ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
PAHA PUTIH


__ADS_3

"Hah?"


"Kok hah sih? Gue tuh lagi nanya lo Zee, lo suka Bias?"


"A-ku____


"Ah lama lo, udah lah nggak usah dijawab, gue udah tau jawabannya!" Zee bergeming menatap wajah Johan.


"Nggak usah ngeliatin gue gitu. Wajar kok lo suka Bias, banyak cewek emang suka Bias. Gue juga kalo jadi cewe juga suka, Haaa ... canda. Btw, lo dari kapan suka Bias?"


"A-ku____


"Yah lama lagi lo jawab. Nggak usah dipaksain jawab Zee! Eh ngomong-ngomong kalo lo emang suka Bias, gue dukung lo!"


Mata Zee kembali membulat menatap wajah Johan, ia sungguh tak menyangka dengan ucapan pelatih basket yang di sekolah selalu cool dan jarang bicara banyak padanya kini mereka seakan begitu akrab.


"Lo ngeliatin gue lagi. Bingung kenapa gue dukung lo?" Tanpa sadar Zee spontan mengangguk.


"Karena kalian cocok!" Zee menyimak dengan hikmat seolah jawaban itu begitu penting ia dengar.


"Lo berdua sama-sama pinter dan suka basket! Gue dukung kalian pokoknya. Gue yakin deh, kalo sama lo Bias pasti nggak galau tiap latihan basket, karena lo nggak akan larang-larang doi latihan!"


"Mak-sud, Bang-Jo?"


"Maksud gue? Hmm___ ah udahlah nggak usah lo pikirin. Yang penting lo tunjukkin kemampuan maksimal lo pas lomba nanti, kalo lo bisa bawa tim basket putri jadi juara, gue yakin seyakin-yakinnya Bias bakalan tersepona, ups ... terpesona sama lo!"


Zee bergeming mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Johan, sedang Johan tampak terus tersenyum aneh.


Sorry Zee gue manfaatin rasa lo .... Setali 2 uang, gue bisa memacu semangat lo dalam lomba nanti, plus gue juga bisa singkirin Nasya yang cuma buat Bias pusing aja. Masalah rasa Bias, bukan nggak mungkin kan doi juga bakal suka lo, walau gue sendiri sanksi. Ha___ biarkan lah....


"Bang ... Bang Jo!"


"Eh, sorry ... sorry! Jadi ngelamun gue. Ada apa Zee?"


"Udah malem, Bang. Ayo pulang!"


"Eh iya, yuk!"


Keduanya kini berjalan mendekati motor, Johan langsung duduk di kemudi. Ia menahan motor itu saat Zee hendak naik.


"Zee, gimana? Udah siap?"


"Sebentar Bang!"

__ADS_1


Zee tampak masih fokus menyamankan duduknya dan merapihkan jaket Johan di pahanya. Jaket itu tampak dibentangkan hingga menutup sepasang paha putih Zee. Zee berkali-kali memastikan letak jaket Johan benar-benar menutupi pahanya. Hingga beberapa saat____


"Udah, Bang!"


Johan bergeming, ia yang beberapa saat lalu menaikkan spion guna merapihkan tampilan helmnya, mengembalikan letak spionnya ke posisi yang pas setelahnya yang tanpa sengaja spion itu mengarah pada aktifitas Zee yang sedang menutup paha putih miliknya.


Johan menarik napas panjang. Ya, seperti yang ia bilang, melihat paha seperti itu ia sudah biasa, tapi masalahnya___ pemilih paha itu adalah Zee, gadis dengan kulit hitam dan sangat jauh dari tampilan putih. Ia mengarahkan spion kembali ke wajah Zee, memastikan gadis di belakangnya tetap Zee yang sama dan memang begitu adanya, sosok yang di belakangnya adalah Zee si hitam.


Aneh, apa gue tadi salah lihat. Kenapa paha tuh anak bisa putih banget, tapi wajah dan tangannya hitam. Aneh!!


Johan mengemudikan motor besar setelahnya dengan dipenuhi banyak teka-teki di otak. Hingga sampai di pemukiman dekat rumah Zee. Zee minta Johan berhenti.


Johan yang masih dipenuhi rasa penasaran, mengarahkan spion itu kembali ke paha Zee. Ia terdiam, namun diam-diam memperhatikan setiap aktivitas Zee. Ia mengangguk-angguk setelahnya.


"Bang Jo, makasih ya!"


Johan menatap intens wajah itu, baru ia mengangguk.


"Eh Zee!"


"Iya, Bang?


"Jaket gue!"


"Gpp santai aja. Mimpi indah Zee dan sampai ketemu besok!" Zee mengangguk dan langsung berbalik berjalan menuju rumahnya yang masih berjarak sekitar 20 meter itu.


Di atas motor Johan terus bergumam.


Paha tuh anak benar-benar putih dan gue nggak salah lihat. Zee ... Lo itu ternyata bener-bener penuh kejutan dan gue siap menunggu kejutan dari lo selanjutnya.


_____________________


"Mang U-jang lagi ngapain?" Nasya yang baru saja turun dari Vespa Reno kaget sopirnya ada di luar pagar menggenggam ponsel memperhatikan dirinya. Pun ia mendekati Ujang.


"No-n dari mana?"


"Mamang kenapa sih nanya-nanya udah kayak reporter!"


"Non hati-hati bergaul. I-tu siapa kok banyak tatonya?"


"Mamang nggak usah ikut campur urusan aku! Oh ya, tadi aku lihat Mamang bawa hp, coba lihat hp Mamang!"


"Jangan No-n!" Nasya menarik paksa ponsel Ujang hingga ponsel itu kini berpindah ke tangannya.

__ADS_1


"Hahh, bener kan Mamang fotoin aku! Sekarang jawab! Siapa yang nyuruh Mamang mata-matamu aku! Jawab!"


"Ng-gak a-da, Non!"


"Bohong! Oke kalau Mamang nggak mau jujur aku akan buat Mamang keluar dari rumah ini!"


"Jangan No-nn ...!"


"Terus siapa?"


"I-tu____


"I-ya siapa?"


"De-n Bi-as, Non!"


"Bias? Tadi dia kemari?" lirih kata itu terucap, Nasya teringat sudah mengecewakan Bias. Ujang mengangguk.


"Yaudah aku nggak akan buat Mamang berhenti kerja, tapi Mamang nggak boleh ngasih informasi apapun ke Bias! Termasuk Soal cowok yang tadi nganter aku pulang! Paham!"


"I-ya, No-n ...."


__________________


Esok harinya di sekolah, Bias yang khawatir belum juga ada kabar mengenai Nasya sejak semalam, kini mendatangi kelas Nasya.


"Hah? Nasya ng-gak masuk?"


"Iya, Bi. Tadi ada yang nelpon ke sekolah katanya doi kurang sehat."


"Oh, kalo Helen mana ya, kok gue nggak lihat dia sih?"


"Helen malah dari kemarin nggak masuknya."


"Kenapa?"


"Sakit."


"Oh. yaudah thanks informasinya, ya."


Bias keluar kelas Nasya dengan kecewa karena lagi-lagi tidak bisa bertemu Nasya. Ia segera meraih ponsel dan meminta izin Johan lagi untuk tidak bergabung latihan basket sepulang sekolah.


..._________________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading😘😘


__ADS_2