiara berada di gendongan Papa Devan. Dia tidak mau berjalan sendiri. Capek katanya.


"Paman Lomi...!!!" teriak Kiara saat mereka hampir sampai.


Nayra sama Devan hanya geleng kepala melihat tingkah putrinya itu.


"Papa tulunin."pinta Kiara

__ADS_1


"Kiara kerjaannya bikin malu saja." celetuk Kenan yang tak dipedulilan Kiara.


"Paman Lomi clometnya Kiala." panggil Kiara pada Pamannya membuat beberapa orang tertawa melihat Kiara yang berlari menuju Pamannya.


"Paman gendong." tanpa banyak kata Romi menggendong Kiara.


"Bibi..Gak apa kan Paman Lomi gendong Kiala?" tanyanya pada Linda.


"Gak apa Kiara. Kalau mau nanti Kiara boleh tidur bersama Paman Romi juga Bibi." kata Linda tanpa memperdulikan tatapan Romi padanya.


"Benel Bibi?" Linda mengangguk dan tersenyum puas. "Benar Kiara sayang."


"Hole!!!" teriak Kiara.


"Kiara gak boleh seperti itu sayang. Ayo turun." tegur Nayra yang baru sampai.


"Gak Mau Mama. Kiala mau disini saja. Kalena nanti Kiala mau tidul baleng Paman dan Bibi." tolak Kiara yang tak ingin turun dari gendongan Pamannya.


"Paman... Kenan juga boleh ikut tidur bareng Paman dan Bibi?" tanya Kenan yang ikut-ikut ingin tidur dengan Paman dan Bibi barunya.


"Boleh" jawab Linda dan Kiara bersamaan.


"Gak boleh sayang. Kalian nanti tidur sama Mama sama Papa." tegur Nayra karena tak ingin anaknya itu mengganggu malam pertamanya Romi dan Linda.


"Tapi, Dev_"


"Nggak apa Bu Nayra. Kebetulan saya sudah biasa menangani anak kecil." kata Linda yang membela Kiara dan Kenan untuk tidur bersamanya.


"Sudah sayang biarkan saja."


"Itu lihat dibelakang sudah banyak yang nganteri." kata Devan menyudahi ketidaknyamanan istrinya karena si kembar yang ingin ikut Paman dan Bibi barunya itu.


"Selamat...Akhirnya berhasil melewati tikungan yang tajam."


"Bilang saja kalau kamu mau kiww sama Nayra di hotel, makanya membiarkan kembar ikut kami. Mengganggu saja." gerutu Romi yang tak mengindahkan ucapan selamat dari Devan.


Devan menyeringai sambil mengangkat kedua alisnya. "Kapan lagi bisa kiww di hotel tanpa gangguan si kembar.


"Sialan!! sudah sana pergi." usir Romi.


"Kalian ini kenapa sih berantem mulu." keluh Nayra.

__ADS_1


"Sudah ayo turun."


"Sekali lagi selamat untuk kalian dan terima kasih karena sudah mau menuruti ngidamnya dedek bayi." ucap Nayra sebelum akhirnya turun dari pelaminan bersama suaminya tanpa si kembar yang ikut duduk di kursi pelaminan bersama Paman dan Bibi baru mereka.


Malam semakin larut dan Nayra belum bisa tidur. Devan pun juga belum kembali ke kamar. Masih dibawah bertemu dengan beberapa kolega bisnis yang diundang di pernikahan Romi.


"HP nya Devan ditinggal pula." keluh Nayra saat ingin menghubungi suaminya namun HP Devan justru ditinggal di kamar.


"Romi..Pasti sudah kembali ke kamar mengingat ini malam pengantinnya."


Nayra menghembuskan nafas perlahan. Dia mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit itu.


"Kamu lapar yah..Sabar yah..Papa belum kembali, kalaupun Mama keluar sendiri Mama juga belum hafal daerah sini." Nayra berbicara sendiri dengan bayi yang masih di kandungannya.


"Apa kita susul saja yah Papa ke bawah?" tanya Nayra pada bayi yang ada diperutnya.


"Baiklah kita susul Papa."


Nayra akhirnya menyusul Devan ke tempat resepsi tadi.


Ting.


Pintu lift terbuka bertepatan dengan Devan dan Romi yang baru kembali.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Devan yang melihat Nayra keluar dari kamar.


"Aku mau nyusul kamu." jawab Nayra dengan tampang polosnya.


"Sudah malam, ayo kembali ke kamar." Devan menggandeng tangan Nayra menuju kamar.


"Kalian gak mau ngambil si kembar.?" tanya Romi yang melihat Nayra dan Devan pergi menuju kamar hotel mereka.


"Nggak!" bukan Devan yang menjawab melainkan Nayra.


Devan menoleh ke belakang dan mencibir Romi. "Rasain."


"Emang mereka berdua itu. Pasutri gak ada akhlak." gerutu Romi dan berjalan menuju kamar pengantinnya.


Huftttt


Romi menghembuskan nafas kasar saat melihat ranjang yang seharusnya dia tempati bersama Linda dipenuhi oleh si kembar dan juga Linda yang ada dipinggir. Mereka bertiga sudah tidur.

__ADS_1


Romi menatap sekeliling dan mendaratkan tubuhnya di sofa untuk istirahat sejenak sebelum membersihkan diri.


"Akankah Linda mau membuka hatinya lagi untuk ku?" pertanyaan yang selalu Romi tanyakan pada dirinya sendiri sejak dia bertemu dengan Linda kembali sepulang dari Turki enam tahun silam.


__ADS_2