ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
TAWARAN INVESTASI


__ADS_3

"Permisi Bu Sashi," lirih kata itu terucap. Zee kini berdiri di sisi meja tempat Sashi berada. Netranya tidak teralihkan pada aktivitas ibu muda di hadapannya yang dengan sabar menyuapi bocah laki-laki kecil di pangkuan.


"Hei, siapa ini? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Sashi mengangguk sambil tersenyum.


"Suami ibu sedang bicara dengan suami saya," lirih Zee. Sashi melirik ke tempat di mana Alaric berada, ia paham yang terjadi.


"Oh, ayo silahkan duduk! Kamu juga sudah nikah?" Zee mengangguk. Sashi menatap perut Zee yang rata, sesaat ia berfikir mungkin Zee menikah muda lantaran seperti dirinya tapi ternyata dugaannya salah.


"Kami baru menikah, Bu."


"Duh, jangan panggil aku ibu. Panggil Sashi saja!"


"Saya nggak berani, Bu. Suami ibu berperan di bisnis mertua saya. Memanggil dengan sebutan nama seakan lancang," ucap Zee.


"Tapi aku kan yang suruh kamu! Hem, atau kamu panggil aku kakak saja. Kayaknya usia aku juga lebih tua sih." Sashi tersenyum.


"I-ni semua anak Ka-kak?" tanya Zee masih menyamankan panggilannya. Ia tak ingin menduga-duga jadi menanyakan hal yang ada di otaknya.


"Iya."


"Lucu dan cantik-cantik anak Kakak, ini yang kecil apa kembar dengan bocah yang dipangku pak Aric?"


"Iya, mereka kembar____


Keduanya saling bercengkrama, begitu pula dengan kedua lelaki yang duduk tak jauh dari tempat mereka berada.


_____________________


"Jujur sebetulnya saya kecewa Pak Bias keluar dari bisinis Pak Libra tanpa kabar."


"Ma-af!"


"Itu bukan tindakan bagus! Maaf saya tidak melanjutkan kerjasama dengan pak Libra karena saya tidak suka dengan caranya memimpin!" Lelaki yang sukses berbisnis furniture itu memang merambah ke bidang kuliner. Ia sudah menyukai Bias sejak Bias dengan lugas menjelaskan bisnis kuliner milik perusahaan yang ayahnya miliki.


"Iya, saya sudah dengar itu. Ada beberapa hal yang membuat saya meninggalkan bisnis papa saya."


"Kalau boleh tahu, apa aktivitas pak Bias sekarang?"


"Saya mulai berbisnis kuliner juga."


"Oh ya? Kuliner apa itu dan di mana lokasinya? Mungkin satu waktu saya akan berkunjung."


"Akan menjadi keberkahan bagi usaha saya jika pengusaha seperti Bapak berkenan mampir," ucap Bias sangat antusias.


"Ini yang saya suka dari pak Bias. Menyenangkan, bersemangat dan yang terpenting tau bagaimana bicara dengan sopan."


"Pak Aric berlebihan."


"Boleh saya save nomer Pak Bias? Saya suka dengan jiwa muda yang bersemangat!"

__ADS_1


"Boleh, Pak."


______________________


"Hahh, akhirnya kita sampai di rumah, Yang!"


"Iya, kamu mandi dan istirahat ya! Kamu pasti capek!" ucap Bias yang baru saja sampai kontrakan langsung meraih laptopnya. Ia yang ingin merombak lantai atas Kafe mulai membuat perhitungan. Jumlah pengunjung Kafe memang selalu bertambah, sehingga Bias ingin merenovasi lantai atas seperti halnya lantai bawah yang bertemakan basket.


Pintu kamar mandi terbuka dan Zee kaget lelakinya itu masih saja sibuk setelah seharian ini mereka berjibaku di Kafe.


"Yang, mandi dulu sana!"


"Iya iya, ini sedikit lagi! Nah sip. Yang ... habis sholat kamu cek perhitungan aku, ya! Sekalian lihat apa ada yang kurang dan aku lupa catet!" teriak Bias karena Zee sedang di kamar saat ini.


"Iya, Yang. Nanti aku cek."




"Gimana?" Bias baru saja menjalankan ibadah setelah selesai mandi tadi. Ia langsung menghampiri Zee yang masih menggulirkan layar.


"Kamu teliti, Yang. Bahkan vas bunga di meja kasir Sampai kamu tulis."


"Harus, dong! Aku mau semua yang ada di lantai bawah juga ada di lantai atas!"


"Tapi nggak ada wahana tuh di atas?"


"Suami aku pinter! Oh ya, Yang ... berarti kita juga harus memikirkan penambahan karyawan dong."


"Oh iya, duh sampai lupa aku!"


"Masuk nggak budgetnya?"


