
..."Hidup itu pilihan dan aku memilih mengenyampingkan ego pribadi untuk kepentingan lebih banyak orang. Hal yang aku tahu mengecewakan kamu." (Bias)🥀...
..._______________________________________...
Seorang gadis sudah bersedekap dengan tas punggungnya pagi itu, wajahnya berbinar seolah kesedihan tak pernah ada. Ia menghadap celah jendela angkot yang ia naiki, bergeming menatap syahdu setiap hal dalam jangkauan netranya. Pagi memang selalu menghantar mimpi baru bagi jiwa penggapai asa. Mimpi yang menjadi bukti rasa syukur hamba pada Penciptanya. Sebagaimana ia yakin bahwa Pencipta sudah menetapkan cerita yang lebih indah untuknya hari itu.
Kini ia tersenyum, sang gadis cantik yang memilih menghitamkan wajah itu tampak ingin selalu tersenyum pagi itu. Sebab berkah hidup sang Esa tentu, tapi sebab cinta manusia tak bisa ia sangkal. Seketika terbesit di otaknya tentang sang pujaan. Tentang kebersamaan yang mereka lalui beberapa hari belakangan, kebaikan, perhatian, semua hal tentang dia memang indah, selalu indah.
Setelah beberapa saat berjalan, angkot yang membawa Zee menepi di seberang sekolah. Perlahan Zee turun dan terus bergerak menuju bangunan sekolah berdominasi biru nan cerah. Zee masih menyebrang saat dilihatnya motor yang ia mulai hapal pemiliknya terlihat memasuki gerbang sekolah, Zee mempercepat langkah. Ya, Zee tidak mau kehilangan momen menatap pujaan hatinya itu. Imun di pagi hari.
Sesaat Zee kecewa, raga itu sudah tak terlihat hanya tertinggal motornya saja yang sudah terparkir cantik. Dengan langkah gontai Zee memasuki sekolah, melewati ruang guru dan koridor kelas hingga tiba-tiba sebuah suara didengarnya.
"Lo baru sampe?"
"Eh, Ka-kak?"
Zee terhenyak dilihatnya lelaki yang ia cari kini tengah menyamakan langkah dengannya, terlihat di tangan sang lelaki membawa tumpukan buku tulis. Mendengar suara Zee yang lagi-lagi terbata bicara dengannya Bias tersenyum. Senyum yang langsung tertangkap netra Zee membuat bahagia itu terasa. Zee sangat senang melihat senyum itu. Ibarat pepatah, kebahagiaan yang terasa di pagi hari akan membuat satu hari itu berwarna.
"Nanti nggak lupa kan ada latihan?" tanya Bias.
"Ng-gak, Kak."
__ADS_1
"Bagus, gue seneng sama semangat lo! Pertahanin dan buktiin walau lo masih kelas 1, lo juga bisa mengharumkan tim basket kita!"
Senang, satu kata yang menelisik hati Zee. Lelaki pujaannya itu sedang memuji dirinya. Bagaimana jantung Zee saat ini, sudah tak bisa dijelaskan. Detak itu sudah tak terkontrol, terus memacu cepat membuat Zee berkali mengatur napasnya. Sesak yang aneh, namun membuat bahagia hingga ke ubun-ubun. Sebisa mungkin senyum yang terus ingin tersungging ditahan Zee, ia tak ingin rasa bahagia itu terlihat jelas di depan Bias.
"I-ya, Kak," jawab Zee lirih, sangat lirih sebab ia sedang mengatur hati dan mulut secara bersamaan.
"Bii ... tunggu!" Seorang lelaki tegap berlari menyamakan langkah pula di samping Bias.
"Haii Zee," sapa sang lelaki dengan senyum aneh yang lebih mirip meledek.
Zee memaksa membalas sapa itu dengan senyum, walau masih teringat jelas bagaimana lelaki itu pernah menyambutnya dengan hukuman lari mengitari lapangan saat pertama melangkahkan kaki di sekolah itu. Kini ia bicara bermanis-manis setelah mengetahui kemampuan Zee. Ya, siapa kini yang tidak mengenal Zee, hampir satu sekolah kenal dengan Zee, siswa yang terlihat unik dari yang lain tapi memiliki kelebihan, cerdas.
"Bii, nanti siang rapat OSIS, ya!" ucapnya.
Bukan hanya Bias yang kaget, Zee yang berdiri di sisi pujaan hatinya itu ikut menoleh. Zee yang tidak tahu bahwa siang itu dapat dipastikan Bias tidak akan latihan karena memiliki janji dengan Nasya merasa sedih.
Kalau kak Bias ada rapat OSIS, berarti kak Bias tidak datang latihan dong.
Zee terdiam berusaha menyimak percakapan dua kakak kelas di sampingnya itu.
"Iya barusan gue dipanggil pak Toto, doi nanyain kapan LDKS diadain. Gue pikir ia juga, kita tuh belum pernah bahas LDKS, padahal udah ada anak baru, Gue pikir lebih cepat lebih baik kita bahas ini, gue udah minta Ratu ngasih tau ke pengurus yang lain juga, lo harus dateng loh, Bii!" lontar Reyyan penuh harap.
__ADS_1
Bias bergeming, lagi-lagi panggilan tugas memanggil. Bias yang merasa memiliki tanggung jawab besar pada OSIS merasa bingung. Bagaimana tidak, sebetulnya sesuai suara terbanyak Bias lah yang menjabat sebagai ketua OSIS pilihan seluruh guru dan murid di sekolah. Hanya saja saat menjabat Bias pernah mengidap typus cukup lama, hingga jabatan itu ia serahkan pada Reyyan yang menjabat wakilnya saat itu. Pun Reyyan yang merasa kemampuannya tak sebanding dengan Bias, selalu mengedepankan Bias dalam setiap kegiatan. Ya, walau nama yang terpampang selalu nama Reyyan.
"Gue sebetulnya ada acara, Rey. Tapi gimana yaa___
"Please, Bii ...!"
"Hmm, okelah ... in-syaa Allah gue dateng."
Bagaimana pun acara LDKS penting untuk calon pengurus OSIS yang next menjabat. Haahh, Nasya ... sorry, Yang. Aku ngecewain kamu lagi.
Yahh ... kak Bias nanti nggak dateng latihan, padahal aku udah seneng bayangin latihan bareng kak Bias. Semangat ... Semangat Zee! Inget kata-kata kak Bias, kamu harus bisa mengharumkan nama tim basket. Inget juga! Kak Bias udah sepenuhnya percaya kamu!
"Permisi Ka-k, aku ke kelas dulu," ucap Zee melihat kelasnya sudah berada di hadapannya, Bias mengangguk.
"Oh ya, Reyy ... gue duluan, ya!"
Seketika kaki-kaki Bias melangkah cepat, ia ingin segera menemui Nasya. Setelah semalam ia membuat Nasya kecewa dengan menolak keinginan kekasihnya itu untuk tetap tinggal menemaninya, kini ia seolah membuat hal yang memicu masalah baru keduanya.
Semesta tak merestui, satu kata yang cocok saat ini. Ya, belum lagi sampai ke kelas Nasya, nyatanya bel sudah berbunyi lebih dulu.
..._____________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘😘
🥀 Terima kasih yang masih baca hingga bab ini❤️❤️