
"Sudah Ma, ayo kita tunggu di sana! Gerah aku dekat-dekat dengan keluarga lelaki itu. Zee kalau kamu memang istri Bias, ikut kami!" Suara bariton Libra membuat Zee bergidik, ia kaget dan bingung. Mana mungkin ia meninggalkan orang tuanya yang sudah jauh-jauh datang untuknya.
"Ikuti mereka, Zee!" ucap Farid.
"Ta-pi, Yah?"
"Kami akan menemanimu dari sini, Sayang. Sana ikuti Dona. Dona sepertinya menyukaimu tidak seperti Libra!" ucap Farah terus mengangguk, tak ingin Zee ragu. Perlahan Zee mendekati Dona. Dona sudah mengulurkan tangannya pada Zee. Di kejauhan Farid menatap Dona, ia berkedip. Farid ingin Dona menyayangi Zee.
"Ada kerabat pasien bernama Zee?" Semua raga menoleh saat seorang perawat mendekat. "Zee, ada yang bernama Zee di sini? Pasien sudah sadar dan meminta bertemu, Zee!" Suster mengulang ucapannya.
"Sa-ya, Pak!" ucap Zee.
"Anda Zee?" Zee mengangguk. "Ayo ikut saya!"
"Lihat anakmu Ma! Setelah menikah yang ia ingat hanya gadis itu. Ia lupa dengan orang tuanya!"
"Pa, Pa ... sudah! Pergilah Ziva!" utar Dona, Zee yang bergeming, seketika mengikuti perawat.
Dona sadar siapa pun yang bisa mempercepat penyembuhan Bias tidak masalah. Putranya itu harus tenang dan bahagia terlebih setelah operasi kaki yang telah dilakukan dan pasti membuatnya syok. Putranya akan mengalami pemulihan panjang, sedang ia tahu putranya sedang mengembangkan usaha, belum lagi putranya sangat hobi dengan basket. Kini ia harus melupakan sementara olah raga itu hingga kakinya pulih. Ada kegetiran dirasa Dona. Ia kini berdiri di sisi Libra, membiarkan Libra terus memeluk pinggangnya.
___________________
Di bangsal rumah sakit seorang pria terbaring tak berdaya, terdapat beberapa memar dan lecet di bagian wajah dan tangan, sedang kakinya terpasang gips. Ia terus melihat ke arah pintu berada, menunggu orang yang dinantikannya.
Tak menunggu lama pintu ruang isolasi itu terbuka. Gadis cantik bertubuh tinggi masuk. Wajah itu cemas, netranya langsung menangkap lelaki tercinta yang juga tengah menatapnya. Perawat tampak izin ke luar dan meminta Zee menekan tombol jika ada yang terjadi pada pasien atau ada yang dibutuhkan. Tangan Bias langsung terjulur saat Zee mendekat, Bias ingin Zee meraihnya. Zee mendekat langsung meraih tangan itu. Ia menggenggamnya erat.
"Sayang ...," lirih Bias. Zee terdiam melihat banyak luka di wajah itu ia sedih.
"Kenapa diam aja, kamu masih marah sama aku. Ma-af!" Zee menggeleng masih tanpa kata, ia meraba wajah dengan luka itu.
"Pasti ini sangat sakit?" lirih Zee berucap, ia menahan bulir yang ingin menetes.
"Lebih sakit saat kamu memberi jarak sama aku kayak kemarin, Yang!" Mendengar ucapan Bias, bulir itu satu persatu akhirnya lolos, Zee merasa bersalah. Egonya sangat besar beberapa hari belakangan ini. Masa lalu yang harusnya hanya menjadi cerita benar-benar mempengaruhi kebahagiaan masa kininya.
"Maaf aku selalu buat kamu sedih!" lirih Bias. Zee menggeleng dengan wajah sendu, ia tak suka ucapan Bias itu.
"Aku kangen kamu, Yang! Mau peluk aku!" Zee langsung meraih tubuh itu. Ia melunturkan segala ego. Cinta itu akhirnya menang, walau kecelakaan harus terjadi lebih dulu untuk meluluhkan kuatnya ego. Zee terus menangis saat ini di dada Bias.
