
"Selamat, gue denger bisnis lo berkembang pesat. Bakat pebisnis om Libra ternyata nurun ke lo."
"Alhamdulillah, makasih Bang. Lo gak mau coba bisnis, Bang?"
"Nggak lah Bii, gak bakat. Modal juga gak ada. Gue jalanin kerjaan ini aja, udah nyaman juga." Bias tampak mengangguk-angguk mendengar jawaban Johan. Berbisnis itu memang harus dari hati, suka, yakin, maka akan bersemangat melakukannya. Johan tidak memiliki minat itu, Bias pun hanya menyarankan.
Zee baru saja kembali dari motor mengambil dompetnya yang tertinggal, ia melihat jam tangan yang menunjuk pukul 19.03. Netranya mengedar pandang pada angkringan yang ia datangi, suasana mulai ramai padahal ia baru meninggalkannya sesaat. Ia dan Bias malam ini memang di ajak Johan mencari kossan, ketiganya baru saja tiba di tempat pertemuan. Kini Zee tampak berjalan mendekat ke arah dua pria yang terlihat asik berbincang.
"Kok belum pada makan?" tanya Zee ke arah Bias.
"Belum. Kan nunggu kamu," ucap Bias. Sesaat setelahnya ia memesan makanan murah meriah di kota Jogya itu, menikmatinya dengan lahap hingga sajian berdasar daun pisang itu habis, kini ketiganya terlihat menyeruput teh hangat.
"Rencananya kalian mau cari kontrakan atau kossan?" Johan memulai kata.
"Melihat kondisi status kalian sih menurutku kontrakan lebih nyaman. Elo Bi kalau sewaktu-waktu dateng juga enak. Kalau kossan emang terbatas, apalagi kayaknya jarang juga kosan yang menerima pasangan menikah. Yah, walau kalian gak selalu bareng." Belum lagi Bias dan Zee menjawab, Johan berucap lagi. Johan memang paling tua diantara mereka, ia yang sudah lama merantau memiliki pemikiran dan pengalaman yang lebih mendewasakan. Baik Zee mau pun Bias kini saling menatap.
"Kontrakan aja kayaknya, Bang," ucap Bias baru setelahnya ia menghadap Zee. "Kamu setuju kan, Yang?" Zee mengangguk.
"Kita cari sekarang aja yuk, Bang! Aku ada tugas juga soalnya belum dikerjain."
"Oke, di dekat alun-alun kemarin aku lihat ada kontrakan kosong. Kita ke sana dulu!" lontar Johan. Zee dan Bias setuju.
__________________
Pukul 21:10 saat ini, tiga kontrakan kosong sudah mereka datangi, tapi Bias belum juga cocok. Alasan Bias kurang lebih sama, ada penghuni kontrakan berjenis kelamin lelaki yang dekat dengan kamar kosong yang ditawarkan. Bias tidak tenang membiarkan Zee tinggal di kontrakan sendiri dekat lelaki, ya walau Johan sudah meyakinkan bahwa pemilik kontrakan tersebut tinggal tidak jauh dari kontrakan itu, pemiliknya juga paham agama.
"Maaf ya, Bang. Hari ini aku belum nemu kontrakan yang cocok," utar Bias.
"Oke santai aja, besok kita cari lagi," kata Johan.
"Maaf, Bang Jo jadi repot karena aku," lirih Zee merasa tidak enak. Johan mengangguk sambil tersenyum.
"Kalian tuh seneng banget ya minta maaf. Ayolah, kita tuh teman sewajarnya saling membantu," ucap Johan tulus.
__ADS_1
___________________
"Yang, kamu belum selesai ngerjain tugasnya?" tanya Bias pada Zee yang sedang fokus mengerjakan tugas kuliah di sofa. Bias baru saja dari dapur membuat membuat mie instan. Ia turut duduk di samping Zee, menarik kepala dan memberi kecupan di puncak kepala istrinya.
"Belum, Yang. Sebentar lagi, ya! Aku ada tugas presentasi yang harus dibawa besok," ucap Zee tanpa mengalihkan wajah dari layar 16 in di hadapannya.
Zee menatap Bias setelahnya, mengalihkan mata dari laptop sekilas. "Sorry ya Yang, kamu aku anggurin, sampe buat mie instan sendiri pula lagi," lirih Zee. Bias mendekat memberi kecupan singkat di bibir itu. "Gpp, aku akan tunggu kamu sampai selesai!"
