ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
KAKAK CINTA PERTAMAKU


__ADS_3

"Kak ... Kakak, masuk Kak! Ini hujan, nanti Kakak sakit!" pekik Zee.


Melihat Bias yang kehujanan dan terlihat tidak baik, Zee spontan turun ke lantai bawah. Kini ia tampak berdiri mematung di sisi kolam renang yang tertutup atap sebagian. Netranya terus mengarah ke arah lapangan basket di samping kolam renang.


Bias asik dengan aktivitasnya dan tak menghiraukan kehadiran Zee. Ia terus memantul-mantulkan bola, berlari menggiring bola dan melakukan tembakan asalnya. Suara Zee bagai angin lalu yang tak terdengar, Bias terbawa fikir otaknya sendiri.


Zee yang melihat hujan semakin deras, berlari ke dalam rumah. Saat ia datang, ia tak sengaja melihat tempat payung di ruang tamu. Ia dengan cepat berlari keruang tamu mengambil satu payung, membukanya dan segera berlari ke arah Bias.


"Kakak stop, Kak! Kak Bias kenapa? Jangan begini! Ayo masuk, Kak!" Zee menahan bahu itu, tapi tenaga Zee tidak cukup kuat. Zee mendekat lagi, kini menahan wajah Bias. "Kakak stop! Aku tidak mau Kakak sakit!" Netra Zee mengiba, Bias menatap wajah itu.


"Hai Zee yang cantik, kamu juga pemain basket, 'kan? Ayo kita bertanding, Sayang!"


"Iya besok kita bertanding, tapi sekarang kita masuk ke dalam rumah! Ini hujan Kakak!"


"Aku ingin bermain basket sekarang!"


"Kak, Kakak kenapa? Please sadar, Kak!"


"Kamu pasti bukan Zee yang sama, kamu tidak bisa bermain basket, kamu berpura-pura menjadi Zee untuk dekat denganku! I-ya, kan?"


"Kakak aku Zee, aku Zee yang dulu bermain basket dengan Kakak!"


"Bohong!"


"Benar, Kak!" Mata Zee terus menatap Bias. Bias menarik payung yang digenggam Zee dan menghempaskannya.


"Kalau begitu ayo terima bola ini!"


"Ka-k!"


"Ayo!"


Zee akhirnya mengikuti permainan Bias, ia menangkap bola yang dilempar Bias. Zee terus memantul-mantulkan bola sambil menatap wajah itu. Saat bersiap menembak, Zee berkata. "Janji, jika aku berhasil memasukkan bola, Kakak harus ikut aku masuk!" Bias tersenyum meremehkan kemampuan Zee, ia mengangguk setelahnya.


Zee yang tinggi dan memang menguasai permainan basket, dengan satu kali tembakan mampu memasukkan bola ke dalam keranjang. Zee kini menatap Bias. "Aku berhasil Kak! Kakak sudah berjanji akan masuk!" Perlahan Zee mendekat dan menuntun lengan itu, Bias menurut. Bias tampak terus memperhatikan wajah Zee dan tersenyum.


Sampai di teras, Bias menahan langkahnya. Ia enggan diajak masuk. "Kenapa, Kak?" tanya Zee.


"Aku mau ngobrol sama kamu!"


"Tapi sudah malam, besok saja kita mengobrol! Baju Kakak juga basah!" lirih Zee berucap.


"Kita mengobrol sebentar!"

__ADS_1


"Bagaimana jika kita mengganti pakaian yang nyaman dulu!" Bias menatap tampilan Zee, ia membenarkan ucapan Zee, baju Zee basah dan akan tidak baik. Bias mengangguk. Pun keduanya masuk ke kamar masing-masing setelahnya.


Tok ... Tok ....


Zee!


Panggilan itu lirih dilakukan, tapi Zee tahu Bias datang. Zee membuka pintu itu perlahan. "Kenapa Kakak naik? Nanti aku juga turun!"


"Aku takut kamu lupa dan langsung tidur! Kita turun sekarang!" Zee mengangguk.


"Maaf aku tadi cari sendiri baju di lemari Dara, kalau bertemu Dara aku akan minta maaf mengacak lemarinya."


"Santai saja! Kamu pakai terusan begitu juga cocok. Tubuh kamu tinggi pakai apa saja bagus!" ucap Bias melirik dress selutut yang Zee pakai.


"Terima kasih."


Setelah mengambil 2 minuman kaleng, Bias mengarahkan kakinya mendekati Zee yang duduk di sofa ruang tamu.


"Minum!"


"Terima kasih." Zee meraih minuman kaleng yang disodorkan Bias dan meletakkan di meja.


"Boleh aku tau mengapa kamu suka aku?"


"Kamu dulu pernah menyatakan suka aku, apa itu sungguh-sungguh dari hatimu?"


