ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
BUKAN ZEE


__ADS_3

..."Alasan pena menggantikan pensil saat kita beranjak besar adalah untuk mengajarkan betapa sulitnya penghapus sebuah kesalahan."🥀...


...________________________________________...


"Tuh anak malu-maluin sekolah banget sih! Katanya pinter tapi mau ngerusak hubungan Nasya sama Bias dengan cara licik!"


"Katanya pinter tapi nggak ngotak, malu-maluin diri sendiri!"


"Berani juga dia ke luar kelas, emang bener-bener pemberani dia! Sangking beraninya bisa lakuin apa aja buat dapet yang dia mau."


"Kalo gue udah ke luar sekolah dan nggak berani nongol di sekolah! Malu kali ...!"


"Mending kalo cantik, jelek! banyak gaya!"


"Ke kelas aja, yuk! Nap su makan gue ilang lihat dia!"


Beberapa saat lalu Zee memang akhirnya menerima ajakan Ayu dan Siska ke kantin. Ia sebetulnya takut dan malu, tapi Zee tak ingin menghindar. Kini, baru masuk ke kantin, ia langsung mematung mendengar ucapan siswa-siswa lain tentangnya. Sakit sekali hatinya, ia lagi-lagi menahan agar tak ada bulir yang menetes.


"Udah Zee, balik ke kelas aja, yuk!" ajak Siska, Zee spontan mengangguk. Ya, hatinya tak kuat berada di sana.


Di satu tempat di sudut, seorang gadis tampak duduk sendirian, tak ubah seperti yang lain. Ia juga tampak tersenyum menyeringai menatap 3 adik kelas yang baru saja berlalu.


Gue nggak akan biarin ada cewek lain yang ngambil Bias dari gue. Bias dan hatinya hanya punya gue.


"Sya, lo di sini? Kenapa lo ke kantin sendirian nggak ngajak gue sih!"


Nasya menatap gadis dengan seragam sepertinya yang dulu pernah begitu dekat dengannya tanpa bicara. Ia menghirup minumannya dan berdiri.


"Sya, ngomong dong kenapa ngindarin gue! Kalo lo putus sama Kak Reno, lo nggak harus mutusin persahabatan kita!"


"Minggir, Len! Gue mau lewat!"


"Sya, please jangan diemin gue dong, kita tuh sahabat. Gue mau kita berdua kayak dulu, ngobrol, curhat, shopping bareng, nongkrong di kafe, pokoknya gue pengen kita kayak dulu!"


Nasya menelan salivanya. "Makasih lo pernah jadi sahabat gue, tapi sekarang gue nggak mau punya sahabat lagi!"


"Sya, jangan begini! Bilang salah gue apa!"


"Yang ...!"


"Sorry, Bias udah dateng, gue ke kelas dulu!"

__ADS_1


"Sya ... Syaa ... tunggu!" Nasya tidak menghiraukan.


Saat bel istirahat berbunyi tadi Bias memang menjemput Nasya ke kelasnya untuk istirahat bersama. Karena Bias ada urusan sebentar di kantor dengan pembina OSIS, Nasya menunggu Bias di kantin.


______________________


"Sorry Zee, kita nggak seharusnya maksa lo ikut ke kantin tadi!"


"Please ... jangan dengerin omongan orang-orang tentang lo ya, Zee!"


"Iya, Zee, kita berdua sayang lo dan nggak mau lo sedih."


"Yakin rumor itu juga akan hilang nanti dengan sendirinya!"


"Rumor emang akan hilang, tapi luka hati aku kayaknya bakalan susah hilang!"


"Zee ...!"


"Jujur, gue penasaran sama yang buat surat itu, menurut lo berdua kira-kira siapa, ya?"


Ayu dan Siska saling berhadapan. "Udah lah Zee lupain aja hal yang buat lo sakit, jangan tengok ke belakang!" ucap Siska mantap.


"I-ya, Zee, nggak usah inget masalah itu. Oh ya, gimana kalo nanti pulang sekolah kita nge-Mall, lo bebas deh belanja apa aja!" Ayu berusaha keras membujuk Zee.


"Oh."


___________________


Beberapa hari setelahnya, Zee tidak terlihat di sekolah, Ayu dan Siska yang sejak terbukanya kisah surat palsu itu merasa terus bersalah kini berpikir negatif tentang hal yang membuat Zee tidak datang.


Pelajaran dimulai, ibu Santi yang juga wali kelas mereka sedang menjelaskan mata pelajaran Kimia. Saat Bu Santi telah selesai menerangkan, Siska maju ke depan bicara pada wali kelasnya itu.


"Bu, apa ada kabar kenapa Zee tidak masuk? tanyanya.


"Iya tadi tetangganya Zee mengabari katanya ibu Zee sedang sakit dan Zee harus merawat ibunya, dia izin tidak masuk."


"Oh." Jelas lega di rasa Siska mengetahui alasan tidak masuk Zee. Semua bukan tentang Zee, tapi tentang ibunya. Siska langsung kembali duduk dan menceritakan semua pada Ayu.


"Oh, jadi ibunya Zee sakit. Eh, gimana kalau pulang sekolah nanti kita jenguk ibunya Zee!


"Wah boleh ide lo! Tapi kita kan nggak tau rumah Zee, Zee nggak pernah gamblang sama alamatnya."

__ADS_1


"Kita tanya bagian TU bagaimana?"


"Boleh, boleh."


Sepulang sekolah keduanya menghampiri petugas administrasi sekolah itu dan menanyakan alamat Zee dan mengutarakan alasan mereka yang ingin menjenguk ibu dari teman mereka itu yang sakit.


Mendengar alasan Ayu dan Siska, seorang pegawai TU segera meraih mouse dan segera menggulirkannya ke file mengenai data siswa. Dalam satu ketikan nama, seluruh data siswa langsung terlihat.


"Bukan, bukan itu teman kami, Bu!" ucap Ayu melihat foto yang tampak dalam layar komputer di depannya.


"Coba ketik ulang aja, Bu! Itu bukan Zee kami!"


Petugas TU tampak menurut, ia mengetik ulang nama Zee dan kembali data yang sama yang keluar.


"Tapi ini sudah benar datanya, ini data mengenai siswa bernama Zivanya Alkaridz."


Ayu dan Siska saling berhadapan, Siska mendekatkan wajahnya ke layar dan matanya seketika membulat. Ia segera menoleh ke wajah Ayu.


"Ay, dia Zee!"


"Hah?"


"Lo lihat seksama deh!"


"I-ya, ta-pi di sini Zee____


"Lihat tuh asal sekolahnya SMP Pertiwi. Ini nama SMP Zee."


"Iya, ta-pi___


"Terima kasih saya catat alamat teman saya ya, Bu!" Ayu masih bergeming, namun Siska dengan cepat mencatat alamat yang terlihat di layar.


"Ayo, Ayyy!"


"Sis, Zee ki-ta____


"Cantik! Kita harus ke rumah Zee dan memastikan kebenaran ini!" Ayu mengangguk.


..._______________________________________...


🥀Happy reading😘

__ADS_1


🥀Maaf belakangan ini bisanya up 1 bab, hari2 full. Kalau bisa Bubu usahakan up lagi nanti. Makasih yang selalu menunggu kelanjutan Zee🙏🙏


__ADS_2