
"Nggak Zee! Kalau kamu bantu aku nanti suami kamu marah! Ups____
Risya berucap spontan. Ia menutup rapat mulutnya dengan telapak tangan kini. Ia menyesali ucapannya.
"Sya? Ka-mu denger se-mua?" Risya bergeming sesaat dan mengangguk setelahnya.
"Ma-af," lirih Risya. Zee menunduk.
"Ja-di semuanya be-nar?" ucap Risya lagi.
"Seperti yang kamu dengar." Zee membenarkan ucapan Risya. Zee memang bukan tipikal orang yang senang banyak alasan. Risya pun sudah mendengar, buat apa menyangkal, toh hubungannya dengan Bias juga sah, tidak juga terbentuk berdasarkan kesalahan, begitu pikir Zee.
"Kenapa ka-mu menikah mu-da?" Risya memberanikan diri bertanya lebih jauh.
"Kenapa nggak?" Zee justru bertanya baik.
"Bu-kan karena kamu ha-mil duluan, ka-n?" tanya Risya lagi, Zee tersenyum.
"Nggak lah, Sya. Kami cuma menyeregakan kebaikan bukan karena kesalahan," terang Zee, Risya tersenyum.
"Jadi izinin aku pulang ya, Zee! Bener aku denger semuanya ta-di. Aku terbangun saat suami kamu lagi nyanyi dan aku dengar semua pembicaraan kamu setelahnya. Suami kamu benar, aku gak baik ada di kamar kamu ini. Kamar ini tempat kalian meluapkan rindu, aku gak sebaiknya berada diantara kalian," lirih Risya. Zee menatap wajah Risya, Risya gadis baik, ia memikirkan dirinya, hubungan dirinya dan Bias.
"Sya, tapi aku khawatir sama kamu."
"Gpp, Zee. In Syaa Allah gak akan terjadi apa pun sama aku. Niat aku kan baik di Jogya ini untuk menuntut ilmu. Bismillah."
"Syaa ...."
"Aku akan baik-baik aja! Udah aku pulang, ya! Aku juga belum nyuci," ucap Risya mantap.
"Tapi kamu harus kabarin aku kalau dua orang itu bertingkah!" ucap Zee. Risya mendekat memeluk Zee.
"Terima kasih, kamu baik banget, Zee."
"Aku minta maaf atas ucapan suami aku!" Zee yang merasa tidak enak dan berpikir kata-kata Bias mungkin membuat Risya sakit hati meminta maaf atas nama Bias.
"Iya, aku ngerti kok. Aku juga yakin suami kamu pasti juga orang baik."
"Makasih, Syaa." Keduanya sama-sama tersenyum dan melepaskan pelukannya. Zee dengan berat hati akhirnya membiarkan Risya pulang.
____________________
"Apa sih, Mas! Minggir gak!" Ba'da Maghrib itu Risya yang lapar menuju warung nasi beberapa meter dari tempat kosnya dan Bowo mengikuti.
"Aku cuma mau nganter kamu, Dek."
"Aku nggak butuh dianter Mas, aku bisa jalan sendiri dan menjaga diri aku!" lugas Risya semakin mempercepat langkahnya.
"Sya, aku cuma mau ngobrol aja sama kamu, Sya. Sya!" Melihat Risya tak bekerjasama dan semakin menjauh, bayangan kalah taruhan memutari otak Bowo. Seperti hari kemarin, Bowo akhirnya menggunakan cara terakhir, pemaksaan.
HAP ... lagi-lagi Bowo menangkap lengan Risya dan menggenggamnya erat. Ia membawa tangan Risya ke lengannya dan menahan tangan Risya seolah Risya sedang merangkul lengannya.
"Mas, lepasin aku!"
"Nggak, begini kan nyaman, Dek. Orang lain akan berpikir kita sepasang kekasih."
"Lepas ihh! Kenapa sih Mas Bowo seneng banget maksa-maksa!"
__ADS_1
"Karena kamu lebih nurut kalau dipaksa!" Kata-kata Bowo mendadak sangar dan tegas. Ia seolah tak ingin aktivitasnya dihentikan, dilarang.
