
"Yangg ...." Eratan jemari itu tidak terlepas saat dua orang suster mendorong brankar itu menjauh dari ruang isolasi. Dua suster tadi memang akan membawa Zee ke ruang operasi.
Netra itu masih saling menatap. Bias merasakan telapak tangan Zee yang mulai basah diikuti keringat yang mulai bercucur di dahi Zee.
"Yang ... Keringet kamu banyak banget, tenang, Yang!"
Netra Zee terus menatap Bias tanpa kata. Wajah itu meringis, ia terus menarik napas dan membuangnya. sesekali bibir tipis itu juga bergerak-gerak, ia berdzikir seperti yang diajarkan Farah. Bias bahkan tahu Zee kesakitan dari pandangan mata Zee, walau ia tidak melontarkannya. Selain itu Bias juga tahu Zee takut. Memasuki ruang operasi seolah momok menyeramkan untuknya. Dada itu bahkan naik turun dengan cepat.
"I lo-ve you, Ya-ng ...." Bias tersenyum getir bahkan disaat menegangkan untuknya itu Zee masih terus melontarkan rasanya.
"I love you too," lirih Bias tak ingin Zee merasa mencintai sendirian dan memang Bias begitu cinta Zee.
"Ka-mu harus dampingi a-ku!" Netra Zee mengiba. Ia takut jika menghadapi semua sendiri. Berada dalam satu ruangan bersama beberapa dokter yang sedang membedah tubuhnya. Zee belum mempersiapkan itu, ia takut.
"Tentu, aku akan di dalam nanti," ucap Bias yakin. Zee mengangguk.
"Yang ... terima kasih banyak su-dah menjadi suami ter-baik," ucap Zee terbata di sela menahan mulasnya.
"Kamu juga istriku yang terbaik." Bias tak peduli ada suster dan dua pasang orang tuanya, ia menciumi wajah Zee.
"Ka-mu harus ja-di papa terhebat nan-ti!" lirih Zee lagi.
"Sudah jangan bicara lagi! Pasti, kamu juga akan jadi mama terhebat!" Zee tersenyum.
"Pak, istrinya jangan diajak mengobrol terus, ya!" ucap salah satu suster yang ingin Zee fokus pada kandungannya saja dan tidak banyak bicara. "Maaf, Sus," ucap Bias. Ia kini hanya mengusap dahi Zee saja sambil sesekali mendaratkan kecupannya.
"Sampai sini ya, Pak." Eratan jemari Zee semakin kuat mendengar suster meminta Bias berhenti.
"Bukannya saya bisa ikut masuk, Sus?" tanya Bias bingung.
"Iya nanti kami akan memanggil Bapak, namun untuk tindakan awal, dokter harus lebih fokus jadi Bapak belum bisa masuk.
"Yang ...." Zee yang takut terus mengiba minta Bias mendampinginya.
"Saya berjanji tidak akan mengganggu Dokter, Sus. Tapi tolong izinkan saya mendampingi istri saya."
"Maaf kami tidak bisa melanggar ketentuan. Bapak segera akan masuk kok," ucap satu suster.
"Ibu yang tenang ya, Bu! Sementara suaminya menunggu di luar, tapi nanti kami akan mengizinkan suami ibu masuk di waktu yang pas," ucap suster yang lain.
"Yang ...." Zee masih saja tak mau mendengar. Satu yang ada di otaknya, ia ingin didampingi sang suami. Zee masih menggenggam kuat jemari Bias saat suster membuka pintu operasi dan mulai menuju brankar lagi, ia mendorongnya.
"Sus, tolong beri kami waktu sebentar!" Melihat Zee menangis, Bias menghentikan laju brankar. Kedua suster berpandangan baru keduanya mengangguk. Bias mendekati brankar.
"Yang, kuat ya! Jangan berpikir buruk! Tetap positif thinking! Kamu hanya menjalani ini beberapa jam dan semua perjuangan berakhir. Kita akan memeluk putri kita dan hidup bahagia setelahnya, selamanya. Aku, kamu dan bayi kita. Kamu sayang aku, kan?" Zee mengangguk cepat. "Mau berjuang, kan?" Zee memejamkan mata sesaat, menangis dan mengangguk.