Mendadak Zee ingin meminum minumannya, ia meneguknya dan memainkan minuman kaleng itu di tangannya. Zee menunduk, membayangkan saat itu ia menyatakan suka pada Bias sungguh malu untuk ia ingat. Bias nyatanya tidak pernah mengirim surat padanya lebih dulu dan ia ternyata mencintai sendirian.


Bias yang melihat respon diam Zee, menaikkan dagu itu. "Jawab pertanyaanku!"


"I-tu ... hal terbodoh yang aku pernah lakukan!" lirih kata itu terucap. Jika boleh tidak menjawab, Zee tentu akan memilih diam.


"Tapi teman-temanmu yang ternyata membuat surat itu. Surat atas namaku!"


"Kakak tahu i-tu?"


"Rumor cepat beredar!"


"Seperti cepatnya rumor tentang kehamilan kak Nasya?" Tatapan Bias seketika menjadi tajam. "Jangan bahas itu! Nasya adalah korban!"


"Dan Kakak dengan baiknya mencari lelaki yang mengamili kak Nasya!"


Bias tersenyum getir. "Kamu juga dengar rumor itu rupanya!" Bias membuang wajah.

__ADS_1


Zee mengangguk. "Kakak sama bodohnya denganku! Bah-kan Kakak lebih bodoh____


Bias menatap tajam wajah Zee lagi, tak menyangka Zee bisa menyindirnya tajam.


"Kakak lebih bo-doh ... sebab sudah tau kak Nasya sudah bahagia tapi tidak bisa melupakan dia! Aku bahkan menyesal pernah suka Kakak!"


Bias memiringkan tubuhnya ke arah Zee. Jari itu mengusap pipi Zee dan menahan rahang itu. "Ternyata seorang Zee bisa juga berucap kasar!"


"Aku bicara kenyataan, Ka-k!"


"Betul, semua yang kamu ucap benar. Aku bodoh! Kita sama-sama bodoh dan kita seharusnya sangat cocok!" Bias tak sadar tekanan jemarinya semakin kuat menahan rahang Zee.


"Ka-k sa-kit!"


"Kenapa Nasya bukan kamu! Bisa terus menjaga rasamu untuk aku! A-ku hanya sibuk dengan kegiatan positif di sekolah, tapi Nasya sudah menduakanku bahkan melakukan tindakan fatal! Nasya sangat ja-hat Zee, tapi aku tidak pernah bi-sa membenci di-a ...."


Rahut kemarahan sebelumnya berubah, mendadak Bias menjadi sosok rapuh. Ia menjatuhkan wajahnya ke bahu Zee. "Apa aku begitu buruk, Zee? Tidak pantas dicintai?"


"Kakak baik, jangan rendah-kan diri Ka-kak! Kakak pintar dan hebat!" lirih kata itu terucap. Melihat kerapuhan Bias, Zee spontan memeluk raga itu.


"Terima kasih, setidaknya masih ada yang menyanjungku! Terima kasih__ Zi-vanya!"


"Ka-kak harus bisa move on! Harus bisa! Buat kak Nasya menyesal menghianati Kakak!"


"Sulit, Zee! Aku sudah sering mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain, tapi aku hanya terbayang Nasya. Nasya cinta pertamaku!" Bias melepaskan pelukannya dan menatap Zee.


"Kamu sendiri, pernah merasakan cinta pertama, Zee?" Bias mengusap-usap kepala Zee dan menahan tengkuk jenjang Zee. Zee mengangguk.


"Apa mudah melupakan cinta pertamamu?" Zee menatap netra itu. Dalam hati Zee berbisik, justru cinta pertamanya ada di hadapannya saat ini. Netra Zee sudah berkaca saja melihat kondisi lelaki yang dicintainya tak bisa lepas dari masa lalunya. Ia yang sudah mempertaruhkan hubungannya dengan Johan merasa tak ingin setengah jalan mencoba menyamakan langkah dengan Bias.


Zee memindahkan sepasang tangannya merangkum rahang Bias. Terserah dunia menganggapnya wanita yang buruk, ia hanya ingin melakukan apa yang ada di otaknya saat ini, hal yang hatinya inginkan.


"Kak Bias adalah cinta pertamaku! Aku kesulitan bernapas selama ini jauh dari Ka-kak! Aku tidak akan melepaskan Ka-kak! Aku akan buat Kakak melupakan kak Nasya!" Tanpa aba-aba Zee menautkan bibirnya.


..._________________________________________...


🥀Haduh nulis bab ini takut dilemparin panci sama reader. Please lempar pakai kopi/bunga aja yaa🤧🤧😩😩


🥀Happy reading😘


🥀Ada karya sahabat literasi Bubu nih, yuk mampir ditengok-tengok semoga suka😍😍


__ADS_1



__ADS_2