"Mas!"
"Ngobrol! Aku cuma mau ngobrol!" Risya yang sadar jika ia berkeras Bowo akan lebih memaksa ia memilih menurut.
Bowo mengajak Risya ke sebuah warung bakso di pinggir jalan. Sampai di tempat itu ia langsung memesan dua mangkuk bakso dan dua teh manis. Untuk Bowo tak apalah modal sedikit dan ia akan mendapat uang banyak setelahnya, uang taruhan.
"Dek, kamu belum ada pacar kan?" Bowo mulai melontar tanya sambil mengaduk bakso.
"Aku ke Jogya untuk belajar Mas, bukan mau pacar-pacaran!" lugas Risya.
"Tapi selama gak ganggu aktivitas kuliah kamu gpp dong, Dek?" utar Bowo lagi. Risya melirik sambil menarik sebelah bibirnya ke atas, menerka maksud ucapan Bowo. Jika maksud Bowo sama seperti perkiraan otaknya, justru kehadiran lelaki itu lah yang membuat hari-harinya resah, gumam Risya dalam hati.
Tak mendapat respon Risya, Bowo berkata lagi. "Gimana Dek? Kok kamu diem aja to?"
"Risya gak tertarik pacar-pacaran, Mas!"
"Kenapa?"
"Kata ibu, pacaran cuma nambah dosa!" Mendengar ucapan Risya mendadak Bowo gusar. Bowo merasa Risya sedang mendiktenya masalah pahala dan dosa. Bowo mendadak diam, ia dengan cepat menghabiskan baksonya, mengambil segulung rokok dan menghisapnya.
HUK ... HUK ....
"Mas maaf, Risya alergi sama asap! Mas bisa ke sana dulu kan kalau mau merokok!" Mata Bowo membulat.
Sok suci dan bersih banget sih ni cewek! Belum jadi pacar saja sudah banyak melarang! Nyebelin! Jadi penasaran apa benar nih cewek masih ori! Awas aja aku buat mabok baru tau rasa kamu! batin Bowo. Ia terlihat berpindah kursi, nyatanya ia mendengarkan ucapan Risya.
"Mas, Mas ... Risya udah selesai makannya nih. Ayo pulang!" ajak Risya.
"Wah kita belum ngobrol loh, Dek! Kita ngobrol dulu!"
"Duduk, Dek!" tegas Bowo membuat Risya menatapnya.
"Aku mau pulang, Mas! Banyak tugas!"
"Duduk!" Bowo menarik tangan Risya hingga bo kong Risya terjatuh ke kursi dengan kuat.
"Ahh, Mas!"
"Makanya sekali aku bilang kamu dengerin dong!"
"Yauda apa yang mau Mas bicarain, bilang aja!"
"Aku suka sama kamu, Dek! Aku mau kamu jadi pacar aku! Aku harap kamu gak nolak." Ucapan yang sebelumnya keras mendadak lembut. Mata Risya membulat kaget, pernyataan cinta yang ditutup ungkapan pengharusan. Risya menggelengkan kepala.
"Maaf, seperti yang sudah Risya bilang, Risya mau fokus belajar, Mas."
"Kamu tetep bisa fokus belajar selama jadi pacar aku, kok," ujar Bowo meyakinkan.
"Nggak, Mas!"
"Kan aku udah bilang Dek, aku mau kamu nerima aku! Aku paling nggak suka ditolak! Asal kamu tahu banyak cewek yang ngejar-ngejar aku di kampus!" Bowo semakin gusar Risya menolak permintaannya. Penting bagi Bowo untuk memenangkan taruhannya sebab biaya kuliahnya bulan ini sudah terpakai untuk mentraktir wanita yang ia sukai.
"Mas nggak ngerti ucapan Risya, ya! Risya tuh banyak tugas Mas! Risya mau pulang sekarang!" Risya mengangkat badan dengan cepat dan berlari kini menuju kossannya.
"Hei hei Dek, Dek ...!" Bowo terus mengejar Risya dengan langkah yang bertambah cepat, hingga akhirnya.
