ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MENOLAK SITI


__ADS_3

Sudah dibilang tidak lapar, nyatanya berdalih cuaca yang dingin Johan menepikan motor besar itu ke tepi. Johan memesan wedang jahe pada seorang pedagang yang berjualan di sisi jalan itu.


"Bener nggak mau?" Zee menggeleng.


"Bang Jo kapan balik dari Bandung? Kok tau tempat kerja aku?"


Johan sekarang memang sudah bekerja menjadi manager di sebuah retailer yang memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia. Dua hari kemarin ada Diklat bagi para manager di Bandung. Sore tadi Johan kembali dan langsung terfikir menemui Zee.


"Tadi sore aku sampe dan langsung ke rumah kamu. Aku lupa kalau kemarin kamu cerita diterima kerja. Kata bunda kamu pulang jam 11, jadi aku minta izin bunda jemput kamu."


"Ba-ng Jo gak ngabarin aku kalau udah balik!"


"Surprize dong, Sayang!" Zee tersenyum getir.


"Dan aku kayaknya berhasil banget, muka kamu tuh tadi kayak ketemu hantu lihat aku!"


"E-h, masa begitu!"


"Iya, Yang." Jo tertawa setelah menematkan panggilan Sayang untuk Zee.


"Bang Jo, aku nggak suka dipanggil begitu!"


"Aku udah duga kamu bakal ngomong ini!" Jo kembali tertawa. Zee memang selalu melarang ia memanggilnya Sayang, risih katanya.


"Itu bang Jo tau!"


"Aku sih sebetulnya seneng banget kalau kamu mau panggil aku Yang gitu, tapi nggak maksa. Sebaliknya aku gak peduli kamu suka atau nggak, aku mau panggil kamu Yang!" Bibir Zee memberengut.


"Oh ya, ceritain aktivitas kerja kamu hari ini! Nggak ada karyawan lain yang cari Masalah sama kamu, kan? Nyusahin kamu gitu?" Zee menatap wajah Jo seksama, ia menggeleng.


Nggak ada yang nyusahin aku, Bang. Tapi aku tadi ketemu kak Bias. Cerita nggak ya? Ah, nggak usah lah.


"Mikirin apa? Kok bengong?"


"Bukan hal penting! Udah pulang yuk, Bang! Aku capek mau istirahat, besok jam 10 ada jam ngeles juga."

__ADS_1


"Uh sayang aku getol banget kerja. Ini minum dulu sedikit biar hangat!" Joo mengarahkan gelas yang masih berisi wedang jahe setengah dan Zee menurut, ia meneguknya. Jo menghabiskan wedang jahe yang tersisa setelahnya.


"Yang, bilang ayah besok aku yang nganter kamu kerja!"


"Emang bang Jo nggak kerja?"


"Aku libur, lusa baru masuk."


"Oh, i-ya."


"Ba'da Zuhur aku jemput, ya!"


"Aku kerja jam 3, Bang. Nanti kelamaan nunggunya kalau berangkat Zuhur."


"Kita nonton dulu di Mall Deket Kafe sebelum jam 3 kita udah sampe kerjaan kamu, oke!"


"Ta-pi___


"Aku kangen kamu, Yang. Please jangan nolak!"


____________________


Zee menjalankan pekerjaannya dengan baik dan semangat sambil sesekali melirik pintu masuk. Zee sadar semua salah dan ia harus menghindari Bias, tapi tak dipungkiri hati itu menunggu. Ia ingin melihat Bias lagi. Hanya melihatnya saja.


Di pukul 20:00 sosok yang dinanti akhirnya datang. Bias masuk seperti biasa dengan santai dan langsung menuju kursi yang biasanya ia tempati. Tak menunggu lama Siti yang hari itu sudah lebih baik setelah sebelumnya sakit perut dan dipulangkan cepat kini ia berjalan dengan cepat ke meja Bias.


"Mas Bias."


"Hai Sit, duduk!"


"Maaf ya, Mas, kemarin aku pulang cepat karena maagku kambuh. Gak bisa nemenin mas Bias jadinya."


"Gpp, udah lebih baik sekarang?"


"Alhamdulillah. Oh ya mas Bias mau pesan menu yang kayak biasa atau menu yang lain?"

__ADS_1


"Biasa aja."


"Oke, ditunggu, Mas."


Sepeninggal Siti, Bias meraih ponselnya, membuka chat yang beberapa hari ini tak ia gubris dan tak ingin ia baca, tapi ibu jari itu kini spontan membukanya.


📲Jangan lupa kamu harus datang ke acara 7 bulanan aku yah, Bii! Kata tante Dona kamu lagi deket sama cewek, ya? Jujur aku seneng dengernya. Bawa pacar kamu ke acara aku, ya! Aku mau kenal dia! Your sweet friend❤️


Mama bilang ke Nasya aku lagi deket sama cewek? Ah Mama ada-ada aja, sih! Tinggal besok. Besok! Siapa yang harus aku bawa, hufh___


Baru saja Bias ingin menjawab pesan Nasya, tiba-tiba ponselnya mati. Karena letih, semalam Bias lupa men-charge ponselnya.


Bias mengedar pandang mencari bayang Siti atau siapa pun yang bisa membantu masalahnya, hingga ia melihat gadis yang kemarin menemaninya makan. Gadis itu sedang mengelap meja, tapi matanya sesekali melirik ke arahnya. Bias melambaikan tangan ke arah karyawan itu.


Zee menoleh ke kanan dan kiri memastikan kalau benar dia yang sedang dipanggil Bias. Zee berdiri mematung ia bingung antara menghampiri atau tidak. Hingga akhirnya ia memanggil salah seorang karyawan lain dan memintanya menghampiri Bias.


Bias melihat semua aktivitas itu dan heran. Seorang karyawan pria menghampiri Bias dan menanyakan kebutuhan Bias. Bias menyerahkan ponselnya untuk di charge, karyawan pria yang tahu Bias adalah anak pemilik Kafe bersikap sangat sopan. Ia pergi setelahnya meninggalkan Bias.


Di kejauhan Bias memperhatikan Zee. Ia sedikit marah karena Zee bukan datang menghampirinya justru menyuruh orang lain. Ia aneh melihat sikap Zee.


Apa kemarin gue buat salah sama tuh anak? Kenapa dia nggak mau nyamperin gue? Apa tips yang gue kasih kurang banyak?


Beberapa saat Siti datang menghampiri membawa menu yang dipesan Bias.


"Hai Mas Bias, maaf lama." Baru saja Siti hendak duduk, Bias bicara.


"Sit, kamu nggak perlu menemani aku makan, kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu yang lain!"


"Oh."


Dengan bingung Siti meninggalkan meja Bias. Bias memanggil Kemal setelahnya. Bias yang merasa Zee bersikap aneh padanya bertambah penasaran. Ia meminta Kemal menyuruh karyawan baru yang kemarin untuk menemaninya makan lagi malam itu. Pun Kemal akhirnya memanggil Zee.


..._______________________________________...


🥀Happy reading😘

__ADS_1


🥀Nanti malem pengumuman giveaway yaa❤️❤️


__ADS_2