
"AP...APA?!". teriak ayla terkejut sembari berbalik menatap mine dengan wajah shock.
Mine yang berdiri hanya berjarak 2 meter dengan ayla menaikkan kepalanya melihat sang majikannnya.
"bisa-kamu-ulang-sekali-lagi...?!". minta ayla putus putus ke mine.
"iya nona? Mr. okan yang menyuruh saya menyampaikan dan juga menyuruh nona untuk bersiap siap ke bawah untuk menemui tamu nona".
Tubuh ayla sontak saja mematung. 'apa yang terjadi...? kenapa deniz kemari...? dan juga...'.
"tunggu...kamu bilang tadi, tamuku...pulang kerumah bareng daddy..? semobil dengan daddy..?".
Mine mengangguk mengiyakan. itu yang ia dengar dari pelayan di bawah.
Ayla berbalik sembari menarik nafasnya dan memijat keningnya yang sama sekali tidak sakit.
'kenapa dia ke sini? ada apa? apa...pak khaled yang menyuruhnya? lalu pak khaled dan semuanya sudah tahu...? termasuk ceyda? Arghhhhh...'. ayla menjambat rambutnya sendiri.
'tidak, ia harus berpikir sekarang, apa yang harus ia lakukan ketika turun ke bawah dan bertemu deniz...seharusnya bukan deniz yang harus ia temui pertama tapi...'. ayla berbalik menatap tajam pintu kamarnya.
'tapi daddynya...'. ayla menggertakkan giginya dan melangkah keluar dari kamarnya dengan dres tidurnya yang bertali satu, panjang hampir mencapai tumitnya, berwarna merah muda dan tidak tembus pandang karna ada lapisan di bagian dalam namun sangat indah dan elegan siapapun yang melihat.
Ia tidak perlu mengkhatirkan tubuhnya di lihat oleh lelaki di dalam rumahya ini karna memang tidak ada yang namanya pria di dalam rumahnya kecuali daddynya dan jika pun ada hanya tukang kebun dan supir mereka itupun mereka sudah di sediakan rumah yang bersebelahan pagar dengan rumah mereka dengan arti mereka tidak akan ada di sini jika malam dan jika ada yang perlupun mereka akan masuk ketika di perintah.
"kamu tetap di sini mine! ". perintah ayla tegas ke mine yang mau mengikuti.
Ayla memutar arah ke dapur saat melihat momminya di sana.
"mom..? daddy di mana? ".
Ayse menoleh melihat ayla di sela ia sedang membuka kulkas.
"di ruangan kerjanya sayang? ada apa? tidak biasanya kamu mencari daddy mu di jam begini? oh tunggu it...".
Ayla berbalik melangkah keluar dari dapur.
"terima kasih mom...?". ayla memotong ucapan ayse sebelum ia menghilang dari dapur.
Ayse mengerjap ngerjap. "aku rasa tidak akan terjadi apapun kan...? aku sudah mencoba memberitahu...". ayse berbicara sendiri sembari melihat di mana ayla menghilang tadi.
Ckleck...
Ayla langsung menatap okan tajam begitu membuka pintu.
Okan yang melihat kedatangan putrinya sontak saja ia berdiri dari kursi kerjanya dan menatap putrinya dengan penuh kasih sayang dan melangkah ke sana.
"ada apa beyza? terlihat kamu sangat marah dengan daddy hm...? apa daddy berbuat salah...?".
Ayla tersenyum tipis namun penuh makna.
"daddy sedang bertanya ? bukankah seharusnya beyza yang bertanya? ada apa dengan daddy? kenapa daddy menyuruh deniz kemari...? dan jika tujuan daddy untuk kesenangan daddy, maka suruh deniz untuk kembali ke sana segera besok atau...".
Ayla menatap daddynya tajam sedangkan okan melipat kedua tangan di dadanya menatap putrinya menunggu kelanjutannya.
