ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
KEKHAWATIRAN HELEN


__ADS_3

...Berani berbohong, berani pula lah jika suatu saat kebenaran terungkap. Itulah pentingnya berpikir sebelum bertindak dan berkata jujur tentu lebih menenangkan!"🥀...


...______________________________________...


"Iya, apa?"


"Kak, lo ajak Nasya kemana?" pekik Helen setelah beberapa saat lalu berusaha menghubungi ponsel Nasya tak jua diangkat, akhirnya ia menghubungi ponsel kakaknya dan setelah menunggu cukup lama akhirnya panggilannya mendapat respon.


"Temen lo aman tenang aja!"


"Iya, tapi lo berdua lagi di mana? Nasya mana? Gue mau ngomong sama Nasya dong!"


"Udah sih nggak usah ganggu, lo nggak percaya kalo temen lo baik-baik aja?"


"Iya gue nggak percaya! Awas aja kalo lo rusak temen gue, Kak!"


Pekikan itu semakin kencang dari sebelumnya. Helen yang tau sepak terjang sang kakak sungguh takut kakaknya itu melakukan hal macam-macam terhadap sahabatnya. Helen membuang napas kasar, ada penyesalan ia rasa telah mengenalkan Nasya pada Reno. Terdesak mengenalkan tepatnya, sebab keduanya tanpa sengaja bertemu di rumah Helen dan setelahnya Reno sering menanyakan perihal Nasya. Reno yang menyukai Nasya sejak pertama bertemu juga tak gentar, ia kerap menyodorkan untuk mengantar Nasya pulang, pun berjalan waktu di belakang Helen ternyata keduanya menjalin kasih.


Kini Helen merasa khawatir, sebab kakaknya itu terkenal playboy dan senang tidur dengan wanita-wanita malam setelah dikhianati kekasihnya. Wanita baginya bak mainan yang bisa ia datangi sesukanya dan ditinggalkan setelahnya.


"Berisik lo!"


"Kak, gue serius! Nasya cewek baik-baik. Kalo lo deketin Nasya cuma buat begituan lo bisa cari cewek yang lain. Please, lo jagain Nasya yang bener, Kak!"


"Lo kenapa sih Len, gue serius kok sama Nasya."


"Tapi gue sanksi! Jangan sampe lo apa-apain Nasya, Kak!"


"Cerewet banget sih Lo!"


"Kak ... tadi Bias soalnya ke rumah nyariin Nasya, doi kebingungan tuh, pokoknya buruan lo anter Nasya pulang! Gue nggak mau kena masalah gara-gara lo, Kak!"


"Kok lo ngatur-ngatur gue sih! Dan itu siapa___ Bias? Ngapain tuh cowok nggak normal nyariin Nasya?"


"Lo kok ngomong begitu sih tentang Bias? Bias cowok paling cool di sekolahan gue tuh!"


Reno tertawa. "Emang bener, 'kan? Mereka pacaran hampir 3 tahun tapi nggak ngapa-ngapain, bodoh banget kan tuh cowok. Padahal Nasya udah kayak ikan seger, sayang dilewatin."

__ADS_1


"Omongan lo makin ngawur! Semua karena Bias cowok baik nggak kayak lo!"


"Tapi jangan lupa, cowok nggak baik ini kakak lo!"


"Dan gue nyesel biarin lo dulu sering nganter Nasya! Sekarang bilang lo lagi di mana? Gue selamanya nggak akan nganggep lo kakak kalau Nasya sampe kenapa-napa!"


"Udah ah berisik lo!"


Tut Tut Tut ....


Panggilan terputus.


"Beib, kamu ngomong sama siapa sih?" Wanita yang masih terlihat lelah, bicara dalam keadaan setengah sadar.


"Bukan siapa-siapa! Sorry buat kamu keganggu! Kamu tidur lagi aja. Nanti malem baru kita balik!"


"Hu um." Wanita itu kembali terlelap sembari memperkuat dekapannya ke tubuh polos lelaki di sampingnya.


Sorry Len, gue nggak pernah maksa temen lo. Dia sendiri yang nyerahin semuanya suka rela. Tapi gue pastiin dia nggak akan sampe hamil.


