ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
UNTUK RISYA SAJA


__ADS_3

"Ma-af," lirih Bias. Zee terus mengangguk di dada Bias.


"Nah mendengar itu enak, kan? Masalah jadi kelar! Tentang gue yang berdua sama Zee, Zee cuma mau kasih obat ke luka gue! Gak lebih! Gue sadar kali Bi kalau Zee udah punya lo! Sebaliknya lo juga harus percaya sama istri lo!" Bias melirik Johan dan mengangguk. Ia melepaskan pelukannya.


"Ya beginilah resiko long distance, kalo lo udah izinin Zee, berarti lo juga harus lapang dada kalau suatu saat masalah begini muncul! Kalo lo emang gak siap, mending bawa pulang Zee ke Jakarta dan suruh dia pindah kuliah! Aman, kan?" Bias lagi-lagi mengangguk. Ia mendekat ke arah Johan dan merangkul bahu orang yang di masa lalu pernah dekat dengannya itu.


"Sorry," lirih Bias. Johan menepuk-nepuk bahu Bias.


Zee tersenyum melihat aktivitas Johan dan Bias. Zee merasa senang, selama ini ia selalu merasa bersalah membuat hubungan Bias dan Johan berjarak, kini ia merasa lega.


"Satu lagi, gue minta maaf pernah jadi perusak hubungan lo sama Zee, Bang," ucap Bias. Johan tersenyum.


"Lo itu sama Zee sama, ya! Hobinya minta maaf! Dan jawaban yang sama untuk lo! Santai ... gue nyatanya memang bukan jodoh Zee kok!" Bias mengangguk.


"Tapi nggak tau juga ya di masa depan!" Bias langsung menatap lekat netra Johan, memastikan apa yang baru saja didengarnya.


"Yah, kali aja suatu saat lo buat salah ke Zee yang gak termaafkan dan Zee balik lagi ke gue. Siapa yang tau!"


"Siakek lo, Bang!" Bias spontan memukul dada Johan.


"Canda lah!" ucap Johan sesekali melirik Zee.


"Nggak lah, Bang. Gue nikah cukup satu kali. Gue gak akan buat Zee sedih!" Bias merangkul dan menarik kepala Zee. Ia mencium lembut pelipis Zee.


"Kalo gitu jangan cemburuan! Setiap masalah selesaikan pakai kepala dingin!"


"Siap!"


"Eh ada apa ini? Zee ... kamu, kok?" Mbak Lastri yang ingin memberitahu kalau Risya sudah sadar mendadak kaget melihat interaksi Bias dan Zee yang cukup intens. Zee langsung melepaskan rangkulan tangan Bias.


"Eh, Mbak Lastri_____


"Yang, ini mbak Lastri yang suka kamu ceritain?" tanya Bias, Zee mengangguk.


"Salam kenal, Mbak," seloroh Bias menganggukkan kepala sebagai salam perkenalan. Lastri tersenyum bingung.


"Ini siapa ya, Zee?" ucapnya. Zee bergeming menatap Bias.


"Kayaknya kamu harus kasih tau mbak Lastri tentang status kita, Yang!" kata Bias. Lastri langsung menatap Zee. Lastri ini memang sepupu sang pemilik kos, ia yang dipercaya budenya untuk mengurus kossan itu beserta seluruh penghuni di sana.

__ADS_1


"Mbak, sebelumnya aku minta maaf karena selama ini udah bohong." Lastri yang semakin bingung mendekat ke arah Zee, tatapannya dipenuhi bongkahan tanya. Di kejauhan Johan tersenyum dan menggelengkan kepala melihat Zee yang lagi-lagi mengucapkan maaf.


"Ja-di sebe-ner-nya a-ku_____


"Kami sudah menikah, Mbak!" sela Bias dengan tegas. Bias tidak sabar melihat istrinya berucap terbata membuka semua kebenaran status mereka.


"Siapa yang sudah menikah?" ucap Lastri yang masih bingung.


"Kami, saya dan Zee, Mbak. Kami sudah menikah di Jakarta. Zee adalah istri saya." Bibir Lastri membulat, ia kaget.


"Zee?"


"Ma-af, Mbak!" lirih Zee. Lastri tampak terdiam menatap Zee.


"Hmm, ada yang perlu aku bicarakan, Zee. Bisa kita duduk!" ucap Lastri. Ia mengajak Bias dan Johan yang sedang berdiri untuk duduk juga.


"Begini Zee, di kossan ini jelas ada peraturan bahwa hanya diperuntukkan untuk mahasiswa yang belum menikah." Bias dan Zee tampak saling menatap.


"Tapi suami aku kan gak tinggal di sini, Mbak. Dia di Jakarta," ucap Zee.


"Tapi tetap sudah menikah, kan?" Zee tampak terdiam.


"Walau kami bisa membayar lebih? Ayolah Mbak, saya juga di sini gak lama, selebihnya Zee akan sendiri," ucap Bias berusaha menggoyahkan prinsip Lastri. Zee mengangguk.