"kali ini kalian tidak akan bisa menemukanku! ". tegas ayla tajam. yang ia tahu menurut kebiasaan daddynya, ketika dia sudah mulai bosan dengan dunia kerjanya maka dia akan mengerjai orang orang siapapun itu untuk kesenangannya atau...dia akan mencari musuh dadakan dengan mengakuisi perusahaan orang tiba tiba.
Dan jika ya seperti yang ia pikirkan maka tujuan daddynya adalah untuk pertunjukkan. dengan deniz yang datang kemari maka otomatis kakeknya akan tahu lalu...keluarga Flederick dan aku yakin pertunjukkan itu sangat seru bagi daddynya. di tambah, dia mau menjadikannya dan deniz sebagai bahan balas dendamnya terhadap papinya, yang menurut daddynya sangat menjengkelkan. karna mungkin tekanan dari kecil. ughhh..
"beyza harap daddy hentikan, jangan masukkan deniz ke dalam...".
Ayla menghentikan ucapannya saat melihat daddynya berbalik dan berwajah sedih sembari mengucek ngucek matanya.
"daddy pikir...hiks...putri daddy...hiks...senang dengan hadiah yang daddy berikan...hiks...entah kenapa batin daddy sangat sedih..hiks...". okan membelakangi ayla dan terus mengucek ucek kedua matanya dengan mulutnya yang menggerucut.
Ayla memutar bola matanya malas. "ayolah daddy? beyza tidak akan tertipu lagi...aku rasa daddy harus ganti cara untuk bisa menipu putrimu ini".
Sontak saja kedua mata okan terbuka dan berbalik menatap putrinya.
"kamu sedikitpun tadi tidak merasa daddy benaran sedih...? mata daddy tidak menangis tapi batin daddy sedang menangis". okan mengangguk angguk membenarkan ucapannya sendiri.
Ayla mendesah lelah. ia tahu tujuan daddynya adalah supaya tujuannya tidak ketahuan.
"daddy hentikan dan jawab saja, kenapa daddy lakukan ini...? padahal daddy tahu jika deniz kemari maka bisa terjadi kekacauan besar
...? daddy mau kakek bermusuhan dengan Mr. Derick dan itu tidak baik! ".
Wajah okan terlihat serius menatap putrinya lalu mengangkat tangannya mengelus puncak kepala ayla. putri kesayangannya dan sangat ia cintai tersebut.
"hilangkan di kepalamu semua masalah keluarga dan tanggung jawab...".
Ayla tersentak mengerjap mendengar ucapan daddynya.
"sekarang beyza? pikirkan dirimu, kebahagianmu, dan juga bayimu! serta semua hal yang mau kamu lakukan kecuali satu hal beyza? dan daddy tidak akan pernah mengizinkanya lagi".
Setelah tadi ayla terhanyut haru mendengar ucapan daddynya namun seketika lenyap dengan ucapan daddynya yang terakhir. ia menaikkan satu alisnya.
"kabur?! ".
"aw...sakit dad...?!". ringis dan teriak ayla saat okan menjitak dahinya.
__ADS_1
"kamu gadis pintar! dan untuk deniz suami kamu...".
"untuk sementara". potong ayla cepat.
Okan mengerjap menatap putrinya lalu kembali melanjutkan ucapannya.
"kamu benar, dia daddy yang suruh dan undang datang kemari, itu tulus daddy lakukan untukmu sayang...? tidak ada maksud begitu, dan jika pun daddy mau bersenang senang karna, kamu benar sayang...? akhir akhir ini daddy sangat bosan di perusahaan tapi beyza? daddy tidak akan pernah menggunakanmu untuk membunuh kebosanan daddy tapi jika dia...". okan tersenyum keji.
See, ada yang daddy rencakan.
"hentikan dad...? deniz tidak termasuk apa apa di keluarga kita dia hanya...".
"sekalipun satu menit, dia sudah masuk ke keluarga kita beyza dan dia...harus menjadi bahan percobaan daddy dulu".
Ayla menggeram dalam hati. dan bahan percobaan itu tidak perlu di pertanyakan lagi karna dengan perang dunia ke tiga maka ini lebih parah misal...
"bisa beyza tahu contohnya...? permainan daddy sangat mengerikan".
