
"Yang, ayo lempar!"
"Nggak, Yang! Nanti kena perut kamu!" ucap Bias serius. Zee memang sedang meminta Bias mengoper bola padanya dan Zee akan melakukan tembakan ke ring.
"Aku janji akan stay dan gak akan loncat. Aku tahu kondisi aku, Yang! Aku cuma mau shooting!" lirih Zee.
"Aku kasih bolanya secara langsung ke kamu aja, ya! Nggak usah pakai acara lempar melempar, bahaya untuk kamu, Sayang!"
"Hmm ... atau aku yang akan main basket dan kamu menonton saja bagaimana?" ucap Bias lagi. Zee menatap wajah sungguh-sungguh Bias. "Ya sudah!"
"Oke siap! Kamu duduk di sini saja, yaa." Bias menuntun Zee ke tempat duduk di bawah pohon.
Setelahnya Bias tampak memainkan bolanya, mendribble dengan langkah tidak terlalu lebar dan santai baru mulai mengarahkan bola ke dalam ring. Setelah kecelakaan dulu itu, Bias sudah bisa bermain basket lagi walau tidak bisa segesit dulu.
Beberapa saat berlalu. Dan____
"Yeaaa, kamu keren, Yang!" Zee mengacungkan jari jempol ke atas sambil terus tersenyum.
"Lagi! Lagiii!!" Melihat Zee senang Bias melanjutkan permainannya. Hingga setengah jam berlalu Bias mendekati Zee.
"Udah pulang yuk! Kamu udah keringetan banget. Emang gerah sih, mulai panas!" ajak Bias mengusap keringat yang terus mengalir di pelipis Zee. Zee mengangguk membenarkan udara saat itu sangat terik.
"Yang, tapi aku nggak mau pulang ke rumah kita!"
"Lho, terus mau kemana?" bingung Bias.
"Kita ke rumah mama. Malam ini aku mau nginep di sana!" Bias terdiam beberapa saat.
"Hmm ... yaudah nanti malem kita nginap di sana, tapi sekarang kita pulang dulu, ambil baju ganti sekalian ambil laptop aku," ucap Bias. Zee mengangguk.
_________________
"Masakan mama selalu enak."
"Ahh ... makasih Sayang kamu tuh pinter memuji. Ayo tambah lagi, inget kamu makan untuk dua orang!" ucap Dona dan Zee mengangguk. Kini ia terlihat tanpa malu-malu mengambil lagi nasi dan lauk membuat Bias terus tersenyum.
"Kamu juga mau tambah, Yang?" tanya Zee pada Bias yang sedang menatapnya.
"Nggak, aku ini aja cukup," jawab Bias. Bias mengusap perut buncit Zee baru melanjutkan makannya lagi.
"Bagaimana perkejaan Papa? Apa semua baik?" Zee yang biasanya sungkan pada Libra tampak melontar tanya membuat Dona, Bias dan Dara menatap wajah Zee yang bersikap tak biasa itu.
"Kenapa semua melihat aku? Apa aku nggak boleh bertanya sama papa?" ucap Zee seketika.
"Tentu tidak, Sayang. Papa kan juga papa Ziva, tentu Ziva boleh bertanya apa pun. Apalagi calon cucu cantik papa sedang berkembang di perut Ziva." Kata-kata Dona sungguh membuat Zee bahagia.
"Terima kasih, Mama. Mama wanita baik, pantas memiliki anak seperti kak Bias dan Dara yang juga baik," ucap Zee seketika.
"Kata-kata kamu sangat manis, Sayang. Kamu juga kelak Mama yakin bisa jadi mama yang hebat!" utar Dona meraih jemari Zee dan menggenggamnya.
"Tapi jika Zee butuh Mama merawat anak Zee, apa Mama akan keberatan?"
"Saat kamu kuliah kah maksudnya? Tentu saja dengan senang hati Mama akan menjaga cucu Mama. Sudah jangan bicara terus. Ayo habiskan makannya!" ucap Dona, Zee mengangguk.
Beberapa saat setelahnya, tampak libra sudah menyelesaikan makannya. Ia mengambil tisu dan mengelap mulutnya.
"Papa duluan!" lugas Libra.
"Papa tunggu! Seketika langkah Libra terhenti.
"Cucu Papa masih ingin dekat Opanya. Kalau tidak keberatan, apa kita bisa berkumpul dan berbincang di ruang keluarga?" lirih kata itu terucap penuh harap.
"Tentu saja bisa bukan, Pa? Cucu cantikmu ingin mendengar suara Opanya," celetuk Dona. Libra menatap wajah Zee sekilas yang mengiba. Libra akhirnya mengangguk.
•
__ADS_1
•
"Papa pria yang gigih dan pekerja keras, kelak Papa harus ajarkan anak Ziva menjadi pribadi bersemangat seperti Papa," utar Zee setelah ia meneguk sedikit teh hangat yang dihidangkan sang ART.