"Istriku yang pintar! I and we all love you, waiting you come back with our princess!" bisik Bias setelahnya. Tampak Dona, Farah, Farid dan Libra turut mendekat, ikut mencium dan memberi semangat untuk Zee.
"Papa akan bangga saat kamu keluar dengan cucu Papa! Semangat, Sayang!" ucap Libra, seketika zee menangis. Inilah pertama kali Libra mengucapkan Sayang padanya. Libra mengangguk menghapus bulir itu. Zee tersenyum.
" Maaf sudah ya! Pasien harus ditangani!" lugas seorang suster, ia mendorong brankar kembali. Eratan jemari itu belum terlepas, hingga brankar masuk ke dalam ruang operasi, jemari Bias seketika tak terasa lagi dari jemarinya.
•
•
"Siapkan transfusi, darah yang keluar sangat banyak!" ucap seorang dokter pada suster.
"Berapa perkiraan berat bayi menjelang persalinan?" tanya seorang dokter bedah yang juga berseragam hijau seperti halnya dokter Aira.
"3,9 kg."
__ADS_1
"Hah? Kenapa begitu besar? Saat ke luar pasti lebih besar. Pasien sepertinya masih sangat muda!" ucap Dokter lagi sembari melakukan pembedahan.
Zee mendengar semua, ia menarik napas dan berusaha tenang. Ia sudah pasrah dan ikhlas dengan apa yang terjadi. Walau ia sedih tak ada Bias saat ini, tapi setidaknya ia membawa cinta Bias selamanya. Kini ia hanya bergeming sambil terus melantunkan dzikir. Ia sadar pertolongan manusia sepenuhnya hanya hal kecil dari pertolongan Pencipta itu sendiri. Kini ia meminta Pencipta berbelas kasih padanya.
"Pastikan pasien tetap sadar!" ucap dokter Aira pada seorang suster.
"Apa suaminya sudah bisa masuk, Dok?" tanya seorang suster.
"Suruh dia masuk, dia akan menguatkan istrinya!" ucap Aira.
"Jangan! Pendarahannya cukup banyak! Kita panggil saat bayinya sudah ke luar saja!"
"Tapi, Dok!"
"Jangan membantah!" Aira yang merasa junior seketika tercekat.
"Darah golongan A hanya ada 2 kantong, Dok!" ucap seorang suster yang baru saja tiba.
"Minta donor dari keluarganya. Cepat!"
Suster pun seketika ke luar meminta apa yang dibutuhkan Zee. Farid seketika maju. Bias semakin tidak tenang saja.
"Saya ingin masuk, Sus! Mengapa saya tidak juga diperbolehkan masuk? Bagaimana kondisi istri dan anak saya? Anda meminta donor di saat genting. Apa Rumah Sakit ini tidak ada persediaan darah cukup!" gusar Bias.
"Maaf banyak pasien kecelakaan dan persalinan yang membutuhkan donor belakangan ini, Pak. Sedang stok bank darah juga minim. Permisi!"
"Bilang pada Dokter saya ingin masuk!" Bias yang tampak emosi berteriak.
"Saya akan meminta izin dokter dahulu." Suster masuk bersama Farid. .
Pengambilan darah dilakukan, berhubung Farid memiliki riwayat jantung, suster hanya berani mengambil 2 kantong darah.
"Suami pasien memaksa masuk, Dok!"
•
•
"Yang." Zee tersenyum dalam diam. Ia bahagia tapi merasa begitu lemah karena memang darahnya banyak yang ke luar. Ia hanya terus berdzikir saja, namun pandangan matanya terus mengekor pada wajah Bias. Ia sangat suka wajah itu, wajah lelaki tercintanya.
"Heii, Yang! Jangan tidur." Zee yang lemah baru hendak memejamkan mata tapi Bias menyapanya. Bias tampak terus bernyanyi dan bercerita apa pun agar membuat Zee tetap sadar. Zee pun berusaha tetap fokus.
