ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
KEBOHONGAN PERTAMA TERCIPTA


__ADS_3

Tok ... Tok ....


"Ka-kak?"


Bias serta merta mendorong tubuh itu hingga masuk ke kamar berdominasi pink yang Zee tempati. Bias menyudutkan tubuh Zee ke dinding.


"Ka-kak mau a-pa?"


"Gue, sorry ... a-ku marah sama kamu!"


"Ma-rah kenapa?"


"Karena ka-mu masih anggap aku orang asing?" Zee menyipitkan matanya, ia tidak paham maksud ucapan Bias.


"Nggak ngerti maksud aku?" Zee menggeleng.


"Jangan bicara terbata sama aku, itu seperti takut! Kamu takut sama aku?" Gelengan itu ragu. Zee tidak takut pada Bias, tapi perilaku Bias yang sering spontan berbuat semaunya membuat Zee risih dan kaget.


"Jangan takut sama aku! Aku masih Bias yang sama," lirih kata itu terucap sambil mulai mengusap puncak kepala Zee.


"Ka-kak!" Zee meraih jari Bias di atas kepalanya. "Tidak perlu begini!" lirih Zee.


"Kamu merinding aku sentuh, hem?" Zee dengan polosnya mengangguk, membuat Bias tersenyum.


"Ini sentuhan sayang, bukannya kamu sudah lama suka aku? Suka kan disayang?"


Zee meloloskan diri dari kungkungan Bias, ia kini berdiri di depan cermin panjang di sisi lemari berusaha mengalihkan pembicaraan. "Kak, i-ni baju Dara apa cocok a-ku pakai?"


"Cocok! Atasannya pas cuma celananya aja yang cingkrang. Kamu terlalu tinggi, Sayang!" ucap Bias senang menggoda Zee, membuat wajah Zee seketika memerah.


"Kamu malu aku panggil sayang?"


"Kakak? Dara itu sebetulnya siapa? Ada kamar-nya di sini, banyak pakaiannya juga. Dia saudara Ka-kak?" Zee mengalihkan lagi tanya Bias.


Bias mendekat dan berdiri tepat di belakang tubuh Zee. "Dara adik aku, selisih 4 tahun, dia sekarang kelas 3 SMA," jawab Bias meletakkan dagunya di bahu Zee.


"Dia pasti cantik!"


"Hmm, iya. Tapi lebih cantik kamu! Dia nggak begitu tinggi kayak mama. Kamu ingat mamaku, 'kan? Yang di pesta tempo hari? Tubuh Dara mirip mama."


"Pesta kak Nasya!"


Bias bergeming sesaat dan membalik tubuh Zee. "Bahas tentang aku dan kamu aja! Jangan yang lain!" Bias menaikkan dagu itu ingin Zee mendengar dan mengingat ucapannya. Zee mengangguk lirih.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel di saku Bias terus berbunyi. Bias langsung berjalan menuju jendela menjauh dari Zee. "Iya, Pa!"


"Bias! Kamu meninggalkan kantor cepat tadi, hah? Di mana tanggung jawab kamu? Papa mempercayakan pekerjaan Papa sama kamu, tapi malah kamu tinggalkan!"


"Ma-af, Pa. Bias ada urusan. Pekerjaan sudah Bias serahkan pada pak Taufik. Ia orang kepercayaan Papa, kan?"


"Ini bukan seberapa besar kepercayaan Papa pada Taufik! Ia tentu bisa menghandel semuanya, tapi Papa sedang mengajari kamu menjadi penerus Papa, Bi! Sikap kamu seperti itu sungguh mengecewakan Papa!"


"Ma-af, Pa! Lain kali Bias akan lebih bertanggung jawab!"


"Masalah apa memangnya yang lebih penting dari bisnis Papa, sehingga kamu berani meninggalkan kantor dengan tergesa siang tadi?"


"I-tu____


"Apa?"


"Sebentar, Zee!" bisik Bias melewati Zee, ia ke luar dari kamar Zee dan berjalan ke lantai bawah. Zee melihat Bias mendekati Eyang Ratri yang tengah membaca majalah, Zee mengikuti.


"Eyang, bantu Bias! Ini Papa!" Setelah Bias berbisik pada Ratri, ia lalu mengarahkan lagi ponselnya ke telinga.


"Bi, bilang kamu di mana sekarang!"


"Iya, i-ya, Pa. Ini Bias tadi mendadak dapat telefon dari Eyang. Eyang demam dan nggak bisa menghubungi Papa jadi Bias yang ke Sentul! Ini kalau Papa nggak percaya, Bias lagi sama eyang," ucap Bias mengarahkan kini ponselnya ke telinga Ratri.


"Libra, ini kamu, Nak? Iya Ibu tadi panggil Bias suruh ke Sentul. Kepala ibu pusing banget, sedang kamu dihubungi sibuk terus!"


