ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MENGATUR SIASAT


__ADS_3

"Yang ... please buka pintunya, Yang! Apa sebetulnya salah aku ke kamu? Kenapa tiga hari ini kamu nggak mau ketemu aku? Yang, aku kangen mau ngeliat kamu. Buka dong, Yang___


Inilah aktifitas Bias yang membuatnya beberapa hari ini tak datang latihan. Mengetuk hati kekasih yang mendadak mengeras untuknya. Kejanggalan yang membuat Bias bertambah bingung. Beberapa hari ini Bias merelakan menunggu dengan sabar Nasya yang terus mengurung diri dan menolak bertemu dengannya.


Seorang gadis di dalam kamar pilu. Ia merasa sangat buruk dan bodoh setelah emosi sesaat yang menghancurkan kehormatannya tempo hari. Ialah Nasya yang kini merasa lebih hancur lagi saat Reno seakan menghilang darinya. Reno tak bisa dihubungi, ia menanyakan perihal Reno pada Helen, sahabatnya itu juga bingung kakaknya sudah beberapa hari tidak pulang. Pun Nasya sedih dan takut sendirian. Mamanya hanya ada di pagi hari dan hanya berpamitan tanpa tau hal yang terjadi pada Nasya


Nasya merasa bersalah pada Bias, ia merasa tak pantas lagi mendapat perhatian dan cinta Bias, ia memilih mengurung diri.


Bias berusaha mencairkan semua, kata-kata manis, luapan sayang selalu Bias ucapkan dari balik pintu berdominasi pink itu, namun nyatanya tetap tak ada respon. Nasya bergeming hingga menjelang malam ia membiarkan Bias pulang dalam kehampaan.


___________________


Hari H yang dipersiapkan telah tiba. Johan dan Bias sudah bersiap sejak pagi. Seluruh anggota tim yang akan bertanding juga sudah tiba di SMA GENTA BUANA termasuk Zee di dalamnya.


Johan dan Bias berkeliling menghampiri satu persatu anggota dan memastikan semua dalam keadaan fit dan siap menghadapi lomba. Johan yang sudah memastikan semua anggota telah sarapan, kini meminta semua anggota untuk berkumpul di tepi lapangan. Setelah semua berkumpul, Bias selaku ketua Basket SMU DUTA BANGSA maju ke depan.


Bias menyampaikan dengan lantang rasa terima kasih atas latihan yang sepekan ini telah dilakukan, melontarkan rasa bangganya, optimis yang harus dipupuk, juga tak lupa memberi semangat untuk semua anggota agar bisa menampilkan kemampuan maksimal yang mereka bisa.


Di barisan kedua Zee menyimak setiap ucapan Bias sambil memperhatikan wajah rupawan yang menggunakan kaos berwarna merah hari itu. Zee senang Bias hadir dan mensupport mereka. Zee sungguh tak sabar ingin menampilkan yang terbaik dan memberi surat balasan rasanya setelahnya.



Zee sangat bahagia tak sabar menunggu hari itu berakhir, keduanya akan saling mengetahui rasa masing-masing dan hubungan keduanya bisa lebih dekat tanpa harus malu-malu lagi. Ini adalah angan Zee.


Upacara pembukaan baru saja selesai dilakukan, seluruh peserta lomba yang berasal dari 8 sekolah kembali ke kursi penonton untuk menunggu dipanggil oleh tim juri dan mereka anak bertanding setelahnya.

__ADS_1


Di depan juri mengocok nama-nama sekolah yang akan di tandingkan. Hingga di babak awal Sekolah DUTA BANGSA akan berhadapan dengan Sekolah CAKRAWALA.


Bangunan sekolah GENTA BUANA yang memiliki dua lapangan, membuat pertandingan bisa dilakukan di dua tempat dan lebih mempersingkat waktu.


Kini terlihat di lapangan bagian tengah sekolah DUTA BANGSA sedang bertanding dengan sekolah CAKRAWALA. Dinda dan Zee masih disimpan oleh Johan sambil melihat kemampuan lawan. Sesuai janjinya Bias tampak duduk di bagian depan bersisian dengan Johan mengamati pertandingan. Keduanya saling berbisik melontarkan komentarnya perihal regu lawan. Johan tampak tertawa-tawa merasa lawan tim mereka pada sesi awal cukup mudah diatasi. Bias dan Zee berkali-kali bertemu pandang, Biar tampak tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah Zee memberi semangat membuat Zee begitu bahagia.