___________________


Unik dan penuh kejutan. Kalo dilihat-lihat walaupun kulitnya item dia itu manis juga. Kenapa gue ngerasa lo itu emang sebenernya udah mahir basket. Tapi kenapa lo harus pura-pura sok awam gitu sama basket? Gue semakin penasaran sama Lo, Zee ... Gadis hitam yang pinter matematika dan pinter main basket. Hmm ... kira-kira___ kejutan apa lagi yang mungkin lo lakuin, ya?


Johan menatap tak berkedip Zee yang masih saja menunggu angkot beberapa meter di hadapannya. Beberapa kali terlihat Zee menghentikan angkot, tapi nyatanya angkot selalu penuh dan Zee terlihat kecewa. Kini raga semampai itu terlihat mulai berjalan melintasi trotoar, Zee seperti biasa mulai lelah menunggu dan memilih berjalan saja.


Johan sungguh terpukau, ia sang pecinta basket selalu suka dengan wanita yang juga menyukai bidang olahraga itu, satu hobi dengannya. Kini ia melajukan motor besar yang memang tidak semahal milik Bias itu mengikuti arah Zee berjalan.


"Zee ... Zee ...," panggil Johan setelahnya.


Kendaraan besar roda dua itu seketika berhenti di depan Zee membuat langkah Zee terhalang.


"Bang Jo-han?"


"Bareng yuk!"


"Nggak usah, Bang."

__ADS_1


"Ayo gpp. Biar lo cepet sampe rumah juga, lo pasti capek kan latihan?"


Zee mengedar pandang berharap tiba-tiba ada angkot, sehingga ia bisa menolak halus keinginan pelatih basketnya itu, namun nyatanya nihil beberapa angkot yang lewat seperti biasanya selalu penuh. Mau bagaimana lagi, tak jauh dari sekolah Zee memang terdapat perkantoran yang karyawannya pulang di jam tersebut.


"Ayo, lo lihat kan setiap angkot penuh, lo mau sampe rumah jam berapa coba?" Zee terdiam berpikir hingga beberapa saat setelahnya ia mengangguk lirih.


"Nah begitu dong!"


Baru saja Zee ingin mendekat, ia dengan cepat memundurkan tubuhnya lagi. "Eh, nggak jadi deh, Bang!"


"Lo kenapa lagi?"


"Aku pakai rok, Bang. Motor Bang Jo tinggi, aku susah naiknya," lirih kata itu terucap. Ya, karena kejadian yang membuat celana olahraganya terkena noda datang bulan kemarin, sebelum pulang tadi Zee mengganti celana olahraga terakhir di lemarinya itu dengan rok sekolah menjaga agar tidak terkena noda lagi.


"Bisa, ayo naik!" Zee menggeleng. Ia sadar, jika memaksakan naik pasti paha putihnya yang tidak diberi pewarna hitam akan tampak.


"Nggak ah, Bang. Aku jalan kaki aja! Nanti di depan pas lampu merah biasanya ada penumpang angkot yang turun," kilah Zee.


"Gue marah lo Zee, kalau lo nolak niat baik gue!"


Zee memperhatikan Johan dan menatap roknya lagi setelahnya. Ia yang merasa anak baru tak ingin disebut sombong jika terus menolak niat baik pelatihnya itu. Tanpa diduga, Johan menangkap kebimbangan Zee. Ia seketika membuka jaket yang dipakai dan memberikannya pada Zee.


"Tutupin pake ini kalau lo malu rok lo keangkat!" Wajah Zee seketika mendangak menatap Johan. Ia kaget mendengar penuturan Johan yang seolah bisa membaca ketakutannya.


Bukan malu Bang, tapi takut! Takut kebohongan aku kebuka.


"Jangan kebanyakan mikir, udah ayo naik! Nih pake jaket gue!" lontar Johan lagi mendekatkan jaketnya yang berwarna abu-abu terang itu ke arah Zee. Ia sangat berharap Zee tidak menolak keinginannya.


..._______________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Makasih banyak yang menyempatkan komen. Baca komen kalian adalah Moodbooster untuk Bubu jadi pengen cepet lanjut😁😍❤️❤️



🥀Bang Johan

__ADS_1


🥀Mampir juga ke karya sahabat literasi Bubu, yuk😍



__ADS_2