Zee meraih jemari Bias. "Terima kasih, Yang .... Kamu pengertian, tapi kayaknya aku bakalan lama. Habis makan mie kamu tidur duluan aja, nanti aku nyusul langsung peluk kamu."
"Gpp, aku tunggu aja." Bias mulai memasukkan satu suapan mie instan.
"Hmm, enak, Yang. Buka mulut kamu! Aku sambil suapin!" ucap Bias.
"Nggak, Yang! Aku lagi serius ini. Maaf jangan ajak aku ngomong dulu, ya!"
Setelahnya Zee terus terlihat serius. Kehadiran Bias seakan tak digubris. Ia asik mengerjakan tugas, sedang Bias yang sejak tadi mengisi waktu dengan menonton tayangan ulang Mario Teguh dari FB itu sudah beberapa kali menguap menahan kantuk. Bias baru tahu kalau Zee orang yang begitu gigih. Ia benar-benar tak memalingkan wajah dari laptop. Ia tetap fokus, tekadnya menyelesaikan pekerjaan tepat waktu sangat ia acungi jempol.
Satu jam berlalu, Bias yang jengah melihat Zee yang tidak jua berhenti padahal malam sudah sangat larut akhirnya menghampiri istrinya itu.
"Nggak perlu, Yang! Kamu tidur aja duluan, gih! Janji sebentar lagi aku dateng nemenin kamu," ucap Zee.
"Aku gak mau sebentar lagi, aku mau sekarang! Yuk tidur!"
"Tapi aku belum kelar, Yang!"
"Lanjutin besok habis subuh, please! Aku mau ditemenin, Yang. Tinggal 5 hari lagi lho aku di Jogya," lirih permohonan itu diucap Bias sambil ia terus menyapu-nyapu pipi Zee dengan bibirnya. Zee menoleh, ia yang tak tega melihat raut mengiba Bias akhirnya mengangguk.
Zee berjalan beriringan dengan Bias, keduanya langsung naik ke atas ranjang dan saling menyamankan diri dengan pelukan mereka. Bias yang sejak tadi sudah merasa mengantuk langsung memejamkan mata, ia merasa nyaman memeluk tubuh Zee. Zee pun demikian, ia yang juga mengantuk tak butuh waktu lama sudah terpejam juga.
_____________________
"Kamu di mana, Yang? Kok belum keluar juga? Aku sudah di tempat kemarin, ya!"
__ADS_1
Bias yang sejak tadi sabar menunggu Zee dan berharap istrinya itu segera muncul, akhirnya menyerah. Ia memberi pesan Zee, menanyakan keberadaan Zee yang tidak kunjung keluar Kampus.
Bias sebetulnya paling tidak suka menunggu, hari ini bertahan menunggu Zee orang yang sangat ia cintai hingga 45 menit berlalu adalah hal luar biasa yang Bias lakukan. Bias yang khawatir istrinya dalam kesulitan, akhirnya memutuskan mengirim chat pada Zee
📤OTW Sayang!😘😘
Singkat balasan Zee, tapi sudah membuat hati itu semringah. Istrinya nyatanya sudah menujunya, beranjak keluar dari fakultasnya.
Baru saja Bias memasukkan ponsel yang ia pegang kedalam saku, ia sudah melihat wajah orang tercintanya di kejauhan. Zee-nya!
Zee-nya yang nyatanya tidak berjalan sendirian. Seorang lelaki berada di samping Zee, terus tertawa dengan semringah sambil menatap intens wajah istrinya, wajah milik-nya. Bias pun geram.
Bias sudah berdiri di depan gerbang menyambut Zee. Ia bahkan memajukan lagi posisinya agar istrinya itu tahu keberadaannya. Zee mendekat, sudah semakin dekat. Bias melambai tangan dan Zee langsung meraih jemari Bias, mencium jemari itu.
"Lama, sih?" tanya Bias seketika dengan wajah gusar, ia melirik lelaki yang masih berdiri di samping Zee.
"Iya, sorry."
"Eh, aku balik ya, Zee! Thanks untuk hari ini!" ucap sang pria menatap wajah Zee. Baru saja sang pria hendak berlalu Bias memanggil.
"Eh, sebentar!"
"A-ku?"
"Iyalah kamu, siapa lagi!"
"Yang, ma-u a-pa?" Zee menatap bingung Bias yang seketika mendekat kepada sang teman hingga kedua lelaki tampak berhadapan.
"Hai, kok cepet banget sih pulangnya. Kenalin aku suami, ups maksudku cowoknya Zee!"
"Eh_____
...______________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘😘