ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
JALAN CAESAR


__ADS_3

"Yang, kuat Yang!"


"Sa-kit!" lirih Zee nyaris tak bersuara.


"Kalau bisa aku akan minta Pencipta pindahkan sakit yang kamu rasa ke aku," ucap Bias sangat dekat dengan wajah Zee, Bias sesekali mendaratkan kecupan di pipi Zee.


"Ma, kenapa dokter sangat lama?" tanya Bias.


"Sudah, sudah! Ini dokternya!" Libra dan Farid belum lama tadi tampak kompak mencari dokter yang bisa melihat kondisi Zee. Kini seorang dokter lelaki masuk diikuti seorang suster yang belum lama tadi memeriksa pembukaan Zee dan katanya sudah masuk ke tujuh.


"Ada apa dengan pasien, Sus?"


"I-ni Dok, tadi saya cek masih pembukaan tujuh, tapi pasien mendadak sesak," utar suster.


"Sementara berikan selang oksigen untuk membantunya bernapas dan cek tensinya lagi!" Suster tampak ke luar melaksanakan titah sang dokter.


"Begini Pak Bu, berhubung ini hari Minggu, hanya ada satu dokter kandungan yang bertugas dan ia sedang menangani persalinan juga. Sementara kita lihat perkembangan sesak pasien setelah di berikan oksigen sembari menunggu dokter Aira tiba. Saya permisi!"


"Dok tunggu!"


"Bi, Bi ... sabar Sayang. Kita tunggu dokter yang menangani Zee," ucap Dona.


"Gak bisa begini, Ma! Kenapa hanya ada satu dokter kandungan yang bertugas? Ini Rumah Sakit besar loh!"


"Tadi kan kamu dengar, ini akhir pekan Sayang! lirih Dona mengusap bahu Bias. "Sabar, kita tunggu!"


Sementara di sisi ranjang Farah terus membisikkan untaian dzikir, Zee mengikuti diselingi sesekali meringis.


"Buu ...."


"Iya Sayang, saat mulas, tarik napas, buang ... tarik napas, buang. Lakukan begitu seterusnya. Sabar, Nak! Inilah kemuliaan wanita yang tidak dimiliki lelaki. Mengandung dan melahirkan, in Syaa Allah saat Zee bersabar, pahala yang banyak sudah pencipta siapkan, tidak hanya itu bahkan surga sekali pun sudah menunggu."


"Zee mau masuk syurga, Bu! Ahh ... sa-kitt! Tapi apa Zee bi-sa?" Seketika air mata Zee meleleh.


"Sabar Sayang! Sabar! Dengar! Wanita itu mendapat keistimewaan, jika ia sholat lima waktu, patuh pada suami dan puasa di bulan ramadhan, pintu Syurga akan dibukakan oleh-Nya. Karena yang utama dari diri wanita adalah ridho suaminya. Kalau suami ridho maka syurga adalah tempatnya. Itu tiga yang utama, kalau Zee sudah jadi mama, dengan Zee merawat ikhlas anak Zee, itu menjadi kebaikan Zee. Oh ya satu lagi. Zee yang memutuskan berjilbab juga suatu hal yang disukai Allah. Semangat Sayang! Semangat!"" Zee terus tersenyum mendengar ujaran Farah. Ia menghadap Bias yang juga sejak tadi ikut menyimak ucapan Farah. Bias sedikit lega, berbincang dengan Farah seolah meringankan rasa sakit Zee, Zee tampak tenang dan Bias ingat-ingat istrinya itu tidak merintih lagi.


"Yang!"


"Eh, i-ya?"


"Kamu ridho sama a-ku?"


Bias tersenyum. "Pasti. Aku bahagia sama kamu, kamu wanita baik, pintar menyenangkan, terlebih sebentar lagi kamu akan memberi aku anak! Kelak aku akan bersaksi kalau kamu istriku yang terbaik, aku ridho." Senyum Zee semakin mengembang.

__ADS_1


"I lo-ve yo-u," lirih kata itu terucap.


"Me too, I love you even more than you know." ucap Bias mencium pipi Zee. Zee mengerucutkan Bibir dengan air mata yang mulai menetes.


"Hei, kok nangis lagi? Please aku gak bisa lihat kamu nangis!"


"Ini air mata bahagia. Ma-kasih, Yang." Zee melingkarkan tangan ke leher Bias. "Bahkan jika detik ini jatah hidupku habis. Aku si-ap. Aku ikhlas. A-ku bahagia memiliki ka-mu!"


Baru kata-kata itu terhenti. Zee merintih. putri kecil dalam perut itu sudah mulai menggempur lagi lubang sempit itu dan kini tampak usaha itu lebih keras. "Ahh, Yang, Bu. Ahh ... Sa-kit, Yang!"


"Jangan mengaduh, tarik napas dan buang. Ibu akan ke luar mencari dokter!"


"Sayang, kamu bisa! Bismillah! In Syaa Allah sesaat lagi keluarga kecil kita akan lengkap!" Zee mengangguk.


