ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
TAKUT KEHILANGAN


__ADS_3


"Cantik, selalu cantik!" ucap Bias saat Zee memasuki mobilnya.


"Terima kasih." Singkat Zee mendaratkan kecupan di pipi Bias. Bias tersenyum.


"Kakak langsung dari kantor?"



"Iya, formal ya?" Zee mengangguk. Bias melepas jas yang dikenakan dan membuka dua kancing kemejanya.


"Perfect!" Bias senang melihat pancaran semringah Zee. Ia kembali ikut tersenyum. Bias meraih kepala Zee dan mendaratkan kecupan di kening Zee.


"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Zee sambil mengarahkan spion ke wajahnya. Ia memastikan lipstik yang dipakai tidak terlalu tebal.


"Kamu ada ide?"


Zee bergeming menatap Bias. Jelas ada yang ingin diucapkan tapi Zee menahannya.


"Kenapa ragu bicara, bilang saja mau ke mana? Hari ini aku siap jadi sopir kamu!"


"Kakak sudah pintar membaca rahut wajah aku. Benar, ada tempat yang mau aku datangi, tapi aku takut Kakak keberatan." Zee masih menatap mata itu.


"Bilang aja!"


"Hmm ... kontrakan bang Jo." Bias seketika kaget. "Mau apa ke sana?" tanyanya.


Zee menunduk sejenak. "Bang Jo sudah sangat baik selama ini sama aku, aku mau ngucapin terima kasih."


"Cuma berterima kasih?"


"Sebetulnya ada la-gi."


"Apa?"


Zee mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah dari tasnya. "Waktu aku ulang tahun bang Jo pernah ngasih gelang sama aku, aku mau balikin." Bias mengangguk.


"Sekali-gus aku juga mau minta maaf sudah memilih Kakak dan bukan dia!"


"Kalau begitu aku juga perlu minta maaf, karena sudah merebut kamu." Zee tersenyum getir. Bias meraih jemari itu. "Kita berdua sudah sangat egois dan menyakiti bang Jo." Zee menarik napas dan mengangguk.


"Dan bang Jo akan lebih terpukul kalau kita jadi nikah!" Bias menatap Zee seksama.


"Kata kalau jadi kok agak mengganggu ya! Saat kita menikah!" Zee tersenyum. Ia senang dengan ucapan Bias.


"Oke, arahin aku ke lokasi kontrakan bang Jo dan sopir kamu ini dengan cepat akan bawa kamu ke sana!"


"Terima kasih, Kak."


"Iya. Jangan berterima kasih terus atau aku akan nurunin kamu di sini!"


"Huhu, calon suami aku jahat banget!"

__ADS_1


"Haa ... dengar kata calon suami kok aku mendadak ingin tertawa."


"Lho, memang kenapa?" lontar Zee. "Kak, Kakak itu di pertigaan depan belok kanan!" ucap Zee lagi.


Bias langsung mengambil setir ke kanan. "Masih asing, Sayang! Aku seperti lelaki yang sudah begitu dewasa dan matang!" Kini Zee yang tertawa.


____________________


"Kamu yakin bang Jo di rumah?" Bias berusaha mengetuk pintu kayu di hadapannya lagi.


"Yakin. Hari Jum'at bang Jo off."


"Kamu hapal banget ya jadwal bang Jo!"


"Iya." Zee tersenyum. "Apa Kakak cemburu?" Bukan kembali memastikan keberadaan Johan, keduanya malah asik bercengkrama.


"Iya cemburu. Puas!" Bias menarik pinggang ramping Zee dan menarik hidung mancung Zee dengan tangan lainnya.


"Ah Kakak sakit!"


"Kamu nggak mau ganti panggilan kamu? Yang, sayang, beib, honey, atau panggilan lain yang lebih manis untuk aku?"


"Aku mau panggil Kakak Yang, tapi nanti Kakak ingat kak Nasya." Zee menatap wajah Bias memastikan tidak ada perubahan pilu lagi di wajah itu.


"Aku akan ingat kamu saat ini!"


"Sure?"


"Sure, absolutely sure. Because you are my love now, not Nasya. You have to believe it, believe me!"


Bias tertawa. "Kamu yang mulai, kan?"


"Iya, sih." Zee tersenyum.


"Nanti aku ajari kamu!"


"Benar ya!" Bias mengangguk.


"Jadi, mulai kapan mau manggil aku pakai panggilan spesial?" ucap Bias lagi.


"Hemm, tergantung mood-aku."


"Aku bisa bikin mood kamu baik!"


"Oh, ya?"


"Kamu menantang aku?" Zee mengangguk senang menggoda Bias. Bias mendekatkan bibirnya sangat dekat ke pipi Zee. Belum lagi bersentuh Zee mengelitiki tubuh Bias.


"Eh, nakal ya! Awas kamu kalau tertangkap!" Keduanya saling berkejaran tak menyadari seseorang datang dan membuang wajah melihat adegan yang tak ingin ia lihat.


HEM


Bias dan Zee seketika berhenti dari aktivitasnya. Mereka mematung menatap Johan, Zee menunduk dalam. Niat hati meminta maaf agar sakit Johan sedikit mereda, kehadirannya saat itu justru menambah sesak Johan.

__ADS_1


"Kalian datang ada perlu apa?" lugas Johan seketika.


"Gue nganter Zee yang mau ketemu lo, Bang!"


"Ayo masuk!"


Zee dan Bias mengikuti Johan masuk dan duduk di ruang tamu.


"Langsung aja, ada apa Zee?" tanya Johan memaksa tersenyum.


"A-ku mau minta ma___


"Kami mau minta maaf ke elo, Bang!" sela Bias.


"Oh, udah gue lupain kok."


"Bang, a-ku juga mau balikin i-ni!" lirih Zee.


"Kenapa dibalikin? Aku nggak nerima kembali barang yang udah aku kasih!"


"Tapi aku nggak bisa nyimpen ini!"


"Kalau begitu buang aja!"


"Bang?"


"Santai Zee! Aku baik-baik aja kok! Oke, maaf banget tapi aku ada janji sama orang sekarang, permintaan maaf kalian udah aku terima! Semoga bahagia!" Johan berdiri menuju pintu tampak mempersilahkan Zee dan Bias keluar.


__________________


"Kamu diem aja dari tadi!" Zee tersenyum getir.


"Jangan-jangan kamu nyesel ya milih aku?" ucap Bias santai sambil memainkan setir mobil.


"Kenapa Kakak ngomong begitu. Aku cuma kasihan sama bang Jo! Aku jahat!" Bias meraih jemari Zee.


"Kita doain aja bang Jo cepet dapet pengganti kamu!" Zee mengangguk. Zee melihat jalan dan merasa hapal dengan arah yang ia lewati.


"Oya, ini kan arah ke____


"Sentul! Kita minta restu yuk sama Eyang!" Zee mengerucutkan bibir.


"Kok muka kamu begitu!"


"Kakak kepedean, orang tua Kakak aja belum ngizinin Kakak nikah!" Bias menatap Zee.


"Kalau Papa nggak ngizinin kita nikah sendiri aja!"


"Hah? Kakak ngaco! Udah nggak sabar banget kayaknya Kakak jadi suami aku!" Zee menggoda Bias.


"Aku cuma takut kehilangan lagi ...!"


..._________________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading😘😘


__ADS_2