ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
PERPISAHAN


__ADS_3

"Don, kamu lihat Zee dan Bias ke mana tadi?"


"Wah aku nggak tau Far, masih setengah jam lagi kan jadwal keberangkatannya?"


"Iya, sih. Tapi aku____


"Jangan khawatir, Ziva putrimu orang yang kukuh sama pendiriannya kok. Mungkin Zee dan Bias lagi ngabisin waktu di detik akhir mereka! Biarin aja, nanti mereka juga muncul sendiri!" Farah bergeming mencerna kalimat Dona.


"Oh ya, aku sama mas Libra tunggu di restoran itu, ya! Perut aku laper. Hmm ... kamu mau ikut?"


"Oh, nggak nggak, aku tunggu Bias sama Zee di sini aja!" Dona mengangguk dan berbalik. Dona melirik sekilas ke arah Farid, baru menghampiri Libra setelahnya.


Dua keluarga hari itu memang memutuskan mengantarkan Zee yang akan melanjutkan sekolah ke Jogya. Baik keluarga Zee mau pun keluarga Bias tentunya menyayangkan dua insan harus berpisah. Tapi mereka selaku orang tua sadar tidak bisa berbuat apa pun saat dua insan itu sendiri nyatanya sudah siap pada konsekuensi yang akan mereka hadapi. Mereka masih muda dan memiliki mimpi sendiri untuk masa depannya dan para orang tua lagi-lagi hanya bisa mendoakan dua insan meraih setiap yang dicitakan.


Apa Libra sudah mengikis dendam masa lalu dan menerima sepenuhnya Zee sebagai bagian keluarganya? Jawabannya belum. Ego itu begitu besar sekedar untuk menyatakan penerimaannya atas Zee kendati hatinya mulai luluh melihat anak dari orang yang dibencinya nyatanya tulus mencintai sang putra, terus mendampingi sang putra di masa sulitnya serta selalu mendukung dan bisa mengobarkan semangat sang putra untuk hidup lebih baik dan terarah.


Libra adalah pria yang memegang janjinya. Ia pernah berkata sebelumnya di rumah sakit bahwa ia tidak akan mengganggu hubungan Bias dan Zee, maka itulah yang terjadi. Seperti halnya hari ini, Libra ikut mengantarkan kepergian Zee ke Bandara agar membuat putranya senang. Dona yang sadar membiarkan Libra dan Farid dalam satu tempat tidak baik memilih mengajak suaminya ke salah satu restoran Bandara sambil menunggu jam keberangkatan yang masih setengah jam lagi itu.




Cuaca hari itu sangat cerah. Matahari dipenuhi awan-awan berbagai bentuk yang saling berkolaborasi memperindah langit. Matahari sedang senang bersembunyi di balik iringan awan hingga teriknya tak menusuk penghuni bumi. Dua raga duduk disebuah Kafe yang tidak begitu ramai, memilih sofa di sudut yang menampilkan langsung lukisan alam nan indah. Entah sudah berapa kali Bias mencium puncak kepala Zee yang sangat nyaman bersandar di bahunya.


Kedua insan yang sudah mantap akan keputusannya tak menghiraukan pandangan sekitar, yang mereka tahu ialah mereka ingin momen kebersamaan dengan waktu yang semakin singkat itu tak terbuang, dipakai semaksimal mungkin.


"Yang ...."


"Hem?"


"Nanti kamu kalau kerja jangan sampai lupa waktu, ya. Makan kamu, tidur kamu, terapi kamu, harus kamu pikirin!" lirih Zee.


"Iya. Kamu juga harus sering kirim foto kamu biar aku tahu kamu baik-baik aja. Oh ya, cari kosan nanti sama ayah yang khusus putri aja, yang aturannya ketat jadi akunya tenang." Zee mengangguk.

__ADS_1


"Maaf juga aku nggak bisa nganter kamu ya, Yang! Kaki aku belum bisa untuk naik turun pesawat. Aku sebetulnya gak enak sama ayah, tapi gak ada pilihan!"


"Jangan ngomong begitu. Ayah seneng kok nganter aku! Kamu juga setelah terapi nanti juga bisa naik pesawat, nikmati prosesnya, jangan terlalu diforsir juga, kalau libur aku akan ke Jakarta nemuin kamu!" Zee menaikkan tubuhnya, sebuah kecupan singkat di daratkan di bibir Bias. "Aku sayang kamu, Yang! Aku mau kamu selalu baik-baik aja."


"Iya terima kasih. Aku juga sayang kamu!" ucap Bias sambil lagi-lagi mengecup kepala Zee.


"Yang, kok aku kayaknya lebih tenang kalau kamu tinggal sama mama aja sih. Ada keluarga kamu, bibik, mang Satyo. Kamu jadi nggak sendiri, banyak orang yang akan bantu kamu, sedang Mbak Tum di rumah kita kan cuma dateng untuk bersih-bersih aja!"


"Duhh, Yang ... kaki aku memang belum pulih sempurna, tapi aku bukan bayi usia dua tahun yang harus kamu khawatirin, Sayang. Aku lelaki dewasa!"


"Iya aku tahu kalau yang itu!" keduanya tersenyum. Zee membenamkan wajahnya di bahu Bias.


"Aku akan rindu harum kamu ini! Kalau kata bahasa novel candu, Yang!" Bias yersenyum, ia mengusap-usap sayang bahu Zee.


"Oh ya, kartu ATM udah kamu masukin ke koper, kan? Pokoknya harus kamu pakai untuk kebutuhan dan keperluan kamu, jangan sungkan dan jangan sampai kamu kesusahan! Nanti tiap bulan aku akan tambah saldonya."


"Uang cash yang kamu kasih aja udah banyak, Yang!"


"Gpp, biar aku tenang."


"Lupa, kata mama jangan ada rasa menyusahkan!" Zee mengangguk.


"Eh, udah jam berapa sekarang?" ucap Bias lagi.


"Masih sepuluh menit lagi, Yang."


"Ha-h, tinggal sepuluh sepuluh menit lagi!" Bias menahan kepala Zee, memberi kecupan di bibir itu. baru ingin merasakan bibir itu lebih Zee menahan.


"Jangan! Ini tempat umum, Yang!"


"Gpp, kita pasangan halal, Yang!"


"Nggak."

__ADS_1


"Hmm, yaudah. Sini!" Bias menarik tubuh Zee, mendekapnya sangat erat bahkan lebih erat dari sebelumnya. "Aku sayang banget sama kamu, Yang!" bisik Bias. "Aku juga!" balas Zee.


"Semoga kuliah kamu cepat kelar!"


"Belum juga dimulai, Yang!" Keduanya terkekeh.


"Tinggal lima menit lagi. Kita ke bawah sekarang!"


Keduanya meninggalkan Kafe setelahnya sambil saling merangkul, mereka memanfaatkan tiap momen kebersamaan mereka.


Beberapa saat, keduanya sudah sampai di lantai bawah, kedua pasang orang tua langsung menatap lega.


"Sayang, darimana saja, sih?" tanya Farah tiba-tiba.


"Dari Kafe di atas, Bu."


"Yaudah ayo siap-siap. Tadi udah ada panggilan tujuan Jogya suruh siap-siap lho! Ayah juga ayo siap-siap! Ayah jangan lupa! Jaga kesehatan, jangan terlalu letih dan jangan sampai telat makan! Makannya juga jangan yang terlalu pedas, hindari yang banyak minyak dan asam!"


"Iya, iya, Bu!"


Farah mendekat ke arah Zee, mendekap sayang putrinya. "Sayang ... baik-baik! Jaga kesehatan! Ingat kamu seorang istri! Jaga pergaulan kamu, cukup di sana untuk belajar, nggak usah ikut kegiatan aneh-aneh! Belajar yang tekun aja! Ibu selalu mendoakan kebaikan Zee. Semoga Zee meraih apa yang Zee ingin capai, ilmu Zee bisa bermanfaat dan bahagia selalu tentunya! Ibu sayang Zee! Ibu dan adik-adik! Semuanya!" ucap Farah sambil diam-diam menghapus air mata yang menetes. Zee mengangguk, mencium lembut wajah ibunya.


"Mama ...." Zee mendekati Dona. Dona membuka tangan dan keduanya berpelukan. "Pesan Mama kurang lebih sama kayak ibu kamu. Belajar yang tekun, jaga kesehatan dan ingat status kamu!" Zee mengangguk dan beralih mendekati Libra.


"Hmm ... ma-afin Z-ee, Pa! Zee per-nah sangat benci Pa-pa! Tapi keluarga kalian nyatanya baik. Te-rima kasih!" Zee menatap sekilas wajah itu. Ia ingin meyakini rasa dendam pada wajah itu sudah hilang. Zee berusaha tersenyum sedang Libra hanya menatap wajah Zee sambil sesekali melirik Farid. Libra mengangguk setelahnya tanpa berkata apapun.


"Yang ...."


Semua yang ingin Bias luapkan sudah ia sampaikan di Kafe tadi. Ia hanya diam menerima pelukan Zee sambil mengelus bahu itu. Bias mengangguk menandakan ia sudah ikhlas melepas Zee.


..._______________________________________...


🥀Happy reading😘😘

__ADS_1


🥀Selalu support bubu dengan memberi komen, like dan vote karya ini. Tunjukkan kehadiran kalian yaa❤️❤️🙏🙏


__ADS_2