ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
BIMBANG


__ADS_3

Pukul 17:00 sore itu. Mengetahui Zee tidak berangkat bekerja, Johan yang sedang masuk shift pagi sepulang kerja langsung menuju kediaman Zee.


Johan Bungah, baru motor besarnya memasuki gang ia sudah melihat Zee tengah menyiram tanaman. Bibirnya seakan tak ingin mengatup, ingin terus tersenyum melihat pancaran ayu yang kini juga menatap ke arahnya.


"Bang Jo nggak bilang mau ke rumah," kata Zee mematikan keran dan berjalan mendekati Johan. Ia meraih punggung tangan Johan dan mengecupnya.


Johan mengusap-usap rambut Zee. "Gimana? Sudah lebih baik?" Zee mengangguk duduk di kursi pelataran rumahnya, Johan mengikuti.


"Kurang sehat? Apanya yang sakit? Ayo kalau mau ke Dokter aku antar!" ucap Johan seperti biasa menunjukkan perhatiannya.


"Gpp, pusing aja tadi, ini sudah lebih baik!"


Johan melirik kekasihnya baru berucap lagi. "Kamu gpp gak masuk kerja? Kamu masih baru lho, atasan kamu gak marah?" tanya Johan.


"Aku kayaknya gak cocok kerja di sana, Bang. Mau cari kerjaan lain saja."


Johan seketika menoleh, jujur banyak hal di otak Johan yang membutuhkan penjelasan Zee. Tapi Johan masih menahan semua, menunggu mood Zee benar-benar baik.


"Semua terserah kamu, kamu yang jalanin. Aku cuma bisa dukung. Nanti kalau ada info lowongan aku kasih tau kamu."


Zee menatap wajah lelaki di sampingnya. Ia mengangguk. "Terima kasih, Bang!"


"Habis magrib jalan, yuk!"


"Hmm___


"Zee, please!"


"Iya."


_____________


Hati seorang lelaki yang menjalani hari pertamanya bekerja di kantor sang ayah merasa tak tenang. Sejujurnya ia tak sabar ingin mendatangi Kafe dan berbincang mencari kebenaran akan asumsi Nasya tentang gadis yang bersamanya semalam. Apalah daya, banyak hal yang harus ia pelajari dan Libra tak membiarkan sejenak pun Bias berpaling.


Libra yang harus ke luar kota memantau cabang bisnis kulinernya di Bali membuatnya harus mengajari Bias dengan cepat. Libra berharap bisnis kulinernya di beberapa cabang Jakarta bisa di handle Bias selama ia pergi.


Matahari mulai menyingsing ke arah barat, jarum pendek sudah menatap angka 5 intens. Melihat Libra ke luar ruangan, Bias langsung mengarahkan jari ke saku. Mencari ponselnya.


Kontak Kemal menjadi pusat perhatian Bias, dengan cepat ibu jari itu menekan tombol hijau dan beberapa saat setelahnya terdengar suara Kemal.


"Assalamu'alaikum, Mas Bias," ucap Kemal seketika.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam. Mas ... karyawan baru yang kemarin itu masuk, 'kan?"


"Kalau Ziva yang mas Bias maksud, dia hari ini nggak masuk, Mas!"


"Siapa namanya tadi?"


"Ziva, Zivanya, Mas."


Namanya benar nama Zee, pasti kata-kata Nasya menyakiti Zee. Hah, bagaimana bisa aku nggak ngenalin dia. Zee ... Zee, dia anak baik dan aku lagi-lagi memanfaatkan dia. Aku harus meminta maaf sama Zee langsung. Oke, nanti balik dari kantor aku akan ke rumah Zee, semoga alamat rumahnya masih sama.


"Mas ... Mas Bias!"


"Ups sorry, thanks infonya mas Kemal. Tolong besok kabari jika Zee maksudku Ziva datang ke Kafe atau tidak."


"Oke siap."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


______________


Setelah Johan dan Farid kembali dari Masjid usai menjalankan ibadah Maghrib, tak menyiakan waktu Johan meminta izin Farid untuk mengajak Zee ke luar. Farid yang sudah percaya penuh pada Johan tak butuh mempertimbangkan untuk mengiyakan pinta Johan.


Zee memang sedikit jadi pendiam larut dalam fikir otaknya, berbanding terbalik dengan Johan yang semakin mantap menjalani hubungannya dengan Zee.


