
"Eh Ris, ayo masuk! Sebentar aku siap-siap dulu, ya!"
"Iya Zee."
"Maaf lho Ris, kamu jadi lama nunggu aku, habis seingetku kita janjian kemarin jam 6 deh. Eh kamu setengah 6 udah dateng," ucap Zee yang baru saja ke luar kamar mandi sudah dengan celana training dan kaos. Sepulang dari MayMidi Mart kemarin keduanya memang berencana untuk jogging pagi itu.
"Iya emang aku yang kepagian Zee, aku bingung soalnya habis sholat mau ngapain. Yauda aku ke sini aja!" lirih Risya.
"Iya gpp. Aku seneng kok kamu dateng," ucap Zee yang baru saja menguncir seluruh rambutnya ke atas, kini Zee tampak sedang memakai sepatu ketsnya.
"Dah kelar. Yuk berangkat!" Zee yang sudah siap mengajak Risya untuk memulai langkah. Keduanya tampak mengelilingi perumahan yang masih tampak sepi. Sepanjang jalan keduanya terus berbincang apa saja. Risya yang mengambil jurusan manajemen Bisnis tak henti membicarakan mimpi masa depannya. Zee dengan antusias pula mendengar. Dalam diam, Zee mengamini mimpi sahabatnya itu. Hingga di sebuah bundaran Risya tampak menghentikan langkah.
"Istirahat dulu, yuk! Aku haus!" ajak Risya. Zee mengangguk, ia juga merasa haus pula sebetulnya.
Keduanya menepi dan meminum air mineral yang dibawanya. Zee tampak memperhatikan wajah Risya, di bawah mata itu terlihat lebih cekung, Risya terlihat lelah.
"Sya, kamu sehat?" Tanya itu terlontar.
"Sehat. Emang kenapa?"
"Gak pa pa, nanya aja. Kayak capek gitu muka kamu."
"Oh itu, iya semalem ada tetangga kossan yang main nggak pulang-pulang padahal aku udah ngantuk banget," terang Risya menjelaskan apa yang semalam terjadi. Tentang seorang tetangga yang memaksa mengajaknya mengobrol tapi hampir tengah malam tak juga pulang. Kini memang Risya sejujurnya mengantuk, tapi ia sedang tak ingin berada di kossan. Ia mulai tak nyaman dengan tetangga kossan yang sepertinya senang memaksakan kehendaknya itu.
"Ciee yang habis diapelin. Cowok mana? Keren gak? Masih kuliah juga apa udah gawe?" Zee terlihat antusias mencecar tanya. Ia sangat penasaran dengan yang terjadi pada Risya. Zee memang tidak berpikir kalau lelaki yang dimaksud Risya justru sudah sangat mengganggu Risya.
"Hmm ... keren sih, tapi biasa aja buat aku. Udah ah males bahas dia!" ucap Risya.
__ADS_1
"Ihh kok gitu sih! Awas lho jangan benci-benci nanti jadi suka!"
"Nggak deh suka sama cowok model begitu!" lugas Risya membuat Zee semakin dibuat penasaran.
Mereka terus berjalan, hingga tiba-tiba dua orang lelaki tampak mensejajarkan langkah. Lelaki dengan celana boxer dan kaos oblong itu kini berjalan di samping Zee dan Risya.
"Hai Dek Risya, kok kamu ninggalin aku sih! Semalem kita kan udah janji mau jogging bareng, kenapa kamu malah duluan! Aku cari-cari kamu lho, Dek!" ucap seorang pria berkaos putih. Ia terlihat tak mengalihkan tatapannya pada Risya dengan raut sedikit gusar, sedang seorang lelaki yang lain tampak melirik Zee tapi Zee tak menghiraukan.
"Oh maaf Mas, aku lupa!" utar Risya dengan santainya. Ia menarik lengan Zee, mengajak Zee mempercepat langkah keduanya. Zee yang tidak tahu apa-apa merasa bingung. Ia melirik sang lelaki sekilas dan mulai menebak-nebak.
"Itu cowok yang semalem ngapelin kamu?" lirih Zee.
"Iya, kita jangan bahas dia ah! Yuk kita pulang aja tapi ke kossan kamu, ya! Aku males ngeliat dia!"
"Emang kenapa?"
"Udah kita pergi aja dari sini dulu, nanti aku ceritain."