"Kamu itu, sudah bagus anakmu langsung dateng nemenin Ibu, tapi malah kamu marahin!"


"Iya, iyaa ... Libra minta maaf Bu. Bagaimana kondisi Ibu sekarang? Sudah lebih baik? Kalau sudah baik, besok Bias sudah bisa datang ke kantor kan, Bu?"


"Lusa Bias baru ke Jakarta! Aku mau ditemenin bias dulu di sini! Libra, kamu dengar ibu, 'kan?"


"Oh ya sudah, bilang sama anak itu, lusa dia harus ada di kantor!"


"Iya, iya ... sudah dulu ya, ibu mau istirahat! Assalamu'alaikum."


"Oh iya Bu. Wa'alaikumsalam."


"Makasih Eyangku yang cantik!" Bias langsung mencium pipi Ratri.


"Nakal! Besok kamu harus pulang, lusa ke kantor papamu!"


"Iya, Eyang! Siap."

__ADS_1


"Yuk kita makan malam! Bik Nah sudah masakin tumis buncis sama semur ayam kesukaan kamu!"


"Makasih. Eyang memang yang paling tau Bias!"


"Ayo nak Zee!" ajak Ratri. Zee tersenyum melihat kedekatan Bias dengan Ratri, ia mengikuti langkah dua insan itu menuju ruang makan.




"Zee nanti menginap di sini, kan? Jangan pulang, cuaca sedang hujan, jalanan licin, kalian juga akan terjebak macet!" ucap Ratri saat ketiganya selesai menyantap hidangan makan malam. Bias menatap ke arah Zee yang bergeming.


"Iya, Eyang." Lagi-lagi Bias yang menjawab tanya Ratri. Ratri mengangguk, ia tampak santai saja. Difikirnya Zee sudah lama menjadi kekasih Bias dan kedua keluarga sudah tau, makanya mengizinkan Zee hari itu ikut dengan Bias ke rumahnya.


"Ya sudah, Eyang mau istirahat! Kalian juga lekas beristirahat!"


"Iya, Eyang."


"Kak, apa kita malam ini nggak pulang?" Rahut cemas mewarnai wajah Zee.


"Tadi kamu dengar kan ucapan Eyang? Bahaya mengemudi saat hujan!" Zee bergeming.


"Kalau kamu nggak berani izin ke ibu. Biar aku yang bicara!" Bias yang pernah bertemu Farah dan merasa Farah orang yang asik, memajukan dirinya.


"Ng-gak! Jangan! Biar aku yang izin sendiri!" Bias mengangguk.


"Kak, tapi aku pinjam charger, ya! Ponselku mati dari tadi sore."


"Iya." Bias tampak menuju sebuah nacash di sudut ruang keluarga dan mengambil charger dari sana. Ia menyerahkan charger pada Zee dan meminta Zee naik untuk beristirahat setelahnya.


___________________


Dengan berdalih menginap di rumah Ayu yang sedang pulang ke Tanah Air, Zee akhirnya mendapat izin Farah untuk tidak pulang. Ayu dan Siska memang melanjutkan kuliah ke luar negeri. Ayu ke Malaysia dan Siska ke Australia. Kini Ayu menjadi alasan yang membenarkan perilaku Zee.


Zee tidak bisa tidur, satu kebohongan baru saja ia ciptakan. Belum lagi banyaknya panggilan Johan saat ponselnya mati, Zee bahkan bingung harus bicara apa pada Johan. Hubungan mereka masih berjalan, tapi Zee sudah membuat ikatan baru bersama Bias.


Zee terus mengganti posisi tidurnya berharap matanya dapat terpejam, namun nyatanya nihil. Ia kini hanya memainkan tali guling sambil otaknya mencerna segala yang terjadi hari ini. Ada kebahagiaan di otak itu, ia bisa dekat dengan Bias, memulai hubungan dengan orang yang dicinta membuat Zee bahagia, namun ada rasa sedih mengiringi pula mengingat statusnya dengan Johan. Zee merasa harus bicara pada Johan, ia sadar tidak adil untuk Johan ia bohongi seperti ini.


Zee masih mematung saat didengarnya bola yang terus dipantulkan dari lantai bawah, perlahan Zee mengangkat tubuh menuju balkon. Zee kaget, Bias tengah bermain basket di hari yang mulai malam dan tengah hujan itu. Permainan yang tidak terarah dilihat Zee. Bola itu tampak sembarang dilempar Bias, berusaha memasukkan ke dalam ring namun nyatanya tembakan itu selalu tak tepat sasaran. Jelas emosi Bias tidak baik.


..._______________________________________...


🥀Happy reading😘

__ADS_1


🥀Mampir ke karya sahabat literasi Bubu, yuk😍😍



__ADS_2