
..."Berusaha menghindar, entah mengapa takdir seakan terus mendekatkan." (Zee)🥀...
..._________________________________________...
Seminggu berlalu sudah. Setelah dideklarasikan kemenangan saat ucacara bendera dan seluruh peserta lomba diminta maju ke podium, kini tak hanya para kakak kelas peserta lomba yang mulai menerima Zee, para siswa sekolah Mandala yang lain juga mulai mengenal dan menghargai Zee sebagai siswa cerdas. Ya, walau tak menutup kemungkinan masih ada saja beberapa orang yang sinis dan iri akan keberhasilan Zee, tapi seperti biasa Zee menyikapi dengan santai. Zee tak peduli omongan orang yang penting ia bahagia.
Wajah-wajah seluruh siswa kelas 10 IPA tampak begitu semringah. Hari ini yang harusnya dijadwalkan akan diadakan ulangan Bahasa Inggris akhirnya tidak terjadi. Bimo sang guru bahasa inggris tidak masuk, alhasil ulangan tidak jadi diadakan. Kelas akhirnya diisi oleh Priyo guru Sejarah yang sedang bertugas piket hari itu. Priyo, guru bersuku Jawa itu tampak lucu berusaha mengajarkan bahasa Inggris dengan logat Jawa kental yang membuat siswa tak bisa berhenti tertawa dibuatnya.
"Kalian ini ya, sudah begini saja, untuk mengisi jam pelajaran bahasa Inggris, kalian buatlah Dialog introducing oneself dan dialog introducing others dengan rekan sebangku kalian dalam selembar kertas nanti kalian kumpul kepada Zee."
"Sa-ya, Pak?" tanya Zee terbata memastikan namanya disebut pak Priyo.
"Ya iya, kamu. Setelah seluruh temanmu selesai nanti, kamu bawa kertas jawaban ke kelas 12 IPA 1, sebab bapak harus mengajar di sana sekarang, pa-ham!"
Ya, semenjak mengikuti lomba, bukan hanya siswa SMA DUTA BANGSA yang mulai mengenal Zee, tapi para guru kini sering meminta bantuan Zee untuk memantau siswa lain yang terlihat kesulitan dalam bidang akademik yang diajarnya, mereka juga meminta Zee membantunya. Guru-guru itu percaya pada Zee. Wajah kini bukan hal nomer 1 lagi, kecerdasan lah yang utama dan Zee sudah membuktikan itu.
"Ke-las 12 IPA sa-tu, Pa-k? Bagaimana kalau saya taruh di kantor saja, Pa-k?"
Zee yang tau betul itu adalah kelas Bias, memilih menghindarinya. Sejujurnya, setelah melihat Bias hari itu menangis ada rasa penasaran di otak Zee mengenai masalah apa yang dihadapi Bias, tapi Zee yang sadar hatinya akan tidak baik jika keduanya bertemu akhirnya memilih tidak memupuk rasa penasaran itu.
"Kenapa kamu kaget mendengar kelas 12 IPA 1, Zee? Apa ada pacarmu di sana?" celetuk Priyo.
"Eh nggak, gak a-da, Pak."
"Kalau nggak ada kenapa wajah kamu merah begitu. Ya sudah nanti Bapak tunggu di kelas 12 IPA 1, ya!"
"Ta-pi, Pa-kk!"
Tak mendengarkan suara Zee, Priyo meninggalkan kelas dengan cepat. Zee menghadapkan wajah pada Siska dan Ayu setelahnya. "Duhh gimana dong, aku malu ke kelas kak Bi-as," lirih kata itu terucap.
"Nanti gue anterin, Zee," ucap Ayu.
"Bener, Ay?"
"Iya."
"Tapi kamu yang masuk ketemu pak Priyo, ya, please!"
"Hmm ... iya deh."
Sesuai janjinya, Ayu kini beriringan bersama Zee menuju lantai 2 dimana kelas Bias berada. Sebetulnya Zee juga rindu ingin melihat kakak kelasnya itu karena seminggu ini ia tidak pernah bersimpangan dengan Bias di manapun. Namun Zee berusaha keras menutupi rasanya itu depan Ayu. Ya, Zee ingin menyimpan rasanya itu sendiri saja.
Setelah beberapa saat berjalan, pintu kayu yang memisahkan raganya dari Bias sudah di hadapannya. Ayu meraih tumpukan kertas dari tangan Zee dan memindahkan ke tangannya. Ayu masuk setelahnya dan Zee menunggu di muka pintu. Zee menunduk dengan perasaan campur aduk, hatinya yang tanpa sadar sudah menempatkan Bias di satu tempat spesial membuat dada itu sesak sekali menahan tak mengintip. Mereka dekat tapi seolah sangat jauh. Zee masih menunduk, saat tiba-tiba sebuah suara terdengar.
"Zee?"
Zee mengangkat kepala saat mendengar namanya dipanggil. Ia terperanjat.