__ADS_1
"Ah, Mas! Mas! Lepas, Mas!" Risya kaget saat sebuah lengan mencengkram lehernya dengan kuat dan membawanya terus menepi ke jalan kosong dan pohon-pohon besar.
"To-long! Tolong! To-long! Huk ... huk ...." Dengan terbatuk-batuk Risya berusaha berteriak tapi tak ada yang mendengar, para manusia seolah menghilang, sepi.
Bowo membawa Risya ke balik pohon besar. Menatap tajam wajah Risya yang ketakutan. Bowo sebetulnya hanya ingin menakuti Risya saja. Tapi semakin wajah Risya ketakutan, Bowo semakin senang dan ingin bermain-main.
"Mas, ja-ngan! Jangan sa-kiti Ris-ya!" pinta Risya mengiba.
"Kamu itu kenapa sih, Dek! Lari-larian kayak anak kecil! Aku itu baik-baik minta kamu jadi pacar aku. Aku gak suka sebetulnya pakai cara begini, tapi kamu yang buat aku jadi begini! Kamu mau kan Dek, jadi pacar aku!" Bowo kembali melontar inginnya.
Risya terus menggeleng dan Bowo mencengkram kuat wajah itu. "Aku nggak suka ditolak, Dek!"
"Ma-s!"
"Ma-u, ka-n?" Posisi Risya terpojok. Bowo mengukung tubuh itu. Sebelah tangan menangkup wajah, tangan yang lain menahan tangan di atas perut Risya, sedang kaki Risya tak bisa bergerak terhimpit sepasang kaki Bowo.
"Ma-s," lirih Risya masih menggelengkan kepalanya.
"Duh Dek, sekedar kata iya kenapa susah banget sih! Oke kalau kamu berkeras, aku juga bisa berbuat lebih nakal! Tunggu, tunggu! Kamu itu cantik lho Dek, wajah kamu manis, kulit kamu putih, badan ka-mu juga ba-gus, berisi!"
"Ja-ngan ma-cam-ma-cam, Ma-ss!" Risya menggerak-gerakkan tubuhnya tapi tetap tak bisa membuat tangan Bowo lepas dari tubuhnya.
"Bilang dulu kalau kamu nerima aku, nanti aku lepasin. Gimana?" ujar Bowo lagi dengan senyum menyeringai.
"Ma-s, maksa!"
"Baru tahu aku suka maksa! Dan aku suka banget sama gadis-gadis lugu kayak kamu!" ucap Bowo memainkan jemarinya di wajah Risya. Risya terus mengeleng hingga jari Bowo sudah pindah ke leher dan menuju satu kancing kemeja Risya.
"Mas, ja-ngan!" lirih Risya lagi.
"Kamu nggak mau aku buka ini? Oke bilang kamu nerima aku! Cuma kata itu yang aku mau kok, Dek!"
Risya bergeming, Bowo mulai membuka satu kancing piyama kemeja Risya.
"Sa-tu," lirih Bowo.
"Mas jangan, Mas! Tolong! To-long!"
"Percuma kamu teriak, ini jalan buntu, gak ada orang! Du-a," lirih Bowo lagi.
"Waw aku suka pembungkus warna pink, manis," bisik Bowo saat ujung pembungkus dada itu mulai terlihat. Risya bertambah panik.
"Ti-____
"Aku mau! Mau! Stop, Ma-s!" ucap Risya akhirnya.
"Bagus! Kamu pinter, Sayang! Jawaban di saat tepat! Hampir aja aku khilaf!" Bowo memeluk erat tubuh Risya.
"Lepaskan Risya se-karang, Mas!"
"Oke tentu saja, Sayangku!" Bowo melepaskan pelukannya. Ia merapihkan lagi kancing yang sebelumnya dibuka.
"Ayo sekarang kita balik ke kossan!" Bowo merangkul bahu Risya kini, menuntun Risya ke arah kossan keduanya. Risya yang takut menurut saja.Yang terpenting ia bisa sampai ke kamarnya lagi, begitu pikir Risya.
...____________________________________...
🥀Happy reading,😘
__ADS_1
🥀Promo sahabat bubu hari ini, yuk mampir dan beri komen terbaik kalian😍😍