ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
KEMARAHAN ZEE


__ADS_3

Maaf Bias! Ibu tidak tahu ada Zee. Zee selama ini selalu membenci orang yang membuat ayahnya di penjara, bahkan tidak hanya Zee, Joy juga dan ibu selalu merahasiakannya tapi sekarang. Ahh___ masalah ini pasti akan berpengaruh pada hubungan kalian. Semua pasti tidak akan mudah untuk Zee."


"Bias akan menerima kemarahan Zee. Oh ya Bu, Bias minta maaf atas semua perilaku papa, papa memang keterlaluan!"


"Insya Allah ibu sudah ikhlas."


"Terima kasih, Bu. Sekarang Bias izin mencari Zee!"


"Baik. Pergilah!"


____________________


"Yang____


Di Taman di muka Rumah Sakit Bias akhirnya menemukan Zee. Ia seketika mendekat.


"Jangan maju, Yang! Aku benci kamu!"


"Yang, aku juga kaget! Aku juga baru tau semuanya!"


"Papa kamu orang jahat! Aku benci kamu! Benci keluarga kamu! Keluarga aku bercerai-berai karena papa kamu! Kami jatuh miskin, ayah dipenjara, ibu kesulitan mencari nafkah. Itu semua karena keluarga ka-mu!" Zee bercucur air mata. Ia tampak sangat sedih.


"Stop! Jangan mendekat! Aku nggak mau kamu deketin aku lagi, Yang! Aku nggak sayang kamu lagi! Aku nggak mau sayang kamu lagi!"


"Please jangan begini dong, Yang! Ini gak adil untuk aku! Untuk kita! Kita baru aja membina rumah tangga, mengembangkan bisnis bareng. Kamu itu semangat aku, Yang! Aku nggak akan biarin kamu jauh dari aku!"


"Sebaiknya kamu pergi! Aku nggak mau lihat kamu! Aku mau sendiri!"


"Yang____


"Pergi!"


"Tapi, Yang____


"Pergi aku bilang!" Bias sadar Zee masih kaget dan butuh mencerna semuanya. Bias pun memberi waktu Zee, ia berbalik dan berjalan menjauh.


"Tunggu!"

__ADS_1


"Yang." Netra Bias berbinar.


"Jangan senang dulu! Aku cuma mau ingetin kamu! Kalau sampai terjadi apa-apa sama ayah aku! Aku nggak akan pernah maafin kamu dan keluarga kamu!"


"Tapi ayah kamu ayah aku juga! Kita harus yakin ayah akan pulih!"


"Sebaiknya kamu banyak berdoa untuk itu!" Zee kini yang berbalik, ia berjalan menuju Rumah Sakit.


____________________


Seminggu berlalu dan Farid sudah dibolehkan pulang. Zee begitu telaten merawat sang ayah. Zee memutuskan menemani ayahnya dan menginap di rumah Farah. Farah berfikir Zee akan menginap satu, dua malam dan pulang, tapi hingga hari ke tiga Zee masih tak juga pulang. Zee tidak pernah membantu Bias menghandle Kafe lagi. Zee mengatakan butuh waktu sendiri. Setiap chat dan panggilan Bias diabaikan. Zee juga tak ingin Bias mencarinya dulu. Zee yang sudah berhenti mengajar sejak fokus mengembangkan bisnis kini menghabiskan banyak waktu hanya merenung di Taman.


Farah sadar Zee berubah karena tahu kebenaran tentang Bias anak Libra. Tapi tindakannya menghindari Bias salah, bagaimana pun Bias adalah suaminya. Farah menelepon Bias, ia meminta Bias menjemput Zee.


Hari menjelang malam. Adzan magrib baru saja berkumandang saat Bias sampai di rumah Farah.


"Maaf Bu, Beberapa hari lalu Bias fokus di Bandung jadi belum sempat menjemput Zee. Bagaimana kondisi ayah, Bu?"


"Ayah sudah lebih baik. Ia sedang ke Mushola bersama Joy dan Zee. Ia tidak tahu kalau hubungan kamu dan Zee merenggang. Ibu harap ayah tidak tahu. Kamu langsung ke kamar Zee saja sana, sholat, istrirahat dan bicara sama Zee dengan baik-baik." Bias mengangguk.


"Kamu kenapa ke mari!"