Bias menyugar rambut. "Kurang, Yang! Karena menambah tempat pastinya menambah bahan, kita juga gak bisa biarin pak Andi bekerja sendiri. Selain itu kita juga harus menyisakan dana untuk persiapan menghadapi resiko di luar dugaan. Sedang aku nggak mau ambil dari tabungan privasi kita. Kayaknya kita harus sabar lagi, nih!"


"Sabar, Sayang! Kita pertahanin yang ada dulu! Bersyukur sama rezeki yang Allah kasih sama kita sampai detik ini," lirih Zee melingkarkan lengannya ke pinggang Bias. Ia memeluk tubuh itu. Zee sedih melihat Bias kecewa, ia pun memilih membuat Bias nyaman dengan pelukannya.


Bias memiringkan tubuh, ia menatap wanitanya yang menyambut wajahnya dengan senyum cantik. Senyuman yang langsung membuyarkan keresahannya dan kesedihannya beberapa saat lalu. Ya, saat angan nyatanya belum bisa teralisasi. Bias masih menatap wajah itu, seketika ia sadar memiliki hal berharga yang melebihi apa pun dan tak boleh lupa ia syukuri. Kehadiran Zee.


"Makasih, Sayang." Bias mendekap erat tubuh Zee. ia merasa nyaman, tenang dan bahagia. Sesaat cinta Zee seolah segalanya, melengkapi hidupnya, ia tak butuh hal lain dalam hidupnya. bias menyingkirkan penat otaknya sesaat. Ia butuh merefresh diri. Keluar dari masalah bisnis yang selalu memutar otak. Bias mengusap-usap bahu Zee, memindahkan tangan ke tengkuk Zee. Bias menahan kepala Zee dan mulai menciumi wajah itu, bibir, leher ... hingga tangannya mulai melepas satu persatu kancing piyama Zee.


"Yang, yakin mau ngelakuin i-ni? Ka-mu nggak capek?" lirih Zee yang mulai menikmati sentuhan Bias.


"Harusnya aku yang tanya, kamu siap kan kalau Striker malam ini beraksi! Malam ini aku harus mencetak gol, Yang!"


"Ta-pi Yang____


"Strawberry sama anggur udah aku buang. Tanpa itu aku yakin bisa buat kiper gak berdaya!"

__ADS_1


"Yang ... kamu ngomongnya ihh!"


"Keep enjoy ya, Yang!"


_____________________


"Pak Aric? So surprize. Anda benar datang. Terima kasih banyak."


Bias kaget, di hari siang nan terik itu sebuah keluarga muda masuk. Baru melewati pintu masuk, tiga bocah sudah berlarian menuju wahana mandi bola.


"Kebetulan kami sedang melintasi daerah sini dan teringat Kafe Pak Bias!"


"Mari duduk, Pak! Maaf Kafe saya mengusung tema lesehan."


"Tidak masalah!" Alaric memilih tempat yang dekat dengan wahana agar bisa melihat anak-anaknya yang kini terlihat senang. Sashi melambai tangan ke arah tiga bocahnya yang bermain.


"Wah, sepertinya saya akan kesulitan nanti mengajak anak-anak pulang. Briliant idea! good konsep! Boleh tau dari mana bisa terfikir konsep basket? Unik, saya baru melihat konsep seperti ini!" tanya Alaric antusias.


"Kebetulan saya dan istri atlet basket di sekolah. Seketika saja konsep basket itu muncul. Menyatukan bisnis dengan hobi. Setiap melihat ini, kami akan ingat masa-masa sekolah dan pertama kami bertemu. Juga otak kami akan fresh karena diri kami sejatinya menyatu dengan basket!"


"Keren!" lugas Alaric. Bias tersenyum. Tampak seorang pelayan mendekat dan menyodorkan menu pada Alaric.


"Menu-menu yang menggugah selera. Sayang!" Sashi tampak mendekat mendengar Alaric memanggil. Ia meninggalkan ketiga bocahnya.


"Pilih menu yang kamu suka, Sayang!"


"Hem ... aku mau ini, untuk anak-anak ini. Kalau minuman, aku sama seperti Kakak!"


"Oke."




Alaric dan Sashi sudah selesai makan, namun seperti biasa Sashi masih sibuk menyuapi si kembar bergantian. Shiza yang sudah berusia 4 tahun tampak sudah pintar makan sendiri setelah Alaric memotong kecil-kecil steak di piring putrinya itu.


Alaric melambai tangan kini memanggil Bias, ia ingin berbincang. Bias yang menghargai kehadiran Alaric langsung menghampiri. Zee tampak sedang menjadi kasir, sesekali ia menghampiri Sashi dan bertanya kabar.


"Jadi Kafe ini sudah dibuka di berapa cabang?"


"Baru ini, Pak? Saya masih merintis!"


"Sayang sekali kalau konsep bagus disertai menu yang memanjakan lidah tidak diperluas! Saya siap berinvestasi!"


"Hah?"


...________________________________________...


🥀Happy reading😘😘

__ADS_1


🥀Jangan lupa like, komen, votenya untuk Bias dan Zee yaa❤️❤️


__ADS_2