"Kita jangan marah-marahan lagi seperti kemarin ya, Yang! Berat banget aku jauh dari kamu!" ucap Bias sambil mencium puncak kepala Zee. Zee mengangguk.
"Maafin aku udah egois! Kamu nggak salah! Kamu nggak tahu apa-apa, harusnya aku sadar itu! Maaf, Yang ...!" Kini Zee yang berucap. Bias tersenyum.
__ADS_1
"Tadi aku takut banget kalau kamu mau ninggalin aku. Kamu jahat! Lain kali kamu tuh harus hati-hati! Aku nggak mau kamu kayak begini lagi! Apalagi waktu suster-suster itu bawa kamu ke ruang operasi. Kamu seolah mau pergi jauh banget dari aku!" ucap Zee bertubi. Tangisan itu semakin deras.
"Mana mungkin aku ninggalin kamu. Udah ya, Yang! Aku baik-baik aja, kamu jangan nangis lagi! Oh ya, emang aku habis operasi? Memang aku kenapa?" Bias yang dibius sebagian masih belum tahu kalau kakinya baru saja dioperasi. Efek obat bius itu masih belum hilang di kaki Bias.
Zee mengangkat tubuhnya. "Ada patah tulang di kaki kamu, Yang! Tapi kata dokter semua akan baik-baik aja! Kamu akan pulih!"
"Patah tu-lang? Ka-ki? Apa itu artinya kaki aku nggak akan normal seperti sebelumnya?" Wajah semringah Bias mendadak serius. Bias melihat ke arah kakinya yang terpasang gips. Ia menghentak-hentakkan tangan ke ranjang dan berdecak frustasi.
"Yang, Yang ... tenang! Kamu akan pulih, Yang!"
"Yang, kamu kan tahu mobilitas aku itu penting. Aku harus mondar mandir Jakarta-Bekasi-Bandung. Tapi sekarang____
"Yang, sabar!" lirih Zee meraih kepala Bias dan mengecupnya. Ia ingin Bias tak terbawa emosi dan menerima semuanya.
"Boleh tinggalin aku sendiri, Yang?"
Bias nyatanya begitu terpukul, bukan emosinya mereda, ia justru menginginkan Zee meninggalkannya sendiri. Bias ingin menetralkan otaknya. Ia butuh mencerna segalanya. Ia memang kecewa dan kini otaknya bergemuruh.
Mengapa ujian lagi-lagi menerpa aku? Mengapa kecelakaan ini harus terjadi!
"Nggak! Aku nggak akan ninggalin kamu!" seloroh Zee. Ia bertahan untuk tinggal di kamar itu.
"Please ... aku mau sendiri!"
"Please ...!" Wajah itu mengiba. Hati Zee sakit, tapi Bias sedang tak bisa ditolak. Zee akhirnya ke luar dari ruangan isolasi Bias.
•
•
"Zee, kenapa ke luar?" Dona seketika mendekat, di kejauhan Farah juga berdiri.
"Kak Bias minta Zee ke luar, Tante. Sepertinya kak Bias syok atas operasi kakinya." Zee seketika menangis. Dona langsung memeluk Zee.
"Aku akan bicara!" lugas Libra.
"Berhenti, Pa! Aku saja!" sela Dona. Libra mundur. Dona akhirnya masuk ke kamar Bias sedang Zee berlari ke arah Farah, ia memeluk ibunya. Libra menggeleng-geleng di kejauhan.
•
•
__ADS_1
"Ma-ma?"
"Hai jagoan Mama." Dona langsung mencium wajah itu.
"Mama di-sini juga, terima kasih, ta-pi maaf! Bias sedang ingin sendiri, Ma!"
"Kamu mengusir Mama?" lugas Dona berucap.
"Bu-kan! Ta-pi____
Dona mendekatkan raganya pada Bias. Ia duduk di tepi ranjang Bias dan menatap lekat wajah yang tak membuang wajah suaminya itu. "Kamu tahu, Bi! Kamu harus bersyukur, di tempat kecelakaanmu terjadi itu biasanya korban langsung meninggal! Tubuhmu terpental hampir ke pembatas jurang dan warga langsung menolongmu. Kamu beruntung! Pencipta sayang kamu! Belum mau kamu meninggalkan dunia ini! Ahh, hanya patah tulang! 3 bulan, 4 bulan atau paling lama 6 bulan. Itu singkat, Sayang! Dibanding jika nyawamu yang hilang dan kamu langsung tidak bisa menjalankan apa pun selamanya! Meninggalkan Zee, Mama, Papa, Dara, dan semua orang yang mencintaimu! Bersyukurlah, Nak!"
"Ta-pi, Ma! Air mata itu meleleh. Air mata yang tidak bisa ia tampilkan di hadapan Zee, kesedihan yang memenuhi hatinya ia tuangkan di hadapan Dona.
"Menangis lah! Kamu pasti syok! Tapi setelahnya kamu harus fikirkan apa yang Mama ucapkan." Dona mengusap sayang kepala Bias.
"Mama ambil minum sebentar!"
Dona berbalik ke arah meja tak jauh dari ranjang Bias. Ia menghapus air matanya. Ibu mana yang tak sedih melihat kondisi anaknya seperti itu, anaknya yang sedang rapuh tak terima takdir. Namun Dona sadar ia harus kuat di depan putranya itu, oleh karenanya ia mencari alasan mengambil minum untuk sekedar menghindari wajah Bias dan menghapus bulir yang sejak tadi terus ia tahan tak menetes.
"Ayo minumlah dulu!" Dona mengarahkan gelas dengan sedotan ke bibir Bias. Ia menghapus air mata itu.
"Kamu itu kepala keluarga! Sudah memiliki istri! Lain kali harus lebih tegar! Kamu tahu Ziva bersedih di luar kamu meminta dia meninggalkan kamar ini! Banyak cara pengobatan di era saat ini. Ya, memang semua tidak instan, tapi kamu akan pulih! Apa yang kamu pikirkan? Pekerjaan? Apa kamu selama ini bekerja sendiri? Kamu tentunya punya anak buah, bukan? Biarkan mereka yang sesekali berkunjung memberi laporan! Media komunikasi saat ini juga canggih, ada ponsel, laptop, CCTV, dan lain sebagaimya. Kamu bukan tidak bisa bekerja! Tapi kamu bekerja dengan cara berbeda!" Dona terdiam sesaat, ia mengarahkan minum ke bibir Bias lagi.
"Sudah, Ma!" ucap Bias. Dona meletakkan lagi gelas ke nacash. Ia melanjutkan lagi ucapannya.
"Kamu tenang saja, Bii. Kamu bisa tetap menghandle semuanya dari rumah sambil memulihkan kondisimu! Atau jika kamu ingin sesekali berkunjung ke Kafe juga bisa. Kamu tinggal minta diantar Satyo dan semua beres! Ya, tapi setelah kakimu benar-benar bisa bekerjasama dengan baik tentunya. Mama bicara seperti ini agar kamu bersyukur dan sadar tidak menghadapi semua ini sendiri! Banyak di luaran sana orang-orang yang juga sedang diuji bahkan lebih buruk darimu! Kamu memiliki kami semua yang akan mendukung penyembuhanmu, Sayang!" Dona mengecup kening itu.
"Mama benar dan Bias lagi-lagi membuat Zee sedih!" lirih Bias berucap. Kini ia merasa bersalah pada perilakunya beberapa saat lalu.
"Mama akan meminta Ziva masuk lagi! Tapi sebelumnya kamu juga harus menemui Papa juga orang tua Ziva juga. Bukan hanya Ziva, tapi kami semua juga berdoa untuk kamu. Papa juga tadi mendonorkan darahnya untukmu. Ucapkan terima kasih padanya! Orang tua Ziva juga jauh-jauh datang! Kamu harus membiarkan mereka menemuimu juga!" Bias mengangguk.
"Oh ya, Ma. Berarti ... Ma-ma sudah tau siapa orang tua Zee?"
"Nakal! Kalian semua sudah tau dan Mama orang yang paling akhir mengetahuinya, tapi Mama senang! Pantas Ziva baik, sebab ia memiliki orang tua seperti Farid dan Farah yang baik. Mama akan menyayangi Ziva seperti Mama menyayangimu!"
"Terima kasih, Ma!"
"Mama akan minta papa masuk, oke!" Lagi-lagi Bias mengangguk.
..._______________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘
🥀Big Hug untuk kalian semua yang membaca kisah ini hingga bab ini❤️❤️