
Seminggu berlalu sudah. Dokter akhirnya mengizinkan Bias pulang. Dokter berpesan agar pasien harus selalu didampingi, banyak mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung vitamin D, kalsium, dan protein, lebih mengutamakan konsumsi beberapa jenis makanan seperti susu, yoghurt, ikan, dan sayuran-sayuran hijau seperti bayam dan kangkung.
Selain itu, penting untuk menghindari konsumsi makanan dan minuman yang mengandung kafein, seperti kopi, teh, soda, dan cokelat. Kafein dapat mengganggu penyerapan kalsium dan mineral yang dibutuhkan untuk penyembuhan patah tulang. Jika pasien biasa mengonsumsi alkohol dan merokok, disarankan untuk mulai menguranginya karena dapat menghambat proses penyembuhan.
Untuk hal yang terakhir tentu Bias tidak termasuk di dalamnya. Zee dan Dona tampak terus mengangguk saat Dokter bicara, sedang Libra memilih berdiri melihat di kejauhan. Orang tua Zee memang sudah kembali ke Jakarta karena mereka memiliki Joy dan Zaa yang membutuhkan pemantauan. Hari itu sebelum pulang Farah tampak bicara dengan Dona meminta ia menyayangi Zee seperti putrinya sendiri. Dona memeluk Farah dan berjanji akan selalu mendukung dan menyayangi Zee.
Dokter baru saja ke luar kamar saat Tyo datang bersama seorang perawat pria yang membawa kursi roda. Libra langsung mengarahkan pandangannya pada Tyo.
"Sudah kamu urus semua biaya administrasi dan berkas kepulangan Bias?"
"Sudah, Pak." Libra mengangguk. "Oke kita pulang!" Ia segera meraih bahu Bias membantu Bias menuju kursi roda. Tyo dan beberapa dua orang suster laki-laki juga tampak bekerjasama memindahkan Bias. Setelah hari itu Bias meminta Libra ke kamar dan keduanya bicara dalam kondisi tenang, hubungan keduanya tampak lebih baik.
Baik Libra maupun Bias tampak mulai mengenyampingkan ego, Bias yang sadar Libra tetap papanya, merasa harus lebih merendah kendati hatinya tak terima perilaku papanya itu di masa lalu. Hal yang sama terjadi pada Libra. Setelah merasa hampir kehilangan putra sebab kecelakaan. Libra merasa harus lebih tenang dan tidak gegabah menghadapi sesuatu. ia akhirnya memilih membiarkan putranya itu berbuat apa yang menurutnya baik, terkecuali perihal Zee. Libra masih sulit menerima Zee, tapi ia berjanji tidak akan mencampuri hubungan keduanya.
"Lho, ini bukan arah rumah Bias, Pa?" Setelah hampir 2 jam mereka membelah jalan. Mereka sudah masuk ke kawasan ibukota Jakarta. Bias seketika kaget melihat Papanya mengambil stir ke arah yang bukan menuju rumahnya.
"Sementara memulihkan kakimu kalian akan tinggal di rumah Papa!"
"Pa, Zee akan mengurus Bias di rumah kami!" Bias dan Zee saling menatap.
"Jangan membantah, Sayang! Kalian akan pulang ke rumah kalian setelah kamu bisa berjalan lagi!" ucap Dona.
"Kamu membutuhkan makanan bergizi, nutrisi, upaya pemulihan, juga seorang sopir untuk membantu mobilitasmu dan semua itu hanya ada di rumah kami!" lugas Libra membuat Zee menatap tajam wajah Libra dari kaca spion atas di dalam mobilnya. Zee duduk memang di jok tengah tepat di belakang Libra duduk. Hati itu sakit seolah ia tidak dapat memberi hal terbaik untuk Bias. Bias yang melihat rahut wajah Zee sedih menggenggam erat jemari itu membuat Zee seketika menoleh. Bias menggeleng menatap Zee. Tak ingin Zee memenuhi hatinya dengan kebencian. Zee memaksa tersenyum.
"Sudah sudah, Pa! Kita akan membawa Bias pulang!" Dona mengusap bahu Libra tak ingin Libra bicara lagi yang mungkin akan menyakiti Zee maupun Bias. Dona menoleh ke jok belakang setelahnya.
"Kali ini saja, menurut lah, Sayang! Mama juga ingin lebih dekat dengan Ziva. Ziva, rumah kami adalah rumah kamu. Mama dan Papa Bias adalah orang tua ka-mu juga!" Dona melirik Libra yang menggelengkan kepala. Ia tersenyum pada Zee setelahnya. Zee mengangguk lirih.
__________________
"Mas Bias." Dara langsung mendekati raga kakaknya. Dara menatap lekat Bias yang baru saja dibantu Satyo duduk di kursi roda. Berbulan-bulan ia tidak bertemu Kakaknya, Dara memeluk erat tubuh Bias. Ada air mata membasahi kaos yang Bias pakai.
"Ra, lo nangis?"
"Aku kangen sama Mas, tapi kenapa Mas pulang dalam kondisi seperti ini. Ini kaki Mas kenapa?" Air mata Dara semakin deras menetes. Ia tak tega melihat kondisi Bias.
"Hei, hei ada apa ini? Kamu kenapa nangis begitu, Ra? Masmu baik-baik saja kok. Tinggal pemulihan dan akan berjalan seperti sebelumnya. Ayo berhenti menangis! Mas Bias juga mulai sekarang akan tinggal lagi di rumah ini! Kamu nggak seneng apa?" ucap Dona tidak ingin Bias merasa down lagi melihat Dara yang meratapinya.
__ADS_1
Dara mengangkat kepalanya dari bahu Bias. "Bener mas Bias mau tinggal di sini lagi, Ma? Mbak Ziva juga?" ucap Dara dengan wajah semringah kini. Ia menghapus air matanya.
