ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
PENYESALAN


__ADS_3

...Sebaik-baik penjaga diri adalah diri itu sendiri, bukan orang lain. Itulah pentingnya mengedepankan akal! Setiap orang punya akal, gunakanlah akal itu! Jangan gunakan akal orang lain yang belum tentu berakal dan setelahnya kamu saling menyalahkan!🥀...


...______________________________________...


Nasya yang sedang kesal datang ke rumah Helen yang hari ini tidak masuk ke sekolah dengan maksud untuk berkeluh kesah. Namun Nasya kecewa sebab Helen nyatanya tidak ada di rumah, sedang ke dokter tepatnya. Nasya memang sangat dekat dengan Helen dan seluruh anggota di rumah itu. Rumah Helen bahkan sudah seperti rumah kedua untuknya. Setiap pulang sekolah, Nasya lebih memilih ke rumah Helen ketimbang ke rumahnya sendiri yang sepi.


Nasya yang kecewa tidak bisa menceritakan gundahnya pada Helen baru saja ingin beranjak, namun tiba-tiba ia teringat Reno kakak sang sahabat. Reno yang selalu bisa menyamankan dan membuat Nasya tersenyum itu nyatanya sedang ada di rumah terlihat dari Vespa yang terparkir cantik di muka.


Tergopoh Nasya naik ke lantai atas tempat kamar kakak sahabatnya yang sebulan belakangan sering mengantarnya pulang. Kakak sahabat yang tanpa diduga menyatakan perasaannya, mengetuk organ yang sangat sensitif yang bernama hati dan kini selalu membuat Nasya bahagia.


Gadis itu awalnya ragu pada rasanya sebab ia sudah memiliki tambatan hati dan berusaha tak membagi hatinya. Namun, hati itu nyatanya begitu rapuh dan mudah terbuai rayuan dan perhatian yang jarang ia dapati. Hati itu melunak dan semakin nyaman lantaran sang pria memang sangat lihai menyamankan.


Nasya membuka pintu yang membatasi raganya dan Reno tanpa permisi. Pun lelaki yang menginjak usia 21 tahun dan memiliki distro kecil-kecilan hasil kerjasamanya dengan seorang teman merasa kaget melihat Nasya datang dengan wajah sendunya. Pun Reno langsung menghampiri Nasya.


"Beib?"


Nasya yang sedang sedih itu langsung memeluk raga tegap berbalut kaos dan celana boxer di hadapannya. Ia bercerita dengan begitu sedih, lemah dan merana, kesepian tepatnya. Reno menenangkan Nasya dengan sentuhan-sentuhannya disertai guyonan yang membuat Nasya melupakan sedihnya. Kebersamaan dua insan berbeda jenis kelamin dalam satu kamar dimana keduanya sama-sama memiliki cerita pilu hidup berubah menjadi cumbuan tak terkendali hingga Nasya___ Gadis yang biasanya selalu memiliki pertahanan saat Reno mulai meluapkan sayang berlebihan kini ikut terbuai dan terjadilah hubungan terlarang hari ini. Reno yang sadar kebersamaannya dan Nasya dalam kamar itu akan tidak baik jika diketahui orang rumahnya, mengajak Nasya melanjutkan pergulatan mereka di rumah sang sahabat yang sedang ke luar kota. Nasya gelap mata lantaran rasa sepi dan kekesalannya pada Bias. Ia tak sadar perilaku khilafnya merugikan diri, masa depan, serta mencoreng kepercayaan orang tuanya.


Hari mulai gelap, adzan magrib terdengar bersahutan membuat Nasya gadis cantik yang masih tak berbusana membuka mata. Ia membuang napas kasar menyadari hal bodoh telah ia lakukan beberapa saat lalu. Mata itu basah, tangisan itu mengalir begitu saja menyadari hal berharga yang harusnya ia jaga kini hilang begitu saja dengan kesadarannya.


Nasya memiringkan badan dan terus menangis hingga terdengar pintu kamar tempatnya berada terbuka, seorang pria dengan banyak tato di lengan itu masuk dan langsung duduk di sisi ranjang menatap lekat gadis yang telah ia ambil keperawanannya beberapa saat lalu terlihat begitu sedih.



"Beib, kamu baik-baik aja, kan?" tanyanya sambil menyapu bahu putih itu.


"Jauhin aku Beib, jangan sentuh aku!"

__ADS_1


"Kamu ke-napa? Kamu nyesel kita ngelakuin itu?"


"Harusnya kalau kamu sayang aku, kamu itu jagain aku!" Nasya melirik sekilas Reno dan membuang wajah setelahnya, ia kembali menangis.


"Sekarang aku tanya kamu, apa aku maksa kamu? Nggak! Kamu sendiri yang dateng dan mbiarin semua terjadi!"


"Tapi harusnya kita bisa saling ingetin kalau mulai keluar jalur! Kondisi aku tuh lagi rapuh, harusnya kamu bisa kontrol diri!"


"Jadi kamu nyalahin aku? Oke, aku yang salah! Aku emang lelaki beja*t yang udah ngerusak kamu! Aku bukan lelaki yang bisa kontrol hasrat dan bisa jaga kamu! Aku bukan seperti Bias pacar kamu itu! Puas!" lugas Reno dengan suara meninggi. Reno bangkit dan beranjak ke tepi jendela. Ia berkali menarik napas panjang.


Mendengar pekikan Reno juga nama Bias disebut tangisan itu semakin pecah, hati Nasya kian teriris. Kata-kata meninggi Reno sungguh menyakitinya, juga rasa bersalah telah menghinati dan mengecewakan Bias lelaki baik yang tulus menjaga dan mencintainya selama ini sungguh membuat Nasya hancur.


Reno melirik ke arah Nasya yang begitu sedih. Nasya memang bukan seperti wanita-wanita yang selama ini dekat dengannya. Wanita-wanita yang biasa melakukan hubungan intim dan melupakannya. Nasya bahkan baru melakukan hal itu satu kali bersamanya. Reno terdiam berusaha memahami perasaan gadis di hadapannya. Ia kembali mendekat ke ranjang dan mendekap tubuh Nasya.


"Ma-af ... maafin aku, Beib. Aku nggak seharusnya bicara keras ke kamu tadi. Aku yang salah! Aku salah nggak bisa jaga kehormatan kamu. Tolong maafin aku dan jangan nangis lagi!" lirih kata itu terucap. Nasya lagi-lagi hanya melirik dan kembali menangis.


Aku bisa pukul kamu, tapi tetep aja semua nggak akan sama, aku udah rusak ....


Air mata Nasya masih tak berhenti, Reno menciumi puncak kepala itu, mengusap bahu itu, menciumi wajah itu tapi Nasya bergeming bak mayat hidup. Hingga beberapa saat setelahnya, Nasya bersuara.


"Gi-mana kalau aku ha-mil?" lirih dan berat kata itu terucap. Jelas Nasya sendiri takut mengucapkannya.


"Jangan takut, kamu nggak akan hamil!" Nasya menoleh dengan cepat.


"Yakin banget kamu!"


Reno melepaskan dekapannya, ia berdiri meraih sebuah kantong plastik dan mengeluarkan pil-pil kecil yang berjejer dan mengarahkannya ke hadapan Nasya.

__ADS_1


"Minum ini! Ini pil pencegah kehamilan! Setelahnya kamu aku yakinin nggak akan hamil!"


Bukannya bahagia, Nasya justru membuang wajah. "Itu sama aja kamu nyuruh aku jadi pembunuh!" lontar Nasya.


"Beib, jangan berlebihan! Toh kamu juga belum tentu hamil! Banyak pasangan pakai pil ini untuk menghindari, maaf maksud aku untuk menunda kehamilan. Mereka biasa aja, nggak ngerasa jadi pembunuh juga!" Nasya bergeming, air mata kembali tumpah.


"Beib, kok nangis lagi sih?"


"Karena kamu jahat! Sudah berbuat tapi takut bertanggung jawab!"


"Bukan begitu, Beib. Kamu tau sendiri, aku baru mulai merintis usaha aku! Oh ya, kamu juga masih sekolah, kan? Minum pilnya, ya!"


"Itu cuma alesan kamu untuk lari dari tanggung jawab!"


"Beib, nggak! Aku cuma mikirin kamu masih sekolah! Oke gini deh, di masa depan aku bakal nikahin kamu! Tapi untuk sekarang, kamu minum pil ini dulu, ya! Kamu lanjutin sekolah kamu dan aku konsen dengan usaha aku. Oke!" Nasya membuang wajah.


"Anter aku pulang!"


...________________________________________...


🥀Ini hanya fiksi ya guys, tanpa menutup mata banyak di sekitar kita terjadi seperti itu. Karena kesibukan orang tua, minimnya agama, atau alasan lain__ muda-mudi nggak terkontrol dan melakukan apa yang diinginkan sesaat tapi lupa akibat yang akan timbul setelahnya. Tapi nggak semua yaa ... karena banyak juga yang berkarir namun tetap bisa mengontrol anggota keluarganya. Ini good banget😍💋


🥀 Mohon bijak mencari hal baik dari setiap tulisan yang kita baca! Yang buruk jangan sampai ditiru dan terjadi oleh diri dan orang terdekat kita😘


🥀Remain for myself juga❤️


🥀Happy reading😘😘

__ADS_1


__ADS_2