ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
ASUMSI LIBRA


__ADS_3

Empat raga paruh baya masuk kini ke bangsal isolasi tempat di mana Bias di rawat. Wajah gusar terlihat jelas di wajah pria yang memiliki wajah serupa Bias, namun ia memiliki rahang lebih tirus, Libra.


Pintu dibuka dengan kuat membuat gadis yang tengah duduk di sisi ranjang yang masih terus menangis itu seketika berdiri. Tak ubah dengan Johan yang sedang berdiri di sisi ranjang, ia pun seketika menoleh kaget saat pintu terbuka.


"Ziva, apa yang terjadi, Sayang?"


"Zee ...?"


Dua raga wanita paruh baya tampak mendekati Zee. Farah yang merupakan wanita yang melahirkan Zee langsung memeluk erat putrinya yang masih tampak ketakutan.


"I-bu, Ma-ma," lirih Zee, ia seketika menangis.


"Sayangku Bias, kenapa penuh luka begini wajah kamu, Nak? Juga perban i-ni ... ini perban a-pa Zee?" tanya Dona yang kini menghampiri Bias, ia kaget. Ia terus menciumi wajah putranya.


"Jawab saat mama bertanya Zee!" gusar Libra menatap lekat wajah Bias yang belum sadarkan diri setelah pembedahan kecil yang baru saja dilakukan.


"Tenang, Lib! Tanyakan dengan baik! Kamu lihat putriku juga terlihat masih ketakutan!" ucap Farid sembari berjalan mendekat ke arah Zee.


"Ayah ...!" Seperti saat bertemu Farah tadi, air mata Zee terus menetes saat Farid memeluknya.


"I-tu ta-di_____


"Ada sekumpulan orang menghadang Zee dan Bias di jalan, Om! Mereka melakukan aksi brutal, hampir melecehkan Zee, juga melukai Bias," terang Johan menutupi permasalahan yang mendasari semuanya.


"Mereka hampir melukaimu, Sayang?" tanya Dona mengusap kepala Zee, ia sangat khawatir. Zee mengangguk.


"Ahh, mengapa mereka terlahir jahat! Seharusnya mereka berpikir sebelum melakukan hal yang merugikan orang lain!" seloroh Farah. Ia menarik wajah Zee dan mencium kening putrinya itu.


"Kamu kenal mereka, Nak Johan? Di mana orang-orang yang melakukan ini? Apa sudah dilaporkan polisi?" Farid memberondong Johan dengan banyak tanya.


"Pelakunya 4 orang, Om. Yang tiga sudah tertangkap tapi satu orang lolos," jawab Johan sembari melirik Zee.


"Kenapa polisi tidak bisa menangkap seluruhnya! Mereka harus mendapatkan hukuman setimpal! Anak-anak macam apa mereka. Bertindak sesukanya!" Libra yang geram mengambil ponsel dari saku dan menghubungi seseorang.


"Kamu sudah di mana? Bagus, langsung ke ruang isolasi di lantai 3!"


Tut ... Tut ...


Libra menutup panggilannya.


"Tyo sudah sampai, Pa?" tanya Dona.


"Sudah di parkiran. Ia akan segera naik. Ia harus menuntaskan ini semua. Polisi harus digertak supaya bertindak cepat! Semua orang yang melukai anakku harus dihukum!" lugas Libra.

__ADS_1


Beberapa saat lalu Libra memang menghubungi Tyo, pengacara yang biasa membantu permasalahan apa pun yang dialami Libra. Tyo yang sedang berada di Batam mengurus perjanjian kerjasama langsung diminta Libra terbang ke Jogya dan kini ia sudah sampai.


"Oh ya, kamu teman basket Bias saat SMU kan? Kenapa ada di sini? Ada keperluan apa di Jogya?" Libra kini memberondong Johan dengan tanyanya. Libra yang tersulut emosi melihat kondisi putranya mulai berasumsi banyak hal, ia merasa aneh saja, putranya itu bahkan hanya pendatang yang ia tahu Bias bukan tipikal pencari masalah, mengapa bisa ada orang yang melakukan tindakan buruk padanya seperti sekarang. Libra tampak memperhatikan Zee dan Johan yang beberapa kali tertangkap melirik aktivitas Zee.


