Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 16


__ADS_3

Tak...tak..



Ayla meletakkan 2 teh hangat dan 1 piring kue khas negeri turki Baklava.



"silakan pak...?". ujar ayla lalu ia mendudukkan bokongnya di sofa belakang tepat di depan altan.



"terima kasih dan maaf, sudah merepotkanmu malam malam begini".



"tidak apa, anda sudah di sini". jawab ayla di sertai senyumnya.



Altan ikut tertawa kecil dengan jawaban ayla lalu meraih teh dan menyesapnya.



"so...ada yang perlu bapak bicarakan...?". ayla memaksakan diri untuk bertanya karna dari tadi batinnya terus berperang dengan pikirannya dengan berbagai pertanyaan.



Altan melihat ayla lalu meletakkan cangkir teh ke meja di depannya dan kembali melihat ayla. ia menarik nafas sebentar sebelum memulai pembicaraan.



"pertama, panggil aku altan saja, bapak terlalu tidak enak di dengar".



Ayla memaksa senyum. "maaf pak? bapak atasan saya, saya menghormati itu".



"dan di sini bukan perusahaan, itu artinya di luar perusahaan kamu bisa memanggilku bebas"



"..."ayla terdiam sembari melihat altan. ia kehilangan kata kata. bukan karna terharu atau tersentuh tapi lebih ke tidak suka.



Ayla menarik nafas sembari melihat ke arah lain.



"baiklah, itu yang anda mau...altan, bagaimana kalau begini saja...pak altan".



"altan!" altan menjawab tajam tanpa mau di bantah sembari kedua manik matanya menatap ayla tanpa berkedip.



Ayla lagi lagi menarik nafas sembari melihat ke arah lain dan mengerjap. 'inilah kenapa ia sangat tidak suka berurusan dengan seorang atasan, suka memerintah dan maunya sendiri, aku terserahlah'



"baiklah, altan! jadi...tujuan ke sini...jangan bilang karna kemarin"



"itu juga iya, lain juga iya".



Ayla menaikkan satu alisnya.



"lain? "



"kamu sadar, seharian ini kamu menghindar dariku atau lebih tepat di sebut melarikan diri?! ".



Ayla mengerjap terkejut. 'dia sadar...?'



"itu..."



"kamu tahu ayla? tolakanmu sama sekali tidak membuatku menyerah tapi semakin membuat diriku ingin mendapatkanmu"



Ayla sontak menarik nafas. "semua akan sia sia, waktu mu terbuang percuma tidak akan pernah ada hasil altan, percayalah padaku dan menyerahlah dari awal maka tidak terlalu menyakitimu"



"katakan alasannya, selain kamu tidak mencintaiku"



"itu salah satunya"ayla menjawab cepat.



"kamu pernah dengar dengan kata kata cinta itu akan hadir jika selalu bersama"



Ayla menggeleng. "di sini bukan karna cinta alasan salah satunya altan? "



"jadi apa? semalaman aku tidak tidur ayla? hanya memikirkan alasan apa kamu menolak diriku, di tambah sekarang nenek menentang setelah dia menyetujui, ini sungguh membuatku bingung, aku butuh jawaban ayla...?!"



"apa dengan jawaban akan membuatmu lebih baik? dan kamu akan menyerah".



Altan mengangguk frustrasi.



Ayla menarik nafas sembari menatap altan.


__ADS_1


'dan ini lebih baik daripada kamu tahu lebih jauh altan?! '



"aku sudah menikah"



Mata altan sontak melebar dengan jawaban yang ayla berikan. ia sontak menoleh menatap ayla hingga beberapa menit altan bangkit berdiri dan tertawa tidak percaya.



"apa kamu sedang bercanda ayla? jika iya maka sama sekali tidak lucu"



Ayla ikut bangkit berdiri dan menatap altan dengan pandangan seriusnya.



"itu kenyataan altan? aku sudah menikah, beberapa bulan yang lalu"



Altan yang sama sekali tidak percaya malah menggelengkan kepalanya.



"baiklah, begini saja! kamu ingat? saat aku ambil cuti 2 minggu lalu meminta tambahan lagi 2 minggu hingga sampai sebulan lebih, menurutmu, kemana aku waktu itu?! "



Altan menatap ayla sembari berpikir.



"kamu meminta izin karna pulang kerumah orang tuamu"



Ayla menggeleng. "cuti itu untuk mempersiapkan acara pernikahanku, sekarang kamu percaya dan ini...". ayla memperlihatkan cincin pernikahan di jari manisnya, yang selalu ia pakai meski deniz tidak pernah memakainya bahkan saat hari pertukaran cincin.



Mata altan sontak melebar. ia beralih menatap ayla.



"itu tidak mungkin"



"tapi inilah kenyataan"



"di perusahaan, siapa yang tahu...? "



"tidak ada"ayla kembali duduk di sofa.



Altan menurunkan pandangannya menatap ayla. 'apa harus begini sakitnya?! kenapa ia tidak terima? '



"kenapa aku masih tidak percaya? "




Altan menggeleng. "siapa suamimu? dimana dia? orang mana? dan... apa pekerjaannya"



"wow...kamu menyerbuku dengan pertanyaan"



Altan tidak menjawab tapi hanya menatap ayla tajam. ia butuh jawaban.



"untuk itu aku tidak bisa menjawab maaf banget, kukatakan itu karna aku tidak mau waktumu terbuang sia sia, bukankah sekarang menurutmu saranku benar? "



"..."



Ayla bangkit berdiri. "baiklah, aku tidak bermaksud mengusir anda tapi sekarang sudah sangat malam dan waktunya aku istirahat mengingat pekerjaanku yang anda tambahkan beberapa hari ini"



Altan kembali menatap ayla setelah sekian lama menunduk. tatapan mata altan lama kelamaan menjadi tajam dan penuh dengan kemarahan di dalamnya.



"haruskan aku merebutmu dari suamimu ayla? ".



Ayla menarik nafas malas. 'merebut apa? suami pun tidak peduli denganku, aku bilang begitu supaya bapak menyerah dan tidak tersakiti, mencintai itu sakit tanpa di cintai'.



"jangan bertindak bodoh, lebih baik pak altan pulang saja dan tata hati pak altan lagi untuk gadis gadis yang berbaris di belakang pak altan, aku yakin banyak dan rumor yang aku dengar bukanlah sekedar rumor".



"kamu hanya perlu menjawab iya ayla? maka semuanya serahkan padaku" altan sama sekali tidak menanggapi ucapan ayla. bagi altan menganggap pernikahan ayla dan suaminya adalah resmi karna perjodohan dan ayla terpaksa mau karna mungkin di paksa atau karna orang tuanya.



Ayla terdiam karna kehabisan kata kata.



"anda tidak berpikir pernikahanku karna di paksa bukan...?".



Altan menyatukan kedua alisnya.



"bukankah iya?! "

__ADS_1



Ayla menepuk jidatnya. 'di paksa apa? malah di sini aku yang memaksa'



Ayla menggeleng cepat. "anda salah, salah besar! aku tidak perlu mengatakan panjang lebar tapi aku hanya akan katakan, tidak ada perjodohan, tidak ada paksaan, itu saja".



Altan terdiam dan menarik nafas.



💓💓💓



Ayla merebahkan tubuhnya ke sofa setelah tadi mengantar altan pulang meski hanya sampai depan pintu.



'aku rasa sekarang semua akan seperti semula meski reaksinya akan berubah tapi ini lebih bagus'. Ayla mendesah lelah.



Ayla sontak duduk tegap di saat ia merebahkan tubuhnya tadi di ranjang saat ia baru teringat sesuatu.



'deniz'. kepalanya sontak berputar ke pintu kamarnya.



Ayla melompat turun dari sofa melangkah ke kamarnya.



Ckleck...



Ayla membuka pintu pelan pelan lalu kembali menutupnya. kamarnya yang tidak terhidupi lampu jadinya hanya ada cahaya remang remang.



Klek...



Ayla menghidupkan lampu dan sontak se isi kamarnya terlihat bahkan luas sangat luas.



Kepala ayla berputar kanan dan kiri mencari sosok deniz namun ia tidak menemukannya. mata ayla berhenti saat sudut matanya menangkap cahaya lampu dari ruang samping kamarnya yang ia gunakan untuk meletakkan baju dan berbagai pakaiannya yang lain di sana.



Ayla melangkah ke sana dengan perlahan dengan kepalanya bertanya tanya.



'apa deniz ada di dalam sana? ngapain dia ke dalam sana? '



Ayla sampai di walk in closetnya. matanya menjelajahi ruangan tersebut namun tidak ada tanda tanda ada orang yang sedang ia cari.



Ayla menarik nafas dan berbalik namun langkahnya terhenti saat melihat ke sudut lemari yang berada di sebelah kanannya. di sana biasanya tergantung satu barang favoritnya dan ia sangat jatuh cinta dengannya bahkan sangat terpesona lalu...kemana dia?.



Ayla berbalik melihat mencari ke segala arah siapa tahu ia sudah memindahkan ke tempat lain.



Di saat ayla sedang mencari barang tersebut. membuka lemari semua, laci bahkan ke sudut lemari namun tidak ia temukan. deniz sudah berdiri di ambang pintu ruangan tersebut sembari melihat apa yang di lakukan ayla bahkan kepanikan di wajah ayla.



"kamu sedang mencari ini...?".



Ayla yang sedang membuka laci kecil di bawah lemari sontak tangannya berhenti saat mendengar suara deniz. ayla berbalik melihat deniz namun di detik itu juga kedua mata ayla membulat lebar.



"kau...". geram ayla marah setelah bangkit berdiri dan menatap deniz tajam.



"kenapa? tidak terima?...". deniz menghentikan ucapanya dan melangkah mendekati ayla. ayla


"apa maksudmu dengan menyimpan ini HUHHHHhhh". teriak deniz marah tepat depan wajah ayla lalu membanting benda yang ada di tangannya ke lantai tepat di bawah kaki ayla.



Ayla melihat hal tersebut tanpa terasa air matanya keluar sendiri menetes dan terus menetes hingga membasahi pipinya. ini pertama kalinya ia menangis di depan seseorang dan seseorang itu adalah orang yang di cintainya, juga orang yang selalu menyakitinya dan juga orang yang selalu melukai hatinya. namun anehnya ia selalu memaafkan.
















__ADS_1




__ADS_2