"Aku mau bicara sama kamu, Yang. Izinin aku masuk, ini kamar aku juga! Ingat, kita jangan sampai membuat kondisi ayah memburuk!" Zee tidak ada pilihan, ia membiarkan Bias masuk.


"Jangan sholat duluan, sholat bareng aku! Tunggu, aku wudhu dulu!" ucap Bias melihat Zee sedang memakai kain sembahyang. Zee yang marah tak mendengarkan Bias ia tetap sholat lebih dulu. Bias yang masuk kamar setelah berwudhu kecewa, tapi ia maklum Zee sedang marah padanya.


Bias sudah selesai sholat berharap bisa bicara pada Zee, tapi Zee sudah ke luar kamar. Zee benar-benar menghindarinya. Bias akhirnya ikut ke luar kamar. Bias yang melihat Farid mendadak ingat belum meminta maaf pada ayahnya itu. Ia mendekat.


"Ayah."


"Kamu Bi. Pasti mau jemput Zee!"


"Iya, betul. Bagaimana kondisi Ayah? Maaf saat pulang kemarin Bias sedang di Bekasi jadi tidak bisa mendampingi."


"Iya tidak apa-apa. Ayah paham kamu sibuk sekarang. Alhamdulillah Ayah sudah pulih."


"Ayah, me-ngenai papa, Bias meminta maaf. Baik di masa lalu maupun masa sekarang, papa masih saja mempersulit Ayah!"

__ADS_1


"Sudah! Ayah sudah melupakan semua. Sebetulnya Ayah sudah memaafkan Libra, tapi entah kemarin kata-katanya selalu memancing emosi Ayah. Tapi yasudah lah, yang terpenting sekarang ayah sudah membaik."


"Terima kasih. Bias bangga pada Ayah!" ucap Bias. Farid tersenyum.


"Beruntung kamu menurun sifat rendah hati Dona, Ayah juga bangga kamu!" Kini Bias yang tersenyum.


"Bias dengar Ayah sahabat mama. Pasti kalian punya banyak cerita. Apa Ayah tidak ingin bertemu mama?"


"Dona. Sudah lama kami tidak bertemu, entah seperti apa dia sekarang. Jujur Ayah rindu, kami bersahabat sejak kecil. Keinginan bertemu ada. Tapi sepertinya tidak Bi, dulu karena cemburu dengan persahabatan itu papamu bisa melakukan hal apa pun. Ayah tidak mau lagi mengambil langkah gegabah yang justru mempersulit ibumuFarah dan anak-anak."


"Bias paham, Yah." Di sisi dinding, Farah dan Zee sama-sama mendengar semuanya. Zee bergeming, ia tidak setuju ayahnya dengan mudah mengikhlaskan semua.


"Dengar itu Zee, tidak ada alasan lagi kamu marah sama Bias. Kami sudah ikhlas, Zee! Kamu pun juga harus ikhlas!"


"Tidak, Bu!"


"Zee!" Farah menarik lengan Zee ke dapur.


"Kamu itu harus sadar, Zee! Bias suami kamu! Kamu pokoknya harus ikut Bias pulang!"


"Zee ingin di sini! Tidak mau pulang!"


"Kamu harus pulang! Kamu punya rumah! Ini bukan rumah kamu lagi!"


"Bu?"


"Kamu juga harus fikirkan kesehatan ayah!"


Acara makan malam baru saja selesai, Bias langsung undur diri dan meminta izin membawa Zee pulang. Zee yang tidak ingin terjadi sesuatu pada kesehatan Farid akhirnya menurut.


Di motor kondisi hening, Zee tidak menjawab setiap tanya Bias. Ia memilih diam sambil menatap pemandangan di sisi kiri kanan jalan. Beberapa kali Bias menarik kedua lengan Zee untuk merapat, tapi Zee selalu menghempasnya.


Sepuluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai ke rumah. Zee langsung masuk ke dalam kamar. Ia melempar bantal dan selimut ke sofa. Zee tidak ingin satu ranjang dengan Bias. Bias berusaha sabar. Malam itu seperti biasa Bias masih berkutik dengan laptop walau malam semakin larut. Hingga pekerjaannya selesai, ia memutuskan untuk tidur. Ia menghampiri ranjang, mengusap lembut puncak kepala Zee dan mengecupnya, Zee yang sudah pulas tidak bergerak. Bias yang rindu istrinya tanpa permisi meraih bantal di sofa dan tidur di samping Zee.


..._____________________________________...


🥀Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2