
Faiz sudah tiba di Jakarta tadi sore, dia begitu syok saat tahu kalau Nayra, adiknya diculik Maya sama Carol. Tak hanya Faiz, semua keluarga Arasyid juga syok mendengar berita itu sampai Opa Sahid harus dilarikan ke rumah sakit.
Papa Rasyid langsung terbang ke Jakarta bersama Ilyas saat mendapat kabar dari Devan kalau Nayra diculik dan meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai di Surabaya.
Mama Arumi juga pingsan saat mendengar menantunya yang saat ini tengah mengandung cucunya diculik mantan menantunya sendiri, Maya. Papa Damar bahkan sampai menyalahkan Devan karena tak bisa menjaga menantunya yang tengah mengandung dengan baik.
"CCTV di daerah mereka menemukan mobil Nayra sengaja dimatikan." kata Faiz setelah mengecek beberapa kali hasil rekaman CCTV namun tak ada hasil apapun.
"Mereka sudah merencanakan ini dengan matang." sambung Nathan.
"Kamu punya masalah apa sama Maya dan juga Carol, Devan?" tanya Faiz setengah mengintimidasi Devan. Kalau kejadian ini berkaitan dengan Devan.
"Aku gak ada masalah apapun sama mereka." jawab Devan datar, karena dipikirannya saat ini hanya Nayra.
Apakah Nayra baik-baik saja saat ini?
Apa Nayra kedinginan di sana?
Apa Nayra sudah makan?
Ingin rasanya Devan mencari Nayra sendiri walau dia tidak tahu dimana posisi istrinya saat ini.
"Maya..Carol...Tak akan ku maafkan kalau kalian berani melukai istri dan anakku walau hanya seujung rambut pun." batin Devan kesal mengingat Nayra yang telah diculik Maya dan Carol.
"Apa yang Maya katakan tadi saat dia menghubungi mu?" tanya Faiz.
"Dia hanya memberitahu kalau dia yang menculik Nayra." jawab Devan jujur.
"Nomornya terdaftar di daerah Menteng." kata Ilyas setelah berhasil melacak nomor yang Maya gunakan tadi untuk menghubungi Devan.
Tadi Doni yang diminta tolong Devan untuk melacak nomor yang Maya gunakan tidak berhasil menemukan atau lebih tepatnya tidak bisa melacak.
"Aku sudah meminta salah satu tim ku untuk mengecek keadaan disana." sambung Ilyas.
"Baiklah, kita tunggu saja hasilnya bagaimana." ucap Faiz.
"Devan, mana handphone mu? Akan aku pasang penyadap kalau saja nanti Maya atau Carol menghubungi nomor mu lagi." ujar Faiz meminta handphone Devan.
Tanpa banyak kata Devan mengambil handphone nya dan diletakkannya di atas meja.
Faiz segera mengambilnya dan disettingnya handphone Devan dipasang penyadap.
"Nih." Faiz mengembalikan handphone Devan.
__ADS_1
"Pulanglah, kasihan si kembar di rumah tidak ada Papa, Mama nya."
Devan hanya mengangguk dan pergi begitu saja. Dia memang ingin pergi dari tadi dan ingin mencari Nayra sendirian.
"Apa mungkin yang membantu mereka Under Black." kata Ilyas setelah terjadi keheningan beberapa menit.
"Maksud kamu?" tanya Fiaz.
"Arasyid Grup bermasalah karena bos mereka. Bisa jadi Carol dan Maya di jadikan umpan untuk membalas kita lewat Nona Nayra." kata Ilyas.
"Benar, Kak. Karena cuma dia musuh Kak Faiz satu-satunya yang berani mengusik keluarga Arasyid." sahut Nathan.
Faiz mengepalkan tangannya mendengar perkataan Ilyas dan Nathan.
"Mereka hanya bermasalah dengan ku bukan dengan keluarga Arasyid." kata Faiz dingin.
"Tapi yang mereka tahu kalau anda putra tertua di keluarga Arasyid, Tuan Aska." Ilyas mengingatkan Faiz tentang statusnya saat ini yang memang putra tertua di keluarga Arasyid walau kenyataannya dia hanyalah cucu angkat dari Opa Sahid.
