
Matahari meninggi, teriknya menghangatkan seluruh penghuni Bumi. Zee yang sudah bertekad tidak melanjutkan pekerjaannya mendatangi Kafe dan bertemu Kemal. Zee menuturkan permintaan maafnya tidak dapat melanjutkan pekerjaan.
Kemal yang di hari sebelumnya mendapat titah Bias untuk mengabari jika ada kabar dari Zee langsung mengirim pesan pada Bias. Bias menunjuk seorang kepercayaan Libra untuk menggantikannya dan izin ke luar kantor sejenak. Bias meminta Kemal menahan Zee. Setelahnya, ia dengan semangat melajukan mobil sportnya dan beranjak ke Kafe.
•
•
"Kamu bilang aja kalau ada yang buat kamu nggak nyaman kerja di sini! Bukan aku menolak pengunduran diri kamu, tapi kami tentunya gak bisa secepat itu mengabulkannya. Kami juga butuh waktu untuk mendapatkan pengganti kamu."
Kemal mengedar pandang ke arah pintu. Ia yang sejak tadi berusaha menahan Zee agaknya mulai kehabisan ide. Setelah kata dengan inti yang sama terus ia putar-putar, kini ia mulai bingung mencari alasan apa lagi. Kemal menatap layar ponsel, baru saja ia hendak melakukan panggilan ke ponsel Bias, pintu kayu di hadapannya seketika terbuka.
Zee langsung menatap Kemal dan Bias bergantian, ia mulai menerka yang terjadi.
"Aku izin pulang, Pak!" ucap Zee. Ia berjalan cepat menuju pintu, tapi belum lagi tangannya meraih gagang pintu Bias sudah menangkap lengan itu.
"Saya permisi Mas Bias!" Kemal spontan tahu yang harus ia lakukan, ia meninggalkan Bias dan Zee dalam ruangannya. Zee melirik wajah Bias sekilas dan membuangnya.
"Duduk Zee, kita bicara!"
Mata Zee membulat mendengar panggilan Bias atasnya, ia menoleh ke wajah Bias dengan cepat.
__ADS_1
"Nggak usah bingung gue panggil lo Zee. Gue udah tau semuanya!"
Zee masih tak mengalihkan tatapannya. Netra itu sendu, ia ingin Bias tahu keperihannya selama ini.
"Duduk yuk! Eh, tunggu! Gue ralat, jangan duduk! Kita bicara di luar aja, jangan di sini!" Bias menarik lengan itu ke luar ruangan dan ke luar Kafe setelahnya. Ia membuka pintu mobil dan meminta Zee masuk.
"Aku nggak mau pergi sama Kakak!"
"Please masuk, Zee ...!" Wajah itu mengiba, bagaimana mungkin Zee bisa menolak.
"A-yo, please ...!" Zee memang menunduk, tapi ia menurut setelahnya. Zee masuk ke mobil Bias. Pandangan itu masih menghadap jendela. Zee terdiam dan Bias mulai mengemudikan mobilnya membelah Kota Jakarta, mencari tempat yang pas untuk keduanya bicara.
Satu jam 30 menit perjalanan, masuklah mobil sport itu akhirnya ke sebuah perumahan di sudut Jakarta yang tampak sejuk dan asri. Perbukitan Sentul adalah arah laju Bias. Tak jauh dari gerbang masuk, Bias akhirnya menepikan mobilnya di sebuah rumah minimalis nan indah dengan banyak bunga-bunga di teras, sebuah kolam, taman dan kursi cantik di sisi bangunan.
"Jangan khawatir, rumah ini ada penghuninya, nggak kosong jadi lo jangan takut! Yuk turun, gue kenalin sama pemilik rumah ini!"
"Ka-k, hanya untuk bicara kenapa sejauh ini? Aku mau pulang!"
"Gue suka udara dan pemandangan di sini! Asri, gak kalah sama Bandung. Kita sudah sampai. Ayo turun!" Zee masih menggeleng, hingga ia kaget setelahnya melihat Bias yang tiba-tiba mendekat.
"Ka-kak mun-dur, jangan dekat-dekat!"
__ADS_1
"Semakin dekat lo makin cantik! Zee, Zivanya Alkaridz, jadi ini wajah lo yang sebenarnya? Cantik! Cantik banget!" Bias mendekatkan wajahnya sangat dekat dan nyaris bersentuh.
"Kakak mundur! A-tau aku akan te-riak!" Zee tidak nyaman. Walau Bias adalah lelaki yang disukainya, tapi perilaku tiba-tiba Bias seperti ini sungguh membuat Zee kaget hingga kesulitan bernapas.
"Teriak aja! Ayo!" Bias mengusap-usap wajah Zee.
Tok ... Tok ....
Sebuah ketukan membuat Bias akhirnya memundurkan tubuhnya. Ia membuka kaca mobil.
"Anak nakal, sudah datang tapi nggak langsung turun. Eh, siapa ini? Ayo buruan turun kenalkan teman kamu sama Eyang!"
"Eh, i-ya Eyang." Eyang beranjak masuk lebih dulu.
"Ayo turun, tuh eyang gue mau kenal lo!" Zee pun akhirnya tak ada alasan menolak pinta Bias.
...________________________________________...
🥀Happy reading😘
🥀Mampir yuk ke karya sahabat literasi Bubu 😍😍
__ADS_1