ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
PERTANDINGAN HARI ITU


__ADS_3

Jum'at pagi hari itu, dua insan manusia tampak sudah tampil keren dengan celana jeans yang dipadu kaos berwarna navy senada. Lima hari sudah Bias berada di Jogya, mereka yang selama hari itu terus dibantu Johan mencari kontrakan tapi belum juga ada yang cocok, kini keduanya memutuskan refresing menghabiskan waktu bersama di hari Jum'at itu.


Berhubung Zee hari itu tidak ada jadwal kuliah, Bias sejak kemarin terus mencari tempat apa yang bisa keduanya kunjungi dan menyenangkan. Bias akhirnya menemukan sebuah acara yang sesuai dengan minat dan hobi keduanya, basket.


Stadion Kridosono di jalan Yos Sudarso adalah pilihan Bias. Melalui beberapa sumber, di ketahui di Stadion Kridosono Jum'at ini akan diadakan pertandingan persahabatan basket antar dua sekolah unggulan di Jogya. Bias tidak membuang kesempatan itu. Ia memang sudah sangat rindu dengan olahraga yang pernah mendekatkan dirinya dan Zee di masalalu itu. Walau tidak bisa beraktivitas intim dengan di bola orange, setidaknya melihat si orange menjadi rebutan sudah memacu adrenalin Bias.


"Sudah siap, Yang?" tanya Bias melihat Zee baru saja menutup pintu homestay yang mereka tempati. Zee mengangguk.


"Yakin gak ada yang tertinggal?" Zee terdiam mengingat-ingat.


"Gak ada sih kayaknya, udah yuk berangkat aja! Jam 9 udah mulai kan pertandingannya?" tanya Zee, Bias mengangguk. Keduanya beriringan menuju lahan parkir di sisi bangunan homestay dan tak lama raga mereka sudah menghilang menuju stadion.


Sepuluh menit perjalanan keduanya sampai.Mereka langsung masuk ke dalam dan mengambil tempat di tangga kedua. Terlihat di lapangan seluruh pemain sedang berkumpul melakukan do'a bersama sebelum acara di mulai. Tak berselang lama pertandingan di mulai. Bias dan Zee dengan serius mengikuti jalannya pertandingan, melihat gerakan setiap pemain yang begitu gesit berusaha meraih bola, mempertahankan, serta melakukan tembakan.


"Ah, sedikit lagi.Go semangat Go!" teriak Zee spontan dengan wajah berbinar. Bias sesekali melirik Zee, ia begitu senang melihat Zee begitu bersemangat, tidak ada pancaran lelah di wajah Zee walau Bias tahu semalaman Zee menghabiskan waktu merangkum materi tugas yang diberikan. Seketika Bias menggenggam jemari Zee.


"Go! Go! Go!" Bias kini berteriak penuh semangat. Zee menoleh dengan cepat. Sebaliknya Zee pun begitu bahagia melihat raut bahagia Bias. Sesaat ia teringat kejadian 4 tahun silam. Zee saat itu juga duduk berdampingan Bias. Bias hari itu dengan penuh semangat terus membahas jalannya lomba, memberi trik-trik padanya agar bisa memenangkan pertandingan kejuaraan putri kala itu.


Zee merasakan kini jemari Bias dengan nyaman menggenggam jemarinya, hal yang tak pernah ada dalam kisah masa lalu itu. Dulu hanya ada kisah cinta bertepuk sebelah tangan yang menyesakkan dan kini keduanya sama-sama saling cinta. Sebuah bulir seketika menetes, ada keharuan ia rasa. Tak menyangka segala mimpi dan harap masa lalu menjadi nyata. Ia dan Bias telah bersatu, bukan hanya hubungan kekasih tapi rumah tangga. Perjanjian kokoh telah Bias tekadkan bersamanya. Zee masih menatap wajah yang kini semakin bertambah tampan saja menurutnya, wajah Suaminya, miliknya. Kini Zee mendekap lengan kokoh di sampingnya, meyakinkan pada dirinya bahwa semua nyata. Ia milik lelaki ini dan sebaliknya Bias adalah miliknya. Zee menenggelamkan kini wajahnya ke lengan Bias, menghirup aroma lelaki yang dulu menjadi idolanya.