"Ada Bias Papanya, bukan? Nanti Papanya akan mengajarkan putrinya!" ucap Libra datar.
"Iya, tentu saja kak Bias akan jadi Papa terbaik, tapi anak Ziva juga butuh sentuhan dan perhatian Opanya setelah terlahir. Agar ia memiliki banyak cinta," kata Zee lagi. Bias hanya menyimak dalam diam. Rangkulan tangan itu semakin kuat. Sebuah dukungan sedang Bias transfer melihat Zee yang berusaha mengetuk hati papanya.
Libra mengangguk. Ya, walau ia tidak banyak bicara setidaknya Zee tahu Libra akan menyayangi putrinya.
"Oh ya Papa, Zee minta maaf karena pernah membenci Papa! Zee marah karena Papa adalah orang yang membuat ayah Zee pernah di penjara. Tapi tentunya kita sekarang keluarga, hal lalu sudah berlalu. Malam ini Zee dengan tulus meminta papa untuk memaafkan sikap Zee. Papa ma-u kan memaaf-kan, Zee?" Libra menatap wajah yang terang-terangan berucap membencinya. Gadis yang sudah menjadi istri sang putra yang sebentar lagi akan melahirkan cucu pertamanya. Ada kegusaran Libra rasa, tapi Libra mengacungkan jempol pada keberanian Zee.
"Papa maafkan!" lugas Libra menatap Zee sekilas dan membuangnya. Mendengar ucapan Libra, seluruh raga dalam ruangan itu menatap Zee dan Libra bergantian. Mereka lagi-lagi tak menyangka Zee begitu berani mencetuskan kalimat itu. Mereka tersenyum kini.
"Papa juga boleh kok mengusap perut Zee! Calon cucu Papa akan senang merasakan kasih sayang Opanya!" ucap Zee lagi sembari meraih cangkir di meja, ia meneguk dan meletakkannya kembali.
"Kalau Ma-ma, apa boleh?" celetuk Dona.
"Boleh dong, Ma. Iya kan, Yang?" ujar Bias menatap Zee. Zee tersenyum sembari mengangguk. Dona langsung berpindah duduk di samping Zee, ia mengusap perut dan berbicara memperkenalkan dirinya di atas perut buncit Zee.
"Pa, ayo sini! Kamu mau cucumu nanti tidak mengenali Opanya? Tidak mau digendong Opanya?"
"Gpp sih Ma, putri Bias kan masih punya Opa Farid kalau Opa Libra gak mau sayang!" celetuk Bias.
"Jaga bicara kamu, Bi! Anak kamu juga cucu Papa!" Libra seketika ikut mendekat membuat seluruh anggota keluarga tertawa. Bias yang bahagia terus mencium kening Zee.
"Kamu hebat!" bisik Bias.
________________
"Yang ... aku mau mampir ke masjid itu!"
"Tapi ini belum masuk waktu Zuhur?" ujar Bias bingung Zee tiba-tiba minta berhenti di sebuah masjid.
"Memang kalau kita ke masjid hanya untuk sholat?"
"Pokoknya ke-sana dulu! Nanti aku kasih tau!" Berhubung tempat yang Zee ingin datangi tempat baik, walau Bias sedikit bingung, ia tetap mengambil setir ke kiri masuk halaman masjid besar itu.
Setelah semalam keduanya menginap di rumah Dona, malam ini Zee mengajak Bias menginap di rumah Farah, rumah orang tuanya. Kini dalam perjalanan ke rumah Farah, Zee yang melihat sebuah masjid mendadak meminta Bias mengentikan lajunya.
"Sekarang bilang? Mau apa ke sini, hem?" tanya Bias mengusap kepala Zee.
"Kamu lupa Yang, dulu kita pernah ke masjid ini?" Bias tersenyum. Ia seketika paham mengapa Zee meminta ke tempat itu.
"Inget, Dong! Karena malam itu kamu udah ngotorin motor dan jaket aku!"
"Hmm, Iya ya, sorry, Yang!" lirih Zee.
Bias seketika tertawa. "Kamu tuh sensitif banget sih, ya aku gak marah dong. Gak pa pa. Bukan aku juga yang akhirnya bersihin." ucap Bias menatap wajah Zee, namun seketika ia bungkam.
"Yang ... kamu baik-baik saja, kan? Kamu se-hat, kan?" lirih Bias mengusap wajah Zee.
"Aku ba-ik. Kenapa kamu tanya itu?"
"Kamu kelihatan pucet. Kalau ada yang kamu rasa, kamu harus bilang sama aku lho!"
"Tapi aku gpp, Yang!" Zee meraih sebuah kaca dari tasnya, ia melihat wajahnya. "Oh, ini pasti karena tadi di kamar kamu cium aku, jadi hilang kan warnanya!" ucap Zee.
