
"Yang, kalau aku ingin berjilbab kamu setuju gak?" tanya Zee sebelum ia tidur. Sore tadi kedua insan sudah kembali ke rumah mereka. Dan kini Zee masih saja mengajak bercengkrama padahal Bias sudah sangat mengantuk.
"Setuju banget dong, Yang. Itukan hal baik. Kok tiba-tiba ngomongin itu sih?" tanya Bias mengusap-usap kepala Zee yang begitu nyaman berada di dadanya.
"Gak tau, tiba-tiba terlintas aja, aku ingin menjalankan syariat seorang muslimah," ucap Zee membuat Bias terharu, ia tersenyum.
"Aku dukung, sangat mendukung setiap kebaikan yang kamu lakukan. Tapi ya itu, aku harap semua dari hati kamu sendiri, bukan ikut-ikutan. Kamu harus bertekad kuat dan konsisten menjalankannya, minimal saat ke luar rumah dulu," ucap Bias lagi.
"In Syaa Allah." Zee mengangguk sungguh-sungguh.
•
•
Hari berganti, seperti Biasa keduanya akan bangun menjalankan ibadah dan Bias mengajak Zee masuk dalam selimut lagi setelahnya. Tidak seperti biasanya, Zee sedang tidak mengantuk, ia terus mengajak Bias jogging. Zee merengek membuat Bias berusaha keras merayu Zee untuk tidur lagi. Sebuah lagu dari Christina Perri berjudul a thousand years dinyanyikan Bias setelahnya dan syukurlah berhasil membuat Zee tertidur.
Pukul tujuh keduanya bangun. Zee tampak sudah bangun lebih dulu dan berpakaian rapih, kini ia menunggu Bias yang belum lama masuk ke toilet lagi. Sesuai rencana mereka akan joging sekaligus mencari sarapan.
Bias yang ke luar kamar mandi terhenyak melihat Zee, ia langsung mendekat melihat penampilan berbeda istrinya itu.
"Kenapa? Aku aneh ya?" tanya Zee melihat Bias yang mematung menatapnya. Bias langsung memeluk dan memberi kecupan di puncak kepala Zee. Istrinya itu ternyata tidak main-main dengan ucapannya semalam. Ia langsung merealisasikan inginnya.
"Kamu cantik banget, Yang!" Zee tersenyum mendengar ucapan Bias.
"Apa jilbab aku rapi? Aku masih belajar," ucap Zee sembari tersenyum.
"Rapi, cantik! Tambah cantik! Tapi apa harus secepat ini?" Kata spontan itu terucap karena Bias masih kaget tidak menyangka, belum lama tadi Zee bahkan belum memakainya.
"Lebih cepat lebih baik daripada terlambat," lirih Zee.
"Terlambat?"
"Aku asal bicara aja kok, Yang!" Zee langsung menarik tangan Bias ke luar rumah setelahnya.
Keduanya berjalan dengan semangat, namun baru berjalan sekitar 100 meter Zee sudah minta berhenti, perutnya terasa mulas. Wajah ceria Zee belum lama tadi berubah jadi rintihan, ia terus mengusap perutnya.
"Sakit, Yang! Apa ini tandanya anak kita akan lahir?" lirih Zee
__ADS_1
"Kayaknya iya." Bias menyusupkan tangannya ke bawah kaki Zee dan mulai mengangkat tubuh Zee.
"Yang, kamu yakin? Aku kan berat lho, Yang!" Zee tak ingin menyusahkan Bias, namun Bias kekeh mengangkat tubuhnya. Bias sungguh tak ingin terjadi apa-apa baik pada Zee maupun bayinya.
Beberapa waktu keduanya sampai di Rumah, Bias langsung menelepon Dona mengabari yang terjadi. Dona meminta Bias tidak panik dan langsung menuju rumah sakit saja sedang ia dan Libra akan menyusul. Bias menurut. Dalam perjalanan Bias juga mengabari Farah.
"Yang ... mules banget!" lirih Zee.
"Sabar ya, Yang. Kita akan sampai rumah sakit segera!" ucap Bias menarik kepala Zee dan menciumnya.
"Yang ... aku takut!" lirih Zee lagi. Bagaimana pun Zee tetaplah gadis muda yang bahkan tak pernah terpikir rasanya melahirkan, seorang bayi ke luar dari organ intim yang untuknya kecil itu. Kini air matanya mulai tumpah. Merasakan mulas dengan jeda semakin rapat disertai bayangan melahirkan membuat otaknya pening.
"Yang, kok nangis sih! Kamu pasti bisa, kamu hebat! Aku akan dampingi kamu! Kamu nggak sendiri, Sayang," ucap Bias. Zee tak menjawab tanya Bias ia terus mengusap perut dengan air mata yang terus berderai.
"Yang, udah dong nangisnya. Kita percayakan sama dokter, kamu tinggal mengikuti arahan dokter saja. Tenang, oke!" Bias menggenggam jemari yang mulai basah itu, Zee panik.
"Aku cinta kamu, Yang! Aku akan selalu di samping kamu! Bukankah kita akan saling menguatkan, hem? Jangan mikir macam-macam! Tetap positif, Sayang!"
"Tapi ini sakit banget, Yang! Gimana kalau aku nggak kuat!"
"Huss, jangan bicara begitu!"
Bias terus menyemangati Zee sepanjang perjalanan hingga akhirnya bangunan Rumah Sakit ibu dan anak berdominasi hijau ada di hadapan mereka.
"Bias!" Dona yang lebih dulu sampai sebab jarak rumahnya lebih dekat langsung menghampiri dan membuka pintu mobil.
"Sayangku, kuat ya, Nak! Pasti Ziva bisa!" ucap Dona mengusap bahu Zee. Bias ke luar dari mobil. Libra mendekat dengan dua orang suster yang membawa brankar. (ranjang dorong)
"Terima kasih, Pa!"
"Ma, apa Zee bisa? Mulas sekali, Ma!" Lirih Zee masih di dalam mobil.
"Bisa, katakan bisa! Jangan lemah! Putrimu juga sedang berjuang mencari jalan, Mamanya juga harus berjuang pula. Pasti bisa! Ziva cinta Bias, kan?" Zee mengangguk cepat. "Pikirkan Bias akan bahagia saat Ziva memberinya seorang putri cantik untuknya." Air mata lagi-lagi menetes dari sudut mata Zee, ia mengangguk.
"Ma, sudah!" Bias melebarkan pintu dan merasa Zee harus segera dibawa. Dona mundur dan Bias dengan hati-hati mengangkat tubuh Zee dan menidurkannya pada Brankar.
"I really love you, really love and it's true!" Bisik Bias sebelum brankar dibawa ke ruang UGD. Zee mengangguk tak melepas eratan jemari Bias. Bias dan Dona mendampingi Zee yang harus di periksa di UGD dahulu baru diberikan tindakan, sedang Libra mengurus pendaftaran.
"Orang tua Zee sudah tau kan, Bi?"
__ADS_1
"Sudah Ma, mereka sedang dalam perjalanan," jawab Bias di luar ruang UGD menunggu pemeriksaan atas Zee.
"Ada suami pasien Zivanya?"
"Saya, Dok!" Bias mendekat.
"Silahkan masuk!"
"Karena masih pembukaan 4, kami akan membawa pasien ke ruang perawatan dahulu. Jika jeda kontraksi semakin rapat tolong segera panggil dokter."
"Baik, Dok."
Dua jam ... tiga jam ... empat jam berlalu. Dalam ruang isolasi Zee sudah sangat kepayahan. Ia sungguh tak menyangka rasa sakitnya akan seperti itu. Bias, Farah, Dona bergantian mengusap pinggang Zee, mencium, membisikkan kalimat positif agar Zee semangat dan yakin bisa menjalani persalinan normal. Tak ubah pun Farid, ia terus mondar mandir mushola dan kini tampak membaca mushaf di tepi, berdoa untuk anak dan calon cucunya.
"Bu, sakit, Buu! Yang, mulas banget!" Zee terus merintih. Bias yang tidak tega ikut sedih. Ia tak henti menciumi wajah Zee, memintanya bersabar dan bertahan, bahwa sesaat lagi putrinya akan lahir. Putri yang keduanya tunggu, buah cinta mereka. Zee mengangguk paham tapi ia juga tak bisa menutupi rasa sakit yang dirasa. Bias tampak ke luar ruangan kini, Dona menyusul.
Wajah sedih yang di dalam ia sembunyikan tidak dapat disembunyikan lagi. Bias menangis di sisi jendela, ia tidak tega melihat kondisi Zee. Dua insan itu memang masih muda, mudah terbawa emosi entah sedih, marah dan bahagia. Kini emosi sedih seketika menyeruak. Bias menarik napas dan membuangnya. Otaknya sadar Zee bisa melihat bekas tangisnya dan itu akan tidak baik, ia berusaha keras menahan tangisnya kini.
"Yang kuat! Wanita melahirkan ya seperti itu! Mamamu juga dulu begitu. Tapi Papa saat itu berusia lebih matang darimu, mama pun. Jadi kami lebih siap. Yakin saja istrimu itu akan bisa melalui proses ini! Proses yang semua wanita mengalami! Hanya menunggu hitungan jam!" Bias bergeming mendengar ucapan Libra.
"Ada apa ini, Pa?" Melihat suami dan anaknya bicara berdua di sudut, Dona berbaur.
"Ini anakmu mengapa begitu lemah!"
"Bii, kuat! Kalau kamu juga seperti ini, siapa yang akan menguatkan Ziva?"
"Bias tidak tega melihat Zee, Ma. Jika tau sesakit itu, lebih baik Zee tidak usah hamil!" gusar Bias.
"Heii, bicara apa kamu ini! Tidak perlu lebai, semua akan dilewati, menghitung jam malaikat kalian sudah bisa kalian peluk! Jangan lemah jadi suami! Tidak perlu punya anak, pemikiran apa itu!"
"Dengar ucapan mamamu itu, Bii!" lugas Libra.
"Bias!" Seketika Farah ke luar dan berteriak.
"Iya, Bu?"
"Tolong panggil dokter, Nak! Dada Zee mendadak sesak!"
..._____________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘
🥀Satu bab lagi yaa😔