
Ayla menggeleng gelengkan kepalanya tidak mempercayai ucapan deniz.
'itu tidak mungkin, jelas jelas aku sangat ingat itu mimpi, hanya mimpi...tapi...jika itu mimpi...bagaimana bisa deniz tahu dan seperti dia...ada di sana'.
Ayla mengalihkan matanya menatap deniz karna tadi ia melihat ke bawah.
"jika kamu sudah tahu siapa aku dan bagaimana kamu bilang kamu mencintaiku lalu kenapa...kamu tidak mungkin lupa dengan sikap kasar mu padaku kan? ".
Deniz menggeleng sembari kedua manik matanya setia menatap ayla.
"tidak, tidak pernah! aku tidak akan mungkin lupa, itu juga menyakitiku...bagaimana bisa aku lupa?".
Ayla menatap ke dalam manik mata. ia menarik nafas.
"kamu bilang kamu mencintaiku tapi bersikap kasar padaku, kamu...menyiksaku, kamu tahu...? apa itu yang kamu sebut cinta? ".
"aku harus, aku harus lakukan itu beyza? aku harus lakukan itu! jika tidak, aku akan kehilanganmu lagi dan jika saat itu aku kehilanganmu lagi aku tidak yakin apa aku bisa meraihmu lagi, aku rasa aku tidak bisa beyza? kamu ingat? 13 tahun lalu karna kebodohanku kamu...terpaksa menyetujui untuk bertunangan dengan reyyan di saat kamu duduk di kelas 3! seharusnya, waktu yang di tentukan untuk acara pertunangan kalian bukankah setelah kamu menamatkan sekolah tersebut namun karna aku...karna kamu melindungiku dari reyyan kamu terpaksa menyetujuinya! aku tidak mau kali ini terulang lagi beyza? dan aku yakin ketika dia tahu, kali ini dia akan memaksamu untuk menikah dengannya dan aku yakin kamu akan menyetujuinya lagi...karna demi aku, melindungiku lagi, aku tidak bisa beyza? aku tidak bisa kehilanganmu lagi, aku tidak bisa! ". deniz menitikkan air matanya.
Ingatan ayla kembali ke 13 tahun lalu saat ia menyetujui tawaran reyyan dengan bertunangan lebih awal dari masa perjanjian dua keluarga untuk membebaskan deniz yang saat itu, ada di tangan reyyan dan saat itu deniz atau selim terlihat tidak sadarkan diri dengan tubuhnya yang babak belur, darah di seluruh wajahnya dan meringkuk tidak berdaya di lantai yang sangat dingin tersebut.
Ayla mengerjap dengan matanya yang menatap kosong ke depan. setelah kejadian itu hidupnya kembali seperti semula hanya saja ia di pindah sekolahkan ke new york saat naik kelas 3 dan setelah acara pertunangannya dengan reyyan untuk mengantisipasi agar ia tidak bertemu dengan deniz atau deniz yang mau menemuinya karna jika ia masih sekolah di tempat yang sama dengan deniz maka otomatis ia dan deniz akan sering bertemu dan pria itu reyyan tidak menyukai itu, sehingga memintanya untuk pindah sekolah. awalnya ia menolak namun reyyan membuat dua pilihan untuknya. aku yang keluar atau selim yang keluar.
Ayla mencekram kuat kepalan tangannya lalu beralih menatap deniz.
"jangan bilang pria itu mematai matai mu selama ini". Wajah ayla terlihat panik bertanya ke deniz.
Deniz menggeleng. tidak membenarkan ucapan ayla.
"beberapa tahun setelahnya tidak terjadi masalah apapun, setelah aku menamatkan sekolahku dan tidak menyambung ke universitas lagi, aku memutuskan saat itu mencarimu karna aku dengar kamu pindah ke new york, aku mencari kerja di sana, bekerja di sebuah cafe sambil mencari keberadaanmu di mana kamu melanjutkan studymu, di suatu hari saat aku sudah menemukanmu dan saat itu aku mau menghampirimu dan aku di tangkap oleh orang suruhan reyyan karna tidak mau membuatmu menyadari kehadiranku aku ikut mereka tanpa melawan namun dalam perjalanan di dalam mobil, aku baru melawan, memukul dan menghajar ke 6 pria di sana berharap mereka menghentikan mobilnya namun mereka malah semakin melaju kencang sehingga membuat mobil oleng dan menabrak mobil lain sehingga menyebabkan kecelakaan".