"Kurang ajar!!! Kalau benar dia orang nya,aku gak akan segan untuk menghabisinya." ujar Faiz penuh amarah.
................
Mama Arumi terbangun dari tidurnya saat mendengar Kiara menangis memanggil nama Papa dan Mama nya. Dia bergegas menuju kamar si kembar. Mama Arumi juga Papa Damar dan Linda sengaja tidur di rumah Devan untuk menemani si kembar.
"Kiala mauh ketemu Mamah sama Papah." jawab Kiara yang masih menangis kejer itu.
"Kiala takut Nek." ucap Kiara seperti ketakutan akan terjadi sesuatu sama Mama dan Papa nya.
"Gak apa sayang, Mama Nayra sama Papa Devan kan baik-baik saja." kata Mama Arumi dengan lembut sambil mengelus rambut Kiara.
Kiara menggelengkan kepalanya menandakan kalau Mama sama Papa nya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Kiala mauh Papah, Kakek." jerit Kiara dia meronta dari pelukan Kakakenya, Papa Damar.
"Apa Devan sama Romi belum pulang?" tanya Mama Arumi pada Linda.
"Belum Bibi." jawab Linda yang memang belum melihat Romi juga Devan pulang.
"Kenan mau ketemu Mama sama Papa." ucap Kenan dan segera dia turun dari ranjang berlari menuju kamar Papa Devan.
"Kenan!!" seru Linda dan Mama Arumi.
Linda langsung mengejar Kenan yang berlari keluar.
__ADS_1
"Kiala juga, Kiala juga ingin ketemu Mama sama Papa." Kiara masih berusaha lepas dari pelukan Kakeknya.
"Kiara disini saja ya."
"Nggak mau!" sentak Kiara.
"Huwaaaaa......Mamaaaa.." Kiara kembali menangis kencang dan berteriak. Dia terus memberontak ingin ikut Kenan yang pergi mencari Mama dan Papanya.
"Kenan?? Kamu mau kemana?" tanya Romi yang baru saja pulang mendapati Kenan yang berlari menuju kamar Devan.
Kenan tidak menjawab dan masuk ke kamar Papanya begitu saja tanpa memperdulikan Paman Romi.
"Kenapa?" tanya Romi pada Linda yang tadi mengejar Kenan.
"Mereka menangis, kelihatannya tadi mereka mimpi buruk tentang orang tuanya." kata Linda menceritakaan keadaan sebelum Romi datang.
"Paman, Papa kemana?" tanya Kenan yang tidak melihat Papanya dikamar. Dia bertanya pada Pamannya siapa tahu Pamannya tahu. Bukannya tadi Papa Devan pergi bersama Paman Romi, pikirnya.
"Papa kamu belum sampai rumah?" tanya Romi balik dan Kenan menggelengkan kepalanya.
Romi menelan salivanya kasar. Bukannya Devan sudah pulang dari tadi? Terus, kemana dia? Di jalan pulang tadi juga gak lihat ada mobilnya. Begitu banyak pertayaan dibenak Romi.
"Papah!!" teriak Kiara yang baru saja keluar dari kamar dengan berlari.
"Papa mana?" tanya Kiara saat melihat Kenan bersama Paman Romi dan Bibi Linda.
"Romi, Devan mana?" tanya Papa Damar.
"Kak Devan benar belum pulang, Paman?" tanya Romi balik.
"Belum ada pulang dari tadi." jawab Papa Damar.
"Papah-" teriak Kiara sambil menangis, "-Kiala mau sama Papah Mamah."
"Paman akan coba cari Papa kalian dulu ya. Kiara harus tenang gak boleh nangis lagi. Oke!!" kata Romi mencoba membujuk Kiara.
"Romi pergi dulu." pamit Romi dan kembali keluar untuk mencari Devan.
"Hati-hati Romi." pesan Mama Arumi
"Paman!! Kenan ikut!!" teriak Kenan saat melihat Paman Romi yang sudah menghilang dibalik pintu.
Kiara dan Kenan kembali menangis melihat Pamannya yang sudah pergi lagi untuk mencari Papa mereka.
__ADS_1
"Semoga Nayra dan Devan cepat ketemu." harap Mama Arumi dalam doanya.