Johan kini tampak menghilang, diam-diam ia pergi ke lapangan lain di mana sekolah PANCA TIRTA sedang bertanding dengan sekolah BUDI SEMESTA Johan mengamati jalannya pertandingan dua sekolah yang memiliki rekor poin tertinggi pada setiap lomba basket putri dan kedua sekolah itu adalah juara bertahan. Johan berusaha mengamati trik kedua sekolah itu.


Beberapa saat setelahnya, benar saja diumumkan sekolah DUTA BANGSA memiliki poin unggul dari sekolah CAKRAWALA. Sedang di lapangan lain sekolah PANCA TIRTA menjadi pemenang.


Sesi selanjutnya dilakukan tanding antara Sekolah MANDALA dan Sekolah NEGERI BUDIMAN, sedang di lapangan lain Sekolah INSAN ROBBANI melawan sekolah SATYAGAMA.


Dibangku penonton Bias membagikan air mineral pada peserta sekolahnya. Sampai pada Zee, Bias tampak berhenti dan duduk di samping gadis yang pernah ia ajarkan basket secara pribadi itu.


"Bagaimana siap bertanding?" ucap Bias agak berteriak karena riuhnya suara penonton membuat suaranya samar.


"Lo perhatiin gerakan tiap pemain, siapa dari dua sekolah di depan yang menang bakal lawan sekolah kita." Zee mengangguk mendengar setiap ucapan Bias.


"Di sini berisik! Ayo ikut gue!"


"I-kut Ka-kak?"


"Iya, ayo!"


Bias berdiri dan Zee tampak mengikuti. Zee sejujurnya merasa tidak enak pada peserta lain, tapi melihat Bias yang cuek, Zee berusaha tenang dan santai. Pun anggota tim putri dari sekolah mereka yang melihat tampak biasa saja, toh mereka tau Bias memang yang mengajari di awal Zee bergabung. Selain bahwa mereka tau pula bahwa bias tak mungkin suka pada sosok Zee karena Bias sudah punya wanita yang secara fisik jauh lebih cantik dari Zee.

__ADS_1


Bias mengarahkan kaki-kakinya menuju tempat duduk penonton di baris ketiga yang agak senggang. Di sana Bias menjelaskan sepak terjang dan rekor setiap sekolah yang saat ini bertanding.


"Sekarang kita lihat tim MANDALA, kelemahan mereka ada pada pemain nomer 1, handling bolanya ragu dan kurang bisa membaca pertandingan. Sudah tau ada anak BUDIMAN stanbye dengan kokoh di situ dia malah ambil gerakan dari depan, harusnya ia harus lebih lincah lewat belakang." Zee mengangguk.


"Sekarang kita lihat tim BUDIMAN, yang pemain nomer 3 kurang oke. Beberapa shooting-nya meleset dan kurang bisa menguasai area lapangan. Kita bisa pakai kelemahan dia kalau tim BUDIMAN nanti yang menang dan tanding sama tim kita. Sampe sini lo paham?"


"Pa-ham, Kak!"


"Good."


"Gue denger dari Johan gerakan kaki lo luwes, nanti gue mau lihat kemampuan lo itu. Sama pas shooting tembakan lo harus jitu jangan lengah dan harus fokus!"


Zee mengangguk sambil terus menatap wajah tenang yang terlihat begitu perhatian padanya. Zee bahagia dan tak percaya bisa duduk berdua sedekat itu tanpa orang lain di sekitar mereka.


Ingin rasanya saat berdua seperti itu Zee mengutarakan rasanya, tapi Zee berusaha menahannya.


Sabar sebentar lagi, Zee ... Nanti habis lomba baru kamu kasih tuh surat untuk kak Bias. Pasti kak Bias seneng nerima balesan surat itu secara surat itu udah lumayan lama dia kasih ke kamu. Semangat Zee ... Semangat lakukan terbaik hari ini!


...______________________________________...


šŸ„€Happy reading😘


šŸ„€Makasih atas supportnya selalu untuk Zeeā¤ļøā¤ļø


šŸ„€Mampir juga yuk ke karya teman literasi BubušŸ˜

__ADS_1



__ADS_2