Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 19


__ADS_3

"aku melihatnya di lobbi rumah sakitmu...aku melihatnya di lobbi rumah sakitmu... ". ucapan refat terus tergiang di dalam kepala deniz. deniz duduk di depan meja makan sembari menunggu ceyda yang sedang menyiapkan sarapan paginya.



"...yang...sayang...? selim...?!". Ceyda sedikit berteriak hingga membuat deniz tersentak kaget.



"oh...yang sayang? kamu memanggilku...?". deniz mendongak menatap ceyda yang berdiri di sampingnya.



"ada apa sih? dari tadi kamu terus begini? ada yang kamu pikirkan...? apa kakek mengatakan sesuatu...?" ceyda mengelus elus pundak deniz.



Deniz meraih sarapannya roti yang di balutin selai strobery oleh ceyda lalu mencemotnya.



"tidak ada, hanya nanti malam di suruh ke rumah saja, lain tidak ada, hanya ada sedikit masalah kecil, jangan di pikirkan"



Ceyda mengangguk angguk mengerti.



"hari ini ada acara? ". deniz menatap ceyda yang sudah duduk di kursi sampingnya.



Ceyda mengangguk sembari tersenyum.



"acara pertemuan arisan lalu kita mau shopping sebentar, mungkin kami akan pulang larut sedikit, tidak apakan...?"



"kamu senang...?!"



"tentu saja! "



"jika kamu senang dan bahagia aku juga ikut senang, pergilah! jangan terus di rumah, kamu akan suntuk dan bosan padaku nanti"



Mata ceyda melebar. "haruskah?! "



Deniz terkekeh lalu meraih kopinya dan menyesapnya sedikit.



"kamu harus membunuhku dulu jika itu terjadi okay...? "



Ceyda ikut terkekeh.



"setelahnya aku akan menyusulmu...? ". canda ceyda sembari mencemot rotinya.



Deniz tertawa kecil. tawanya terhenti saat teringat wanita yang di sebut oleh temannya ferat.



'sekalipun aku mati, aku sangat berharap bisa melihatnya walaupun sekali dan sekejap, mungkin akan membuat hati ku tenang dan ikhlas melepaskan perasaan yang membelenggu ini'. lirih batin deniz lalu ia menarik nafas lelah sembari melepaskannya.



Deniz bangkit berdiri sembari meraih tas hitam kerjanya.



"sayang, suamimu ini berangkat dulu ya...? ingat, nanti harus di antar supir". deniz mencium kening ceyda dengan penuh perasaan sayang dan cinta sembari menutup kedua matanya.



"iya iya tahu". rajut ceyda sebal sembari memayunkan bibirnya.



Deniz terkekeh geli. ia mengangkat tangannya mengusap ngusap kepala ceyda hingga membuat rambut ceyda yang panjang se pinggang berantakan.



Jika di dalam rumah dan hanya ada mereka berdua ceyda tidak memakai hijap bahkan dia bermain dengan baju seksinya baju santai di rumah. para pengurus rumah akan menekan bel atau bilang dulu ke deniz sebelum masuk rumah jika orang itu laki laki namun jika orang tersebut perempuan maka tidak masalah bagi deniz maupun ceyda.



"selim...? rambutku berantakan lagi? ". suara ceyda sedikit berteriak kesal.



Deniz tertawa ngakak sembari berlari ke depan karna ceyda yang mau melemparnya dengan sendok makan.



"berangkat ya sayang? tidak perlu antar, lanjutkan sarapanmu, dah sayang cintaku". teriak deniz dari arah ruang tamu.



Ceyda yang mendengar kata kata deniz tersebut tidak bisa menyembunyikan raut wajah senangnya dan ia pun tersenyum.



"hm, hati hati dan jaga dirimu". balas ceyda dari meja makan.



Tidak ada sahutan lagi dan ceyda berpikir suaminya sudah keluar dari rumah.



Ceyda terkekeh geli. mereka memang tidak punya anak tapi kehidupan mereka benar benar sangat bahagia, cinta deniz sama sekali tidak berkurang untuknya meski sekarang ada wanita lain walau sebentar tapi ia lihat deniz sama seperti dulu sikapnya dengannya tidak ada yang berubah. malah yang ada semakin jahil.