"Iya iya sudah lanjutkan mengobrol di dalam saja. Ini barang-barang Masmu bantu bawa masuk!" Ketiga raga menurut. Zee mendorong kursi roda Bias masuk ke rumah besar itu, di sampingnya Dara tak berhenti berceloteh merasa bahagia masnya pulang walau dalam kondisi kurang baik.
"Mbak Ziva kata Mas juara matematika, ya? Nanti bantu Dara mengerjakan PR, ya!" Suara Dara masih terdengar lirih di telinga Dona yang masih berdiri di parkiran hendak menghantarkan keberangkatan Libra ke kantor. Libra memang memutuskan langsung bekerja. Keduanya kini masih menunggu Satyo mengambil sesuatu dari dalam rumah. Dona yang melihat Libra sedang asik dengan ponselnya masuk lagi ke dalam mobil menghampiri Libra.
"Terima kasih, Pa!" Dona mendekatkan wajahnya ke wajah Libra. Mencium lembut pipi itu.
"Untuk apa?"
"Membiarkan Zi-va masuk ke rumah kita!" ucap Dona dengan sangat hati-hati.
"Kamu sepertinya sangat senang berbesan dengan lelaki itu! Apa karena kalian akan sering bertemu nantinya?" lugas Libra dengan wajah datar.
"Apa Papa sadar? Kita itu jodoh. Papa sangat cemburuan, begitu halnya aku. Papa ingat saat Papa sering ke luar kota dulu? Perasaan seperti yang Papa rasa saat inilah yang aku rasa. Aku takut Papa bermain-main di luar dengan yang lain. Cemburu yang menyakiti diriku sendiri. Kita sudah tua, Pa! Kita harus hidup lebih bahagia. Alangkah baik kita enyahkan rasa yang menyakitkan itu dari kamus rumah tangga kita. Cemburu!"
Dona menyatukan bibir keduanya dengan sangat lembut tapi terus dan lagi. Libra menekan tombol pengunci pintu mobil. Keduanya saling meluapkan cinta. Cumbuan keduanya semakin saling menuntut. Dona terus menekan tengkuk itu dan Libra menikmati semuanya, tangannya kini mulai bergerilya nakal. Dalam hati Libra membenarkan ucapan Dona. Ya, walau begitu sulit melihat persahabatan Farid dan Dona, sebab mereka saling tahu banyak hal yang bahkan Libra tidak mengetahuinya.
"Kita turun ! Ki-ta selesaikan i-ni di-kamar!" Suara Libra terdengar berat menahan hasrat. Keduanya mengentikan aktivitasnya. Dona tersenyum, ia merapihkan pakaiannya dan keduanya turun.
"Pak, ini berkasnya!" Satyo tergopoh mendekati Libra dan Dona yang baru saja turun dari mobil.
____________________
"Yang, kamu gpp kan tinggal di rumah aku? Aku nggak bisa menolak pinta Mama!" ucap Bias yang berbaring di atas ranjang. Satyo yang masuk ke dalam rumah ingin mengambil berkas atas perintah Libra beberapa saat lalu di stop Zee untuk membantu dirinya dulu merebahkan Bias ke ranjang.
Zee mengangguk. "Iya, Yang. Kayaknya aku juga gak bisa mengangkat badan kamu yang berat sendirian juga," ucap Zee.
"Bias meraih jemari itu. "Maaf, aku akan banyak nyusahin kamu!" Zee duduk mendekat. "Jangan sensitif, aku akan senang selalu ada di dekat kamu!"
"Sini, Yang!" Bias menepuk tempat di sampingnya.
"Yang?"
"Aku tau di Rumah Sakit kemarin tidur kamu gak pules! Aku juga gak nyaman tidur di Rumah Sakit kemarin. Temenin aku tidur, Yang!"
"Nggak, Yang! Ini siang. Nanti Mama kamu atau Dara dateng gimana?"
__ADS_1
"Kunci pintunya!"
"Oh ya, Yang ... hari ini kita belum nelfon Redi, Ridho dan bang Andri nanyain perkembangan Kafe loh!" Ketiga orang yang disebut Zee itu adalah Manager yang dipercaya mengurus Kafe mereka.
"Kamu tuh paling pinter kalau ngalihin sesuatu, ya! Aku udah chat Redi, Ridho sama bang Andri, nanti sore mereka mau ke sini katanya."
"Oh!"
"Kok cuma oh sih? Udah sini! Kamu lupa dari saat kamu marah itu aku belum peluk kamu sambil tidur, Yang!"
"Kamu lagi sakit, Yang! Aku takut nyenggol kaki kamu!" Zee masih berusaha meyakinkan.
"Gak akan kena! Kalau kamu nolak nanti malaikat marah lo, Yang!" Bibir Zee mencebik tapi Zee menurut mendekat ke arah pintu dan menguncinya. Ia merebahkan diri setelahnya di samping Bias.
"Ahh, nyaman banget begini, Yang!"
"Hati-hati kaki kamu ya, Yang!" lirih Zee. Bias mengangguk. Zee membenamkan wajahnya semakin dalam ke dada Bias. Keduanya tidur saling mendekap akhirnya siang itu.
...______________________________________...
🥀Happy reading 😘
🥀Kelarin Crazy up baru end ya, konfliknya ringan-ringan aja❤️❤️
🥀Promosi karya sahabat literasi Bubu hari ini, yuk dibaca blurnya dan ditengok novelnya. Tinggalkan jejak juga yaa😍😍
JUDUL : PURA-PURA MISKIN
AUTHOR : MOMOY DANDELION
BLURB :
Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
__ADS_1
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.