__ADS_1
"Eh, he, Ka-kak?" Mata Zee membulat, orang yang dirindukan tapi berusaha keras dihindari justru berdiri di hadapannya. Zee berusaha bernapas teratur agar gugupnya tak terlihat.
"Kenapa di sini?" tanya Bias bingung melihat Zee di depan kelasnya.
"I-tu, Ka-k. Ng__ngan-ter tu-gas, Kak!"
"Ke pak Priyo?"
"I-ya."
"Nganter tugas kenapa di luar? Ayo masuk!" Zee menggeleng.
"Lho kenapa?"
"I-tu Ayu____
"Ayu?"
"A-yu temen aku u-dah masuk, Kak!"
"Oh." Beberapa saat terdiam, Bias bicara lagi. "Oh ya, kemarin gue lagi lihat-lihat formulir pendaftaran anak baru dan kaget ada biodata lo, tapi gue kok gak pernah lihat lo latihan, ya?"
"Eh, i-tu. Ke-marin si-buk, Ka-k."
"Iya juga sih, kemarin kita sibuk persiapan lomba." Zee mengangguk.
"Tapi kita udah nggak pendalaman materi lagi, berarti lo udah bisa ikut latihan, kan?"
"Formulir nggak bisa ditarik lagi lho, Zee."
"Oh__ me-mang ha-ri apa la-tihannya, Kak?" Dengan terbata akhirnya tanya itu terlontar.
"Besok jam 2."
"Oh."
"Oh lagi? Oh gimana? Bisa gabung??"
"In-sya Al-llah ya, Ka-k."
Pintu kelas Bias tiba-tiba terbuka, Ayu yang membuka pintu kaget melihat Bias. Ia langsung menarik sepasang alisnya ke arah Zee, Zee bergeming.
"Gue masuk, Zee! Gue tunggu besok di lapangan!" Zee tersenyum getir, hingga akhirnya pintu tertutup dan bayang Bias menghilang. Ayu mendekati sahabatnya yang terlihat gugup itu.
"Wahh Zee, lo janjian ngapain sama kak Bias? Lo kok gitu sih, diem-diem main rahasiaan sama kita-kita!"
"Eh, kamu salam paham, Ay. Bukan begitu, ka-k Bias ngomongin latihan basket ta-di. Kamu inget kan aku nyerahin formulir pendaftaran ke ekskul basket waktu i-tu," ucap Zee sambil mengarahkan kakinya menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Oh iya, gue sampe lupa. Elo kan emang dari awal udah tertarik sama kak Bias kan, Hee."
"Eh, apaan sih, Ay."
"Jujur aja, Zee. Lo itu nggak pinter bohong, itu aja lo gugup begitu, jadi tambah jelas banget tau kalau lo suka kak Bias!"
"Hah, masa sih begitu?"
"Iya, wajah merona lo juga nggak bisa ditutupin. Jelas kalo lo seneng habis ketemu kak Bias!"
"Hah? Masa sih ke-liha-tan?"
"Hiii ... Lo itu lucu Zee! Iya jelas kelihatan, tapi gpp, itu jadi ciri khas lo yang apa adanya."
"Ta-pi, Ay!"
"Gue mau ceritain ini ke Siska ahhh ...."
"Eh, Ay ... jangan Ayy!"
Suara Zee kalah kuat, dengan semangat Ayu melangkahkan kaki ke dalam kelas dan langsung menghampiri Siska. Zee ingin menahan tapi tentunya telat. Dua sejoli sahabatnya itu tampak saling berbisik dan tersenyum menyeringai saat ini ke arahnya. Zee memberengut dan ikut duduk setelahnya.
"Cie ... cie ... masuk ekskul basket ada yang makin sering ketemu gebetan nih," goda Siska.
"Ih apa sih, Sis. Aku ikut karena memang suka basket tau," kilah Zee.
"Eh ... ngeles aja sih Lo, Zee! Suka kak Bias juga gpp kali!" Ayu mencubit kuat hidung Zee.
"Ahh sa-kit.!"
"Sorry, sorry ...!"
"Eh, tapi kalian besok ikut latihan basket juga kan sama aku?"
"Nggak ahh Zee, nanti gue item lagi. Ups, sorry, gue gak ada maksud nyindir lo ya, Zee," lirih Ayu berucap.
"Eh iya santai aja. Emang gue item kok, Ayy," ucap Zee.
Obrolan itu menjadi saksi kedekatan ketiganya. Pun setelahnya bel pergantian pelajaran berbunyi dan Novita guru bahasa Indonesia masuk siap memberi materi untuk murid-muridnya.
Di sebuah meja, Ayu yang sedang serius menulis pada buku tugas tiba-tiba kaget melihat jari telunjuk dan jempolnya menghitam.
Jari gue kenapa, ya? Kayaknya habis istirahat tadi gue udah cuci tangan deh.
Ayu tampak terus mengingat-ingat hal yang belum lama dilakukannya.
...________________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘😘
🥀Jangan lupa dukungannya yaa❤️❤️