"Oh, i-ya bisa jadi. Kamu benar juga." Bias tersenyum. Zee membuka pouch dan mengambil sebuah lipcream. Ia kembali mewarnai bibirnya.
"Nah, sekarang sudah nggak pucat, kan?" lontar Zee.
"Iya, cantik! Cantik banget!" Bias tersenyum.
__ADS_1
"Tapi sekarang aku gemuk ya, Yang?"
"Gpp, yang penting kamu sama princess sehat! Kamu gemuk atau kurus buat aku sama aja. Cantik!" ucap Bias menarik kepala Zee, ia mencium kening Zee. "I love you so much," lirih Bias.
"I love you too." Zee langsung mencium pipi Bias. "Yuk kita turun, Yang!" ucap Zee setelahnya.
_____________________
"Jadi semalam kamu menginap di ruang mama kamu?"
"Iya, Bu. Soalnya seperti ada yang mengganjal sebelum Zee minta maaf langsung sama papa Libra, apalagi Zee sebentar lagi mau melahirkan, Zee maunya nggak ada urusan sama siapa pun. Supaya persalinan Zee dipermudah," ucap Zee sungguh-sungguh.
"Bagus itu! Tapi Libra mau maafin kamu gak?" ucap Farah lagi masih terus memijat bahu Zee.
"Alhamdulillah. Oh ya, Bu____" Zee membalik badan menghadap Farah. Ia menggenggam jemari wanita yang telah melahirkannya 21 tahun silam itu.
"Bu, Zee minta maaf jika sejak Zee bayi sampai sekarang Zee masih sering buat ibu marah, susah dan repot. Bahkan Zee belum bisa membuat ibu bahagia dan bangga." Zee menundukkan wajah. Bulir itu lolos. Farah yang melihat Zee merapuh meraih tubuh itu, Farah mendekap Zee.
"Ibu yang justru sering buat Zee sulit. Zee dan Bias banyak ibu repotkan. Kamu tau, ibu sangat bersyukur punya menantu seperti Bias. Dia baik dan sangat menyayangi kamu. Ibu tenang. Masalah kasih sayang ibu, semua tulus. Jangan pernah bicara kayak gini lagi. Semua kini bersih, ibu sayang Zee, ibu bahagia Zee bisa melewati pernikahan Zee bersama Bias. Zee juga sebentar lagi akan jadi ibu. Selamat Sayang, Zee harus banyak bersyukur kepada Allah!" Zee mengangguk, ia paham maksud ucapan Farah, tentang jasa orang tua tanpa pamrih dan wajibnya kita bersyukur atas apa yang kita miliki dan setiap yang kita dapatkan.
"Eh, ada apa ini?" Farid seketika masuk bingung dua wanita tercintanya sedang menangis. Ia berbaur mengusap bahu Zee. Setelahnya Zee juga meminta maaf pada ayahnya itu.
•
•
"Yang ...."
"Iya?"
"Kamu marah nggak kalau aku mau telfon bang Jo?" tanya Zee seketika membuat Bias menoleh.
"Untuk?" Singkat tanya itu terucap.
"Minta maaf aku pernah menduakan dia!"
"Kita sudah pernah minta maaf kan, Yang?" ucap Bias lagi.
"Aku mau minta maaf lagi," lirih Zee.
"Iya boleh," ucap Bias tak ingin membuat Zee sulit. Istrinya itu harus tenang dan bahagia, begitu ucap dokter saat terakhir mereka periksa dan Bias berusaha mewujudkan itu kini.
"Boleh sekarang telfonnya?" tanya Zee lagi. Bias melihat jam dinding menunjuk pukul delapan lewat lima menit. Karena masih sore, Bias mengangguk. "Makasih, Yang. I love you." Bias tersenyum sembari mengangguk.
Beberapa saat setelahnya, Zee sudah menggenggam ponsel dan mulai bicara pada Johan.
📱Assalamualaikum, bang Jo.
📞Wa'alaikumsalam Zee, ada apa?
📱Bang, maaf aku mengganggu waktu Abang.
📞 Iya gpp santai aja. Ada apa, Zee?
📱Bang, sebentar lagi aku akan jadi ibu, akan melahirkan dan aku menelepon ingin minta maaf sama Bang Jo!
📞Minta maaf untuk apa?
📱Aku pernah menduakan bang Jo! Sikapku kala itu nggak patut ditiru, sangat buruk! Aku sangat merasa bersalah, Bang! Tolong bersihkan seluruh dosa aku sama Abang. Doakan pula semoga persalinan aku dipermudah.
📞Iya aku maafkan. Aamiin, aamiin ya Robbal'alamiin. kamu sudah terlalu sering meminta maaf untuk ini Zee.
Johan bicara lagi setelahnya. Zee mengangguk tenang.
...______________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘😘