
"Sya!"
Langkah kaki itu berhenti saat dilihatnya wanita yang dicari sedang berdiri mematung dengan segelas minuman dingin menghadap jendela.
"Yang ...."
"Panggil aku yang benar! Jangan sampai suamimu salah paham!"
Nasya tersenyum getir. "Sorry, terima kasih kamu datang, Bii!"
"Bagaimana aku bisa nggak datang kalau kamu berulang kali menghubungi mamaku dan dia terus mengingatkanku untuk datang. Kamu sangat tau aku paling nggak bisa menolak pinta mama!" Lagi-lagi Nasya tersenyum getir.
Jemari lentik dengan pewarna di kuku-kukunya itu baru saja hendak mendarat di bahu Bias, namun Bias dengan cepat menangkap dan menyingkirkan jemari itu. "Jaga perilaku kamu! Kamu sudah bahagia dengan Reno, tetap jaga semua pada tempatnya. Jaga kepercayaan Reno! Jangan begini!"
"Bii, aku maunya kamu yang ada di samping aku!"
"Sadar, Sya! Bahkan kamu sedang berbadan dua, hamil besar! Tidak ada yang menyangsikan kebahagiaan keluarga kalian! Cinta kalian berdua!Tolong jaga jarak dari aku!"
"Kamu tau apa tentang cinta aku! Bii, apa aku masih boleh mengharapkan kamu!" Mata itu mengiba. Inilah hal yang selalu membuat Bias tak ingin ada di setiap acara Nasya. Nasya selalu mengatakan setiap hal yang membuat hatinya teriris, Nasya bicara seolah hidupnya tak bahagia. Ia seolah masih mengharapkan dirinya.
"Ingat anak di perut kamu! Itu adalah bukti cinta kalian berdua!"
"Tidak perlu cinta untuk membuat anak, Bi! Reno sengaja membuat aku hamil supaya aku nggak bisa lepas dari dia! aku nggak mau hamil lagi, Bii! Aku mau pisah, tapi Reno sangat licik! Semua kebahagiaan adalah kepura-puraan! Reno senang di fasilitasi modal usaha oleh papa jadi dia terus mengikat aku! Bii, aku rindu dicintai, Reno tidak cinta aku, dia cuma suka uang mama dan papa!"
"Sya, please! Berhenti bicara dan mengatakan ini itu tentang suami kamu! Kamu harus menutupi kekurangan yang suamimu punya dan sebaliknya!"
"Menutupi kekurangan akan ikhlas dilakukan jika terbingkai cinta yang banyak, tapi aku nggak punya itu! Kamu tahu itu, Bi! Cintaku ha-nya un-tuk ka-mu!" Jemari Nasya sudah ingin mendarat lagi di bahu Bias, namun Bias dengan cepat memundurkan tubuhnya.
"Hindari pembicaraan ini! Aku mencari kamu, karena kata mama tadi kamu bersama teman aku!" Nasya seketika membuah wajahnya.
"Jadi kamu cari gadis dekil itu!"
"Hati-hati bicara tentang pacar aku! Kamu harus hargai dia!"
__ADS_1
"Bii, kamu nggak usah bohong! Kamu belum bisa lupain aku, gadis itu bukan pacar kamu, i-ya 'kan?"
"Dia pacar aku! Aku ingin memulai lagi, aku akan buka hati untuk dia! Ini aku bicara serius, Sya!"
Mata Nasya berkaca, ia tidak suka mendengar ucapan Bias. "Oke kamu mau buka hati buat gadis lain, tapi aku nggak mau kamu sama gadis dekil itu!"
"Gadis dekil apa? Omongan kamu tuh nggak jelas!"
"Jangan bilang kamu nggak ngenalin dia, Bii! Dia gadis dekil yang dulu saat SMA kirim surat ke kamu, masa kamu nggak sadar sih!"
"Kamu bicara apa sih, Sya? Gadis siapa?"
"Zee! Zivanya! Kamu masih inget anak item dan dekil yang dulu nyatain suka lewat surat sama kamu, jangan bilang kamu lupa dia!"
"Zee juara matematika dan anggota tim basket putri? Kamu aneh-aneh aja sih, jelas mereka beda. Dimana samanya?"
"Mereka satu orang, Bi! Sama-sama juga dari dulu sampai sekarang ngejar-ngejar kamu! Suka kamu!" Bias menggeleng-geleng masih tak percaya dengan ucapan Nasya.
"Gak percaya? Gimana kalau aku bilang kalau dia tadi udah ngaku kalau dia memang Zee, Hem?"
"Aku bilang aja berhenti gunakan cara licik untuk deketin kamu! Eh dia malah lari dan nangis! Aku tuh yakin dia keluarin banyak uang untuk oplas warna kulitnya itu!"
"Stop, Sya! Berhenti berprasangka buruk! Lebih baik kamu fikirin rumah tangga dan kandungan kamu!"
"Bi! Stop! Jangan bilang kamu mau cari dia!" Teriakan Nasya bak ingin lalu. Bias yang tahu seperti apa keluarga Zee sangat tahu Zee tidak mungkin melakukan operasi seperti yang dikatakan Nasya.
Bias seketika berlari ke arah luar Ballroom tanpa menghiraukan sekitar. Otaknya dipenuhi tanya mengenai kebenaran asumsi Nasya. Ada rasa menyesal ia rasa jika semua nyatanya benar, lagi-lagi ia berusaha memanfaatkan Zee. Tapi otaknya juga dipenuhi keheranan, bagaimana mungkin Zee yang dulu dan gadis yang belum lama ia kenal itu adalah satu orang yang sama. Hal yang sangat tidak mungkin, tapi Nasya bisa begitu yakin.
Bias merasa bodoh, bahkan nama gadis itu, nomer ponsel dan segala tentang dia yang Bias ajak malam ini sama sekali tak bias ketahui.
kaki itu masih terus melangkah dengan mata yang terus mengedar sekitar. Bias menyisir setiap tempat, jalan dan apapun yang ia lihat di depan hotel. Kaki itu terus melangkah hingga ia hampir menyerah ia melihat seorang gadis tengah menangis di sebuah kursi.
Langkah itu semakin cepat saja saat diyakini itu adalah gadis yang ia ajak beberapa saat lalu. Jarak keduanya semakin dekat, hingga Bias baru saja ingin duduk di bangku itu pula, seorang lelaki dari arah berlawanan datang dan langsung memeluk gadis itu. Bias kaget melihat sosok yang baru saja tiba itu.
__ADS_1
Bang Jo? Benarkah itu Bang Jo yang sama? Bagaimana gadis itu bisa mengenal Bang Jo? Mungkinkah asumsi Nasya benar, ta-pi___ bagaimana mungkin i-tu Zee?
Bias berbalik, ia merasa harus memastikan semuanya esok dan meminta maaf atas semua yang terjadi.
_____________
"Bang Jo, di-mana? Bisa jemput a-ku? Hiks ...."
"Kamu di mana? Kamu nangis? kamu baik-baik aja, kan?" ucap Jo dari ujung telfon.
"Jemput aku, Bang! A-ku ta-kut!"
"Sharelok posisi kamu, Yang!"
•
•
Mendengar kondisi Zee yang sepertinya tidak baik, dengan kecepatan kencang Johan melajukan motor besarnya. Johan yang sedang bersiap pulang, langsung bergegas ke lokasi yang dikirim Zee. Ia tak memperdulikan sekitar, yang ada di otaknya adalah cepat sampai ke lokasi Zee berada.
Zee masih duduk di bangku itu saat Johan datang. Johan langsung menepikan motor besarnya dan merengkuh tubuh gadis yang sedang menangis, gadis yang sebulan ini menerimanya. kekasihnya.
"Zee, tenang! Ada aku! Aku sudah da-tang!" bisik Johan, tak berselang lama ia merasakan Zee membalas pelukannya.
Keduanya beranjak dari tempat yang ramai dengan lalu lalang manusia. Johan membawa Zee dan ia menepikan motornya ke sebuah taman, sebuah botol air mineral disodorkan Johan, Zee meminumnya. Hingga beberapa saat setelahnya Zee terlihat tenang.
"Mau cerita yang terjadi sama aku? Kamu bukannya bekerja, hem? Kenapa begitu cantik?" Johan mengusap-usap pipi itu dan menaikkan dagu Zee.
"A-ku___
..._________________________________________...
🥀Happy reading😘
__ADS_1
🥀Mampir juga yuk ke karya sahabat literasi bubu ini❤️❤️