ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MENDADAK INGAT STATUS


__ADS_3

Pukul 23:00 saat ini, hembusan angin malam semakin dingin. Setelah mengganti seragam, Zee menggunakan sweater dan memakai tas punggungnya sembari melangkahkan kaki ke luar Kafe.


Zee tampak keluar bersama 10 orang karyawan lain termasuk Novi yang menjadi asisten manajer di Kafe itu. Seminggu ini Novi memang ditugaskan menghandle shift malam.


Setelah keluar dari bangunan Kafe bergaya vintage itu, seluruh raga berpencar. Enam orang langsung naik ke atas sepeda motor karena sanak saudara atau orang terdekat mereka nyatanya sudah menunggu.


Kini Zee bersama tiga orang yang lain masih berdiri di halte yang tampak sepi. Tak berselang lama dua ojek online datang dan membawa dua rekan Zee. Tertinggal setelahnya Zee bersama Novi.


"Ada yang jemput kamu kan, Ziva?" tanya Novi sambil matanya mengedar pandang mencari-cari bayang suaminya yang juga belum datang menjemput.


"Ayah aku tadi sore katanya mau jemput, Mbak." Novi mengangguk.


Tak berselang lama, Novi mengayunkan tangannya ke arah seorang pengendara motor yang berhenti di muka Kafe. Novi meminta suaminya mendekat ke Halte.


"Tunggu teman aku sebentar ya, Mas!" Novi bicara pada suaminya. Suaminya itu diam saja, tak berselang lama baru ia mengangguk, namun seperti terpaksa.


"Mbak Novi pulang aja! Aku gpp nunggu di sini sendiri," utar Zee melihat dua orang wanita baru keluar dari sebuah counter hp dan berdiri di Halte pula menunggu sanak saudaranya. Mempertimbangkan Zee tak sendiri, juga rahut wajah suaminya yang kurang bersahabat, dengan berat hati Novi memutuskan pulang lebih dulu.


"Ziva, nanti kalau sudah sampai rumah kabari Mbak, ya!"


"Iya, Mbak."


"Hati-hati Ziva. Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikumsalam, Mbak."



__ADS_1


Zee mematung. Tiba-tiba bayangan kejadian ia bertemu Bias sore tadi memenuhi otak. Ia yang bahagia terus mengingat setiap detik yang ia lewati tadi sore bersama Bias. Zee tak menyadari sebuah motor telah berhenti dan sosok raga tegap kini sedang berjalan mendekatinya.


Kak Bias, apa kakak sudah memiliki pengganti kak Nasya? Apa dosa ya Tuhan jika aku masih mengharapkan kak Bias akan menyukaiku, menjadi milikku! Kak Bias ... wajahnya tadi terlihat sangat sedih. Kasihan kak Bias. Kak, kakak bisa berbagi kesedihan kakak sama ku! Aku akan menjadi mendengar yang baik untuk kakak. Aku juga dengan senang hati akan berusaha mengobati luka kakak____


Raga tegap bingung gadis di hadapannya tak juga merespon kehadirannya. Ia mematung dan seolah terkurung dalam khayalnya sendiri. Sang pria tegap tiba-tiba terfikir cara untuk menggoda gadis di hadapannya. Ia berpindah posisi ke belakang sang gadis dan dengan cepat menutup kedua netra coklat itu.


Zee sadar, ia kaget sebuah tangan besar menutup netranya. Ia yang panik spontan menghentakkan kaki berusaha menginjak kaki orang di belakangnya.


"Lepas! Jangan macam-macam sama saya!" Hentakan kaki Zee semakin ke belakang mencari sepasang kaki orang asing, hingga akhirnya____


Duk


Ahhh ....


Yes, aku lolos!


"Ba-ng Jo?"


"Hanya seperti itu respon bertemu kekasih?" Zee tersenyum getir.


Beberapa saat lalu bahkan ia memikirkan Bias, lelaki lain. Dada Zee begitu sesak. Ia tiba-tiba teringat statusnya, bahwa sebulan lalu dirinya sudah menerima pernyataan cinta Johan yang selama 3 tahun hanya ia gantung. Ia masih bergeming, ia menunduk dan merasa bersalah tak berani menatap wajah itu. Memikirkan Bias seakan telah menghinati perasaan Johan.


"Zee? Kenapa? Ada masalah?" Johan mengangkat dagu itu. Zee menggeleng menyatakan ia baik-baik saja dan tidak ada masalah. Zee lagi-lagi memaksa tersenyum. Johan yang senang melihat kekasihnya tersenyum merangkul bahu itu.


"Zee?"


"Eh, i-ya, Bang?" Jawaban itu terbata. Johan meneliti wajah Zee, ia tahu ada hal berbeda dari Zee. Zee yang biasanya ceria hari ini terlihat menyimpan banyak beban.


"Oh ya, Zee, apa kamu mau makan sesuatu?"

__ADS_1


"Ng-gak, Bang! A-ku mau langsung pu-lang!"


"Nggak laper?"


"Ta-di aku sudah makan bekal dari ibu!'


"Oh."


"Yaudah, kalau memang kamu sudah kenyang kita langsung pulang aja!" Zee mangangguk.


Di motor, suasana yang biasanya riuh sebab keduanya terus berbincang kini terlihat hening. Bibir Zee seakan kelu untuk mengeluarkan kata. Zee masih bergeming, saat lengan kekar Johan tiba-tiba menelisik ke belakang dan meraih tangan Zee. Johan mengarahkan sepasang tangan itu hingga mendarat di perutnya.


"Aku dingin, Zee!"


"Oh." Johan semakin menarik sepasang lengan itu hingga tubuh keduanya tak berjarak.


"Kamu boleh tidur kalo ngantuk! Aku akan jaga kamu!" Zee bergeming masih tak banyak bicara. Perlahan ia mulai menjatuhkan kepalanya ke punggung Johan.


Aroma parfum bang Jo sangat kuat, beda dengan aroma parfum kak Bias yang lembut.


Bang Jo, dia lelaki yang banyak mengisi hariku 3 tahun ini. Dia tulus. Aku akan selalu merasa bersalah jika terus memikirkan kak Bias! Nggak, ini salah! Aku gak boleh menyakiti bang Jo. Gak boleh memikirkan kak Bias lagi. Tapi hatiku senang dekat kak Bias. Kak ... aku cuma mau kakak! Hatiku hanya mau sama kakak! Bagaimana ini!


Jangan Zee, jangan bodoh! Bang Jo itu nyata, tapi kak Bias? Lo itu bahkan gak tau kak Bias udah punya pengganti kak Nasya atau belum! Dan lo lihat tadi kan, banyak foto cewe di hp kak Bias! Jangan Zee, jangan buat hati lo merasa sakit lagi! Kak Bias gak cinta elo! Beda sama bang Jo yang selalu sabar nunggu elo!


Denger Zee! Kalau kak Bias ke Kafe itu lagi, lo sebisa mungkin harus menghindari kak Bias! Karena cuma cara itu yang bisa jadi bukti kalau elo menghargai bang Jo!


..._________________________________________...


🥀Happy reading😘😘

__ADS_1


__ADS_2