
"Halo, benar ini kerabat dari saudara Bias Putra Samudra?"
"I-ni siapa? Be-nar, itu nama suami saya."
"Saya hanya ingin memberitahu bahwa saudara Bias Putra Samudra mengalami kecelakaan dan saat ini sedang ditangani pihak Rumah Sakit HARAPAN MULIA."
"Kecelakaan? Lalu bagaimana kondisi suami saya, Pak?"
"Ibu langsung ke Rumah Sakit saja untuk mengetahui lebih jelas kondisi pasien."
"Ba-ik, Pak."
Ahh bagaimana ini? Ibu ... aku harus hubungi ibu! Tunggu! Nggak! Kalau menelepon ibu dan ayah dengar akan tidak baik untuk ayah. Bagaimana ini ... aku nggak bisa ke rumah sakit sendiri, aku takut! Tapi di jam ini ayah belum pulang narik angkot. Oke aku akan telfon ibu.
"Apa Zee?" Suara Farah langsung terdengar nyaring.
"Ibu, kak Bias, Buu!"
"Ada apa dengan Bias?"
"Kak Bias kecelakaan dan Zee diminta datang ke Rumah Sakit!"
"Rumah sakit apa? Datang, cepat datang ke sana, Nak!"
"Tapi Zee tidak tahu daerah Bandung!" Zee terlihat gusar.
"Bagaimana ya? Ibu juga tidak bisa meninggalkan ayah, Sayang! Andai ibu beritahu ayah, ibu khawatir akan keadaannya. Hem, orang tua Bias! Hubungi orang tua Bias, Sayang! Dona! Hubungi Dona!"
"Tapi Zee tidak tau nomer tante Do___
____Eh, sebentar Bu! Zee ingat sesuatu! Nanti Zee akan hubungi ibu lagi."
Zee langsung beranjak ke kamar. Ia tiba-tiba teringat Bias menyimpan ponsel lamanya di lemari. Zee segera mencari dan tak lama ia menemukan ponsel itu. Berhubung ponsel dalam kondisi mati, Zee akhirnya men-charge sejenak hanya untuk menyalakannya saja. Ponsel itu dapat menyala dan Zee tidak membuang waktu. Ia segera mencari kontak atas nama Dona, namun Zee tidak menemukan. Zee mencari lagi, kini ia memulai dengan huruf i (ibu) Zee masih tidak menemukan. Hingga Zee mencoba huruf M untuk Mama baru ia menemukan.
Mama tentunya mama Dona, oke aku akan menghubungi nomer ini.
Zee mulai menyerah saat panggilan ke nomer ponsel Dona tak jua diangkat. Zee berinisiatif mengirim pesan menyatakan bahwa dirinya lah yang baru saja menghubunginya. Zivanya, istri Bias. Tak lama sebuah panggilan masuk ke ponsel Zee. Mama Dona meneleponnya.
"Halo Ziva, ada apa Sayang? Maaf tadi panggilanmu tidak mama angkat karena nomermu belum tersimpan di kontak mama." Seperti Biasa Dona berucap sopan pada Zee. Beberapa orang memang menghindari panggilan dari nomer yang tidak dikenal dan Dona salah satu penganutnya.
"Tante, tadi ada orang menghubungi Zee. Ia mengatakan Kalau kak Bias ke-cela-kaan di Bandung! Apa yang harus kita lakukan, Tantee!"
"Be-nar-kah? Bias ... Biasku ... Ziva, di mana posisimu? Kamu sudah menuju Bandung, 'kah?"
"Belum, Tante! Zee takut sendiri!"
__ADS_1
"Oke berikan alamat kamu! Tante akan menjemput dan kita akan ke sana bersama."
"Baik, Tante."
"Ziva, sambil menunggu Tante menjemput, kamu bersiaplah! Masukkan beberapa keperluan Bias ke dalam tas, oke!" ucap Dona lagi
"Iya, Tante."
•
•
Pukul 5 sore mobil Dona sampai di Rumah Sakit. Dalam perjalanan, Dona menghubungi Libra dan mengabarkan yang terjadi. Libra memang keras dan sedang marah pada Bias, tapi Libra tetaplah seorang ayah. Kini hatinya terus bergemuruh. Putranya kecelakaan sesaat setelah menemuinya. Ada rasa takut di hati itu. Takut kehilangan sang putra.
Di rumah bilangan Jakarta, Farah yang tidak tenang walau tahu Zee sudah ke Rumah Sakit bersama Dona akhirnya perlahan memberitahu pada Farid, bagaimana pun ada rasa takut di hati Farah membiarkan Zee sendiri di tengah keluarga Libra. Farah meminta Farid tetap tenang, Farid menurut. Keduanya kini memesan taxi online menuju Bandung. Mereka tidak memikirkan lagi biayanya. Farah mengeluarkan sedikit simpanannya. Penting baginya berada di samping Zee saat ini.