"Maaf gak bisa, Mas, Zee! Bagaimana pun kehidupan kalian berbeda, walau hanya satu hari sekalipun Mas menginap. Saya nggak bisa mempertahankan satu orang dan mengabaikan tujuh kepala yang lain. Di sini koss putri, tidak ada laki-laki sampai detik ini masuk ke dalam kamar apalagi sampai menginap. Mas Johan tau sendiri tadi, saya hanya memperbolehkan beliau melihat Risya dari luar, itu juga karena penghuni kossan yang lain sedang ke luar. Sekali lagi maaf ya, Zee!" lugas Lastri kembali.


"Assalamu'alaikum Mbak Lastri, eh banyak tamu, yah?" Seorang penghuni kos tampak baru pulang setelah menghabiskan weekend-nya, ia menyapa Lastri.


"Wa'alaikumsalam, Re. Iya nih temen Mbak lagi main. Met istirahat, Sayang!" ujar Lastri sebelum akhirnya Reni masuk ke kamarnya.


"Mbak, aku pulang!" Tak berselang lama satu penghuni lagi pulang. Waktu yang hampir menunjuk pukul 9 malam seperti biasa anak-anak kos mulai kembali, hingga di pukul 10 nanti gerbang akan ditutup.


"Tuh lihat! Mereka masih lugu-lugu. Apa jadinya kalau mereka lihat kedekatan kamu sama Bias di sekitar mereka."


"Tapi kami tau tempat kok, Mbak!" lirih Zee.


"Yakin? Mbak rasa usia kalian masih usia senang-senangnya mengekspresikan sesuatu. Jangan lupa tadi mbak lihat lho kamu berangkulan sama suami kamu!" Zee dan Bias lagi-lagi saling berhadapan.


"Oke gini deh, gak mungkin juga kan malam-malam Zee ke luar dari kossan. Untuk malam ini Zee biar tetap di kamarnya sama Risya, nah elo Bi, tidur aja di kontrakan gue. Gimana? Untuk selanjutnya, kalau memang Zee nggak bisa tinggal di sini, biar kamar Zee buat Risya. Kamu Zee sama Bias besok aku bantu cari kontrakan di sekitar sini. Ini sih saran, kembali terserah kalian.!" lontar Johan ikut mencari solusi.

__ADS_1


"Boleh juga ide kamu mas Johan. Aku setuju begitu."


"Nggak Mbak, Zee ... aku nggak bisa di-sini! Aku nggak punya uang untuk bayar se-wanya." Sesaat tadi Lastri lupa bahwa ia ke luar untuk memberitahu bahwa Risya sudah sadar. Kini Risya tampak sudah berdiri mematung sejak tadi dan mendengar segalanya.


"Temen kamu suruh di sini aja! Setahun ini udah dibayar juga, kan? Selebihnya biar aku yang lanjutin bayar," ucap Bias menghadap Zee.


"Bener, Yang?"


"Iya," kata Bias memberi senyum manis ke wajah istrinya.


"Thanks ya, Yang." Bias mengangguk.


"Sya, kamu bisa tinggal di sini mulai sekarang, besok bang Jo, aku sama suami aku akan bantu mindahin barang kamu." Mendengar ucapan Zee, sepasang manik mata Risya langsung berkaca. Zee berdiri dan memeluk sahabatnya itu. "Jangan nangis! Ingat tijuan kamu ke Jogya ini apa, kamu harus buat bangga bapak sama ibu kamu!" ucap Zee membuat Risya terus mengangguk.


"Yaudah yuk balik, udah malem juga, Tuh cewek-cewek biar istirahat!" Jo berdiri mengajak Bias turut serta. Tapi Bias memiliki pemikiran lain.


"Sorry, Bang. Emang gue setuju masalah Risya yang nempatin kamar Zee, tapi gue gak bisa ikut lo. Gue jauh-jauh dateng karena kangen istri gue, jadi malem ini gue mau bareng Zee."


"Lo, gimana nih maksudnya!" ucap Mbak Lastri bingung, ia menatap wajah Bias dan Zee bergantian.


"Yang, siapin ganti kamu gih! Kita nikmati malam Jogya!"


..._____________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Promo karya sahabat Bubu, yuk mampir dan nikmati setiap babnya,❤️❤️


Judul : Hei Gadis Berkacamata


Author : Putri Nilam Sari


Blurb :


Perjalanan Eisha si gadis berkacamata dalam merubah penampilan dan menggapai impiannya dibantu Adnan seorang pria misterius dan bersikap dingin serta bermasalah di lingkungan nya.


Namun benih cinta yang tumbuh diantara mereka belum sempat mekar karena kesalahpahaman dan kejadian tak terduga.


Hingga Pertemuan tak disangka kembali memulai kisah yang belum usai, namun bagaimana dengan takdir yang memberikan kejutan bagi mereka, akankah kisah mereka berakhir bahagia??

__ADS_1


__ADS_2