Bias merasakan dekapan tangan Zee di lengannya, ia merasa heran. Ia menoleh dan dilihatnya sang istri tengah begitu nyaman menciumi lengannya. Bias tersenyum, ia mengusap kepala Zee.


"Kamu kenapa, Hem?" tanya Bias. Zee mendangak.


"Aku lagi meyakinkan diri kalau semua nyata!"


"Maksud kamu?" Bias semakin dibuat bingung.

__ADS_1


"Kamu punya aku! Cinta ini tidak lagi bertepuk sebelah tangan!" lirih Zee berucap. Bias tersenyum.


"Kenapa tiba-tiba membahas ini?"


"Gak tau, aku sekilas ingat kejadian masa lalu, Yang! Inget nggak saat pertandingan tim putri dulu itu kamu pernah ajak aku duduk di bangku atas dan kamu terus bicara mengenai pertandingan yang lagi kita lihat waktu itu."


"Hem," decak Bias sambil mengangguk-angguk. Ia membenarkan semua kejadian itu pernah terjadi.


"Kamu tau, Yang! Saat itu degup jantung aku serasa mau copot duduk deket kamu. Kamu adalah Bias sang idola, idola aku dan idola cewek-cewek di sekolah! Aku grogi banget deket kamu, tapi aku seneng." Kalimat jujur itu terlontar begitu saja membuat Bias semakin dibuat tersenyum-senyum. Ia tak menyangka imbas kehadiran dirinya terhadap Zee begitu besar.


"Terus?" Bias masih ingin mendengar kisah hati Zee kala itu, rasa Zee padanya.


"Kamu itu semangat aku, Yang! Saat itu aku benar-benar ingin buat kamu bangga. Aku mau tim kita menang. aku mau kamu melihat aku!" ucap Zee dengan mata berkaca.


"Heii, kok nangis sih?"


"Jangan nangis, Sayang, ini tempat umum. Kita nggak perlu bahas ini lagi! Yang terpenting adalah saat ini aku punya kamu, aku cinta kamu! Cerita Bias yang nggak menganggap kamu sebaiknya kita kubur. Oke!"


"Tapi aku masih ingat jelas waktu kamu bilang gak akan pernah mencintai gadis seperti aku!"


"Denger! Saat itu aku ngomong begitu karena aku masih sama Nasya! Aku tipe setia! Saat aku jalan sama satu cewek, aku gak akan lihat cewek lain secantik apa pun dia!"


"Apalagi sama cewek yang jelek!" sela Zee.


"Siapa yang jelek? Kamu paling cantik!"


"Gombal!"

__ADS_1


"Udahan ah bahas ini-nya. Atau kalau kamu masih mau bahas ini kita turun aja, yuk!" Mata Zee membulat.


"Kita ngobrol di Kafe depan," lirih Bias.


"Tapi pertandingannya belum selesai," kata Zee.


"Itu kamu sadar, dari tadi pertandingan masih berlangsung, tapi kamu sibuk sama bayangan masa lalu, gak lihat pertandingannya juga. Keluar aja, yuk!" Zee menggeleng.


"Aku masih mau lihat pertandingan ini, Yang!" ucap Zee.Bias tersenyum. Keduanya menonton pertandingan dengan serius setelahnya. Bias sesekali membawa jemari Zee ke bibirnya, mencium jemari itu. Hal kecil yang sungguh membuat Zee bahagia. Sangat bahagia.


Beberapa saat akhirnya pertandingan usai. Zee dan Bias berdiri dan mulai berjalan ke bawah. Keduanya begitu asik berjalan sambil saling melempar candaan tak menyadari ada dua raga yang sedang mendekat ke arah mereka.


"Zee ... Zee!"


Mendengar namanya dipanggil Zee menoleh.


"Ris-ya? Kamu di-sini?"


"Iya tadi bang Jo ajak aku!"


"Oh____


...______________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Makasih yang masih mengikuti kisah ini, big hug🤗🤗❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2