Keduanya tampak berjalan lebih cepat, namun gerak keduanya tetap bisa terkejar. Kedua lelaki kini sudah di hadapan mereka.
"Dek Risya suka malu-malu gitu sih. Jalannya cepet banget," ucap Bowo lelaki yang semalam tak gentar mengajak berbincang Risya kini berdiri tepat di hadapan Risya."
"Eh ngomong-ngomong kenalin dong aku sama temannya dek Risya, namanya siapa? Temannya ini kuliah di UGM juga? Jomblo gak? Kos di mana? Aku boleh kan sesekali main?" ucap Bowo lagi. Terlihat seorang lelaki di sebelah Bowo menarik lengan Bowo dan mengajak Bowo ke tepi.
"Lo jangan gitu dong, Wo! Inget target lo itu si Risya! Temen Risya jatah gue!" Sang pria menahan dada Bowo, berkeras dengan inginnya tak ingin dibantah.
"Oke oke, santai Bro! Maksud aku juga ngajak kenalan teman Risya buat aku kenalin sama kamu! Kamu siap-siap aja sama yang lain, kalau Risya sampai nerima rasa aku! Aku yang menang taruhan!"
__ADS_1
"Yo i sip siapa takut! Yang penting temen Risya punya gue! Awas aja kalau habis menang taruhan lo belok ke temennya Risya!"
"Duh, iya iya!"
"Eh ke mana tuh gadis dua?"
"Kamu sih, ah!"
"Lho kok jadi gue yang salah?" Teman Bowo bernama Priyo itu tak ingin disalahkan. Priyo sebetulnya asli Jogya, ia anak orang berada. Tapi karena banyak dilarang orang tua melakukan ini dan itu, ia akhirnya jadi sosok nakal, begajulan. Setiap yang dilarang justru ingin ia coba. Kini ia tinggal di kos. Kebutuhan hidupnya dicukupi sang ayah. Priyo memang menggenggam rahasia besar sang ayah, oleh karenanya mau tidak mau sang ayah akhirnya mencukupinya.
"Gimana nih, gue gak mau tau lo harus cari tau nama temen Risya! Gue suka model begitu, cantik, tinggi, putih dan gak mbosenin wajahnya, kayaknya dia juga pinter!"
"Oke tenang tenang! Nanti aku cari tahu semua dari Risya! Kita lanjut jogging yuk sekalian cari cewek-cewek itu!"
Dua raga wanita tergopoh berlari. Setelah beberapa saat, di depan Bangunan bercat biru langkah keduanya terhenti. Keduanya merasa lega, mereka terus mengatur napas menetralkan panik yang dirasa. Keduanya kini masuk ke dalam kamar Zee. Saling merebahkan diri di ranjang berukuran 100x180 yang biasa diperuntukkan satu orang itu. Keduanya saling menatap setelahnya.
"Itu cowok yang kamu ceritain?" tanya Zee, Risya mengangguk.
"Yang semalem main ke kossan kamu?" tanya Zee lagi. Risya kembali mengangguk.
"Tetangga kossan kamu?" Dan lagi-lagi Risya mengangguk.
"Duh serem banget sih tetangga kossan kamu. Dia kayak suka maksa gitu."
"Itu dia Zee, semalem aja aku bingung ngusir dia. Akhirnya aku berdrama seolah perut aku sakit. Aku minta dia pulang dan untungnya dia mau tapi dengan catatan pagi ini aku harus mau jogging sama dia. Aku yang males ketemu akhirnya ke luar kamar habis sholat subuh dan langsung ke tempat kamu. Aku yakin di jam itu pasti dia belum bangun." Zee menatap Risya seksama.
Zee bergeming, ia kini tau alasan Risya pagi-pagi sudah datang ke tempatnya. Ada khawatir dirasa Zee, tapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Ia berfikir ingin mengajak Risya tinggal di tempatnya tapi ia ragu mengenai Bias. Apa Bias akan setuju. Secara raga, suaminya itu memang tidak tinggal di sana, tapi hari-hari keduanya yang tak pernah tertinggal bervideo call, seolah Bias selalu ada di kamar itu. Kini, jika Zee mengajak Risya ikut tinggal, apa Bias akan merasa nyaman ada orang lain di kamar mereka.
__ADS_1
..._____________________________________...
🥀Happy reading ya semuaa😘😘