Johan terus menatap pancaran rupawan Zee yang membuatnya selalu merasa bahagia. Zee gadis yang memiliki kegemaran bermain basket seperti dirinya telah membuat Johan jatuh hati. Memang Johan saat itu yang menjadi orang pertama yang mengetahui kecantikan yang tersamar Zee.


Setelah kesabarannya selama 3 tahun, Johan akhirnya mendapat jawaban yang selalu diharapnya. Zee akhirnya menerima dirinya, bersedia membuka hati untuk Johan dan menaikkan status pertemanan mereka menjadi hubungan yang lebih dekat.


Dua puluh empat tahun usia Johan saat ini, tentunya usia yang cukup untuk mulai menapak hubungan yang lebih serius. Johan memang bukan tipe pria pemain wanita. Jika ia yakin pada satu wanita, ia akan terus mengejarnya. Bahkan tanpa sepengetahuan Zee, Johan bahkan sudah menjadikan Zee sebagai tujuan hidupnya, satu hal terpenting dalam masa depannya.


Sayup angin malam menambah syahdu suasana malam itu, Johan yang sudah menghabiskan siomay di piring memilih menatap gadisnya yang masih makan dengan tenang di hadapannya. Zee tersenyum melihat wajah tulus Johan, membuat Johan yang satu Minggu ini harus ke kantor pusat Semarang karena dirinya masuk satu dari 5 orang yang akan mengikuti tes kenaikan jabatan bertambah berat meninggalkan kekasihnya.


"Bang Jo jangan lihat aku begitu!" ucap Zee akhirnya menyadari sejak tadi Johan terus menatapnya.


"Kenapa? Kamu itu kan pacar aku, nggak ada larangan dong aku melihat wajah pacarku sendiri? Yang salah itu, kalau aku menatap pacar orang lain! Iya, 'kan?" Zee mengangguk walau sedikit dipaksakan.


"Zee, seminggu nanti aku mau ke Semarang. Kira-kira kamu bakal kangen gak sama aku?"


"Hah?"

__ADS_1


"Zee, aku lagi bicara sama kamu, kamu kangen gak sama aku kalau kita berjauhan?" Zee mengangguk.


"Terima kasih, Sayang. Sini!" Johan menarik bahu Zee untuk bersandar di bahunya.


"Zee, aku tuh sayang kamu. Terima kasih kamu sudah coba buka hati kamu untuk aku!" Zee mendangak menatap wajah Johan.


"Kamu mau menatap aku? Oke sini!" Johan meraih kedua bahu Zee dan membuat keduanya saling berhadapan.


"Kamu pasti mau simpen wajah aku dulu ya, stok buat nanti kamu kangen?" Johan tersenyum dengan semringahnya. Zee menunduk seketika.


"Jangan malu begitu, gpp kamu mandangin aku kok!" Johan menaikkan dagu itu. "Aku juga mau mandangin kamu yang lama, stok saat aku kangen! Hee."


"Bang Jo pergi be-rapa lama?"


Mendengar tanya Zee, Johan begitu senang merasa Zee peduli padanya. "Aku seminggu di Semarang."


"A-da acara apa?"


"Ada tes kenaikan jabatan. Doakan aku lulus, nanti aku akan segera lamar kamu!"


Mata Zee seketika membulat. "Bang Jo, ta-pi aku belum terfikir untuk menikah."


"Aku akan lamar kamu jadi tunangan aku, aku tahu kamu belum siap menikah. Masih mau lanjutin sekolah kalau biayanya sudah cukup!" Johan mengusap-usap kepala Zee. Zee mengangguk.


"Aku mau kita tunangan, setidaknya dunia tahu kamu itu punya aku! Jodoh masa depan aku! Calon ibu anak-anak aku!"


Huk ... Uhuk ....


"Kamu kenapa? Kaget gitu!"


"Bang Jo, a-ku belum terfikir menikah!"


"Sayang, iya aku tahu. Nikahnya nanti dua sampai tiga tahun lagi aku masih sabar nunggu kamu!" Johan menatap wajah yang tengah menatapnya, ia seketika menjatuhkan wajahnya ke bahu Zee.


"Ba-ng Jo."


Johan melingkarkan tangan itu ke pinggang Zee dan menarik tubuh itu. Ia mendekap hangat tubuh semampai Zee.


"Aku sayang kamu, jaga diri kamu selalu di manapun! Tunggu aku pulang!" bisik Johan. Zee bergeming, ada air mata di sudut mata itu.


...________________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading 😘


__ADS_2