Ayla membulatkan matanya. ia tahu kejadian itu, saat itu kejadian tersebut sangat viral, yang mengatakan semua tewas akibat kecelakaan tersebut.
"kamu...".
"2 minggu aku tidak sadarkan diri di rumah sakit ketika aku terbangun dan ketika sudah tahu di mana aku berada, hal pertama yang aku lakukan adalah meminta laptop sama mami untuk melihat emailku, apa sudah kamu balas dan...". deniz menatap ayla.
"kamu membalas"
"aku membalas". ujar keduanya serentak.
"kamu mengatakan di mana kamu tinggal dan universitas mana kamu masuk dan bagaimana kamu di sana, lalu kamu menyuruhku untuk menyelesaikan study juga dengan baik, padahal saat itu...aku tidak melanjutkannya".
Ayla terdiam mendengar semua ucapan deniz. ia ingat semua itu, email itu ia balas beberapa hari setelah kejadian kecelakaan tersebut.
"aku di rumah sakit dan kamu di rumahmu new york, new york dan turki, hari itu kita saling membalas email sehingga sampai di pertanyaanku, bagaimana menurutmu jika aku menjadi seorang dokter, kamu ingat?".
Ayla tersenyum lalu ia mengangguk.
"kamu masih ingat juga jawabanmu saat itu...?".
"kamu akan terlihat sangat tampan dengan baju putihmu, di tambah warna matamu semakin membuatmu memukau, wanita akan mengejarmu". ucap deniz dan ayla bersamaan lalu keduanya terdiam sebelum tertawa bersamaan.
Ayla menghentikan tawanya menatap deniz.
"saat itu...kamu di rumah sakit? habis kecelakaan itu...?".
__ADS_1
Deniz mengangguk sembari tersenyum.
"dan saat itu, email mu obat terbaik untuk penyembuhanku".
Ayla tersenyum senang.
"beyza...? kamu tahu kenapa aku, mau menjadi dokter anak? ".
Ayla menggeleng.
"itu untukmu, karna kamu".
"ya?! ". tanya ayla tidak mengerti.
"di hari ke 2 kencan kita di sebuah cafe tempat favoritmu, aku tidak sengaja menangkap pandangan matamu yang melihat seorang dokter wanita yang sedang berbicara dengan temannya, mereka sama sama memakai baju putih, saat itu aku bertanya, kamu suka memakai baju itu? dan kamu menjawab tanpa sengaja sebelum kamu mengalihkan ke arah lain yaitu', menjadi dokter gigi adalah cita citamu dari kecil'".
Ayla membulatkan matanya.
Deniz tersenyum.
"ya beyza? aku menempuh jurusan kedokteran untukmu, demi kamu dan kenapa dokter gigi anak? karna aku tahu kamu sangat suka dengan anak kecil dan kenapa bedah? ayolah ayla, menjadi dokter bedah uang ku akan lebih banyak dari dokter gigi biasa dan aku pikir nanti aku bisa menghidupi mu dan anak anak kita dengan uang tersebut meski tidak sebanyak uang daddymu, paling tidak kita masih bertahan tinggal dikota". deniz terkekeh geli.
Ayla mengerjap merasa tersanjung dengan ucapan deniz namun ia kembali menyadarkan dirinya dan bersikap biasa.
"manis sekali mulutmu setelah kamu menyakitiku". ujar ayla sarkas.
Deniz tersenyum.
Ayla menatap deniz sambil berpikir. jika yang di katakan deniz benar maka yang paling menderita adalah dia...mencarinya tanpa tahu nanti apa jawabannya dan mungkin saja kerja kerasnya akan sia sia tunggu...
