ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MEMPERSIAPKAN


__ADS_3

"Hallo Assalamu'alaikum ...."


"Iya, wa'alaikumsalam, siapa ini?" Seorang wanita paruh baya yang sedang bersantai mengangkat telepon rumah yang berdering di sampingnya.


"Dito, Tante."


"Eh, kamu Dit. Ada apa ya?"


"Biasnya ada, Tante?"


"Hmm ... Biass___ maaf Biasnya barusan ke luar tuh, Dit. Kalau boleh tau ada perlu apa ya, Dit?" Wanita paruh baya sesaat bingung menanggapi tanya Dito, tapi ia memperoleh alasan.


"Dito cuma mau mastiin Tante, apa betul Bias mau jual Ducatinya?" Dona kaget mendengar yang ia dengar, tapi berusaha tenang.


"Lho, kamu tau berita itu darimana, Dit!"


"WA-grub SMA, Tante. Ada postingan motor Bias dijual." Wanita paruh baya yang merupakan Dona, mama Bias dibuat tercekat dengan hal yang baru ia ketahui. Ia terdiam sesaat.


"Tantee___


"Eh ia, sorry. Hmm Dito____


"I-ya, Tan?"


"Kamu bisa bantu Tante____


...________________________________________...


Rasa bahagia Bias tak tergambar, sepanjang pulang dari rumah Dito setelah menyerahkan motor dan mendapat pembayarannya Bias tak henti tersenyum. Ia yang ingin menggunakan waktu sebaik mungkin, langsung menuju showroom dengan diantar ojek online. Ya, kendaraan sebagai mobilitas itu penting, terlebih ia akan merealisasikan usahanya. Banyak hal yang ingin Bias lakukan.


Bias melihat-lihat kendaraan second hasil tarikan perusahaan leasing, tapi tidak ada yang cocok untuknya. Akhirnya ia melihat daftar motor baru dan tercengang, harga motor baru ternyata sangat murah, menurut Bias😄


Ya, Ducati Bias sesuai harga pasaran barang second memang ia lepas dengan harga 500juta. Jadi melihat PCX seharga 30-35 juta buatnya sangat murah. Tanpa pikir panjang Bias mengambil PCX putih untuk mobilitasnya.


Setelah semua berkas pembelian selesai, Bias langsung berkeliling. Ia mencari lokasi usaha sesuai deskripsi otaknya, di tengah kota, dekat kampus, atau pusat perbelanjaan. Hingga beberapa ruko kosong di beberapa tempat sudah klik dengannya, ia hanya tinggal meminta pendapat Zee yang mana dari ruko-ruko itu yang menurut Zee paling pas. Sebab usaha ini di gadang sebagai usaha bersama untuk masa depan mereka, maka pendapat dan saran Zee sangat penting untuk Bias.


Sore itu Bias ke rumah. Zee dan Zaa langsung ke luar rumah melihat motor asing berhenti. Zee aneh melihat helm Bias di kepala si pengendara dan ia bertambah dibuat kaget saat si pengendara membuka helm dan nyatanya itu benar-benar Bias.


"Yang, i-ni mo-tor____

__ADS_1


"Motor kita!"


"Ducati kamu udah laku?"


"Alhamdulillah udah!" Zee langsung tersenyum merona. Ia sangat bahagia, baru saja kemarin ia melihat Bias begitu pesimis kini wajah semringah penuh semangat ditampilkan Bias.


"Ini kayak bukan bekas, Yang?" tanya Zee sambil memperhatikan motor di hadapannya. Kemarin memang Bias melontar ingin mencari motor second yang murah saja.


"Ternyata yang baru murah, Yang. Aku ambil yang baru aja. Barang second kita juga nggak tau ada penyakitnya apa nggak."


"Emang masih ada lebihnya nanti, katanya mau buat modal!"


"Masih banyak lebihnya, Sayang. Dari perhitungan aku masih cukup juga buat nabung."


"Emang laku berapa motor ka-mu?" Zee masih tampak bingung melihat motor baru itu dibilang murah oleh Bias.


"500!"


"Juta?"


"Iya." Netra Zee membuat, ia meletakkan kedua tangan ke mulut, Zee kaget.


"Yaudah kamu siap-siap sana! Aku mau tunjukkin beberapa tempat usaha yang aku suka lokasinya, kamu bantu pilih!"


"Zaa boleh ikut?" Gadis kelas 3 SD yang terus mengusap motor baru calon kakak iparnya mendadak menatap wajah Bias dan Zee bergantian.


"Bener Zaa mau ikut?" Bias memastikan. Zaa mengangguk.


"Yaudah boleh, sana siap-siap juga!" Zee dan Zaa masuk ke dalam setelahnya, Bias mengekor. Ia berbincang dan menceritakan semua yang terjadi pada Farah sambil menunggu 2 gadis bersiap.


__________________


Seminggu berselang, Kafe Bias telah siap. Tempat, dekorasi, cat, furniture, jenis menu, bahan telah disiapkan. Hampir seminggu ini Bias dan Zee pulang larut. Bagaimana tidak, keduanya memilih menghias sendiri kafe mereka.


Kafe yang diberi nama Z & B 'de Master Steak, dikonsepkan Bias menyerupai sebuah lapangan basket sesuai hobi keduanya. Dominasi hijau, orange dan hitam menjadi pilihan mereka. Gambar bola basket dan keranjang 3 dimensi tampak cantik menghiasi dinding berwarna hitam dengan lantai rumput sintetis menghijau.


Untuk penyajian, konsep lesehan diterapkan di Kafe itu. Duduk santai menikmati menu bersama pasangan sambil memperhatikan anak-anak bermain game coin memasukkan bola ke dalam keranjang serta wahana mandi bola dengan ribuan bola-bola kecil menyerupai bola basket akan membuat para bocah suka dan betah berlama di sana. Lokasi bermain di sudut diperkirakan pula tidak akan mengganggu pengunjung yang sedang menikmati hidangan.


Untuk karyawan, Bias menarik ex chef yang telah resign dari restoran papanya. Jelas chef itu tidak diragukan dalam memasak. Untuk waiters, karena Kafe itu masih berkembang, Bias dan Zee memilih melayani langsung pengunjung mereka nanti. Jadi sementara mereka tidak mempekerjakan pelayan. Untuk kostum, menyesuaikan tema cafe, Bias dan Zee akan menggunakan pakaian basket dalam menjalankan bisnisnya.

__ADS_1


__________________


"Pelan-pelan dong, Yang!" Bias tampak memejamkan mata sambil duduk lesehan di atas rumput sintetis Kafenya. Tampak di belakangnya Zee fokus memijat bahu Bias. Zee memang sadar Bias pasti lelah setelah menghandle semuanya.


"Eh, jam berapa sekarang, Yang?" tanya Zee sebab posisi jam dinding agak jauh dari tempatnya berada. Bias memutar lengan hingga tampaklah angka-angka dalam analognya.


"Jam sebelas."


"Ahh, waktu kenapa cepet banget sih," lirih Zee. Bias tersenyum.


"Sabar ya, Yang ...." Bias tau Zee pasti lelah juga dan besok mereka sudah harus mulai berjuang. Besok adalah hari pertama Kafe mereka akan dibuka. Zee menatap Bias, ia mengangguk.


"Yauda ayo aku anter pulang a-tau malem ini kamu mau tidur di sini aja!" Bias menarik alisnya.


Sejak seminggu lalu Bias memang jarang tidur di kontrakan. Berhubung Kafe itu dua lantai dan baru bagian bawah yang sementara digunakan, bagian atas yang kosong dipakai Bias untuk menginap. Bias berfikir mengurangi mobilitas juga.


"Kamu mau digetok ayah? Yang ada kita gak direstuin nikah kamu mau?"


"Duh serem banget sih kamu ngomongnya, Yang! Yaudah yuk buruan aku anter kamu pulang! Aku nggak mau ayah kamu mikir macem-macem sama kita!" Zee yang melihat rahut panik Bias seketika tertawa.


"Kok malah ketawa sih?"


"Habis kamu lucu lagi panik gitu, aku bercanda Sayang," ucap Zee masih terus tersenyum.


"Zee ...."


"Hem?"


"Terima kasih." Zee mengangguk dengan semangat.


"Boleh ini?" Bias mengusap bibir itu. Zee menggeleng.


"Kenapa?" Bias menarik tubuh Zee.


"Kan kamu yang bilang yang ketiga setelah nikah! Udah yuk pulang!" Zee seketika berdiri.


..._______________________________________...


🥀Happy reading,😘

__ADS_1


__ADS_2