Hingga beberapa saat. "Oek ... oek ...."
Pekikan tangisan bayi menggema. Bias menciumi Zee, " Putri kita sudah lahir, Sayang!" bisik Bias, Zee memaksa tersenyum. Ia bahagia melihat rahut bahagia Bias. Bias seketika berdiri melihat suster tengah membersihkan bayinya, sedang Zee menatap sekitar seolah ada kakek dan neneknya yang telah tiada ada di sana. Mereka tersenyum dan Zee membalas senyuman itu.
"Bayi cantik yang memiliki tanda cinta," ucap dokter Aira di kejauhan membuat Bias semakin tak sabar melihat bayinya.
Tak berselang lama dokter Aira menyerahkan bayi itu pada Bias, Bias menangis haru. Ia terus menciumi bayi itu, ia mengusap dahi banyinya yang begitu spesial sebab terdapat tanda lahir berbentuk hati di sana. Bias kini mengadzani bayinya, lirih dan menyentuh, baru setelahnya membawa bayinya pada Zee.
Bias mendekatkan bayinya ke wajah Zee, Zee menangis haru. Bias membiarkan bayi cantik itu seolah memeluk wajah Zee, ia menahan bayinya agar tidak jatuh. Bayi cantik itu sangat tenang, Ia memainkan bibirnya di hidung Zee seolah sedang menyusu. Zee hanya bisa menangis sebab ia merasa pandangannya semakin jauh, ia merasa begitu lemah, ia menggerakkan bibirnya baru setelahnya pandangannya mendadak gelap.
"Tuuttttttt." Dokter seketika kaget mendengar bunyi dari layar di sisi ranjang pasien.
"Dok, mengapa istri saya tidak sadar?" gusar Bias mengangkat tubuh bayinya dari wajah Zee. Bayi itu menangis.
"Ma-af, Pak!"
...____________________________________...
__ADS_1
Putri kecil spesial berusia 1 tahun tampak gusar. Farah dan Dona bergantian menghibur, tapi putri kecil itu terus gusar, ia menangis. Libra mendekat menggendong bayi itu, sang putri terdiam sesaat mengusap wajah Libra dan kembali menangis. Putri kecil sadar itu bukan wajah yang dicarinya, hanya mirip.
Putri kecil yang baru bisa berjalan itu tampak bingung. Ia menuju sebuah kamar tapi tidak menemukan sosok yang dicarinya. Farid yang baru ke luar dari toilet langsung meraih tubuh kecil itu, tapi sang putri meminta turun, ia kembali berjalan.
Di ruang keluarga 3 uncle dan aunty kecil, Dara, Joy dan Zaa bergantian menggendong tapi sang putri kecil justru menangis. Ia berjalan lagi ke arah teras. Pria muda bersama seorang wanita langsung tersenyum dan meraih tubuh mungil dengan wajah tak membuang mamanya, mantan kekasihnya. Ialah Johan yang juga datang hari itu di satu tahun usia sang putri sahabat. Putri itu terus menggeleng dan meminta turun, tubuh itu sama tegapnya tapi bukan sosok yang ia cari.
Wanita di sisi Johan dengan cincin melingkar di jari manis berusaha menenangkan putri cantik itu. Tapi lagi-lagi sang putri menolak, hingga sebuah mobil masuk ke pelataran wajah putri kecil berubah semringah. Ia hapal mobil itu. Tawa sang putri terdengar riang saat sosok raga tegap keluar dari mobil dan kini mendekat. Johan menahan tubuh kecil yang baru saya hendak melangkah mendekati orang yang ditunggunya. Johan mengangkat tubuh itu.
"Pa Pa Pa ...."
Ia Bias yang baru saja datang dengan 1 buket mawar besar yang dirangkai berbentuk hati begitu semringah menatap wajah sang putri di kejauhan. Ia terus tersenyum, hingga jarak keduanya mengikis. Sang putri kecil langsung mengarahkan sepasang tangan ke arah Bias. Bias tersenyum. Ia meraih tubuh itu masuk dalam dekapannya, menciuminya lembut.
