ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
JANGAN EGOIS!


__ADS_3

Seorang lelaki yang tinggal di Jakarta itu tak bisa lagi membendung kerinduannya. Melihat istrinya yang sangat lelah hingga tertidur saat bertelepon dengannya membuat ia merasa bersalah. Zee, istrinya hidup dan menjalani aktivitas sendiri di Kota orang. Padahal ia sudah bersuami dan merupakan tanggung jawabnya.


Siang itu setelah bertelepon, Bias langsung datang ke Rumah Sakit bertemu dokter ortopedinya. Bias meminta sang dokter memeriksa kembali keadaan kakinya, mengatakan ia harus ke Jogya. Beberapa pengecekan dilakukan, Rontgen juga kembali dilakukan yang sungguh memakan waktu itu.


Sekitar pukul 4 sore hasilnya akhirnya keluar, Dokter melihat seksama gambar Rontgen yang memperlihatkan jelas kondisi kakinya bagian dalam itu. Dokter cukup surprize dengan kemajuan kaki Bias.


Beberapa bulan belakangan itu Bias memang selalu menjaga pola makannya. Menu 4 sehat 5 sempurna mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral yang penting untuk menghasilkan tenaga dan membangun kembali jaringan tubuh yang rusak selalu ia lahap untuk penunjang kesembuhannya. Suplemen yang mengandung kalsium dan vitamin D baik untuk tulang juga tak tertinggal ia konsumsi.


Dokter akhirnya menyatakan kondisi kaki Bias sudah cukup bagus. Bias bisa bepergian, tapi kembali diingatkan bahwa Bias masih dilarang beraktivitas yang memberi penekanan berat bagi kakinya yang cidera, bagaimana pun mengembalikan kondisi trauma pada tulang yang patah adalah penyembuhan dalam kurun waktu panjang. Bias mengangguk, ia paham. Toh ia juga hanya akan naik pesawat, turun dan melakukan hal ringan saja setelahnya.


Setelah dari rumah sakit, ia kembali ke Kafenya di bilangan Jakarta. Beberapa saat sebelumnya memang Bias meminta ketiga manajer Kafenya datang menemuinya di Jakarta. Kini Bias dan dua manajer Kafe sudah berkumpul, tinggal menunggu Andri yang terjebak macet dan kini masih dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta.


Pukul 17:15 saat itu, sembari menunggu kedatangan Andri, Bias yang sejak tadi mematikan ponselnya tampak mulai menyalakan dan mengecek satu-satu pesan yang datang. Hingga sampai pada pesan yang dikirim Zee, jantung Bias seketika berdegup cepat.


📩Yang, aku ke Mini Market dan bertemu bang Jo. Aku izin berbincang dengan bang Jo, ya?"


Pesan tersebut dikirim pada pukul 16:15, itu artinya sudah satu jam berlalu. Ia mulai berpikir, apakah istrinya itu saat ini masih bersama Johan. Bias yang tidak tenang terus menghubungi ponsel Zee tapi tak ada jawaban. Otaknya semakin pening saja memikirkan hal yang mungkin terjadi antara mantan sepasang kekasih itu.


Pukul 17:30 akhirnya Andri tiba. Bias menetralkan otaknya dan memimpin meeting, ia mendengar satu-persatu manajernya memberi laporan Kafe hari itu dan setelahnya Bias tampak menjelaskan bahwa sepekan ini dirinya akan stay di Jogya. Ia akan tetap mengadakan zoom meeting pada tiga manajernya setiap hari dan Bias berharap selama ia tidak ada seluruh Kafe bisa berjalan normal tak terkendala. Melihat semua manajer paham akan tugas mereka. Bias undur diri.


Pukul 18:50 pesawat yang membawa Bias terbang ke Jogya berangkat, hingga di pukul 20:05 pesawat Bias mendarat di Bandara Adi Sutjipto. Berhubung lalu lintas lancar, menggunakan sebuah ojek online dalam 10 menit Bias sudah sampai ke alamat kossan Zee. Karena otaknya sejak tadi sudah tidak tenang, Bias melangkah cepat, tak sabar ia bertemu istrinya itu.


Bias baru saja ingin menekan Bel, tapi melihat gerbang yang sedikit terbuka juga sayup suara yang tak asing untuknya membuat Bias tanpa permisi masuk melewati gerbang.


Netra Bias seketika terbelalak. Berbagai asumsi yang memenuhi otak sejak sore semakin membakar saat ia melihat dengan matanya sendiri Zee tengah berinteraksi cukup dekat dengan Johan. Setelah menarik napas panjang, Bias mengeluarkan suara.