💓💓💓



Istirahat makan siang di rumah sakit milik deniz. deniz tidak keluar ke kantin karna saat mau keluar tadi di ambang pintu ia bertemu dengan altan dan juga raut wajah lesunya.



Pertama melihat kedua alis deniz terangkat. ia mau bertanya apa yang terjadi padanya tapi keduluan temannya yang masuk menerobos ruangannya lalu merebahkan tubuhnya ke sofa.



Mereka terdiam hingga beberapa menit dan tidak ada yang mau membuka suara. deniz yang hanya melihat altan sedangkan altan mendongak ke atas sembari menatap ke atap seperti nyawa sudah hilang dari tubuhnya saja.


"baiklah, apa yang terjadi padamu? ini tidak seperti dirimu yang banyak bicara"



Altan hanya melihat deniz sekilas sebelum kembali menatap ke atap. ia enggan menjawab.



Deniz menghela nafas.



"kamu sudah makan siang? "



"apa aku terlihat sedang mood makan?! ". balas altan acuh.



Deniz menahan dirinya untuk tidak marah. 'kamu tidak mood kawan? tapi di sini temanmu sedang sangat kelaparan'.



"bagaimana kalau kamu temenin aku makan lalu kamu bisa ceritakan semuanya yang mengganggumu padaku".



Altan sontak bangun dan menatap deniz. ia mengerjap sembari berpikir.



"di mana? kebetulan perutku minta makan"



Deniz menggelengkan kepalanya lalu ia bangkit berdiri.



"ayo?...tidak jauh dekat sini saja, waktuku tidak akan cukup untuk perjalanan jauh". ajak deniz yang sudah sampai di pintu dan menunggu altan.



Tidak berapa lama mereka sampai di restoran tersebut dengan berjalan kaki karna jaraknya memang tidak jauh hanya saja harus sedikit menyebrang jalan.



Di sudut lain di dalam restoran tersebut terlihat ayla dan satu orang pria yang bernama murat duduk bersebelahan dengan ayla dan tepat di depannya.



Deniz dan altan memasuki restoran. kepala mereka berputar kanan dan kiri mencari bangku kosong karna sekarang waktunya makan siang tentu tempat ini akan selalu ramai pengunjung dan sulit untuk mendapatkan tempat. setelah lama berdiri mereka akhirnya menemukan satu meja kosong yang kebetulan ada dua pasangan yang sudah menyelesaikan makan siang mereka. deniz dan altan melangkah ke sana, mereka melangkah tanpa melihat ayla yang sudah mereka lewati.



"kamu serius...? ". suara murad terkejut hingga membuat beberapa orang di sampingnya melihat ke arah mereka.



Murad tersenyum bodoh dan kembali duduk.

__ADS_1



"kamu sedang bercanda bukan? atau ini cara baru yang kamu pakai untuk menolakku...?".



Ayla melihat murad malas.



"bodoh". satu kata dari ayla membuat murad terdiam dan ia bisa mengambil satu kesimpulan. dia...



"kamu serius...?".



Ayla mengangguk malas menjawab pertanyaan murad.



"dia tahu...?".



Ayla sontak menatap murad tajam.



"seharusnya tidak, tapi lain cerita jika kamu membuka mulut"



"kamu berpikir aku akan begitu...?". murat terlihat emosi dengan tuduhan ayla padanya.



Ayla menarik nafasnya.



"hanya kamu di sini yang tahu semua tentangku murad, apa aku benar? "



"kamu lupa dua orang lagi ayla"



"aku percaya mereka, kenapa aku sampai di sini sekarang, semua karna bantuan mereka jadi apa menurutmu mereka akan mengkhianatiku...?".



Murad mengakui tuduhannya yang tidak berujung, kedua manusia itu sangat setia dan juga sangat menyayangi ayla jadi tidak mungkin mereka akan menusuk ayla dari belakang. keduanya adalah aliye dan si dr. muhib sepupu jauh ayla.



"kamu benar tapi apa kamu yakin dia tidak akan menemukanmu lalu mengirim mata mata untuk selalu mengikutimu"



Ayla tersenyum sinis.



"bodoh jika dia tidak bisa menemukanku dan kamu benar, cepat atau lambat dia juga akan tahu berita ini, hanya tinggal menghitung hari saja". ayla mendesah lelah.



"haruskah aku menjadi bodygurd mu? "



"kamu mau...?"



"seumur hidup"



Ayla tidak menjawab lagi tapi hanya menyungging senyum tipis.



"terima kasih"



"sama sama". jawab murad dengan penolakan halus ayla.



"so...bagaimana denganmu sekarang...mengaku menyerah, jika pun tidak kamu akan capek dan lama lama kamu harus pasrah juga, kamu tahu banget murad, bagaimana akhirnya".



"kamu benar ayla tapi seorang pria tidak bisa menyerah begitu saja sebelum berusaha keras dan aku sudah berusaha meski belum membuatku mau menyerah, aku..."



Ayla menatap murad dengan lembut.




Murad menatap ayla.



"kamu tahu betul kenapa aku mendekatimu dan berteman denganmu, di saat aku juga tahu kamu milik siapa waktu itu"



Ayla tersenyum samar.



"aku tidak marah dengan itu tapi yang membuatku marah karna kamu sangat gigih dengan perasaanmu padahal kamu sudah tahu waktu itu di tambah... aku tidak suka hidupku di ganggu dan bagiku orang yang menyatakan perasaannya padaku maka orang itu sudah menganggu hidupku, aku tidak suka lagi, sekarang aku mau bicara dengan mu karna untuk yang terakhir kalinya aku memintamu untuk menyerah"



Murad mengangguk angguk mengerti.



"sulit ayla? sangat sulit"



"aku tahu, rasamu? aku juga merasakannya tapi harus murad, meski kita akan bertemu selalu, kita sama negara"



Murad terkekeh geli.



"aku akan menemuimu ketika aku mendapatkan satu wanita cantik dan dengan bangga akan aku perlihatkan padamu"



Ayla ikut tersenyum.



"aku akan menunggu"



"tapi btw...bisakah aku tahu siapa suamimu...? ayah dari...". murad menunjuk ke perut ayla yang masih rata.



Ayla sontak melihat perutnya dan memegangnya dengan tangan kirinya dan kembali menatap murad.



"maaf, untuk itu aku tidak bisa menjawab". jawab ayla sembari menggelengkan kepalanya bersalah. matanya terhenti saat melihat deniz yang duduk dengan seorang pria yang membelakangi dirinya di depannya samping kaca dan menghadap ke arahnya.



"tunggu...kamu tidak menjadi simpanan seseorang kan?!"



Mata ayla sontak melebar dengan ucapan murad. ia beralih menatap murad.



"apa aku segila itu...?". 'dan apa yang kamu lakukan tidak segila itu?' ayla menggertakkan giginya saat suara batinnya menyerangnya telak. ughhh



Murad bernafas lega.



"alhamdulillah jika tidak, aku bersyukur karna jika ia jangan harap aku melepaskanmu tapi aku akan berusaha mengelurkanmu dari sana meski aku harus menjadi ayah untuk anak itu, aku mau"



Ayla terkekeh geli dengan ucapan murad. ia mengalihkan matanya menatap deniz lagi.



"kamu tidak bisa mengambil posisinya, siapapun itu...karna dia...memang ayah yang cocok untuk anak ini dan aku berharap anakku mirip dengannya persis".



Murad menyungging senyum menatap ayla. pujaan hatinya dari ia duduk di bangku kelas 1 high school.



"kamu tidak sedih nanti...?"murad bertanya lirih.



"apa aku punya waktu untuk merasakan hal itu...? dan jika kamu suruh aku jawab jujur, apa ada seorang ibu yang tidak sedih jika berpisah dengan bayinya? namun aku sedikit tenang karna anakku mendapatkan ayah dan ibu yang luar biasa".


__ADS_1


Murad menatap ayla serius.



"kamu percaya ceyda, wanita itu...?".



Ayla mengangguk.



"sangat, aku yakin dia juga akan menerima anak suaminya, karna dia juga yang meminta padaku".



Murad menggeleng geleng kepala.



"terserah kamu, jika ada sesuatu datanglah padaku, aku siap 24 jam, untuk mendengar semua dan membantu dalam semua hal, anggap saja untuk menebus perasaanku yang tidak terbalas".



Ayla terkekeh geli.



"kamu tetap akan selalu menjadi teman duelku yang terbaik".



"sudah lama aku tidak merenggangkan tubuhku"



"mau di coba? "



Murad tersenyum sinis.



"dengan senang hati, di mana? "



"menurutmu? akan aku ajak aliye untuk jadi penonton"



"baiklah, hubungi aku jika kamu ada waktu"



Ayla mengedikkan bahunya acuh.



"tentu saja, aku juga sudah lama tidak berlatih"



Keduanya larut dalam pembicaraan namun di sisi lain restoran terlihat altan yang sangat nikmat menyantap hidangan makan siangnya bahkan membuat seorang deniz terperangah.



"ini benaran kamu altan? cara kamu makan seperti bukan dirimu"



Deniz berbicara nyaris seperti bergumam.



Altan menatap deniz di sela sela suapannya.



"tadi kamu bilang lapar, tidak jadi makan? jika ya biarkan aku yang habiskan". altan menjulurkan tangan meraih piring deniz namun dengan cepat deniz memukul tangan altan.



Altan hanya sedikit meringis sebelum kembali menyantap makanannya.



"baiklah, sekarang katakan apa yang terjadi". deniz memasukkan makanan ke dalam mulutnya.



"Aku di tolak ayla dan tolakannya sangat mengejutkanku kamu tahu apa yang dia bilang padaku...?".



"memang apa? ". tanya deniz yang berhenti menyuapi dirinya.



Altan yang sudah selesai makan membersihkan mulutnya dengan tisu yang sudah tersedia di sana.



"dia mengaku sudah menikah dan sudah bersuami".



Prrrrrtttttt...uhukkk...uhukkkk...



Deniz memuncratkan semua makanan dari dalam mulutnya ke hadapan altan lalu ia terbatuk batuk sendiri tanpa ada yang peduli karna altan sibuk dengan membersihkan dirinya akibat ulah deniz sampai mengenai bajunya.



"kamu sangat jorok deniz? ada denganmu? jangan bilang ceyda merindukanmu sekarang".



Deniz kembali terbatuk batuk dengan sangat keras, seseorang hadir di sana entah siapa yang jelas dia perempuan menyodorkan air ke hadapan deniz dan deniz sontak saja merampasnya dan meminumnya.



"kamu baik baik saja sekarang? ". altan menepuk nepuk punggung deniz. deniz yang merasa risih menonjok perut altan dengan sikunya, yang sontak membuat altan terkekeh geli.



"baiklah, aku tidak akan katakan lagi! pokoknya intinya aku sedang di landa patah hati dengan sangat! biasa aku membuat wanita patah hati tapi sekarang giliranku yang patah hati, ternyata sakit juga ya? "



Deniz menatap altan di sela sela ia yang masih terbatuk batuk sedikit.



"makanya jangan mainin anak orang lagi jika kamu memang tidak berencana menikahinya". deniz kembali duduk setelah tadi berdiri.



"oh ayolah deniz? aku bukan dirimu yang setia pada satu wanita"



Deniz menyatukan alisnya.



"dan apa kamu berencana mau lakukan itu juga pada ayla?! "



Altan terdiam beberapa saat sebelum menjawab.



"jika dia mau menerimaku dan menerima lamaranku lalu menjadi istriku untuk selama lamanya maka saat itu aku sudah bertekad hanya akan menjadikan dia satu satunya tapi sekarang beda! laki laki yang patah hati itu lebih mengerikan dari pada wanita loh"



"aku tidak yakin kamu bisa berubah semudah itu"



"ayla bisa mengubahku ha ha ha ha ha". altan tertawa ngakak sendiri bahkan sampai seisi restoran menatap ke arahnya begitu juga dengan murad dan ayla.



Ayla yang sudah melihat kalau pria di depan deniz adalah altan yaitu saat deniz keselek tadi dan altan bangun membersihkan dirinya dari tumpahan makanan yang keluar dari mulut deniz. ia mencoba berhati hati agar pria itu tidak melihatnya.


















__ADS_1




__ADS_2