Okan tersenyum keji lalu ia pun terkekeh keji.
'oh mom...? dimana kamu, kamu harus melihat suamimu dan memberinya pelajaran dan pelajaran yang paling di takuti pria jahil ini adalah...tidur di luar, bukan tidur diluar yang dia takutkan melainkan tidak bisa menyentuh mommynya'. ughhh...
"haruskah dia daddy lempar ke keluarga Flederick?! ".
Kedua mata ayla sontak saja membulat. 'daddynya tidak pernah bercanda! '.
"daddy...?!". teriak ayla tidak terima.
Okan menggerucut bibirnya. "tidak bisa?.. kalau begitu...". okan terlihat berpikir lagi.
Ayla menyatukan kedua alisnya. ia harus tahu, benar benar harus tahu, ke mana daddynya akan membawa deniz. jika bukan besok maka besoknya lagi. ini bisa juga jadi balas dendam daddynya karna deniz membiarkannya sendiri malam itu bertarung.
"bagaimana kalau kita kasih ke calon suamimu? ah itu ide bagus".
"itu bagi daddy tapi tidak bagi beyza, pokoknya enggak mau, besok daddy harus kembalikan deniz kenegerinya jika tidak...?".
"jika tidak?! ". okan mengulang ucapan ayla.
"seperti yang beyza bilang tadi".
Okan tersenyum keji.
"pergilah, maka deniz ada di tangan daddy". tantang okan dengan menaikkan dagunya angkuh.
Ayla menatap daddynya tajam.
"baiklah, bagaimana kalau kita beri dia ke kakek...?"
Kedua bola mata ayla lagi lagi membulat.
"daddy mau membunuhku? ".
"tenang saja, tanpa kamu tahu".jawab okan cepat setelah duduk di kursi kerjanya dan menatap putrinya.
"dan aku sudah tahu". geram ayla kesal. melempar ke kakek? sama saja seperti memberi makan harimau yang sedang kelaparan. deniz akan di hajar habis habisan. kedatangan deniz ke sini, semua mereka menunggu...dan kenapa pria itu mau datang? ini tidak seperti dirinya. untuk anaknya? atau di suruh kakek? entahlah, yang aku tahu sekarang, dia seperti menjatuhkan dirinya ke dalam kandang singa.
"daddy...?". rengek ayla ke daddynya berharap daddynya berubah pikiran.
"daddy akan lepaskan dia tapi ada satu syaratnya".
Ayla seketika tertarik untuk mendengar.
"katakan".
"satu malam, hanya satu malam! kamu mau tidur sama daddy dan mommy di kamar daddy dan mommy dan juga harus...ditengah tengah kami".
Ayla sontak saja membukatkan matanya.
"apa daddy bercanda...?!".
Okan memperlihatkan raut wajah sedihnya dan ayla sama sekali tidak percaya.
"kenapa? saat kecil kamu selalu tidur dengan daddy dan mommy di tengah tengah juga kan? ".
Ayla menggeram dalam hati.
"itu waktu kecil daddy? sekarang beyza sudah besar, be-sar! dan juga... beyza...sekarang sudah hamil, bukan lagi anak kecil". jawab ayla kesal.
Okan melihat ke perut putrinya dan entah kenapa ia sedih, seakan akan ia baru kemarin sedang bermain main dengan putrinya dan sekarang dia...
"kalau tidak ya sudah, hanya itu penawarannya". ujar okan sedih lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya yang terhenti tadi.
"ughh...daddy sangat menyebalkan". kesal ayla sembari menghentakkan kakinya.
"daddy tahu? sekarang kembalilah ke kamar bukankah ini sudah jamnya kamu tidur...? besok kita akan bahas lag...tunggu...". okan dengan langkah cepat melangkah ke arah beyza setelah bangkit dari duduknya.
Ayla menatap daddynya bingung.
__ADS_1
"kamu tadi kemari hanya menggunakan ini...?".
Ayla mendesah lelah. 'bukankah biasanya juga begini?kenapa malam ini...'.
