
"I-ya. Di atas ada kamar, Biv!" Aira menoleh ke arah Bias, ia tidak memahami yang Biv ucapkan. Bias berpura-pura tidak melihat. Belum lagi tanyanya terjawab suara dua Oma terdengar begitu dekat, keduanya menghampiri Bias dan Aira.
"Bu Dokter," sapa Dona seketika yang datang bersama Farah.
"Eh, Ibu." Aira yang pernah bertemu dengan dua orang wanita paruh baya itu menganggukan wajah untuk menghormati.
"Bu Dokter di sini?" ucap Dona.
"Iya, Bu kebetulan sedang lewat daerah sini jadi mampir. Senang bertemu kembali dengan ibu-ibu hebat seperti kalian," ucap Aira dan tersenyum setelahnya.
Mendapat pujian dari Dokter Aira, Farah dan Dona kompak saling berpandangan. "Dokter pintar memuji," ucap Farah. Aira kembali tersenyum.
"Oh iya, ini Kafe Bias putra Tante, lho. Papanya Biv. Bu Dokter bisa sering-sering mampir ke mari. Sepertinya Biv juga sangat nyaman dekat Bu Dokter," lugas Dona. Aira tersenyum getir.
"Ohh ... ja-di ini kafe Pak Bias," ucap Aira terbata.
"Eh iya, ini anak siapa? Lucu sekali, cantik," ucap Farah. Dona dan Farah memang sedang melancarkan aksi mereka dan poin pertama adalah mencari tahu kejelasan status Aira dan anak yang di bawanya.
"Oh, ini anak kakak sa-ya, Bu." Aira berkata dengan sangat sopan.
"Aisya sayang, ayo cium tangan Oma-oma!" Aira berkata pada Aisya setelahnya. Aisya keponakan Aira memang penurut, Ia pun langsung mengarahkan tangannya, ia mencium tangan Dona dan Farah bergantian.
Wajah Dona dan Farah tak henti berbinar setelah keduanya mengetahui bahwa anak yang dibawa Aira bukan lah anak Aira melainkan anak dari kakaknya. Dua ibu itu tampak sangat bahagia.
Bias yang sebelumnya menyangka bocah kecil yang dibawa Aira adalah anaknya merasa tak enak. Bias juga tampak memperhatikan dua ibu yang bersikap agak aneh. Ia pun mulai Curiga dengan perilaku 2 ibunya itu. Bias kini memilih menghindar.
"Ibu, Mama, Bias izin sebentar ingin mengecek dapur," ucap Bias melancarkan aksi menghindari Aira alias kabur.
"Loh, kamu mau ke mana, Bi? Biarkan saja karyawanmu yang mengecek! Ada Redo kan? Biarkan saja dia yang ngurus, kenapa pula kamu yang repot! Di sini saja kamu!" lugas Dona. Mendengar ucapan Mamanya Bias tak mampu menolak. Ia menurut seperti layaknya anak kucing yang membuntuti ibunya. Wajah Bias jelas tidak nyaman, ia berusaha keras membuang wajahnya ke sembarang arah.
"Bagaimana kalau kita ajak bu Dokter duduk bersama kita, Bi?" ucap Dona disambut lengkingan suara Biv yang bahagia.
"Yee ... iya Oma, tadi Biv juga minta seperti itu pada papa," celoteh Biv. Bias memijat dahinya, agaknya kepalanya mulai pening melihat perilaku 2 ibu dan putrinya yang begitu kompak. Ia melirik sekilas ke arah Aira dan tanpa diduga Aira pun sedang melirik ke arah bias.
Aira wanita yang peka, sejak awal kedatangan Dona dan Farah yang mendekat merasa agak aneh dan canggung. Terlebih jika ia harus satu meja dengan Bias yang notabenenya seorang duda. Aira yang tidak sengaja menangkap ketidaknyamanan pula di wajah Bias merasa harus menghindari situasi ini. Ia pun mengirim pesan kepada seorang suster di Rumah Sakit, meminta sang suster menghubunginya saat ini. Sang suster yang merasa adalah bawahan Aira menurut.
Ponsel Aira berdering, dengan cepat Aira mengangkatnya. Sandiwara Aira pun dimulai.
"Ya, Assalamualaikum suster Indah."
__ADS_1
"Ada apa, Ndah? Hah ada pasien hendak melahirkan? Dokter Silvia mendadak pulang. Oke oke baik saya akan segera ke rumah sakit setelah mengantarkan keponakan saya! Iya iya saya akan secepatnya datang. Baik Assalamualaikum." Aira meletakkan ponselnya lagi ke saku setelahnya.
"Duh mohon maaf Ibu, baru saja saya mendapat panggilan harus ke Rumah Sakit, maaf tidak bisa menerima ajakan ibu," lirih kata itu terucap. Dalam hati Aira terus melontar maaf pada Robnya harus berbohong. Ya, semua untuk menghindari hal lebih buruk sebab antara dirinya dan Bias sama-sama tidak nyaman akan kondisi ini.
"Ya, sayang sekali," ucap Dona kecewa. "Tapi lain kali bisa kan kita bertemu lagi? Ya hitung-hitung menyenangkan Biv. Maklumlah Biv sehari-hari hanya bersama Papanya. Bukan kah ia harus bertemu banyak orang?" Aira mengangguk.
"Keponakan Dokter Aira juga sepertinya mulai dekat dengan Biv, ajaklah sekali-kali main ke rumah kami!" ucap Dona lagi. Aira berusaha keras tersenyum. Aira yang ingat makanannya belum disentuh bicara pada Bias.
"Pak Bias, bisa minta tolong suruh karyawannya membungkus makanan saya? Sepertinya saya akan bawa pulang saja," ucap Aira setelahnya pada Bias.
"Oh, tentu. Put, putri! Tolong bungkuskan makanan Dokter Aira! Bil-nya tidak perlu dibayar!"
"Lho, kok begitu Pak?" Aira kaget mendengar ucapan Bias.
"Tidak apa-apa sebagai ganti tadi anda menyuapi Biv!"
"Lho, tapi tadi kan saya Ikhlas menyuapi Biv! Tidak meminta ganti!"
"Tapi saya senang memberi!"
"Tapi saya tidak suka! Saya ke sini niatnya untuk membeli bukan meminta secara gratis," lugas Aira lagi.
"Tapi saya tidak masalah!" kukuh Bias.
"Loh kenapa begitu?" tanya Bias lagi. Keduanya berusaha mempertahankan pendapatnya.
"Saya orang yang berpenghasilan. Kalau Bapak memang ingin memberi, beri saja pada orang-orang yang ada di jalan dan bukan pada saya! Dengan menerima pembelian gratis akan membuat saya malu pada diri saya sendiri!"
Bias terdiam. Ingin membalas lagi tapi lidahnya kelu, habis kata-kata. "Ya sudah, anda bisa bayar di kasir untuk orderan anda sebelumnya," ucap Bias setelahnya.
"Terima kasih atas niat baik Pak Bias!" Bias mengangguk, dia melenggang pergi dan berbaur ke meja di mana ada anggota keluarganya duduk. Dona dan Farah yang sejak tadi memperhatikan yang terjadi terus tersenyum dibuatnya. Keduanya senang akhirnya melihat interaksi Bias dengan wanita lagi.
Setelah Aira membayar makanan yang dipesan dan pergi dari kafe itu, Dona dan Farah menuntun Biv untuk berbaur ke meja mereka. Biv tampak memberengut sebab Aira dan Aisya sudah pulang.
_____________________
Hari menjelang malam. Setelah menidurkan Biv dan mengecek laporan para manager Kafe, Bias yang mengingat kejadian siang tadi merasa harus bicara pada Dona. Kendati itu sudah malam, entah mengapa Bias tak ingin menunda bicara semua pada Dona. Ia ingin menenangkan hatinya.
Bias meraih ponsel dan segera menekan panggilan untuk Dona. Untunglah tak menunggu lama Panggilan diangkat.
"Bii?"
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ma."
"Eh, Wa'alaikumsalam. Ada apa, Sayang?" Jujur Dona bingung tak biasanya Bias menelepon malam-malam.
"Ma, maaf sebelumnya menggangu malam-malam."
"Iya tidak apa-apa. Apa ada hal serius. Nada bicaramu seolah berat, Sayang?"
"Ini perihal kejadian di Kafe!"
"Oh. Ada apa memang di sana tadi?" Dona mulai tau arah bicara Bias tapi memilih berpura tidak peka.
"Bias tidak suka cara mama tadi!"
"Cara apa?" Bias memang agak sungkan membahas Aira. Hal yang dimanfaatkan Dona untuk kembali berpura tidak paham.
"Mama jangan berpura-pura tidak tahu!"
Dona mengangkat tubuhnya bersandar di headboard ranjang. "Bener lho Bi, Mama bingung nih ke mana arah bicara kamu!"
"Ma, please!"
"Please apa?"
"Ini rencana Mama, kan? Dan Mama mengajak ibu Farah mendukung segalanya! Mama tega ya pada ibu Farah, anaknya belum lama tiada, Ma! Tapi Mama minta dia ikut mencari pengganti anaknya!"
Dona menelan salivanya kasar baru bicara. "A-pa sih, Bii?" Ia masih berpura bodoh.
Bias membuang napasnya kasar, ia mulai jengah mamanya tak mengakui segalanya. "Dokter Aira! Mama berusaha mendekatkan Bias pada dokter i-tu, kan Ma?" Dada Bias seketika sesak. Ia sedih orang-orang tercintanya tidak memahaminya. Luka itu bahkan belum kering sempurna, tapi mamanya ingin menuang air di atas luka itu. Bias terus menarik napas dan membuangnya perlahan. Bagaimana pun ia harus menghargai mamanya, tidak menyakiti hati mamanya.
"Bi, ma-af." Akhirnya kata maaf itu terlontar. Dona merasa tak enak hati. Bias masih terdiam.
"Mama melakukan semua cuma untuk Biv, Bi! Masalah Farah, dia setuju dan ikhlas kok kalau suatu saat ka-mu beristri la-gi."
"Ah, Ma-ma____
Bias tak sanggup berkata lagi. Kata menikah lagi begitu menyakitkan. Hal yang berarti ia menghianati Zee. Ya, setidaknya Bias merasa begitu.
"Bi, ayo lah! Semua untuk Biv! Biv terlihat sangat nyaman dengan dokter itu! Kamu harus belajar meluluhkan ego untuk kebahagiaan Biv, Sayang!" kata Dona lagi.
"Dan hati Bias? Apa Mama memikirkan hati Bias?"
__ADS_1
..._____________________________________...
🥀Happy reading 😘