
Suara burung yang berkicau bersautan di pagi hari terdengar begitu merdunya. Ditambah sinar mentari pagi yang hangat membuat suasana pagi begitu cerah. Membuat semua orang akan bersemangat untuk menjalani aktifitasnya, merasa kalau hari ini begitu indah, banyak keberuntungan menanti di sana.
Namun tidak dengan seorang pria dewasa yang duduk di jendela, dia merasa paginya di seminggu terakhir ini terasa begitu mendung dan hampa. Dia tidak bisa menggoda istrinya yang selalu berujung kekesalan yang istrinya dapatkan karena perbuatannya, juga tingkah kedua anak kembarnya yang selalu manja di kala pagi.
"Kamu dimana sayang? Apa kamu baik-baik saja di sana?" monolog Devan pada dirinya sendiri menatap awan putih yang bergerak perlahan.
Devan melihat kebawah dimana ada pengawal yang selalu menjaga rumah yang kini Devan tempati.
"Bagaimana mau kabur kalau mereka selalu stand by di sana." kata Devan menatap tajam para pengawal itu.
Karena dia sempat ketahuan saat mau kabur lewat jendela kamar dan sejak itu pengawal yang mirip preman itu selalu menjaganya dari bawah jendela kamar yang ditempati Devan.
"Apa sih tujuan mereka menculikku? Sudah seminggu namun tak ada tanda apa-apa." geram Devan.
Karena sudah seminggu ini Devan hanya dikurung di kamar dan hanya di kasih makan sehari sekali. Dia juga tidak tahu siapa dalang dibalik penculikannya. Apa sama dengan Nayra atau bukan. Karena setiap dia bertanya selalu tidak dijawab.
"Kalau seperti ini terus, bagaimana aku bisa mencari Nayra?" batin Devan bertanya-tanya.
"Sudah cepat makan sebelum aku membuangnya dan membuat bayi kamu kelaparan."
"Bukankah itu suaranya Maya?" tanya Devan saat mendengar suara bentakan Maya dari kamar sebelah yang jendelanya terbuka.
"Aku gak mau. Aku belum lapar, nanti kalau sudah lapar baru aku memakannya."
"Nayra!!! Yah itu suaranya Nayra." ucap Devan yang terlihat senang itu karena bisa mendengar suara orang yang begitu dia rindukan.
"Jadi Nayra disini juga." gumam Devan.
"Aku harus menemui Nayra." Devan melihat ke bawah dan dilihatnya sekeliling taman.
"Sial!! kenapa mereka selalu di sana sih." keluh Devan melihat para pengawal masih saja stand by di taman bawah kamar.
Devan akhirnya nekat keluar dari jendela menuju jendela kamar yang Nayra tempati. Entah nanti dia ketahuan atau tidak yang penting dicoba dulu. Kalau ketahuan berarti nasibnya buruk, kalaupun jatuh dia akan pasrah.
Sambil sesekali melihat ke bawah, Devan perlahan melangkahkan kakinya di pijakan yang lebarnya hanya lima senti itu.
"Sayang,.tolong bantu aku!!" desis Devan lirih takut kalau para pengawal mendengarnya. Dia melihat Nayra yang menangis.
"Rara, sayang tolong aku!!" ucap Devan sedikit lebih keras.
__ADS_1
Nayra mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang dikenalnya, suara orang yang dirindukannya.
"Devan." gumamnya pelan, dia masih belum percaya yang dilihatnya itu benar Devan atau bukan.
"Sayang cepat bantu aku. Kaki ku sudah kram ini." geram Devan karena Nayra masih saja diam mematung menatapnya.
"Devan!!" seru Nayra saat yang ada di luar jendela itu benar Devan suaminya.
"Kamu ada disini?" tanya Nayra dengan senyum bahagia saat sudah berada dihadapan Devan.
"Iya cepat bantu, keburu ketahuan." desis Devan yang sudah tidak tahan akan kakinya yang sudah mulai mati rasa karena kram ditambah kesemutan.
Dengan susah payah dibantu Nayra, akhirnya Devan berhasil masuk ke kamar yang ditempati istrinya. Nayra memapah Devan untuk duduk di ranjang.
"Sini, biar kakinya aku pijit dulu biar kram dan kesemutannya hilang." kata Nayra yang ingin memijat kaki Devan.