"Ahhh, Yang!" Zee terus menarik napas dan membuangnya. Ia menatap Bias tanpa kata.


"Yakin kamu bisa, ya!" ucap Bias. Zee masih terdiam. Pandangan Zee entah mengapa seolah kosong, ia menatap sekitar seakan bingung.


"Yangg ...." Zee memanggil dan meraih jemari Bias. Ia menggenggam erat jemari Bias seperti takut. "Ahh ... Yang, Yangg! Kamu di sini kan, Yang?"


"Hei, lihat apa ke atas, aku di sini!" Pandangan Zee tak terarah. Bias menghadapkan wajah Zee menghadapnya.


"Yang, a-ku takut!"


"Kamu akan selalu dampingi a-ku, kan?" lirih Zee berucap lagi.


"Pasti."


Zee tampak menarik napasnya panjang, ia terus menyentuh dadanya. "Kenapa dada kamu? Sesak lagi?" Zee mengangguk lirih.


"Yang! Usap-usap perut aku!" ucap Zee setelahnya.


"Oh, iya. Sa-bar, Yang!" lirih Bias dengan wajah gusar sebab dokter Aira tak juga tiba hingga beberapa saat.


"Maaf semua, bagaimana ibu Ziva? Mulasnya sudah semakin sering kah? Ini kenapa pakai selang oksigen?" Seorang wanita muda berjilbab masuk terpogoh, ia langsung mendekati ranjang Zee.


"Tadi ibu Ziva sesak, Dok. Atas anjuran Dokter Ilham pasien saya pasangkan selang," ucap suster yang sejak tadi bolak balik memeriksa Zee.


"Sudah di tensi?"


"Ini hasilnya Dok!" Wajah Dokter mendadak kaget. "Kenapa tensinya begitu tinggi? Pantas dadanya sesak. Tolong jangan panik dan tetap tenang ya, Bu! Semakin panik, otak akan mengirim sinyal negatif pada seluruh organ lain. Apa jantung ibu Ziva juga berdebar?" Zee mengangguk sambil meringis menahan mulas yang semakin kuat, eratan jemarinya pada jemari Bias turut bertambah kuat pula. Semua raga dalam ruangan itu juga tampak mendekat. Semua menatap Zee memberi dukungan. Zee tersenyum getir. "Yakin, Sayang!" bisik Bias. Zee bergeming.


"Bisa saya bicara di luar dengan suami pasien?" ucap Aira ditanggapi anggukan Bias.

__ADS_1


"Yang?" Wajah Zee bingung.


"Semua akan baik-baik saja, jangan panik, tenang oke! Aku akan segera kembali!"


"Jangan lama-lama!" Bias mengangguk. Farah tampak mendekat pada Zee dan terus mengusap pinggang sambil sesekali mendekati wajahnya ke perut Zee. Ia mendoakan cucunya.


Tak hanya Bias, Dona, Libra dan Farid juga ikut ke luar ingin mendengar penuturan Dokter. Semua raga tampak serius kini menunggu Dokter bicara.


"Oke untuk semua, karena tensi ibu Zee cukup tinggi saya tidak bisa melakukan persalinan normal pada ibu Zee. Mau tidak mau jalan Caesar harus ditempuh untuk mencegah kemungkinan buruk yang lebih besar!" lugas Aira.


"Maksudnya?" tanya Farid tegang.


"Melalaui persalinan normal Ibu Zee harus mengejan, tapi dalam kondisi tensi tinggi aktivitas itu akan sangat berbahaya, untuk i-bu maupun sang bayi!"


"Lakukan yang terbaik apa pun itu!" lugas Libra dengan cepat. Semua raga mengangguk.


"Pastikan istri dan anak saya harus selamat!" tegas Bias.


"Kami tentu akan berusaha, tapi bukan kami penentu takdir!"


"Tolong Dok, lakukan lah yang terbaik," lirih Dona penuh harap. Aira mengangguk.




Bias sudah masuk ke kamar isolasi Zee. Ia langsung mendekat dan mencium wajah yang terus menatapnya bingung.


"Ya-ng, ada a-pa? Apa kata dok-ter?"


"Bukan hal serius, hanya saja karena tensi kamu tinggi jadi persalinan normal gak bisa dilakukan. Sebentar lagi kamu akan Caesar. Masuk ruangan se-saat dan kamu akan ke-luar membawa bayi kita yang cantik." Bias berusaha tenang, ia bicara dengan sangat hati-hati.


"Caesar?" Zee terus menggeleng. "Ng-gak, Yang! A-ku takut!"


Bias merangkum rahang itu. "Percayakan pada Dokter! Kamu hanya perlu tenang! Aku akan mendampingi kamu! Akan selalu di samping kamu!"


"Sung-guh?"


"Iya!"


..._______________________________________...


🥀Happy reading😘

__ADS_1


🥀Satu lagi besok pagi ya😁😁


__ADS_2