"Pa-pa," celoteh sang putri kecil dengan tawa mengembang, ia tampak nyaman memeluk papanya.
"Udah lama lo dateng, Bang?" tanya Bias pada Johan.
"Lumayan."
"Selamat atas pernikahan lo sama mbak Lastri, semoga samawa dan menua bersama until Jannah." Bias menunduk sesaat baru mengangkat wajah lagi. Ia tersenyum. Memaksa tersenyum. Doa indah yang bukan miliknya. Ia tak bisa menua bersama wanita tercintanya.
"Gue masuk sebentar ya, Bang!" Johan yang memilih duduk di teras mengangguk.
"Bii, sudah pulang, Nak?" tanya yang hanya ditanggapi Bias dengan anggukan. Bias tampak tersenyum pada empat raga paruh baya yang sudah bersusah payah mempercantik rumahnya dengan aneka pita dan balon berbentuk hati demi menyenangkan cucu mereka.
"Semuanya, Bias mohon izin ke kamar sebentar!" Tak menunggu jawab, Bias langsung melangkah membawa sang putri masuk ke dalam kamar mereka. Netra Bias langsung mengarah pada figura besar di dinding. Ia mendekat dan menatap lekat wajah pengisi hatinya yang kini telah tenang di alam berbeda.
"Ma Ma Ma ...."
"Iya itu Mama, Sayang! Mama cantik sekali seperti kamu."
"Sayang ... kamu sedang apa? Apa kamu merindukan aku seperti aku yang selalu berharap semua hanya mimpi dan kamu tiba-tiba datang. Ahh ... maaf, terkadang aku lupa harus menjadi Papa yang kuat. Sejujurnya aku butuh kamu, Yang! Aku rindu kamu! Putri kita rindu kamu! Lihat putri kita kini sudah satu tahun, Yang! Astagfirullah ... ampuni hamba ya Robb, semua pasti yang terbaik." Bias menunduk sesaat.
"Aku akan memenuhi janjiku untuk menjadi papa terhebat untuk putri kita, Yang! Putri kita yang spesial dan memiliki tanda cinta orang tuanya, cinta kita." Kini Bias mengarahkan pandang pada sang putri yang tengah memainkan kancing kemejanya.
"Hai Beloved Bivanya Bias, Papa janji akan membuat kamu selalu bahagia, Sayang." Seketika Bias terdiam.
•
•
"Kenapa Beloved Bivanya Bias?" Bias bertanya pada Zee setelah Zee melontarkan nama yang ia siapkan untuk calon putri keduanya.
"Beloved artinya kesayangan, Bivanya paduan Bias dan Zevanya, sedang Bias sendiri sebagai tanda ia anak kamu."
"Pa Pa Pa ...."
"Eh maaf, Sayang. Maaf papa mengacuhkan Biv! Oke ayo sekarang kita keluar dan memotong kue bersama Opa dan Oma!"
..._____________________________________...
🥀Thanks for big support until this part❤️❤️
🥀Tau gak, sejak beberapa hari lalu aku tuh nulis sambil nyesek endingnya akan begini. Gak tega, nulis gak kelar2, makanya kesedihan Bias di Rumah Sakit gak aku jabarin😭😭
🥀Maaf jika endnya tidak sesuai, semoga ada ilmu yang bisa dipetik dari kisah Romansa Bias dan Zee ini😔
🥀Mengapa Zee dibuat meninggal? Sejak awal kisah yang disajikan adalah kisah cinta tak terbalas Zee. Zee kini sudah tenang dan bahagia. Ia sudah merasa memiliki Bias sepenuhnya. Ia puas dan sangat bahagia dengan hidupnya. Jatah sedih dan bahagia Zee sudah cukup. Ia ikhlas dengan semua. Jadi maaf Zee dibuat meninggal🤧🤧
🥀Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan dan kehaluan berlebihan penulis🙏🙏
Bubu love you all always😍😘😘
__ADS_1