"Kamu gak ingin memeluk aku gitu sayang? kamu gak kangen gitu sama aku?" Devan merajuk pada istrinya yang lebih memperdulikan kakinya daripada perasaannya yang sudah rindu ini.
Nayra menyunggingkan senyumnya kala melihat suaminya ini merajuk seperti Kiara. Mereka berdua benar-benar mirip. Ahh...jadi kangen Kiara jadinya.
"Kamu mau aku peluk atau kamu ingin meluk aku." goda Nayra dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Disaat seperti ini masih saja kamu mengoda suamimu." kata Devan dingin.
Nayra tersenyum tipis mendengar perkataan Devan, dia mengeratkan pelukannya pada suaminya yang begitu dia rindukan.
"Aku merindukan kamu, Devandra Ayasi." ucap Nayra dengan mata terpejam, meresapi rindu yang seminggu ini dia rasakan dan hari ini dia bisa memeluk erat suami yang dia rindukan dengan nyata.
Devan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Diciumnya rambut kepala istrinya dengan sayang.
"Aku juga sangat merindukanmu, Nayra Arasyid." balas Devan.
Devan mengangkat dagu Nayra supaya dia bisa melihat wajah istri yang dia rindukan dengan jelas.
"Sangat merindukan Mama si kembar." sambung Devan dengan suara rendah.
Fokus Devan pada dua belahan kenyal milik istrinya yang sudah seminggu ini dia tak menyesapnya. Dia menunduk dan memejamkan matanya. Nayra yang tahu akan itu juga ikut memejamkan matanya.
Devan mencium belahan kenyal itu dengan lembut. Dilu matnya perlahan tanpa ada hasrat, yang ada hanya rasa rindu yang begitu menggebu. Keduanya hanyut dalam ciuman yang hangat itu.
__ADS_1
Devan terkekeh saat melihat wajah istrinya yang memerah karena malu. Nayra yang memang juga sangat merindukan suaminya membalas ciuman Devan tak kalah agresif.
"Ishhh!!!" Nayra memukul pelan dada Devan karena suaminya itu menertawakannya.
"Hahaha..Kamu lucu banget sih sayang." Devan yang gemas sama istrinya langsung menciumi wajah Nayra bertubi-tubi.
"Bagaimana kabar anak Papa?" tanya Devan sambil mengelus perut Nayra perlahan.
"Alhamdulillah baik, Papa. Dedeknya nggak rewel meski harus jauh dari Papa selama seminggu." jawab Nayra yang kini bersandar di dada Devan.
"Alhamdulillah." puji syukur Devan saat mengetahui keadaan bayi yang masih berada di kandungan istrinya.
"Kamu kok ada disini, sayang? Apa kamu kesini mau membawa aku pergi dari sini?" tanya Nayra.
"Aku disini karena aku juga diculik." jawab Devan membuat Nayra langsung duduk tegak menatap Devan.
"Kok bisa?" pekik Nayra kencang.
"Jangan kencang-kencang nanti kedengaran sama orang." tegur Devan yang gemas akan istrinya itu. Naura mengangguk mengerti.
"Aku juga tidak tahu. Yang pasti Maya dan Carol dalang dibalik semua ini." ujar Devan yang terlihat kesal bercampur marah.
"Mereka memang yang menculik kita, namun mereka diperintahkan oleh orang lain." kata Nayra
"Maksud kamu?" tanya Devan yang memang belum tahu apa-apa.
"Mereka memiliki bos besar dan Kak Maya maupun Carol hanya ditugaskan untuk menculik dan mengawasi kita saja." jawab Nayra
"Kalau pun mereka memang dalang dibalik penculikan ini, pasti mereka sudah menghabisi kita." sambung Nayra.
"Benar juga sayang. Terus siapa orangnya? Apa kamu tahu?" tanya Devan.
Nayra menggeleng, "Aku nggak tahu, tapi kalau didengar dari suaranya dia laki-laki dan begitu familiar di telinga ku." jawab Nayra.
"Siapa?" tanya Devan yang penasaran.
"Ini cuma dugaan ku saja, semoga tidak benar."
"Kalaupun benar aku benar-benar tidak percaya orang sebaik itu bisa berbuat jahat seperti ini." kata Nayra dengan memandang lurus kedapan seperti memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Siapa orangnya?"?