"bagaimana dengan cintamu ke ceyda, kamu selalu meneriaki di depanku kalau kamu mencintai ceyda".
Deniz tersenyum lalu ia bangkit berdiri melangkah berjongkok lalu mengangkat ayla ala bridal style.
"deniz...? apa yang kamu lakukan? turunkan aku? kita mau kemana...?".
"kemobil, udara malam tidak baik untukmu yang sedang hamil, aku akan hidupkan penghangat di mobil".
"kamu jangan mengalihkan".
"tidak akan, tanya semua yang mau kamu tahu dan aku akan menjawab semua, tapi setelah kamu di mobil".
'deniz, kamu yang seperti ini semakin membuatku mencintaimu tahu? '.
Ayla merangkul pundak deniz untuk pegangan. matanya melihat ke samping karna tidak mau melihat deniz, jarak mereka sangat dekat.
"kamu percaya beyza? jika aku katakan semua hanya sandiwara? ". ucap deniz setelah membuka pintu dan menduduki ayla di kursi mobil.
Ayla sontak menatap deniz. dari deniz menutup pintu mobil hingga deniz memutari mobil dan masuk ke dalam sampai deniz duduk, mengunci pintu mobil dan menatapnya.
Ayla menatap deniz menunggu kelanjutan ucapan deniz sedangkan deniz menatap ayla berharap ayla mempercayainya.
"di rumah ku ada tiga mata mata beyza? yang selalu memantauku, dan akan selalu ada rekaman suara di sudut manapun, baik di rumah, mobil dan rumah sakit".
__ADS_1
Ayla membulatkan matanya.
"mereka... ".
"tidak semua milik reyyan beyza? aku tidak mengatakan ini pada siapapun termasuk mami, papi dan kakek, mereka ada yang dari reyyan, mami ceyda dan temanku refat dengan lain lain alasan".
"mami ceyda? refat? si empunya mobil ini..? ".
Deniz terkekeh.
"sebelum dia tahu semua rencanaku"
"sekarang sudah tahu? ".
"sebelum aku ke sini, aku menemuinya dan menceritakan semuanya".
Ayla mengangguk mengerti. ah
"bagaimana dengan altan, dia temanmu juga, dia tahu? ".
Deniz menggeram marah.
"jangan sebut namanya ayla, kamu tahu? ingin sekali aku menonjok wajahnya sekali saja saat mengingat bagaimana dia dengan sangat berani merangkul pinggangmu bahkan aku belum melakukannya".
Ayla tersentak dengan ucapan deniz. ingatannya kembali ke saat itu, saat di mana mereka berfoto dan deniz yang mengambil foto.
Ayla menahan tawanya.
"saat itu...kamu sedang menahan diri?".
"untung saja 10 tahun aku sudah belajar jadi sudah terbiasa untuk akting".
"seharusnya kamu menjadi aktor saja".
"dan aku akan mendapatkan banyak penghargaan".
"lalu...saat kamu ke sini, tidak ada yang mengikutimu? ".
"rumahmu memberiku kebebasan untuk bernafas dan siapa yang berani masuk ke rumahmu tanpa izin daddymu? ".
Ayla mengangguk mengerti.
"deniz menurutmu, reyyan sudah tahu siapa kamu? ".
"sesudah kamu positif hamil, ya dan dia tidak bisa berbuat apapun".
"tunggu...karna itu kamu sangat gigih beberapa malam itu, karna kamu...mau aku cepat hamil? dan rencanamu berjalan mulus? ".
Deniz tersenyum.
"kamu pintar sayang..?"
"kamu membuatku membencimu deniz?".
"aku tahu, aku tahu beyza? tapi aku memerlukan kebencianmu, dengan kamu membenciku maka semua tidak akan mencurigai ku, kalau aku mencintaimu dan siapa kamu, kamu membenciku maka semua rencana ku akan berjalan mulus sampai paling tidak kamu sudah di nyatakan hamil anakku beyza?".
__ADS_1