"Kebetulan saya bekerja di Jogya, Om! Kami tidak sengaja bertemu!" jawab Johan.


"Kenapa kamu bicara begitu? Jangan bilang kamu berpikir buruk pada Johan! Johan anak baik, kami sekeluarga tahu itu," utar Farid yang niatnya ingin meluruskan salah paham Libra atas Johan justru membuat otak Libra berpikir yang lainnya.


"Keluarga kalian juga kenal Johan rupanya?"


"Kenal Mas. Ia pernah dekat dengan Zee dan benar kata bang Farid, Johan lelaki baik," jawab Farah apa adanya.


"Wow, kebetulan yang luar biasa. Mantan kekasih hadir tepat waktu menolong suami mantan kekasihnya!" lantang Libra.


"Papa jangan berpikir buruk pada bang Jo, ia yang menyelamatkan kami. Kalau bang Jo tidak datang, mungkin mereka sudah melecehkan aku dan masih menyiksa kak Bias."


Libra melirik Zee. "Manis sekali, membela lelaki lain padahal suaminya sedang terbaring tak berdaya!"


"Pa ... Pa ... Bicara apa sih? Kamu ngelantur deh. Sudah, sudah! Zee bagaimana jika pulang ke kossan dan beristirahat, Bias biar kami yang jaga. Kamu pasti lelah, bukan?"


"Zee ingin bersama kak Bias, Ma!"


"Mama Dona benar, Sayang! Kita pulang dulu, ya. mandi, ganti pakaian dan beristirahat sejenak baru setelahnya kita kembali ke Rumah Sakit."


"Yang, sadar Yang ...! Aku di sini!" lirih Zee.


Farah yang melihat kesungguhan Zee ingin menjaga suaminya, tak bisa berkata lagi. "Yah, sebaiknya Ayah saja yang ke kossan Zee dan bawa baju ganti Zee," ucap Farah. Farid mengangguk.


"Berikan kunci kossanmu pada Ayah, Zee," ucap Farah. Zee seketika berdiri.


"Ayah tapi Zee sudah tidak tinggal di kossan sebelumnya. Zee tinggal bersama kak Bias di Delta Homestay, ini kuncinya," lirih Zee.


"Kenapa pindah, Sayang. Dimana letak Delta Homestay?"


"Di kossan tidak menerima pasangan menikah, jadi kami keluar," ucap Zee.


"Om Farid biar saya antar, saya tahu di mana Zee dan Bias tinggal!"


"Kamu tahu?" Johan mengangguk.


"Baik lah!" Di kejauhan Libra terus menggeleng-geleng. Ia menyangka Johan yang masih menyukai Zee terlibat dalam semua kejadian ini. Libra tidak tahu bahkan ada hal yang terjadi perihal Risya di Jogya itu.


Tak berselang lama Tyo sampai. Libra langsung mengajak Tyo ke luar ruangan dan berbincang diikuti Dona. Ia ingin semua orang yang melakukan pengeroyokan tertangkap plus ia juga ingin tahu motif apa yang mendasari semua kejadian ini. Apa benar mereka tak mengenal Zee dan Bias. Atau justru semua ini adalah rencana seseorang. Cari tahu perihal orang-orang itu sampai ke akarnya dan buat mereka lama mendekam di jeruji besi.

__ADS_1


Kini tinggal Zee dan Farah yang bersama Bias di kamar isolasi. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari dan Farah mengatakan pada Zee ingin mencari mushola dan sholat mendoakan Bias. Zee mengangguk. Di kamar isolasi Zee terus membisikkan kata-kata agar Bias lekas sadar. Ia tak henti pula menciumi wajah penuh luka Bias. Zee sedih dan merasa bersalah. Suaminya menyelamatkannya, ia mempertaruhkan hidupnya sendiri beberapa saat lalu. Beruntung pecahan kaca yang mengenai bahu Bias tidak sampai ke tulang, jadi mudah ditangani dokter. Namun tetap saja, kondisi pasca tertusuk itu perlu mendapat perhatian, perlu dipastikan apakah ada infeksi yang muncul sebab kaca yang tertancap itu sangat kotor.


Zee masih mengusap-usap wajah Bias saat sepasang netra itu perlahan terbuka.


"Yang ... kamu sadar Yang? Terima kasih ya Robb, aku sangat takut tadi, Yang. Takut kamu nggak akan bangun dan akan tinggalin aku. Yang, maaf Yang ... se-mua ka-rena a-ku ...." Zee tampak menangis lagi. Ia menyatukan pipi keduanya.


"Yang, a-ku gpp. Mana mungkin aku akan tinggalin kamu! aku yang minta maaf gak bisa nolong ka-mu, menjaga ka-mu." Satu persatu bulir jatuh dari sudut mata Bias.


"Aku gpp, Yang. Aku baik-baik aja," ucap Zee berusaha mengukir senyum walau hatinya masih terasa sakit melihat kondisi Bias.


"Bagaimana Bo-wo cs i-tu, apa sudah tertangkap?"


"Sayangnya Bowo berhasil kabur, Yang. Tapi polisi akan berusaha menangkap Bowo. Bowo itu sangat jahat, Yang! Bahkan kamu gak kenal dia, tapi dia menghajar kamu sampe begini. Semua salah a-ku! Target Bowo adalah a-ku. Maaf, Ya-ng!"


"Sudah jangan diingat lagi! Aku bilang gpp, aku baik-baik aja!" Bias menarik kepala Zee hingga ia bisa mencium kening istrinya itu. Bias menarik tubuh Zee setelahnya ke pelukannya.


"Ahh, ja-ngan kencang-kencang, Sayang," ucap Bias saat Zee mengeratkan pelukannya.


"Maaf aku lupa badan kamu banyak luka, pasti sakit ya, Yang," ucap Zee mencium dada Bias lembut. Ia duduk di kursi di samping ranjang setelahnya.


"Yang, ma-af ternyata kondisi aku sekarang gak bi-sa melindungi ka-mu! Bahkan saat lelaki yang dipanggil Priyo i-tu menarik ka-mu ke semak-semak a-ku cuma bisa na-ngis. Mereka benar aku cacat, aku nggak bisa bergerak bebas, gerakanku terbatas. Aku benci situasi i-ni! Kalau bang Jo gak dateng tepat waktu, saat ini aku pasti sudah jadi orang yang sangat menyesal!" Bias menghentak-hentakkan kepalan tangan ke ranjang. Ia merasa frustasi, marah dan sedih.


"Yang, aku yakin kamu akan pulih. Sabar, Yang! Yang penting sekarang aku gpp, Priyo gak bisa sentuh aku!" lirih Zee.


"Tapi gak bisa begini terus, sampai kapan aku pulih, Ya-ng?"


"Kita cuma bisa berusaha, yang di atas yang punya kuasa. Kita jangan patah semangat! Aku yakin kamu akan pulih, pasti pulih! Itu yang harus kamu ingat! Kamu seharusnya lebih gigih berjuang untuk sehat, untuk aku, keluarga kamu, karyawan-karyawan kamu, juga semua mimpi-mimpi kamu. Kamu itu lelaki hebat, Yang! Masalah kejadian kemarin memang sudah jalannya kita harus melewati itu, tapi Tuhan sayang kita, kita berhasil melewatinya, kita selamat!" Bias terus mengangguk.


"Ya-ng, ka-mu ma-u kan berada di samping aku membantu pemulihan a-ku?" Zee manatap wajah itu pilu tanpa kata.


"Kamu mau ka-n Yang selalu di sisi a-ku? Please, ikut aku ke Jakarta! Kita bersama-sama tanpa jarak lagi. Aku selalu akan support apa pun yang kamu lakukan, tapi please ... tetap di samping a-ku! Kita tinggalin Jogya yang penuh kenangan buruk i-ni. Kita ke Jakarta! He-m?" lirih kata itu terucap.


"Oh, jadi begitu yang terjadi? Zee adalah penyebab tragedi hari ini! Untuk apa lagi kamu bertanya Bias! Kalau memang istri kamu itu cinta kamu, dia tidak akan ragu ikut kita ke Jakarta! Toh kamu begini karena di-a, kan?"


Kedua raga tak menyadari Libra dan Dona masuk ke bangsal dan mendengar segalanya.


...___________________________________...


🥀Happy reading😘😘


🥀Mampir dan baca kisah ini yuk, keren banget dan bikin penasaran tiap babnya.


__ADS_1


__ADS_2