"Yang!"


Dua raga seketika menoleh, Zee langsung berdiri. Zee yang melihat raut datar Bias seketika sadar perilakunya beberapa saat lalu salah, saat ini suaminya itu pasti marah dan salah paham. Zee mendekati Bias yang mematung.

__ADS_1


"Kamu dateng, Yang?" ucap Zee menangkup wajah dan memberi kecupan di pipi Bias.


"Gak usah cium-cium! Jadi begini kelakuan kamu jauh dari aku?" ucap Bias dengan nada ketus, jelas ia sedang sangat marah.


"Yang, kamu salah paham!"


"Aku lihat dengan mata kepala aku sendiri! Kamu kayaknya lupa status kamu!" Zee terus menggeleng tidak membenarkan ucapan Bias. Johan di kejauhan mulai mengangkat badan dan mendekat, ia merasa harus membantu Zee menjelaskan yang terjadi.


"Stop Bang! Ini masalah rumah tangga kami!" lugas Bias mengangkat tangannya ke arah Johan.


"Jelas jadi urusan gue karena lo salah paham ngeliat Zee lagi sama gue!" Bias melirik Johan tanpa kata.


"Di mana kamar kamu, kita harus bicara!" ujar Bias meraih lengan Zee dan menariknya menuju ke dalam rumah, namun baru sampai di muka pintu Zee menahan.


"Yang!"


"Ke sini sebentar!" Zee menarik Bias ke tepi. "Jangan mikir macem-macem, kamu gak boleh ke kamar aku karena lagi ada Risya di sana!"


"Hah! Maksudnya? Tunggu! Jadi kamu gak dengerin ucapan aku kemarin? Kamu tetap masukin si Risya teman kamu itu ke kamar kamu?"


"Dengerin aku dulu, Yang. Ada yang harus kamu tau!"


"Please Yang, kalau aku bilang jangan, kamu denger dong! Di sini kepala keluarganya aku, aku yang harus di denger dan aku nggak suka kamu banyak alesan kayak gini!"


"Yang, Risya tuh tadi hampir aja____


"Stop, Yang! Aku nggak mau denger apapun mengenai Risya itu! Andai kamu tau, aku tuh dateng karena aku kangen kamu, seharian ini aku kelarin kerjaan aku supaya bisa dateng. Eh, aku malah disambut kayak gini!"


"Ma-af, Yang. Iya aku salah, tapi tadi Risya____

__ADS_1


"Lagi-lagi Risya yang kamu omongin! Kamu gak mikirin aku apa? Di mana kamar kamu, aku capek mau tidur, suruh aja Risya itu pulang!" Bias kembali menarik lengan Zee namun Zee menahan.


"Yang!"


"Egois banget sih lo, Bi! Begini jadi kepala keluarga? Kasih dong kesempatan istri lo jelasin!"


"Diem ya lo, Bang! Ini urusan gue!" lugas Bias lagi mengacungkan jari telunjuknya.


"Tapi lo harus dengerin Zee!"


"Suka-suka gue, dong!" Bias yang sedang tersulut emosi berjalan ke arah Johan dan menarik kerah kemeja itu. Johan tertawa.


"Jadi begini cara sang juara sekolah menyelesaikan masalah?" Bias seketika melepaskan eratan tangannya.


"Supaya lo tau, tadi Risya hampir di lecehin tetangga kossannya!" Netra Bias membulat, ia menatap Zee dan Zee terus mengangguk.


"Untungnya tadi Zee ngasih tau gue dan kita dateng gak terlambat. Lo tuh harusnya bangga punya istri yang hatinya lembut dan tulus, Zee gak mau terjadi apa-apa sama Risya makanya dia berkeras bantu temennya itu. Dan sekarang Risya masih nggak sadar habis di cekokin obat sama tuh cowok 2. Gue tanya sama lo, lo tega ngusir Risya dalam keadaan begitu?"


Bias menyugar rambutnya. "Astagfirullah!" Bias menatap netra Zee yang berkaca di kejauhan, ada rasa sedih karena beberapa saat lalu ia terus berasumsi buruk pada istrinya itu. "Yang ...," lirih Bias memanggil Zee, ia membuka kedua lengannya. Tak menunggu waktu lama, Zee langsung berlari mendekat dan masuk dalam pelukan Bias.


"Ma-af," lirih Bias.


...______________________________________...


🥀Happy reading,😘


🥀Promosi karya sahabat bubu lagi guys, yuk kita kepoin bareng-bareng ❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2