
Sudah dua malam ini Devan tidur di kamar tamu. Dia tidak diijinkan putrinya, Kiara untuk tidur bersama Mama mereka. Putrinya Kiara tidak mau Mama Nayra berdekatan dengan Papa Devan. Kiara tidak ingin kulit Mama Nayra merah-merah lagi kalau berdekatan sama Papa Devan.
Terbukti, sudah dua hari ini tanda merah di badan Mama Nayra sudah mulai memudar dan tidak bertambah lagi. Jadi Kiara menyimpulkan kalau Papa Devanlah yang mengakibatkan badan Mama Nayra penuh tanda merah.
"Mama..Kiala kan sudah bilang sama Mama jangan dekat-dekat Papa telus. Lihat itu kulit Mama melah-melah." Kiara langsung duduk diantara Mama Papanya yang sedang menonton acara TV di ruang keluarga. Memisahkan Mama Nayra supaya tidak dekat sama Papa Devan.
"Bukan Mama yang dekat-dekat sayang. Tapi Papa kalian yang deketin Mama." balas Nayra yang memang Devan tiba-tiba duduk di dekatnya bahkan dia berangkul bahu istrinya itu.
"Papa pembawa vilus buat Mama. Kiala gak suka." Kiara mendelik tak suka sama Papa Devan.
"Sana geseeelllllll..." Kiara mendorong Papa Devan sekuat tenaga supaya memberi jarak pada Mama Nayra. Namun usahanya sia-sia, tenaga terlalu lemah untuk menggeser tubuh berotot yang dimiliki Papa Devan.
"Papa pindah sana." sambung Kenan tegas mengusir Papa Devan.
Devan sendiri tak habis pikir, gara-gara perbuatannya yang begitu mengasikkan sampai lupa waktu bersama istrinya justru berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Terbukti sang istri baik-baik saja saat dia diminta untuk tidak berdekatan dengannya. Nayra merasa tak terganggu sama sekali akan sikap kedua anaknya. Apa dia gak mau bikin adik buat si kembar, pikirnya.
Apalagi Mama Arumi juga memarahi Devan habis-habisan karena sudah membuat kulit tubuh menantunya seperti macan tutul. Bahkan membuat menantunya itu masuk angin karena perbuatan anaknya yang tak tahu aturan itu. Di kasih kesempatan tapi malah kebablasan yang merugikan dirinya sendiri.
"Mama gak tahu aja kalau menantunya juga sama seperti anaknya. Justru lebih parah, ganas dan liar." gumam Devan dalam hati.
Kiara dan Kenan melanjutkan belajarnya setelah melihat Papa Devan sudah berpindah tempat ke sofa satunya lagi. Mereka juga mengajak Mama Nayra duduk dibawah untuk mengajari mereka.
"Kenapa ini dicoret gambarnya sayang?" tanya Nayra saat melihat gambar satu keluarga yang di coret Kiara tepat digambar anak kecil yang berada digendongan gambar wanita.
"Gak apa, Ma. Kia kan emang gak punya adik dan Kia juga gak mau punya adik." jawab Kiara santai dan melanjutkan mewarnai gambar yang dikasih dari sekolahan tadi.
"Kenapa kamu gak mau punya adik? Punya adik itu seru, apalagi adiknya cowok." tanya Kenan karena dia ingin sekali punya adik cowok yang bisa diajaknya main basket.
"Aku gak suka kalena nanti badan Mama melah-melah lagi kalau dekat sama Papa." jawab Kiara menatap Mama Nayra.
Apa hubungannya, batin Nayra dan Devan bertanya-tanya mendengar jawaban sang putri.
__ADS_1
"Dan juga kata Nenek kemalin, kalau kita mau punya adik kita halus mau tidul sendili dan membialkan Mama sama Papa tidul baleng tanpa ada yang ganggu." lanjutnya menatap Kenan yang juga menatapnya.
Devan sama Nayra hanya saling lirik saja melihat perbincangan si kembar soal adik.
"Belalti kan nanti badan Mama melah-melah lagi kalau tidul baleng Papa."
"Kiala gak suka." Kiara mendelik menatap Papa Devan dengan muka cemberut.
"Adik kecil itu lucu loh sayang. Bukannya di sekolah Kia ada teman Kia yang punya adik dan dibawa ke sekolah sama Mamanya?" kata Nayra yang mengingat cerita putrinya tentang teman sekolahnya yang punya adik lucu beberapa hari yang lalu sebelum pindah rumah.
