
..."Piala hanya simbol pencapaian, kemenangan sejati adalah saat diri bahagia, yaitu saat kita merasa dihargai dan dicintai oleh orang-orang terdekat, keluarga!"(Bias)🥀...
..._____________________________________...
Bias menyelesaikan pidatonya, para juri dan beberapa supporter dari siswa Mandala saling bertepuk tangan dan berbisik-bisik membicarakan Bias. Tak hanya penonton di bagian dalam, orang-orang yang menonton dari jendela seperti Zee mulai membicarakan Bias juga. Selain isi pidato Bias yang berbobot, pembicaraan mengenai wajah Bias yang tampan juga jadi pembicaraan khalayak.
Bibir Zee memberengut tak suka dengan yang didengarnya. Sesaat Zee seolah memiliki dan enggan berbagi, tak suka orang lain juga memuji Bias tapi sesaat setelahnya Zee menertawakan dirinya. Ya, Zee sadar dia bukan siapa-siapa Bias.
Astagfirullah ... Sadar! sadar Zee! Tapi ... bagaimana jika kak Bias benar-benar suka aku dan surat cinta i-tu benar. Ucapan Siska benar, aku pasti bangga punya pacar seperti kak Bias. Husss, aduhh apa sih yang aku fikirkan! Fokus Zee! Fokus dengan lomba saja! Lupakan surat itu, ingat kata ibu! Nggak mungkin ada cowok suka aku selama aku menggunakan wajah ini!
Zee menunduk setelah gumamannya selesai, ada penyesalan di otak itu mengapa ia harus menghitamkan wajahnya dan membuat setiap orang illfeel.
Jika aku tidak menjelekkan wajah, pasti orang-orang akan lebih melihatku. Ahh ... apa i-ni? Jangan berbalik Zee. Apa kamu senang jika mereka terutama laki-laki itu hanya ingin dekat denganmu karena kamu terlihat cantik. Astagfirullah ...
Zee tersadar dari lamunannya. Ia mengedar pandang ke arah isi kelas dan mencari bayang laki-laki yang beberapa saat lalu ia fikirkan tapi Zee tak menemukan lagi wajah itu.
Di-mana kak Bias? Baru saja aku melamun, kak Bias sudah hilang saja.
__ADS_1
Zee melangkahkan kaki dan terus melihat ke kanan dan kiri, ia ingat tujuannya mencari Bias tadi adalah karena khawatir dengan kondisi Bias yang kurang sehat, tapi bodohnya ia justru berfikir kemana-mana. Kini, bayang Bias justru hilang lagi.
Zee terus berkeliling. Lapangan, koridor, toilet, mushola ia telusuri tapi tak menemukan Bias. Zee berjalan setelahnya ke kantin, Zee berfikir mungkin saja Bias lapar dan pergi ke sana. Zee mengedar pandang, beberapa orang yang berbisik melihatnya dengan aneh ia abaikan. Di otak Zee Hanya ada satu perintah, mencari Bias.
Zee kecewa tak menemukan bayang itu, tak ada Bias di kantin. Zee akhirnya memutuskan meninggalkan kantin tapi melewati jalan lain. Ya, Zee melihat koridor belakang kelas agaknya bisa dilewati dan tembus ke mushola. Zee berjalan perlahan sambil mengedar pandang seperti sebelumnya mungkin saja akan melihat Bias.
Mata Zee terbelalak, ada rasa lega, ia akhirnya menemukan Bias. Tapi ada sesak di hati Zee melihat aktivitas Bias. Zee melihat Bias berdiri menyamping sedang menghisap gulungan tembakau kering, Bias sedang merokok dengan santainya. Zee bersembunyi di balik dinding dan tetap memperhatikan aktivitas itu.
Merokok mungkin biasa dilakukan lelaki, om Fajar adik ibu juga merokok. Ta-pi ... aku yang baru pertama kali melihat kak Bias melakukannya merasa aneh. Melihat kak Bias merokok seperti itu seolah ia seperti sosok berbeda.
Pun Zee akhirnya memutuskan berbalik dan meninggalkan Bias. Ya, Zee sadar Bias bisa melakukan apapun yang ia mau toh tak ada urusan pula dengannya.
Zee turun ke lantai bawah dimana Maharani berada. Rekan-rekan Zee yang lain ternyata sudah menyelesaikan lomba, mereka terlihat sedang menyantap nasi box di atas gelaran tikar di sudut lapangan. Maharani langsung memanggil Zee mendekat, Zee menurut dan ikut meraih nasi box miliknya. Tak berselang lama Bias pun muncul, Maharani meminta Bias berbaur juga, tapi Bias menggeleng dan berujar masih kenyang, ia terlihat berbelok ke arah kiri di mana toilet berada.
Zee menunduk mengalihkan pandang dari Bias, ia merasa tak ada sangkut-paut dirinya dengan Bias. Zee mengabaikan hati kecilnya yang sejujurnya masih saja menghawatirkan lelaki itu. Zee mencoba menatap rekannya yang lain, mereka makan dengan semangat sambil bercengkrama, pun Zee juga ikut makan.
Sepuluh menit berlalu, acara makan selesai. Sambil menunggu keputusan lomba yang dijadwalkan pukul 13:30 siang nanti, rekan-rekan Zee tampak berpencar mengisi waktu, ada yang merebahkan diri, bercengkrama di sudut dan berjalan-jalan mengitari sekolah Mandala. Zee sendiri yang sudah mendengar adzan Zuhur berkumandang saat di kantin tadi akhirnya memutuskan ke Mushola untuk menjalankan kewajibannya pada Pencipta.
__ADS_1
Zee duduk di sisi Mushola setelahnya sambil membaca sebuah novel cetak remaja. Ia terlarut hingga sebuah suara dari pengeras suara terdengar meminta seluruh peserta lomba berkumpul di lapangan karena pengumuman pemenang akan dibacakan.
Zee segera menuju rekan-rekannya di mana Bias sudah ada di sana. Pandangan keduanya sesaat bertemu dan terkunci, Zee lagi-lagi merasakan debaran tak menentu namun segera ia enyahkan.
Hal yang ditunggu-tunggu tiba, seorang lelaki paruh baya maju dan mengutarakan rasa bangganya pada seluruh peserta yang berpartisipasi, ia berharap akan bertambah banyak generasi-generasi cerdas yang akan memberi perubahan suatu hari nanti pada Bangsa ini. Setelahnya, lelaki tua itu tampak mengumumkan para pemenang dari 7 bidang studi yang diperlombakan.
Sorak-sorai terdengar saat satu-persatu pemenang disebutkan dan diminta maju ke depan. Pun kini Maharani tampak berdiri seorang diri, sebab seluruh siswa dari sekolah Mandala menjadi pemenang lomba.
Empat siswa menjadi juara 1, termasuk diantaranya Bias dan Zee. Dua siswa menjadi juara 3 dan untuk perlombaan membuat majalah dinding mendapat juara 2. Maharani tersenyum merona, hasil perjuangannya selama ini dalam menyemangati anak-anak tak sia-sia, waktu yang mereka habiskan untuk pendalaman materi kini berbuah manis.
Sepuluh orang siswa itu mendekat, Maharani membuka tangan dan para siswa perempuan berlari masuk pada rangkulan Maharani dengan piala di tangan, mereka saling tertawa dan bahagia. Kakak-kakak kelas yang sebelumnya meremehkan Zee pun menjadi baik, mereka melontarkan terima kasih pada Zee dan meminta maaf selama ini sudah meremehkannya. Zee senang ia tidak dibedakan lagi, ia juga berterima kasih sudah dipercaya mengikuti lomba walaupun masih duduk di kelas 10. Semuanya tampak bahagia kini. Namun tiba-tiba Zee menyadari tak melihat bayang Bias, Bias lagi-lagi menghilang dan Zee mencarinya.
Zee terhenyak melihat Bias di sudut toilet mengepalkan tangan dan memukul-mukul dinding dengan cukup kuat. Mata itu basah, air mata itu menetes. Zee berada di balik dinding menjadi saksi kerapuhan Bias. Dalam kepedihan Bias berucap.
Aku tidak butuh piala! aku butuh kerukunan kedua orang tuaku ya Tuhan, lirih Bias.
...________________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘
🥀Makasih yang sudah menyempatkan memberi like dan komen. Yang belum memberi rate bintang 5 jangan lupa ya. Makasih juga atas support gift dan votenya untuk Zee❤️❤️