Ayla mengangguk malas. "biasanya juga beginikan?! ".
Okan membulatkan matanya.
"itu biasanya, mulai sekarang tidak bisa lagi mengerti?! ". okan menggoyang goyangkan tubuh ayla dengan wajahnya yang panik.
'enak saja, baru tadi tiba di sini, tubuh putri kecilnya harus jadi santapan bocah itu yang pertama, tidak bisa, dia harus di hajar dulu, harus lulus tes dulu'.
"apaan sih dad...? enggak ada siapapun juga hanya daddy laki laki di rumah ini".
Okan membulatkan matanya.
"kamu belum ketemu suami sementaramu...?".
Ayla sontak saja menatap tajam daddynya dan ia kesal.
"tidak perlu di perjelas juga dad...?". teriak ayla kesal.
Okan mengerjap bingung. 'aku serba salah'.
"tadi saat daddy bilang suami kamu malah kamu bilang sementara dan daddy bilang suami sementara eh, malah kamu kesal beyza...?".
"sudahlah, itu memang kenyataan! lagian...tadi beyza dengar deniz dengan daddy lalu...deniz...dimana...sekarang...? kamar tamu...?".
"kamar tamu? yang ada tadi daddy suruh bibi antar ke kamar kamu".
"ya?.... ". Ayla mencoba mencerna ucapan daddynya dan semenit kemudian.
"YA....?! ". teriak ayla setelah sadar dan jelas dengan ucapan daddynya.
Okan mengangguk sembari telunjuknya menunjuk ke atas. yang artinya di lantai kamar beyza.
Ayla sontak saja langsung berbalik dan melangkah lebar ke pintu keluar.
Brukh...
Trang...
"ah...". ringis ayla saat menabrak seseorang dan orang itu. mommynya.
"beyza...?". seru ayse saat melihat wajah anaknya yang panik.
Mata ayla melihat ke piring buah serta buah yang sudah berserakan karna ulahnya.
Okan melangkah lebar mendekat ke arah kedua wanita yang sangat ia cintai tersebut.
"kalian baik baik saja...?". tanyanya begitu sampai di samping beyza.
Ayse menunduk memungutnya.
Ayla berdecak kesal lalu melihat daddynya dan ia kembali ingat kenapa ia terburu buru.
"maaf mom? beyza tidak bisa membantu tapi seseorang bisa bertanggung jawab". ucap ayla sembari melangkah menuju pintu keluar.
Ayse sudah memungut semuanya dan berdiri menatap suaminya dengan bingung.
"apa yang terjadi padanya? dia terlihat buru buru". ayse melangkah mendekat ke okan lalu berdiri tepat di hadapan okan.
Okan yang dari tadi melihat ke pintu beralih melihat istrinya.
"di tidak tahu kalau suaminya ke kamarnya dan mungkin sekarang berada di dalam kamarnya".
Ayse tersenyum tipis. ia pikir apa.
"tadi aku sudah mencoba mengatkan tapi dia malah langsung kemari setelah menanyakan keberadaanmu". ayse melangkah melewati okan dan meletakkan buah tadi di atas meja kerja okan.
"dia selalu ceroboh dan tidak berhati hati, aku tidak menyangka putriku sudah sebesar itu dan juga...sedang hamil...". terlihat raut wajah sedih okan saat mengatakan itu dan ayse tersenyum hangat lalu memeluk suaminya lembut.
"waktu berjalan sangat cepat tapi...bagaimana...dengannya? apa perkiraanmu selama ini benar?!".
Okan tersenyum. semua kesedihannya hilang seketika saat teringat akan ucapan seseorang.
"kurang lebih, tapi aku akui...pengorbanan serta perjuangannya sangatlah luar biasa, aku salut, bukankah...dia sangat pantas untuk putri kita? mereka sangat cocok, seperti kamu...dan aku! ". okan menatap istrinya seksama lalu memeluknya erat. matanya menatap tajam ke depan, teringat ke sosok pria yang menemuinya tadi siang dengan sangat percaya diri dan angkuh.
__ADS_1