"Iya sih, Ma. Adik nya Fio teman Kia lucu banget. Kia suka lihatnya. Apalagi pipinya kaya bapo pengen gigit." Hihihihihi...cerita Kiara dengan semangat dan jangan lupa tawa cekikikannya.
"Kalau suka, kenapa Kia gak mau punya adik?" tanya Devan yang ikut menimbruk pembicaraan si kembar juga istrinya.
"Kia mau aja punya adik, tapi Kia gak mau badan Mama melah-melah." jawabnya dengan menggelengkan kepalanya membuat rambut yang dikepang dua ikut bergerak kanan kiri.
"Ya minta aja Papa jangan dekat sama Mama, biar badan Mama gak merah lagi." sahut Kenan cuek sambil melanjutkan mewarnai gambarnya.
"Itukan altinya Mama halus dekat sama Papa." sambung nya
"Tapi Kiala gak mau." sungutnya tiba-tiba tiap mengingat badan Mama Nayra yang penuh tanda merah.
"Gak usah dekat Papa tapi Mama kasih Kia sama Ken adik. Bisakan Ma??" tanyanya dengan mata di kedipkan beberapa kali seperti boneka yang Kiara miliki. Dengan tampang memohon, dengan senyum tipisnya.
Nayra geleng kepala melihat kepolosan putrinya itu. Pengen punya adik tapi Mama sama Papanya gak boleh tidur bareng, gak boleh berdekatan. Terus cara buatnya gimana? Ada-ada pikiran anak kecil ini.
"Gak bisa sayang" kata Devan
"Kenapa gak bisa?" tanya Kiara
"Karena Mama gak bisa memberikan adik kalau gak ada Papa." jawab Devan dengan mencondongkan tubuhnya kedepan supaya lebih dekat dengan anaknya.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu, Ma?" Kiara kini beralih ke Mama Nayra.
Nayra mendelik menatap Devan. Dia bingung harus jawab apa. Otaknya rasanya ngeblank untuk menjawab pertanyaan yang Kiara lontarkan. Anaknya belum saatnya mengetahui tentang itu. Mereka masih terlalu kecil.
"Sini sayang Papa jelasin." Devan meminta Kiara mendekat. Dengan segera dia mendekat dan langsung duduk di pangkuan Devan. Dia ingin tahu bagaimana caranya mendapatkan adik.
"Kiara tahu biji Mangga?" Kiara menganggukkan kepalanya antusias.
"Kia suka buah Mangga." Devan hanya menggut-manggut saja.
"Adik bayi itu adanya seperti saat Kia menanam biji mangga di halaman. Jadi Papa harus menaruh benih kedalam perut Mama, lalu benihnya tumbuh didalam perut Mama. Nanti akhirnya perut Mama bertambah besar karena adanya adik bayi di dalamnya." jelas Devan semudah mungkin supaya putrinya itu paham dan gak bertanya-tanya lagi.
Nayra tersenyum mendengar penjelasan dari suaminya. Selain tampan dan pintar dalam bisnis, ternyata juga pintar dalam mengambil perumpamaan. "Hot Daddy" gumam Nayra dengan mata berbinar menatap suaminya itu.
"Naluhnya gimana calanya, Pah? Dimakan apa diminum?" tanya Kiara lagi. Karena dia merasa belum paham dengan penjelasan yang Papa Devan berikan.
Baru saja dipuji "hot daddy" sama istrinya, Devan sudah menatap Nayra meminta bantuan. Nayra yang ditatap hanya mengendihkan bahunya. Dia sendiri juga bingung harus jawab apa.
"Ya gak mungkin dimakan atau diminum karena nanti pasti akan keluar juga." sahut Kenan tiba-tiba membuat Kiara berfikir sejenak.
"Iya juga yaa....." Kiara membenarkan perkataan Kenan.
"Pasti nanti akan keluar saat Mama pup." upsss...Kiara langsung menutup mulutnya untuk menahan tawanya karena ditatap tajam sang Mama.
"Benihnya itu ditanam di dalam perut Mama dengan cara ditelan." sambung Kenan
"Sama saja Kenan.." sungut Kiara yang merasa kesal pada saudara kembarnya itu. Dia turun dari pangkuan Papa Devan dan beradu agumen dengan Kenan ala anak kecil.
Nayra dan Devan tertawa melihat kedua anaknya itu. Devan mendekat ke istrinya yang tengah duduk di dibawah.
"Ayo kita bikin adik yang banyak buat mereka?! Bukankah mereka menginginkan adik sekarang?"
__ADS_1