___________________
"Hah? Operasi? Apa kondisi suami saya parah, Dok?" lirih Zee berucap. Ia sangat takut terjadi hal buruk pada Bias. Zee seketika merasa bersalah, belakangan ini ia sudah terlalu egois pada Bias. Ia mengenyampingkan rasanya karena sebuah dendam masa lalu yang bahkan kedua orangtuanya sendiri sudah mengikhlaskannya. Kini Zee sangat takut ditinggalkan.
"Ada tulang yang patah dibagian kakinya dan harus dilakukan tindakan operasi. Ini form yang harus ditandatangani pihak keluarga sebelum operasi kami lakukan!"
Dona tidak ingin mengulur waktu, tindakan harus segera dilakukan. Kini Dona tampak menandatangani kertas tersebut.
"Yang ... aku minta maaf! Kamu harus sembuh, Yang! Jangan tinggalin aku, Yang!" Zee terus berbisik dan menciumi wajah dengan beberapa luka yang sudah dibersihkan itu.
"Begitu kah, Ma?"
"Iya. Ayo kita duduk di sana!" ucap Dona menutupi cemasnya. Dona dan Zee sedang berjalan beriringan mendekati kursi ruang tunggu saat Libra yang baru datang mendekat.
"Sayang, bagaimana Bias?" tanya Libra sembari mencium pipi kanan dan kiri Dona bergantian. Wajah itu tampak panik. Zee spontan membuang wajahnya, melihat wajah Libra mengingatkan Zee akan keperihan hidupnya ketika itu.
"Baru saja Bias dibawa ke ruang operasi, Pa."
"Operasi? Operasi apa?" gusar Libra, ia masih belum menyadari kehadiran Zee.
"Patah tulang di bagian kaki."
"Ahh, anak itu! Apa tidak bisa berhati-hati mengendarai motor!"
"Tenang, Pa! Mama juga khawatir, tapi kita tidak boleh panik! Kita percayakan semua pada dokter!" lugas Dona. Libra seketika menangkap wajah Zee.
"Untuk apa dia di sini?" Wajah panik Libra seketika berubah jadi wajah sangar.
"Bicara yang sopan, Pa! Dia istri Bias, menantu kita!"
__ADS_1
"Menantu? Aku tidak pernah merestuinya!"
"Pa! Jangan bahas ini dulu! Kita fokus pada penyembuhan Bias.
"Permisi, Pak!" Seorang lelaki muda berkaca mata mendekat.
"Bagus kamu sudah datang! Segera cek kondisi motor yang digunakan Bias di kantor polisi! Cari tahu apa yang sebetulnya terjadi! Mungkin saja ada campur tangan orang yang membenciku di sini!"
Zee seketika menoleh. Zee memang membenci Libra, terlebih setelah kata-katanya yang secara jelas terdengar di hadapannya yang seolah menduga-duga sesuatu.
Perencanaan? Cih! Tidak semua orang berfikir licik sepertimu, Om!
"Sudah, ayo kita duduk, Pa! Ayo Ziva!" ajak Dona setelah melihat Tyo pengacara keluarga mereka menjauh.
"Aku di sana saja!" lugas Libra. Dona mengangguk.
30 menit ...
1 Jam ...
Tampak seorang perawat menghampiri Dona. "Apakah ada keluarga pasien yang bergolongan darah AB?"
AB? Papa.
"Papa!" panggil Dona. Libra mendekat.
"Pa, Bias membutuhkan darah Papa!"
"Oke, ayo!" lugas Libra. Ia ikut perawat masuk ke ruang operasi.
"Tante, Zee izin ke Mushola!"
"Oh iya, Sayang. Kamu tahu tempatnya?"
"Tadi saat masuk Zee lihat tulisan mushola di lantai bawah."
"Oh oke. Kamu pergilah lebih dulu, kita bergantian."
...___________________________________...
🥀Happy reading,😘😘
🥀Mampir ke karya sahabat literasi bubu ini, yuk❤️siapkan tisu yang banyak yaa😍
Author : Novi putri ang
__ADS_1
Judul : Kembaranku Maduku
Melati Atmaja dan Mawar Atmaja adalah saudara kembar yang terpisah sejak mereka kecil. Mereka dipertemukan kembali setelah dewasa. Diam-diam Mawar mencintai Rafael suami dari kakak kembarnya sendiri. Melati yang di anggap mandul dan tidak bisa memberi keturunan selalu dihina oleh ibu mertuanya. Hingga Mawar merebut suami kakaknya dan didukung oleh ibu mertuanya, karena saat itu Mawar sedang mengandung anak Rafael, setelah mereka melakukan hubungan terlarang itu. Bagaimana kisah hidup Melati selanjutnya, setelah saudara kembarnya menjadi penghancur rumah tangga dalam hidupnya?