
Miss Kimy berjalan menuju kamar Kenan membawakan sarapan pagi buat Tuan kecilnya. Setiap pagi semenjak Nayra juga Devan diculik dan disekap, Miss Kimy selalu mengantarkan makan untuk Kenan dan merawat Kiara yang mogok makan sampai sakit dan diinfus.
"Selamat pagi Tuan kec_" Miss Kimy tidak melanjutkan ucapannya saat tidak mendapati Kenan di dalam kamar.
"Kemana dia?" Miss Kimy meletakkan nampan berisi sarapan buat Kenan dan mencari Kenan di kamar mandi siapa tahu Tuan kecilnya ada di kamar mandi.
"Kok gak ada. Apa mungkin sudah ke kamar Non Kiara."
Miss Kimy mengambil kembali nampan berisi sarapan dan dibawanya ke kamar Kiara. Dia melihat kamar Kiara yang sudah terbuka sebagian. Dia berfikir kalau Kenan sudah ada di dalam sana bersama Kiara.
"Kemana mereka?" Miss Kimy lagi-lagi tidak mendapati Kenan dan sekarang Kiara juga sudah tidak ada.
"Infusnya terlepas." gumam Miss Kimy saat melihat jarum dan selang infus tergelantung di dekat ranjang juga ada bekas darah di seprai.
"Mereka kemana?" Miss Kimy mulai gelisah.
Dia segera keluar dan menemui penghuni rumah Nathan yang lain yang sedang menyantap sarapan pagi.
"Tuan.... Nyonya..." teriak Miss Kimy sambil berlari mendekati keluarga Arasyid yang sedang menikmati sarapan pagi.
"Kamu kenapa sih Kim? Pagi-pagi sudah teriak-teriak kaya anak kecil saja." tegur Nathan yang sedang menikmati segelas kopi hangat kesukaannya.
"Tuan...Kembar...Si Kembar gak ada di kamar." kata Miss Kimy sambil mengatur napasnya, untung dia masih bisa bicara dengan lancar.
"Maksud kamu?" tanya Mami Mira yang belum paham dengan perkataan Misa Kimy.
"Tuan Kenan sama Nona Kiara gak ada dikamar mereka." jawab Miss Kimy cepat.
"Kamu sudah cek ke semua tempat?" Miss Kimy mengangguk beberapa kali saat Papa Rasyid bertanya.
"Nathan, coba kamu cek CCTV." perintah Papa Rasyid tegas.
Nathan langsung menjalankan tugasnya untuk mengecek ke ruang kontrol CCTV.
"Faiz mana?" tanya Papa Rasyid tertuju pada semua yang ada di sana.
"Kak Faiz tadi Lidya lihat sedang breafing dengan para pengawal, Pa." jawab Lidya
"Panggil dia kesini sekarang." Lidya mengangguk dan pergi memanggil saudara iparnya.
"Pa...Kembar gak diculikkan?" tanya Mami Mira dengan mata berkaca-kaca setelah tadi hanya diam saja memikirkan keberadaan si kembar.
"Aku gak tahu. Semoga saja tidak." jawab Papa Rasyid yang memegang gelas di depannya dengan erat. Dia juga takut kalau cucu kembarnya juga ikut diculik seperti Nayra juga Devan.
"Pa.." Faiz berjalan cepat setengah berlari menghampiri Papa Rasyid.
"Kata Lidya tadi_" Faiz tidak melanjutkan perkataannya saat Papa Rasyid memerintahkannya untuk melacak nomor si kembar.
"Tadi yang dibawa handphone nya Tuan Kenan. Handphone nya Nona Kiara ditinggal." kata Miss Kimy saat melihat Faiz siap melacak nomor si kembar.
Faiz terlebih dahulu mencoba menghubungi nomor handphone Kenan namun sayang nomornya di luar jangkauan. Dia terus mencoba melacak namun tak juga ditemukan.
"Sepertinya GPS di handphone Kenan dalam keadaan mati. Aku gak bisa melacaknya." kata Faiz yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Kemana mereka?" gumam Papa Rasyid yang duduk di sebelah Faiz.
Mami Mira terus saja menangis dan masih di tenangkan oleh menantunya, Lidya.
"Kak coba lihat ini." Nathan datang dan menyodorkan handphone nya pada Faiz.
Faiz dan Papa Rasyid melihat rekaman CCTV di handphone Nathan.
"Kenapa mereka masuk ke mobil Ilyas mengendap-ngendap?" tanya Papa Rasyid heran. Biasanya mereka memang main bersama Ilyas dan kenapa sekarang justru mengendap-ngendap seperti itu dan membawa ransel.
__ADS_1
"Kenapa juga bawa ransel?" sambung Nathan.
"Aku coba hubungi Ilyad dulu." ucap Faiz yang mengambil handphone nya.
"Tunggu Kak!" cegah Nathan saat melihat Faiz yang siap menghubungi Ilyas.
Faiz menatap heran pada Nathan yang berani mencegahnya untuk menanyakan posisi keponakannya.
"Kak Faiz tanya saja dimana Ilyas berada, jangan tanya si kembar." kata Nathan mengarahkan Faiz.
"Aku takut saja si kembar kenapa-kenapa." ucap Nathan lirih.
Faiz mengangguk paham akan maksud dari Nathan. Padahal dia tadi juga hanya ingin menanyakan keberadaan Ilyas bukan si kembar.
"Kamu dimana?" tanya Faiz setelah sambungan telephon diangkat Ilyas.
"Ke restoran terakhir yang dikunjungi Nona Nayra Tuan." kata Ilyas
"Bukannya kemarin anda meminta saya untuk mengecek ulang dari sana?" sambung Ilyas bertanya pada Faiz.
"Baiklah, lakukan pekerjaan mu dengan cepat dan teliti." Faiz langsung mengakhiri panggilan telephonnya.
Nathan mengangkat kedua alisnya menanyakan bagaimana hasilnya.
"Aku coba lacak lokasi Ilyas sekarang. Apa benar dia ke restoran apa tidak." ujra Faiz yang sibuk mengotak atik laptopnya.
"Inikan bukan ke arah restoran, Kak!" seru Nathan saat melihat gerakan di layar laptop Faiz.
"Mereka munuju puncak." seru mereka bersamaan.
"Kenapa Ilyas kesana?" tanya Papa Rasyid yang juga melihat layar laptop Faiz.
"Kita tidak memiliki aset disana." ucap Nathan mengingat keluarga Arasyid tidak memiliki aset di daerah puncak.
"Hubungi Romi sama Doni, minta mereka pergi ke puncak sekarang." perintah Faiz yang masih melihat arah tujuan mobil Ilyas apa benar ke puncak atau bukan.
Nathan yang paham akan perintah Faiz segera menghubungi Romi dan Doni untuk menuju ke puncak sekarang.
"Ayo kita berangkat." kata Faiz setelah melihat Nathan yang sudah selesai menghubungi Romi juga Doni.
"Papa ikut." Papa Rasyid menghentikan langkah Nathan juga Faiz.
Faiz menoleh pada Papa angkatnya itu. "Papa dirumah saja. Biar Faiz sama Nathan dan yang lainnya yang menyelesaikan masalah ini." kata Faiz tegas.
"Papa juga ingin_"
"Pa..Dengarkan Kak Faiz saja untuk saat ini." seru Nathan yang geram akan Papanya yang ingin ikut padahal kesehatannya menurun saat tahu putrinya diculik.
"Papa dirumah saja." ucap Faiz pelan berharap Papa Rasyid menurut.
"Faiz..Nathan...Tolong selamatkan mereka." pinta Mami Mira dengan memohon penuh harap.
"Pasti, Mi."
"Doakan kami."
Faiz dan Nathan segera pergi menuju puncak sesuai tujuan Ilyas.
"Sial!!!" umpat Faiz saat melihat titik lokasi Ilyas sudah menghilang.
"Kita kehilangan jejak." ucap Faiz kesal.
"Gak apa Kak.Kita coba aja cari disana." Nathan mencoba menenangkan Faiiz yang terlihat marah itu.
__ADS_1
Drrttt
Faiz juga Nathan melihat handphone nya masing-masing.
"Kenan." ucap Nathan melihat siapa yang mengirim pesan untuknya.
"Kak.." Nathan menunjukkan isi pesan Kenan pada Faiz.
"Aku juga dapat, kita kesana sekarang."
Nathan mengangguk dan meminta supir yang juga anggota tim dari Faiz menuju lokasi yang Kenan kirim.
"Kalian dari tadi?" tanya Nathan pada Romi yang sudah sampai duluan.
"Nggak juga." jawab Romi.
"Kita atur strategi." kata Faiz yang memulai mengarahkan anggotanya untuk berjaga diluar sebagian dan sebagiannya lagi ikut masuk kedalam.
"Doni, kamu tunggu diluar saja gak usah ikut." kata Faiz.
"Kenapa?" tanya nya heran memandang Faiz.
"Kamu mau Lia nangis kejer lagi kalau melihat mu terluka?" tanya Romi pada ipar juga sahabatnya ini.
"Yayaya...Sudah sana masuk." usir Doni pada mereka bertiga.
"Selain si kembar, semoga Nayra sama Devan ada didalam juga." harap Doni menatap Faiz dan yang lainnya sudah memasuki area villa.
Dengan gerakan gesit dan tanpa menimbulkan suara Faiz dan yang lainnya berhasil melumpuhkan para penjaga villa yang ada diluar.
"Aku langsung ke belakang, Kak." Faiz mengangguk melihat Nathan dan anggotanya langsung menuju belakang villa.
"Kamu sudah siap, Rom?" Romi menatap Faiz dan mengangguk mantap.
Faiz dan Romi masuk kedalam villa lewat depan dan ternyata tidak ada yang menjaga.
"Penjagaannya hanya diluar." kata Romi.
"Tapi kita harus tetap hati-hati." Romi mengangguk setuju akan saran Faiz.
"Apa perlu kita melumpuhkan mereka?" tanya Romi menatap tiga orang yang sedang main di meja makan.
"Gak usah, itu bagian Nathan." ujar Faiz dan melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua.
"Itukan Kenan sama Kiara." ucap Romi yang heran saat melihat Kenan juga Kiara yang sembunyi di balik sofa sambil memakan camilan.
"Bisa-bisanya mereka makan dalam keadaan seperti ini." Romi menggelengkan kepalanya menatap heran pada kedua ponakan kembarnya.
"Kamu lindungi si kembar. Aku akan kesana." perintah Faiz pada Romi dan pergi menuju kamar yang terbuka dan terdengar suara meski samar.
"Lepaskan dia."
"Devan." gumam Faiz saat mendengar suara Devan. Faiz semakin memdekat.
"Kamu mau istrimu ini selamat?"
"Ilyas..." ucap Faiz lirih tak percaya kalau Ilyas menghianatinya.
"Kalau iya...Lakukan sesuatu untukku." suara ilyas kembali terdengar.
"Apa yang kamu inginkan?"
Ilyas menyeringai saat mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya.
__ADS_1
"Welcome to Under Black, Mr. Faiz Askara."